Saturday, 31 May 2014

Insane


“…they said the best love is insane.”
Aku gila. Kutemui kamu di sebuah pesta semalam. Saat itu, deretan bangku yang sudah tersusun rapi itu masih sepi. Hanya ada beberapa bangku yang bisa kuhitung dengan jemari, yang baru terisi. Kudapati kamu duduk di barisan kedua; tidak terlalu depan – juga tidak begitu belakang. Lalu, kamu melihatku. Kamu berdiri menyambutku dengan minuman berwarna merah. Tak ada ajakkan dansa, minum hingga kita hanyut dalam sunyi malam ataukah pelukkan erat yang begitu lama. Kamu tertawa; kita memang selalu seperti ini. Tawamu membuatku dikurung gila.

Aku gila. Kamu tahu, aku menulis seratus tiga puluh halaman naskah cerita tentangmu. Kukira, sudah usai petualangan kita, sudah kubuang kisah kita di atas kertas-kertas itu. Tapi, tidak. You’re too charming and captivating to describe by the words. Melihatmu duduk satu bangku di depanku, dengan gaya rambut setengah emo, memandangku lembut, dengan tangan yang tertahan untuk saling merangkul, bersama manik mata jenaka itu, bisu-bisu; aku terjebak dalam gila.
Aku gila. Aku terus berpikir kita akan bersama, selamanya, selalu, tidak ada kata akhir. Kamu katakan suatu hari; tidak ada yang selamanya. Kamu benar, mungkin sebelumnya yang kutahu adalah sama sepertimu; tidak ada yang ‘selamanya’, tapi setelah melihatmu berdiri, sendiri dengan keping masa lalu yang sudah meremukkan hatimu hingga lebam dan aku tak pernah peduli. aku menemukan ‘selamanya’ ketika melihatmu. Kamu diam. Diam itu membisu, membingkai manik mata jenakamu yang ingin kudekap dan kugantung di langit-langit kamar, agar sebelum terlelap, mata kita bisa saling memeluk. Aku memang gila.
"they said the best insane is love..." 

Karenamu.

Wednesday, 28 May 2014

Happily Ever After

Nyaris tiap malam sebelum tidur, aku selalu bermain-main dengan imajinasiku, berkhayal menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam dongeng, cerpen dan novel yang baru selesai kubaca. Suatu hari, ketika aku jatuh cinta padamu, bisa kamu duga apa yang kukhayalkan; aku seorang putri dari istana bertingkat yang begitu memesona dan kamu adalah pangerannya – lengkap dengan kuda putih yang kamu naiki. Menawarkanku waktu untuk berdansa, meneguk sampanye dan melihat konstelasi bintang-bintang di langit. Lalu, aku memakaikanmu jubah raja dan kamu meletakkan mahkota ratu padaku. Dan, kita merangkai kisah cinta abadi layaknya di dongeng; ketika jarak dan waktu mampu dikalahkan oleh kekuatan cinta. Khas fiksi, khas dongeng.

Tawa kecil selalu berderai ketika kuketahui jika khayal yang menjelma mimpi adalah bunga tidur. Layaknya bunga, ia akan layu. Lenyap selamanya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari pangeran dan putri yang menetap di ruang pikirku kecuali bayang-bayang semu. Tapi, aku masih berjuang. Sebab, kamu dan aku adalah ada. Bagiku, kamu masih seorang pangeran. Biar kubuktikan. Kamu selalu ada ketika kuceritakan penggal-penggal masa laluku yang sering kali datang menghantuiku – mereka, monster-monster masa lampauku, suka sekali datang mengolok-olok bayangku di cermin, kata mereka; aku si buruk rupa, upik abu. Kamu datang dan merengkuhku, bilang jika aku akan berubah layaknya Cinderella. Asalkan aku mau.
Kadang aku tidak tahu dimana letak kesalahan kita. Apa bintang-bintang yang bergelantungan itu, yang sering kita amati rasi dan kerlipnya, memiliki tafsir yang salah tentang kita berdua? Apa tengah malam, yang sering kita bilang sunyi yang melahirkan titik renung terbaik, memiliki simpulan yang salah tentang kamu dan aku? Apa lagu-lagu sendu, yang sering kita dengarkan bersama karena kedua penyanyinya memiliki hubungan yang istimewa, memiliki makna yang yang salah tentang cinta? Sehingga sekarang ini, cinta kita sudah berkarat. Sampai-sampai kita menjauhinya sebab sudah tua, rusak dan terlalu usang untuk diteruskan.
Detik-detik ini, aku kerap tak pernah mengabsen memandangi cinta yang berkarat itu. Tak kuketahui jika cinta pun ada waktu kadaluarsanya. Kupikir, jika ada rindu, amarah, kasing, peduli, sayang, air mata dan berbagai emosi lainnya di ruang hati kita masing-masing, akan mampu merawat cinta usang itu. Nyatanya yang kita punyai hanya pendam-pendam bisu.
“Tidak, sebab aku bukan pangeran dan kau bukan putri.”
Jikalau memang aku bisa mencintai dengan baik layaknya putri dan pangeran hanya dalam dunia mimpi dan khayalku, aku berharap tidak pernah bangun. Dan kita bisa happily ever after.

