Saturday, 10 September 2011

Wonderful Peace: Freedom For Animals


Sudah lama sekali, saya tidak menyapa kita semua dengan entri berhash-tag Wonderful Peace. Namun, itu bukan karena saya lupa, karena saya akan selalu ingat. Bukankah fokus blog ini pada tahun ini ialah ‘Bring The Peace’, maka itu, setiap bulannya, saya berusaha membuka mata telinga saya untuk peka terhadap masalah perdamaian yang kemudian bisa dibahas di blog ini. Pada malam lalu, secara tidak sengaja, saya mendengar seorang penceramah di salah satu stasiun TV yang berkoar-koar agar kita bervegetarian. Bukan karena perintah agama. Tapi, karena agar kita berhenti mendengar raungan para hewan menangis ketakutan dan kesakitan akibat ternak kejam. Saat itu, saya tersentak. Benar, hewan, binatang, mereka terlahir bukan untuk kita makan, bukan untuk memenuhi nafsu makan kita, tapi untuk hidup, mereka punya hak. Dan hak itu bukankah dihormati? Seperti ketika kita menuntut hak? Saat itu, penceramah mengatakan, bahwa dengan banyaknya kita mengonsumi hewani, para peternak pun mulai menghalalkan segala cara agar para ternak mereka menjadi gemuk, menjadi mahal ketika dijual, menjadi berat ketika ditimbang dll, dan untuk menempuh itu semua, para peternak beternak dengan cara kejam. Menyiksa. Dan menyakitkan. Apakah kita tidak merasakan kesakitan raungan mereka ketika kita memakannya? Tiba-tiba, sehabis acara penceramah itu usai, saya merenung. Tak hanya hak hewan yang tengah kita tindas, tapi, juga kebebasan dan keamanan hidup mereka. Coba tengok sejenak ke arah belantara hutan, teropongi muka bumi, luas hektar hutan semakin lama semakin berkurang, banyak hewan liar yang tidak memiliki tempat tinggal. Harimau. Gajah. Sering kali terdengar berita mereka mengamuk masuk ke pemukiman kita. Coba tengok lagi ke lautan luas, di sana, mungkin kita melihat kejernihan, padahal, dalam kejernihan itu, mengandung bahan kimia pembunuh populasi terumbu karang. Teluk kematian. Tombak-tombak pembunuh hiu dan paus. Air darah. Merah. Lautan yang memerah. Sungguh miris. Ironis. Coba tengok ke arah kutub, es yang mencair, keadatan es semakin berkurang akibat panas, nasib-nasib beruang kutub mulai diperhitungkan. Semua berujung pada satu pertanyaan pada batin kita: Bagaimana? Akan diperlukan jawaban yang sangat panjang untuk menjawabnya. Tapi, yang pasti, ketika ditanya Apa? Saya akan menjawab, yang terjadi ialah krisis kebebasan hidup para hewan. Kita yang membatasinya. Hanya saja, jika ditanya solusinya, hanya ada satu kata singkat yang menyelesaikan ini semua: Damai. Ya, damaikan hati kita. Damaikan diri kita dengan para hewan itu. Damaikan dunia ini dari nafsu mengekang kebebasan mereka. Karena bagaimanapun, damai tak hanya tak ada perang, tapi juga tak ada kesakitan, ketakutan, dan yang penting merasa bebas dengan sesama, dan itu yang tidak sedang didapat mereka…

