Saturday 23 March 2013

Sepotong Kasih Tertinggal di Sitanala



catch the news!
13 Februari lalu, tepatnya di RSK Sitanala Tangerang, diperingati Hari Kusta Sedunia ke 60 (27 Januari) yang dihadiri oleh Ibu MenKes RI dan Bapak Walikota Tangerang. Acara itu diisi dengan kata penuturan cerita inspiratif para penderita kusta juga. Sejumlah media massa datang untuk meliput, aku dan tim jurnalistik sekolahku Perddhita News dengan membawa nama Kompas Muda tak luput meliput acara peringatan yang mengusung tema ‘Kusta Tak Menjadi Halangan untuk Berkarya’. Dari sesaknya media dan rombongan menteri, akhirnya aku dan tim memilih mewawancarai salah satu penderita kusta yang telah sembuh berkat perawatan yang baik di Sitanala. Perbincangan santai di kala siang itu berlangsung cukup lama, banyak hal inspiratif dibalik para penderita kusta yang bagi sebagian banyak orang, takut menular-lalu dijauhi. Padahal tidak, ketika kita mulai merangkul mereka dalam pelukan hangat, kita tahu bahwa mereka memiliki sepenggal cerita kasih yang menarik untuk kita tahu.
Spanduk penyambutan
Sebut saja, Bapak Zen, beliau menuturkan jika dulu, masyarakat sulit untuk bekerja di RSK Sitanala, alasannya karena takut tertular. Bahkan, pernah dicetak selebaran agar orang tidak takut dengan kusta. Padahal, kenyataannya, tak ada staff pegawai di Sitanala yang tertular ketika bekerja di rumah sakit tsb. Banyak juga yang beranggapan, keterbatasan fiisk penderita kusta membuat mereka tak mampu survive, tapi kenyataan melempar kita pada satu pembuktian, bahkan ada orang tua yang mengidap kusta namun anaknya tidak tertutlar atau terkena kusta, anak tsb bisa kuliah hingga semester enam di salah satu PTN, cerita Bapak Zen pada aku dan tim. Satu hal yang kutangkap, bahwa dalam batasan dan ditengah kucilan masyarakat, mereka mampu berdiri tegak, tetap menebar kasih, mengatakan jika mereka ada, mereka mampu, dan mereka bisa berkarya. Para penderita kusta pun sesungguhnya memiliki wadah kreativitas dan keterampilan sendiri yang dilatih setelah sembuh di RSK Sitanala. Sssst, Bapak Zen bahkan adalah salah satu yang membantu pembuatan patung Dr. Jb.Sitanala.
me and the report team
Lagipula jika kita ketahui, kusta bukan penyakit yang benar-benar menular, kita hanya terperangkap dalam dogma/stigma yang salah. Sesunggunya penderita kusta tak menuntut banyak hal, mereka hanya memerlukan potongan cinta kita, uluran tangan yang menerima secara terbuka kehadiran mereka, sebab mereka memiliki hak yang sama seperti halnya kita yang sehat, sebuah pelukan penuh cinta.

Wawancara berganti pada salah satu organisasi peduli kusta, GEMPITA yang kutemui di luar ruangan, Kak Glory Rosary. Dalam obrolan singkat dibawah terik matahari siang itu, dikatakan bahwa tujuan GEMPITA justru bukan lebih ke arah medis melainkan lebih pada kehidupan sosial penderita kusta, merangkul dan menggandeng mereka untuk mendorong mereka lebih kreatif dan bisa berkarya. Ini menjelaskan satu hal, sesungguhnya penderita kusta memiliki penyakit yang lebih menyakitkan dibanding kusta itu sendiri, melainkan bagaimana kita memandang mereka dan cara kita memperlakukan mereka; merangkul dalam harapan ataukah mencibir dalam kejauhan.
Bu Menkes & Bpk Walikota Tangerang
Aku melupakan hiruk pikuk di ruangan yang sesak oleh lampu blitz kamera wartawan yang sibuk dengan Ibu Menteri dan Bapak Walikota (lagipula sudah ada tim jurnalistikku yang ditempatkan di ruangan tsb, sedangkan aku lebih memilih turun ke lapangan menjejak kisah), aku pulang dengan membawa sepenggal kisah tentang menyikapi cinta sesungguhnya. Bahwa kusta bukan nista. Kusta adalah bukti nyata bagaiamana cara kita mencinta sesungguhnya. 

me w/ Kak Glory R.Oyong
Terima kasih untuk Bapak Zen, staff pegawai RSK Sitanala Bapak Martono, Kak Glory Rosary and Bapak AB. Susanto (dari GEMPITA) sebagai narasumber peliputan. Untuk liputanku dan tim yang lebih berbeda dan selengkapnya, tunggu di edisi cetak halaman Kompas Muda J . Berikut photo-shoot di sekitaran RSK Sitanala yang ditangkap oleh kamera fotografer Perddhita News.
This entry was posted in

1 comment:

  1. makasih atas liputan dan cinta kasihnya.... :)
    saya ini adalah anak dari salah satu penderita kusta..

    maksih banyak untuk semua tentang kusta
    I LOVE YOU

    ReplyDelete