Sunday, 18 May 2014

Pulang

Matamu seperti mengantarku pulang. Kau tak tahu, aku selalu suka dengan apapun yang menyangkut pulang. Ia berarti kampung halaman yang hangat dengan nenek yang kerap kali menceritakan dongeng-dongeng putri kerajaaan sebelum tidur, atau kakek yang mengajakmu mengembara pada masa perjuangan. Ia berarti mendiamkan rindu setelah lama bertahan di tanah rantau. Tapi, matamu sore itu, menyisa firasat.
“Kuantar kau pulang, selamat menyelami hangatnya sore dan menikmati goresan jingga yang terhampar di singgasana senja.”
“Kau sendiri mau kemana? Ini rumah kita. Kita pulang bersama-sama.”
ini senja yang kau tunjuk, lalu aku memotretnya
“Ini rumah kita disini. Aku ingin pulang ke rumah kita sesungguhnya. Di sana.”
Aku diam. Bisu mengisi kekosongan tatap mata kita. Kau menunjuk ufuk barat, jauh di tempat matahari terbenam – atau mungkin tempat matahari bersembunyi mengintip kita berdua; mencuri dengar percakapan bisu kita. Aku mengikuti arah tunjukmu, memicingkan mata karena kilau emas di ujung senja sana.
“Pulang ke-” suaraku terputus ketika berbalik ke arahmu. Kamu tak lagi di samping. Di sebelahku. Seperti yang kamu janjikan. Kamu tak ada. Kamu menghilang. Gores jingga dan gurat emas masih menyinggahi langit sore. Kamu; ataukah ditelan senja? Sudah berapa kali kubilang, jangan bermain dengan senja dan segera pulang!
Udara sore masih berhembus. Memainkan selembar koran yang menampar pipiku. Koran yang sudah kuning, bercetakkan namamu cukup besar dalam sebuah bingkai peristiwa besar yang terjadi di kala senja. Samar, kudengar udara sore berbisik padaku. Katanya, darimu. Dari kerajaan senja di ufuk Barat sana, tempat dimana kamu berseru; “inilah pulang!”
“Aku berpulang.”
Senyap kemudian menyergap. Aku gemetar.
*direkam dalam jejak kata di kala remang senja diringkus habis oleh gulita malam. Aku selalu senang memotret senja, menukarnya dengan sebait kisah yang terjadi di pertengahan malam; tentang sedihnya kita berdua.

