Tuesday, 6 February 2018

Cara Pendidikan Bekerja: Memulangkan Kemalangan, Menjemput Kemajuan

Tujuh puluh tiga tahun lalu, hari itu Jumat tertanggal 17 Agustus. Matahari di atas kepala, tidak terlalu terik, memayungi segenap masyarakat dari beragam latar belakang yang tengah berkumpul menyesaki selesar rumah Soekarno. Mereka menanti Soekarno membacakan teks proklamasi, mengabarkan pada belantara nusantara dan seantero dunia akan kemerdekaan Indonesia. Di ibukota, Jalan Pegangsaan Timur 56 jadi saksi bisu bagaimana Indonesia mengukuhkan diri sebagai negara berdaulat dengan salah satu cita-cita luhur: mencerdaskan kehidupan bangsa.
ilustrasi situasi 'Art Class'. sumber foto: @educenterid
Sudah menahun sejak cita dan harapan luhur tersebut dinyatakan, namun bukan berarti sudah terwujud. Indonesia masih memiliki setumpuk pekerjaan rumah di bidang pendidikan, baik menyoal mengenai angka putus sekolah yang tinggi, pemerataan, fasilitas, kualitas pengajar, kesejahteraan murid dan guru, hingga jam belajar. Banyak pihak kemudian ikut turun tangan dan gotong royong untuk menyelesaikan permasalahan yang ada satu persatu dan mengingatkan kembali pada siapa pun bahwa edukasi dan pendidikan selalu menjadi hal penting yang perlu diberi perhatian. Sebab dengan belajar dan kualitas berpikir, siapa pun bisa menjadi kunci bagi pembangunan bangsa.
Bercermin Pada Kebangkitan Jepang
            Berkaca pada sejarah, tidak tergambarkan bagaimana dulu Jepang diluluhlantakkan oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 silam, hingga memaksa negeri sakura itu untuk menyerah tanpa syarat. Kabut duka menyelimuti Jepang saat itu, ketika kehilangan dan kesedihan ada di mana-mana, tidak tampak cara untuk rapikan dan bangkitkan apa yang sudah porak poranda. Namun, di tengah kekacauan dan keputusasaan, tiba-tiba saja Kaisar Hirohito yang tengah memimpin Jepang saat itu, memerintahkan menterinya untuk mengumpulkan puluhan ribu guru yang tersisa untuk diberi arahan dalam mengajar berkualitas. Banyak yang mempertanyakan langkah Hirohito. Namun, Sang Kaisar punya alasan lain yang kemudian dikenang dan jadi inspirasi mengenai semangat kebangkitan dan kemajuan bangsa.
            “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senata dan strategi perang, akan tetapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar, bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan,” perintah Hirohito kala itu.
            Dan, hasilnya, Jepang tidak hanya berhasil membenahi kekuatan militer mereka, tapi telah tumbuh menjadi negara yang dikenal dengan penemuan-penemuan canggih dan riset ilmiah kontributifnya. Berkembang maju lebih dari harapan mereka yang semula.
Lebih Dari Sekadar Sekolah dan Belajar
            Cerita kebangkitan Jepang hanyalah salah satu dari banyak ribuan alasan dan kisah yang menegaskan bahwa pendidikan telah dianggap sebagai langkah utama mengelola pembangunan dan kemajuan bangsa. Namun, sering kali oleh karenanya, pendidikan disalahartikan sebagai sekolah dan belajar. Padahal, tokoh pendidikan di Indonesia, KI Hajar Dewantara sudah pernah menyatakan bahwa belajar tidak dibatasi oleh ruang kelas dan tenaga ajar. Bahwa kita harus mampu jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru.
            Hal sama juga disampaikan Soekarno ketika bicara soal membina pendidikan. Soekarno berbincang lebih dari sekadar materi mata pelajaran formal, melainkan juga mengenai pembelajaran akan kualitas karakter hingga tumbuh kembang minat bakat pemuda. Sebab, edukasi dan pendidikan itu sebegitu luas lingkupnya, tidak hanya tentang eksakta dan sosial. Tapi juga kesenian hingga olahraga.
