Wednesday 9 August 2017

Karakter yang Bertenaga ala Darwis Tere Liye (2)


“Mengukur kebutuhan karakter dalam sebuah cerita mudah saja: hilangkah tokoh itu, jika memang tidak berpengaruh, maka si tokoh memang tidak penting, sia-sia saja dimunculkan. Jadi pastikan tiap karakter yang diciptakan itu memang kita butuhkan dalam cerita,” ujar Tere Liye, menyambung kelanjutannya dari topik ‘Ide’ menuju ‘Karakter’.
Dalam kesempatannya mengisi lokakarya ‘Ide & Karakter’, Tere Liye menguraikan bahwa amunisi sebuah cerita (novel) sangatlah terbatas jika dibanding dengan film. Jika cerita hanya memiliki kalimat dan kata-kata untuk menciptakan banyak hal sekaligus: karakter, latar, alur, dan sejenisnya, film punya kekuatan visual, musik, mimik ekspresi aktor/aktris, dan sebagainya. Oleh karena menyadari itu, sebagai penulis kita harus mampu memanfaatkan semaksimal mungkin elemen yang dipunya. Memandang keterbatasan itu sebagai tantangan. Salah satu caranya untuk menggiring cerita yang kuat dengan segala keterbatasan itu adalah melalui karakter. 

sesi kelas sharing dan disccussion 'Ide x Karakter' bersama Tere Liye
Bikin Profil Karakter Sedetail Mungkin
Karakter harus dibuat sesuai dengan kebutuhan cerita, karena karakter yang nanti menjadi suara dan penggerak plot. Karena alasan itu, Tere Liye menyampaikan bahwa wajib hukumnya bagi penulis membuat profil detik mengenai karakter yang dipakai. Seluruh informasi mengenai si tokoh memang tak harus muncul semuanya dalam cerita, semisal jika golongan darah atau fobia si tokoh tak perlu disebutkan dan memang tidak diperlukan dalam cerita, tak perlu disertakan. Tapi, kita sebagai penulis wajib membuat dan mengetahuinya sebagai cara kita lebih mengenal kepribadian tokoh. Jika kita sudah mengenal luar dalam si tokoh, akan lebih mudah menggerakan kebiasaan-kebiasaannya, mengontrolnya menghidupi cerita. Maka, tips pertamanya adalah detailkan karakter buatan kita.
Show, Don’t Tell
Ini mungkin pengetahuan lama, tapi kerap dilupakan penulis. Cara terbaik untuk membangun kepribadian atau karakteristik si tokoh adalah lewat penceritaan. Kita akan tahu apakah karakter kita sudah baik atau belum, ketika pembaca selesai membaca cerita kta dan masih teringat-ingat oleh tokoh yang kita buat (memorable).  Dan itu bisa dibangun lewat cerita yang digerakkan oleh karakter-karakter kuat. “Ini yang harus dicatat: kembangkan karakter harus lewat cerita, bukan deskripsi yang langsung menyebut begitu saja. Bisa fatal,” tandas Tere Liye dengan nada serius. Karena dengan begitu, karakter akan jadi lebih bertenaga.
Jika sulit, Tere Liye menyarankan untuk membuat karakter berdasar orang yang dikenal di sekitar kita. Bahkan dia pernah membuat karakter berdasar dirinya sendiri sebagai tokoh utama. Itu tidak masalah, asal bagaimana kita mampu menyampaikan gerak karakter kita lewat cerita. Kuncinya adalah lewat cerita. Show, don’t tell. “Di Negeri Para Bedebah dan Negeri Ujung Tanduk, tokoh Thomas saya akui adalah diri saya sendiri, hanya saja saya kemas sepuluh kali lebih hebat dari saya aslinya. Di Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin,  tokoh Danar juga adalah saya sendiri. Cuman, saya buat sepuluh kali lipat lebih galau dan enggak jelas dari aslinya saya, hehehe.”
Observasi Panjang
Karakter pastinya berdekatan sekali dengan adegan. Bagi Tere Liye, membuat adegan kuat yang berkarakter memerlukan observasi panjang. 