Pangeran Rembulan


Itu lorong yang cukup ramai. Beberapa teman yang lewat menyapaku ramah atau hanya menyinggahi senyum. Lalu, aku melihatmu duduk di atas meja yang sudah tak terpakai, teronggok di depan mading sekolah. Ia mengamati lalu lalang orang-orang. Sepertinya tengah menunggu seseorang. Cukup lama, membuatmu turun dari meja, bersandar sejenak sambil mengamati perubahan mading sekolah yang sudah dua tahun ditinggalkanmu. Dua tahun sudah berlalu, sejak kukatakan padamu untuk menunggu. Dan, kamu hanya diam, tertawa kecil. Menggantung jawab tak pasti. Hingga sekarang, kulihat kamu melempar mata rembulanmu pada gadis lain. Gadis berambut panjang, bermata sipit, kulitnya putih mulus. Gadis yang berminggu-minggu lalu datang kepadaku, mencurahkan galuh hatinya yang tertambat oleh baris-baris kalimatmu. Gadis yang kukatakan padanya untuk menerimamu. Nyatanya, kamu tengah jatuh cinta lagi, seperti yang pernah kamu katakan padaku; gue gampang jatuh cinta, Ver. Kamu; si lelaki pemotong rembulan, apa kabar? Sudah lama sekali.
Ah, tiga tahun lalu, aku tahu ketika kamu katakan cinta, itu bukan gurauan. Sebab kulewati malam-malam menyiksa setelahnya, mencoba mengusir bayangmu yang menghantui tiap bagian mimpiku, menangisi lagu-lagu yang mengisahkan awal pertemuan kita. Kamu; si lelaki pemanah rembulan, membuat hari-hariku selalu lebih bersemangat dibanding sebelumnya. Tapi, kini, purnama berubah menjadi hampa. Ada saat dimana bulan penuh menjadi bulan hampa. Void Moon. Detik-detik dimana semuanya bergerak menjadi sebuah kesialan dalam astrologi Cina yang terkadang kita percayai. Dan aku percaya, sejak kamu berikan ide cerita pertamamu untuk kutulis, itu terjadi saat bulan hampa. Kamu hanya mengganti tinta hitam pada pena milikku dengan darah yang menggenang di hati yang luka.
Malam ini, tak ada bulan. Tak juga ada bayangmu lagi. Sebab semuanya telah berganti hujan. Lalu senja. Dan, sekarang, aku bergelut dengan lelaki lain yang penuh jenaka. Namun, terkadang aku mengingatmu. Terlebih ketika kutemukan pigura yang membingkai potretmu dengan gadis itu. Aku tersenyum, diam cukup lama mengamati lengkung senyummu, sebab kamu terlihat bahagia, tidak seperti dulu; saat membincangkan cinta denganku. Mungkin sejak awal, kita memang sudah berjalan di garis rapuh yang penuh dengan kesalahan.
Lalu, aku melangkah melewati mading, tatap mata kita bertemu. Aku memicingkan mata, haruskah kita menukar sapa? Bukankah dulu kamu berjanji menjadi kakakku selamanya? Menjagaku dari ganasnya malam, menerangiku dari gelap malam dan menemaniku dari kesendirian malam yang meringkus jiwa. Seharusnya tak ada sekat canggung di antara kita. Lalu, kamu melambai tanganmu kecil. Aku menunduk kepala sedikit, berusaha menyembunyikan senyum hambar. Kamu berlalu bersama gadis itu. Usailah cerita kita.
Kamu; si lelaki pencuri bulan, membiarkan bulan malam itu menjadi sabit. Kamu memotongnya, menawariku apakah aku akan menyimpannya untukmu. Untuk kita. Kukatakan padamu, aku tidak ingin mengusik malam. Dan, kamu mengembalikan rembulan di tempatnya menggantung – atau justru kamu berikan pada gadis itu? Tapi, kuyakin ia pun tidak menyimpannya, sebab rembulan tepat ada di atas kepalaku. Kini, rembulan melihatku; menertawaiku.
*ini kamu; si pangeran rembulan; yang kutulis kisah-kisahnya dalam episode Still. Sebab, rembulan masih menggantung di sana. Masih.