Semangat 66 Tahun: Parodi Kucing Kolombia


Umur Indonesia sudah cukup renta. 66 tahun. Menurut penanggalan Hijriyah, 68 tahun. Angka enam-puluhan telah kita capai. Indonesia semakin dewasa.  Umur kemerdekaan kita semakin matang. Di atas kertas, mungkin tertulis seperti itu. Namun, akankah benar-benar matang? Saat Tujuh Belas Agustus kemarin, saya menyaksikan satu pemberitaan TV yang begitu memiriskan hati. Dalam pemberitaan tsb, dikabarkan bahwa semangat nasionalisme warga menyambut ultah ke 66 ini memudar drastis dari tahun sebelumnya. Ini terbukti dengan liputan di beberapa desa dan bahkan pertokoan/gedung perkantoran, tidak memasang bendera Merah-Putih saat tanggal 17 sudah di depan mata. Padahal, pada tahun sebelumnya, seminggu sebelum kemerdekaan, kain Merah Putih sudah menghiasi gedung dan perumahan. Ironi. Ketika ditanya mengapa, bahkan ada yang mengatakan lupa. Susah memasangnya. Sibuk mencari uang dsb. Ya, ironi, ironi dan ironi. Kemerdekaan mungkin semakin tua semakin tidak matang. Kemerdekaan sekarang ialah kemerdekaan mungkin terjadi ketika Kucing Kolombia bungkam seperti sekarang. Lah? Apa maksudnya? Ya, kemerdekaan bagi tikus-tikus yang disebut namanya. Tikus-tikus yang kalang kabut membuat perisai sebelum kucing Kolombia datang ke Indonesia. Lalu, ketika datang, perisai itu dikeluarkan kekuatannya hingga membuat si kucing bungkam dan tidak memunculkan taringnya untuk menjerat para tikus. Perisai berupa ketakutan, kecemasan, dan tekanan. Jreenggg, menyerang secara abstrak. Bahkan, kekasih kucing Kolombia pun kabur entah kemana, Singapura atau apalah. Mungkin jika tertangkap, mengaku sakit. Ah, sinetron tikus-tikus politik. Mari kita ganti channel. Mari kita cari channel mengenai kemerdekaan sekarang dari sudut semut-semut kecil, ah, lihatlah mereka, susah payah bergotong royong mencari makanan untuk Ratu semut mereka, semut pekerja bekerja keras pagi siang malam. Ah, reality show lampu merah. Lah? Berarti kemerdekaan ke 66 tahun ini, diisi oleh banyak cerita sinetron dan reality show? Berarti diuat-buat dong? Skenario? Namun, tahun ini, settingnya di Kolombia. Pemain-pemainnya terus berganti-ganti. Tapi, perannya tetap sama, itu-itu saja, koruptor. Konfliknya juga itu-itu saja, korupsi, gratifikasi, dll. Lalu, kapan dibuat episode yang lebih menyegarkan? Lebih baru? Fiuh, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang…bagaimana caranya. Jangan tanya pada saya atau orang-orang, karena mereka pasti akan menjawab: Sssssttt, nih lagi sibuk nonton sinetron Kucing Kolombia nih. Mending, kamu ikutan nonton, nih cemilannya, Sari Roti, mau?

Cermin, Mirror!


Kulihat diriku di depan cermin. Berkaca mata minus tinggi. Tebal. Aku mencoba tersenyum dalam bisu. Senyuman yang begitu palsu. Bayanganku di cermin hingga tertawa melihatnya. Senyum palsu terus yang kuperlihatkan padanya. Padahal, air mata tengah mengalir deras di sela-sela senyuman itu. Baru kemarin malam, aku mendengar sepercik siraman kehidupan dimana, kita tidak boleh fokus pada apa yang tidak kita miliki, karena kita akan terus memandang rendah diri dan tidak maju, karena hanya bisa memiliki rasa iri. Aku diam tertunduk ketika kata-kata itu terngiang kembali dalam gendang telingaku. Tapi, aku harus bagaimana? Aku memang tidak bersyukur. Dalam hati aku menjerit, pantaslah jika aku dihukum. Aku membenamkan wajahku. Mengalihkan diri dari cermin itu. Aku masih ingat akan pesan singkat yang kuterima. Aku masih ingat bagaimana pesan singkat yang jika dibaca tidak berarti apa-apa. Namun, jika ditelusuri, kalimat sederhana itu menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang mampu merobek-robek organ-organ tubuhku yang membuatku bernafas kini. Bagaimana rasanya jika diri sendiri mencoba membandingkan diri dengan orang lain? Ketika itu dilakukan terpaksa ataupun suka-suka. Bagaimana jika banyak sekali orang di sekitarmu yang datang menghampirimu, tersenyum, menjabat tanganmu, dan bertegur sapa denganmu, hanya untuk mendekati seseorang yang menjadi teman dekatmu? Ketika itu semua runtuh karena dibungkusi kepalsuan. Reruntuhan itu mengenai kepalaku dan rasanya begitu sakit. Hingga aku perlu tangisan. Ingin sesekali ada seseorang yang benar-benar melihatku ketika ada seseorang lebih dari segalanya disampingku. Tapi, realitanya, itu semua tidak pernah ada. Semuanya hanyalah ketulusan yang dibungkusi kepalsuan. Era sekarang, ketulusan pun bisa dipalsukan. Perlu bukti? Lihatlah ke dalam cermin. Pantulan bayangan kita sesungguhnya ada di dalam sana. Hancurkanlah ia, agar kepalsuan itu tidak menjadi momok yang menghancurkan…

