Saturday, 14 January 2012

Gadis Hujan (2)


Ada satu bagian keeping kecil dalam dunia khayalanmu dimana seseorang berdiri dibalik pintu dan tersenyum melihat sekelompok anak-anak tengah bermain petak umpet. Lalu, aku teringat satu potong senja yang menghadirkan memori itu kembali, ketika aku berdiri dibalik pagar usang yang catnya telah memudar, lalu pandangan mataku menyusuri anak-anak yang tengah bermain sepak bola, aku pun berputar menebak masa depan wkatu; lucu sekali ketika kita tahu salah seorang dari anak tengil yang bermain bola itu adlaah seseornag yang akan menerima piala Ballon D’Or.
Aku dilempar kembali pada posisi realita. Melukis dengan cara pelukis kata. Aku berpikir mengenai terakhir kali aku bermain bersama suara tawa dan tangis dalam pernag batu. Di bawah hujan. Kapan? Sudah begitu lama. Aku ingat, terakhir kali aku berlari di bawah hujan tanpa mennagis bersamanya, 2 tahun yang lalu. Foto gennagan air itu masih ada. Masih tersimpan. Yang menarikku. Aku ingat, aku menariknya karena ada yang menarikku. Ah, itu mome ketika semuanya berakhir dalam kata Selamat Tinggal.
Lalu, di sebuah siang yang gelap, aku berjalan di bawah hujan. Sendirian. Di sebuah komplek rumah. Sepi. Saat ini, aku baru menyadari itu, itu adalah terkahir kalinya aku hadir di anatara hujan…beberapa bulan lalu…yang menyakitkan. Aku harus menutup ingatan ini lewat sebuah kenyataan bahwa momen terakhir itu…
“Ketika aku menangis bersama Bumi dan lewat hujan, Bumi menyeka air mataku.”

0 Comments:

Post a Comment