Recall You

Kupandangi hujan yang tumpah ruah di hadapan kita. Hujan ternyata sudah menemukan irama ketukannya, ia turun pelan satu persatu, tidak lagi saling memburu – siapa yang lebih cepat sampai di Bumi. Hujan kini menjelma tirai air yang indah dipandangi. Sama seperti biasa, kita menikmatinya dalam diam – ditemani aroma jeruk garmot dan daun teh yang menguar dari kedua cangkir porselen putih milik kita. Kita membiarkan suara percik hujan yang mengenai aspal jalan dan menuruni genteng bangunan menjadi alunan lagu yang menyejukkan. Kukira, semua akan baik-baik saja, mengamati bulir hujan yang turun malu-malu dengan sengatan dingin di permukaan kaca. Sampai kau tepuk pundakku lembut, baru kusadari cangkirmu belum kau sentuh sedikitpun.
“Kita tak bisa lagi memaknai hujan. Berhenti membaca hujan, tak mampu kita mengeja satu persatu rerintiknya,” ucap kau, yang diiringi dengan kilat petir tepat di atas kepala kita. Bersamaan dengan guruh guntur yang terdengar bergerak dari kejauhan, mendekati kita.
Kau tahu air mukaku berganti mendung. Dan, kau paling benci hujan yang turun di wajahku yang kelabu. Lalu, kau menawari berdansa. Di tepi jalan, di tengah hujan – yang entah mengapa, kini iramanya terdengar kacau. Seperti orchestra yang rusak. Hujan menderas, disertai halilintar yang menampar langit dan suara guntur yang seperti geraman dan bentakkan. Aku jadi berpikir, ini mungkin air mata langit yang menjelma sebagai hujan.
“Berdansa?” Aku pergi mencari payung. Payung biru tua yang tadi kubawa kemari.
“Untuk apa mencari payung? Sejak kapan kau ingin berlindung dari hujan?” lanjut kau sekali lagi, terlihat heran bercampur kesal. Dulu, aku tak pernah memerlukan payung ketika melangkah menerobos tirai hujan. Tak peduli bagaimana pasukan air itu memukul-mukul tubuhku dan menyiraminya hingga menyisa dingin yang menggigil. Asalkan aku melangkah bersamamu, sudah ada teduh matamu yang memayungiku. Tapi, kini berbeda. Kau tak lagi membisikkan senandung hujan, tak lagi menguntai cerita bersama dan menyimpannya di rintik hujan. Maka, harus ada yang memayungiku. Teduh yang lain; payung.
“Ini hujan yang berbeda, sayang,” balasku pada kau. Kau mendengus, entah kesal, marah atau sedih. Tiba-tiba, kau memanggil pelayan, memintanya mengganti cangkir earl grey-mu dengan segelas kopi panas. Aku tertawa. Kisah kita berakhir di situ. Di hari hujan – dimana aku mengira hari depanku selalu bersamamu, nyatanya kau hanya meninggalkanku di kafe ramai di tengah hujan yang menderas, dan kau tidak datang. Dan, kulihat kau tertawa di seberang sana, merangkul si gadis berkulit salju, si gadis yang menawarimu segelas kopi.
*teruntuk kamu (seseorang di episode Fall); si lelaki tatapan teduh, yang pernah menjadi sahabat kerjaku – bahkan sampai sekarang, tanpa kau tahu, aku pernah menungguimu dengan segumpal cinta di bawah hujan, hingga ia mereda. Dan, kau tak datang – sebab kau tak pernah tahu.