Kisah Tentang Kamu (2)


Kini, kamu sedikit lebih segar. Air mukamu sedikit lebih cerah. Kamu merasa bahwa kata-kata sudah menarik sebagian dari beban yang ada dalam otakmu. Kamu kembali menulis. Menulis lebih banyak. Kamu ingin lebih banyak yang dikeluarkan. Lalu, tiba-tiba kulihat kamu kadang kala terdiam lalu menulis lagi. Saat itu, aku bertanya, apa yang kamu pikirkan ketika diam itu. Lalu aku tahu dari matamu, matamu berbicara banyak. Kamu memikirkan. Kamu kembali teringat bagaimana kamu begitu rapuh dengan beban itu. Kamu menjalani setiap waktu dengan terpaksa. Seperti robot. Semuanya terjadwal. Hanya menunggu seseorang memencet tombol Off untuk mematikanmu. Malam hari. Lalu, On pada pagi hari. Hanya saja, kata-kata telah memberimu kekuatan dan keyakinan bahwa itu semua hanyalah berupa warna. Saat itu, kamu duduk di bangku ruang tamu. Sendirian. Bola matamu menelusuri setiap huruf berderet tanpa gambar di koran. Tapi, aku tahu, otakmu tidak. Lalu, kamu terlihat begitu gelisah. Aku melihatmu seperti sedang menunggu. Ketidakpastian. Ibumu mengira dirimu sakit, menyuruhmu meminum obat. Kamu bingung. Apakah dirimu sedang sakit atau tidak. Tapi, kamu yakin, fisikmu tidak sakit. Lantunan lagu yang kamu putar di lewat telepon genggammu itu sepenuhnya list lagu mellow terus bernyanyi. Kamu semakin terpuruk. Kamu berniat dan hampir saja memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Tidur tanpa tidur. Tapi, pikiranmu memaksamu untuk tidak melakukan itu. Matamu berbisik pada telingamu. Bahwa ia akan menangis dan menangis untuk hal yang tidak dibanggakan. Kamu akan kecewa dan semakin membenci dirimu sendiri. Akhirnya, kamu tetap masuk ke dalam kamar, tapi tidak untuk menyendiri. Kini, hanya duduk bisu diam di depan komputer. Dan disanalah ceritamu dimulai mengapa kamu bisa sesegar ini, teman. Dan kamu tidak pernah tahu mengapa tiba-tiba kamu ingin duduk di depan komputer berdebu itu, tapi, aku tahu, itu karena jiwamu dimiliki oleh kata-kata. Karena kamu ialah penulis…hanya saja akhir-akhir ini, kamu lupa. Mengapa aku tahu semua tentangmu, teman? Itu karena aku adalah sebuah pena. Pena yang selalu kau bawa dan kau kaitkan di kerah atau kantong bajumu. Tanpa kau sadar, kau selalu membawaku. Dan aku selalu memperhatikanku. Maka itu, aku menulis kisahmu dengan tinta yang sebenarnya hampir kering ini…untung saja, kamu segera sadar sebelum aku benar-benar mongering. Terima kasih, Teman…