Misalnya, masih segar teringat ketika Presiden Jokowi bertandang ke Korea Selatan untuk mencari tahu rahasia kesuksesan negeri Ginseng itu dalam menyebarkan budaya Korean Pop di dunia. Dan, masih hangat juga ketika diketahui bagaimana pemerintahan Korea Selatan menginvestasi begitu banyak biaya untuk talenta-talenta muda agar dikirimkan belajar ke luar negerinya mengenai budaya pop. Untuk mengedukasi pemuda pemudi mengenai budaya populer yang kemudian bisa mengangkat perekonomian negaranya lewat pendidikan seni. Semua bertumpu pada satu kata kunci sederhana; pendidikan yang lebih dari sekadar pelajaran formal.
Mengenalkan Konsep One Stop Education of Excellence
            Sampai pada titik ini, kita berada di ujung pemahaman bahwa pendidikan bagai kunci yang mampu membuka gembok pada pintu kemajuan bangsa. Dan, pintu itu banyak sekali, lebih dari satu, karena edukasi tidak terbatas pada ruang dan waktu. Oleh karenanya, Indonesia butuh untuk fokus dan intens memberdayakan sektor pendidikan sebagai jantung yang memompa aliran darah segar pada sektor-sektor lainnya, seperti bisnis perekonomian, kesenian dan budaya, serta lain-lain.
Keseluruhan itu baru bisa diraih dengan program edukasi dan rencana pendidikan yang intens dan berkesinambungan, atau yang sering disebut sebagai one stop education of excellence. Konsep yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengimbangi pendidikan formal dan nonformal pada anak dengan cara yang tepat agar anak tidak stres dalam pembelajaran. Melakukan hobi sambil belajar. Caranya bagaimana? Memberikan banyak pilihan minat bakat yang beragam (mulai dari balet, karate, masak, bahasa, musik, dan variasi bidang lainnya) untuk dipelajari anak disamping sekolah formal. Memilih tempat yang dekat dengan sekolah serta konsep pendidikan yang menganut semangat belajar sambil bermain tanpa mengindahkan kualitas ajar guru. Serta, pembangunan suasana dan atmosfer yang membuat anak semangat berangkat ke sekolah layaknya ketika jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau mall.
Kabar segarnya adalah, itu bukan lagi impian atau angan-angan. Karena Indonesia memiliki salah satu institusi pendidikan yang menerapkannya pada talenta-talenta muda untuk diedukasi tidak hanya pada pembelajaran formal tapi juga muatan lokal sekelas les privat, yakni institusi pendidikan Edu Center .
Institusi yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan itu kemudian menjadikan tempat belajar tak sekadar sekolah mengasah pikiran, tapi juga wadah mengembangkan minat bakat yang disuka. Tempat sekolah bergaya mall hingga yang dibelanjakan bukanlah pakaian atau makanan, melainkan ilmu dan buku. Tempat yang mengajarkan semangat kebangkitan bangsa lewat edukasi dini, dan kemajuan negara melalui pendidikan sejak kecil. Tempat di mana anak-anak bisa memandang belajar sebagai cara bermain yang baru, bukan momok monster yang menakutkan. Sebab, bagaimana pun pendidikan adalah cara suatu bangsa memulangkan kemalangan dan menjemput langsung kemajuan. Dan itu, harus dimulai dari: sekarang. (*) 
--
#educenter #edukasikemajuanbangsa #onestopeducationofexcellence

1 comment:

  1. Aku setuju dengan tulisanmu. Pendidikan memang harus dimulai sejak dini untuk menciptakan insan-insan yang dapat meneruskan bangsa ini. Benar, pendidikan itu bukan sekadar sekolah dan belajar, tetapi di kehidupan sehari-hari baik dengan keluarga ataupun teman dan bahkan hobi yang kita senangi bisa membuat kita dapat belajar dan memiliki banyak pengalaman di dalamnya:)

    ReplyDelete