Missing

Aku menjenguk beliau beberapa bulan silam. Tubuh renta beliau terlihat begitu ringkih, berjalan pelan. Kawanku dengan sigap memapahnya ke ruang tengah, aku mengikuti langkah mereka dari belakang. Ketika beliau sudah duduk di sofa kayu berwrna krem, aku mengambil duduk tepat di sampingnya. Kawanku tadi memilih menggeser bangku rotan dan duduk di hadapannya. Ia menopang dagu, menatap wajah beliau dengan tatap pedih yang pernah kutahu darinya.
“Sudah makan?” ujar kawanku memecah senyap yang merayap di ruang tengah yang pengap. Aku menyapu pandangan ke sekitar, hanya ada kipas angin berukuran sedang yang berdiri di pojok ruangan, menghembuskan udara yang terasa kering di siang terik hari itu.
Beliau mengangguk lemah, memaka senyum kecil. Lalu mulai bercerita dengan susah payah; tentang penyakit parah yang tengah menggerogoti rahimnya. Suaranya pelan, hampir berbisik lirih. Sepertinya beliau membutuhkan cukup banyak tenaga hanya untuk menemui kami dan berbicara. Aku merasa, menjenguk beliau hanya akan mengurangi waktu istirahat beliau yang pasti begitu dibutuhkannya. Sedari tadi aku hanya diam, sesekali mengelus pundaknya, berusaha menyalurkan sedikit ketenangan. Kutatap binar matanya yang telah lama redup, mungkin penyakit itu telah merebutnya. Namun, dari keredupan matanya, aku masih bisa membuka lembaran kisah akan kenangan yang kulalui bersama beliau.
Kuingat, kami pernah berpelukkan sehabis aku menjalani lomba yang menegangkan. Beliau memelukku erat, menggenggam kuat tanganku; katanya, ia ingin semua keraguan dan ketegangan itu berpindah padanya. Dan yang bersisa untukku hanya keyakinan dan tekad untuk melaju menyambut kemenangan. Kuingat, kami pernah menginap dalam satu hotel yang sama, beliau sengaja tidur di sofa, membiarkan anak-anak didiknya merehatkan diri di atas kasur empuk. Lalu, beliau bangun pagi-pagi sekali, mengajak kami olahraga batin dengan bermeditasi. Seolah tanpa lelah, ia menyulap meja makan yang tak terpakai sebagai tempat berlatih kemampuan sebelum maju perlombaan bagi anak didiknya. Kuingat, ia punya semangat yang begitu tinggi di bidang yang ia geluti. Keluh, hujam, hujat dan olokkan berkali-kali menusuknya dari belakang, tapi ia tetap berdiri tegak, katanya; masih ada orang yang mau belajar, lantas untuk apa ia menyerah?
Lamunanku lesap ketika beliau berbicara tentang kematian. Sebelum kekhawtairan tampak di mataku dan kawanku, beliau beralih. Beliau bilang, ia percaya. Lihatlah, banyak yang datang menjenguknya, ibunya datang jauh dari kampung halaman, anaknya setia menjaganya, orang-orang kost berusaha membuatnya nyaman. Ada banyak doa yang mengiringi usaha kesembuhannya. Kawanku gembira mendengarnya, ia sarankan aneka jus sayur dan buah pada beliau.
“Cepat sembuh, dan kembali seperti dulu. Kobarkan semangat,” sahutku akhirnya. Beali tersenyum lemah dan menggeleng kecil. Lalu mengajakku mengobrol sedikit tentang kabar lomba-lomba baru yang sudah banyak dilewatinya.
Hanya dua puluh menit, aku menghitungnya. Kami pun mengantar beliau kembali ke ruang kamarnya. Kali ini, aku yang memapahnya masuk. Beliau ucapkan terima kasih dan melambaikan tangan pada kami. Tiba-tiba sekelebat bayang tentang beliau ketika memboncengku dengan sepeda motornya menerobos sore, membincangkan rencana-rencana membuat festival, makan bersama di tenda di pinggir jalan dan kutulis selembar puisi penuh dukungan padanya. Kubalas lambaian tangan tersebut dengan ucapan sampai jumpa. Sebab aku selalu berharap itu bukan kunjungan terakhir hingga harus mengucapkan selamat tinggal. Selalu ada kesempatan bagi jumpa untuk menjemput rindu. Bukankah begitu.
This entry was posted in