Kisah Tentang Kamu (1)


Ada satu keadaan dimana hatimu memaksamu untuk tidak bercerita. Bercerita mengenai penat ini. Mengenai masalah ini. Mengenai beban ini. Bukan karena suatu alasan mulia yaitu tidak ingin berbagi beban dengan orang lain. Bukan karena tidak ingin menjadikan orang lain sebagai tempat sampah. Bukan karena ingin menyembunyikan. Bukan karena itu…bukan. Tapi, karena hatimu memang ingin menyimpannya. Bukankah orang bilang, turutilah kata hatimu. Hanya saja, hati bukan tempat untuk menyimpan. Melainkan merasa. Semua beban yang beratnya tidak bisa diukur dengan satuan-satuan fisika itu, mencari tempat untuk bermukim. Otak. Pikiran. Tempat yang tepat. Strategis. Pikiranmu menumpuk. Sakit rasanya. Pusing. Bingung. Otakku mendesakmu untuk mengeluarkan buah-buah pikiran kiriman hati yang tak bertanggung jawab atas perintahnya. Namun, kamu tetap tidak bisa. Bertumpuklah. Penuh. Akhirnya, kamu menyibukkan diri, melupakan pikiran sendiri yang terus merengek. Kamu membaca. Berusaha menggantikan pikiran beban itu dengan dunia fantasi. Yeah, berhasil. Hanya saja, sementara. Kamu berusaha melewati setiap detik. Setiap menit. Setiap jam. Menuruti apa yang diperintahkan orang lain yang masuk ke telingamu. Mencoba melaksanakan apapun. Kesibukan apapun. Asalkan terlupakan. Namun, ia tidak akan pernah lari. Terus di dalam dirimu. Pikiranmu. Maka, pelarianmu atasnya hanya berlangsung sementara. Kamu mencoba mengalirinya, dengan lagu. Gagal. Karena itu membuatmu semakin terhanyut. Semakin terpikirkan. Tapi, lagu tetap saja kau nyalakan. Kau putar. Kamu sedikit lagi menjadi gila. Kamu ingat, besok akan ada ulangan, kamu semakin kesal, berarti kamu harus menghafal. Tiba-tiba, kamu duduk diam di depan komputer. Kamu pandangi komputermu yang berdebu itu. Tuts-tuts keyboard komputer yang tidak pernah kau sentuh lagi. Debu semakin alma semakin tebal sejak sebulan yang lalu kamu tidak pernah lagi menulis. Kamu ingat, dulu sekali, saat ada yang ingin kau keluarkan namun sebenarnya tidak bisa, kamu selalu bawel dengan kata-kata. Melukis beban itu dengan huruf. Mengukir masalah itu dengan rangkaian kata. Kamu merindukan itu semua. Kamu bersihkan debu-debu itu dan jari-jarimu dengan cepat menari-nari di atas tuts keyboard. Begitu lincah. Kamu merasakan kembali lagi hidupmu. Nyawamu. Jiwamu. Kamu merasakan bahwa beban itu  menjadi terasa begitu ringan. Ternyata hidupmu memang bernafas dengan kata…buku hanya suplemen, tapi menulis ialah roh…akhirnya kamu bisa mengeluarkan beban itu tanpa mengeluarkannya…rasanya sedikit lebih baik. Kamu memang penulis, teman…larilah bersama kata-kata…bersembunyilah di dalam rahim kata-kata. Karena kamu terlahir dengan kata-kata, teman…nah, kini jiwamu telah lebih baik, maka itu, tersenyumlah, jalani detik ini dengan menjadi jiwa yang lebih baik dari detik sebelumnya…tersenyumlah, biarkanlah berjalan dan mengalir seperti detik waktu mengalir tanpa memperdulikan apa yang terjadi sepanjang ia berjalan. Lalu ingat, bahwa kamu akan selalu kembali pada kata-kata…