“Berlatih menulis baik adalah pekerjaan panjang yang memerlukan observasi tiada habisnya. Saya paling suka mengamati dan mengobsevasi hal-hal sekitar, walau tidak penting, tapi suka saya gali dan simpan di kepala seperti keping-keping puzzle. Keping yang saya yakin akan berguna demi membuat adegan bagi karakter saya,” jelasnya.

Tere Liye mencontohkannya seperti ini. Anak muda awam zaman sekarang apabila sedang mengantre di mini market, sering kali hanya bermain ponsel dan memperbarui status media sosial. Tapi jika anak muda itu berniat jadi calon penulis, yang dia lakukan berbeda; dia akan mengajak ngobrol petugas minimarket lainnya seraya menunggu antrean. Obrolan ringan yang kendengarannya tidak penting selayaknya: makanan apakah yang paling laku di minimarket ini, apa saja yang baru distok ulang, mana yang paling sulit terjual, dan semacamnya. Lalu, anak muda itu akan pulang dengan keping informasi kecil yang terekam dalam otaknya. Terus begitu di tiap kesempatan yang ada, memanfaatkan peluang-peluang untuk mengumpulkan informasi. Tujuan dan gunanya apa?

“Keping seperti itulah yang nantinya kita tarik dari ingatan kita untuk kemudian disusun jadi utuh, ditemukan sudut menarik memulai cerita dari sana, atau lalu ditransformasi jadi pelengkap-pelengkap cerita. Kelihatannya aneh, tapi tahukah kita, setiap jengkal kehidupan kita sesungguhnya adalah ide dan inspirasi itu sendiri. Setiap inci dari kehidupan kita adalah latihan menemukan sudut pandang spesial,” tukas Tere Liye yang jadi pernyataan penutupnya mengakhiri sesi kelasnya yang hanya sekitar 30-45 menit.

Jujur saja, ketika diceritakan hal ini, aku jadi merasa deja vu. Aku memang suka sekali kepo dengan hal-hal ringan yang dianggap abai oleh sekitar. Salah satunya adalah aku mengajak obrol kenek bus transjakarta sepanjang Cyberpark Karawaci – Poris, menanyainya macam-macam tentang lelahnya pekerjaan dia yang mengharuskannya berdiri sampai bagaimana membaca jeda waktu antar satu bus dengan bus lainnya. Percayalah, tips dari Tere Liye satu ini mengenai mengumpulkan informasi remeh-temeh, sungguh menyegarkan pikiran dan membuka kepekaan kita pada lingkungan, tentunya dalam kapasitas kita sebagai penulis.
Pada pesan terakhirnya sebelum kelas benar-benar bubar dan dilanjutkan permateri lainnya, Tere Liye mengajak kita semua untuk keluar dari zona nyaman. Tidak sekadar menjadi genre writer yang membuat penulis hanya terpaku pada satu genre tulisan. Baginya, jika penulis sampai terjebak hanya pada satu genre, dia tidak akan berkembang.
aku: ikut menghadiri undangan Expert Class GPU

"Satu lagi, seluruh pertanyaan kita mengenai tulis-menulis sesungguhnya akan terjawab ketika kita mulai menulis. Menulislah, niscahya seluruh kegalauan dan kegelisahan kita akan pertanyaan-pertanyaan kepenulisan akan terjawab dengan sendirinya.”

Kelas pun berakhir. Sungguh singkat. Tere Liye menolak diajak foto selfie bersama karena sedang terburu-buru mengejar kepulangan. Juga menolak jika foto bersama dirinya diunggah ke media sosial. Namun tak pernah menolak untuk memberi semangat pada siapapun di ruang kelas siang itu untuk menulis dengan segera. Terima kasih!
This entry was posted in

0 Comments:

Post a Comment