Beside

Kemarin, di saat aku tengah bergelut dengan kebosanan. Sebuah pesan muncul di layar ponsel sentuhku, teks singkat dari salah satu adik kelasku. Aku tersenyum simpul, cerita apa lagi yang ingin dibaginya denganku. Kubuka pesan baru itu, sebuah paragraf panjang diketikkannya padaku, menceritakan suatu hal yang baru dilihatnya tadi siang saat pulang sekolah. Ia katakan jika sekitar dua anak jalanan, mengamen di mobil angkutan kota yang dinaikinya bersama seorang ibu. Lama kedua anak jalanan itu bernyanyi lirik lagu yang mencoba mengisahkan bobroknya keadaan negeri. Negeri yang kaya melimpah oleh sumber daya tapi mereka tetap saja dikukung kemiskinan.  Lalu, tiba-tiba, ibu yang duduk disampingnya turun dari mobil angkutan, mengajak kedua anak itu untuk turun dari pijakkan mobil. Ibu itu membelikan mereka berdua masing-masing sebungkus jajanan siomay di pinggir jalan.
“Jarang deh lihat ada orang yang peduli banget kayak ibu itu, senang lihatnya,” komentar adik kelasku itu. Aku termenung, diam-diam menyetujuinya. Pikiranku mulai melayang, menyadari mungkin saja kedua anak itu lapar, mengamen sepanjang hari, menguras keringat untuk beberapa receh yang menyulap menjadi butir-butir nasi.
Berkali-kali, aku hanya diam. Menatap layar ponsel. Benakku menempatkanku di sebuah bangku pojok di mobil angkutan umum, pada hari siang dengan panas memanggang. Aku ingat, seorang bapak paruh baya. Perawakkan kurus. Kulitnya cokelat gelap, terasa sekali itu hasil dari terbakar matahari berjam-jam lamanya – atau mungkin setiap harinya. Noda-noda hitam memenuhi sekujur tubuhnya, termasuk pakaian kumuh yang ia kenakan – sepotong kemeja lengan panjang berwarna biru tua, dan celana panjang kelabu yang sudah koyak di berbagai sisinya. Rambut bapak paruh baya itu acak-acakkan – seperti tidak disisir setahun lebuih, mengembang ke berbagai arah, ikal kribo, disangkuti oleh banyak sarang laba-laba dan debu tebal, warnanya kusam dengan beberapa uban. Aku kerap kali melihatnya berada di sebuah tempat sampah besar, pembuangan sampah yang begitu besar dengan sampah yang volumenya begitu besar. Sampah-sampah penuh bau menusuk itu berserakkan hingga ke jalan raya, sebab tempat sampah itu tak mampu menampungnya. Tiap kali mobil angkutan umum yang membawaku pulang sekolah setiap harinya melewati tempat sampah besar itu, aku selalu melihat bapak paruh baya itu di antaranya. Tepatnya, di tengah gunung sampah, mengais makanan sisa hasil dari perut-perut buncit yang membuang makanan utuh dengan mudah. Suatu hari, mobil angkutan umumku berhenti tepat di depan tempat sampah itu. Kulihat bapak paruh baya itu lagi, yang bagi banyak orang terkesan orang gila. Bapak itu jongkok dan menemukan segumpal plastik yang berisikan makanan basah, dan memakannya dengan lahap. Di antara baunya tumpukan sampah. Di tengah lalat, ulat dan serangga yang berterbangan – bergeliat. Di pinggiran jalan penuh debu dan aspa knalpot. Di tepian kali besar yang airnya menghitam. Bapak paruh baya itu makan setiap hari. Lalu lalang kendaraan terus bergerak setiap harinya. Orang-orang larut dalam kesibukkan, tenggelam dengan kompetisi masing-masing dalam mengejar waktu.
Siang itu, setelah menerima pesan singkat adik kelasku. Aku terdiam cukup lama, mengingat kelebat bayang bapak paruh baya itu. Sudah lama tak lagi aku melihatnya, sebab liburan sudah didepan mata, aku tak lagi harus pulang sekolah dan melewatinya. Tapi, bersit tanya itu masih menancap di ulu hati; apa yang dimakan bapak paruh baya itu hari ini?
This entry was posted in

Regret

Biar kutebak – bukankah ini yang sering kita lakukan? Saling menebak dan bertaruh – kau pasti tengah berdiri berjam-jam lamanya di sebuah kedai, memaksakan seulas senyum yang menyembunyikan sejuta peluh akan keletihan, mengucapkan kalimat yang sudah kau hafal di luar kepala dan menyilakan orang-orang untuk masuk. Kau baru pulang ketika senja sudah habis dikemas dalam malam. Di hari pertama kau memulai kebosanan itu, aku berdiri dipayungi kubah emas langit sore. Tengah menimbang-nimbang, melempar ponsel ke kanan-kiri. Apakah ini saatnya aku menanyakan kabarmu setelah sekian lama kita berusaha membangun dinding tak kasat mata; berupa bentangan karpet jarak yang diam-diam semakin luas, dan berpura-pura tidak memedulikan waktu yang merangkak di tengah-tengah kita berdua. Surya seolah mengatakan padaku lewat tubuhnya yang sudah tinggal seperempat dibenamkan bondong-bondong awan gelap; cepat ambil keputusan, ikuti kemana rindu berjalan. Kemana rindu ini berpulang? Ke sepasang manik matamu yang penuh tatap jenaka. Mata yang selalu mampu memeluk mataku dengan kehangatan rumah atau rangkulan kawan dekat.
Adalah kamu, si lemah yang sudah menyerah saat malam menuju setengah. Apa kabar?
Kuketikkan pesan yang sudah melewati berjuta timbang perasaan itu padamu. Tak kurang dari semenit, ponselku mengedip, menangkap perhatianku dengan segera. Kutengok pesan balasan darimu, sekali lagi, walau dinding tak kasat mata itu masih ada, kau selalu mampu meruntuhkannya dalam sekejap dan menerbitkan senyum sederhana di sudut bibirku.
Kupertaruhkan rasa lelah selama lebih dari lima jam. Waktu, terutama rute jalan menuju pulang, tak pernah mau bersahabat.
Tawa kecilku berderai mengiringi senja yang ditutup malam. Titik-titik cahaya yang bergelantungan di kegelapan mulai berebut sapa padaku. Kuabaikan, ingin segera jemari ini mengetik balasan lainnya. Tapi, aku terhenti. Ada teks singkat lainnya darimu. Sebaris kalimat yang membuat bunga-bunga semu layu seketika dari taman hatiku yang baru saja dihujani secercah harapan.
Gadis kekanakkan, si lemah ini mengira kau akan datang kemari. Menjenguk dengan heboh ceria yang dimiliki kanak-kanak.
Diam. Bisu mengunci mulutku. Membuat kerongkonganku tercekat, lidahku dibuatnya kelu. Bisu ternyata menyiksa – saat kehilangan kata, padahal begitu dibutuhkan. Kecamuk mulai bergejolak di ruang hatiku; hai kamu yang di sana, yang berkeluh-kesah tentang hari-hari yang kau pilih, aku menyayangimu. Namun, kau tahu, aku takut. Itulah mengapa kubangun lagi dinding kasat mata itu, sebab ruang ini tak mampu menampung pemenuhan janji-janji, menyediakan stok kalimat-kalimat manis, memikirkan jalan-jalan kerelaan dan memastikan di ujung sana ada tanganku yang selalu menggenggam erat di sampingmu.
Hey kamu, maaf, aku digerogoti sakit yang membuatku tidak mampu bergerak menebas jarak sejauh itu. Bagaimana dengan gadis-gadis lain di sana? Ada yang cocok sebagai incaran atau berhasil menambat hatimu?
Aku mengklik tombol ‘kirim’. Sekali lagi, aku hanya gadis kekanak-kanakkan yang merindukan bulan, namun kukatakan pada rembulan untuk mencintai yang mampu membuatnya terus tersenyum bercahaya; Surya.
*teruntuk kamu si mata jenaka; yang selalu cerdas membaca tiap pesan yang kusematkan diam-diam di antara rimbun kata.

Ours

Katanya, jika seikat persahabatan dijalani dan dijaga selama tujuh tahun, maka persahabatan itu akan berlangsung selamanya. Kamu katakan padaku lewat sambungan telepon di suatu malam yang pucat. Lantas, aku menghitung lamanya persahabatan kita; enam tahun. Aku tertawa. Kita sama-sama diam, sebab kita bersama tahu. Kita tengah mengulang waktu pada tahun-tahun awal kita bertemu.
Aku mengenalmu sebagai sahabat yang pemalu di awal pertemuan kita, lalu kamu menjelma menjadi sahabat tergila yang pernah kukenal. Kita menjadi rival sejati sekaligus sahabat sampai mati. Kita saling berlomba, mengejar impian masing-masing, menaruhkan segala usaha, mengadu semangat di sebuah ruang kelas yang dipenuhi hiruk pikuk persaingan kita berdua. Mengenangnya selalu menerbitkan senyum kecil di sudut bibir atau rasa geli di relung hati. Kita terlalu serius dalam hal yang kekanak-kanakkan. Dan, kita kerap kali begitu kanak-kanak dalam urusan yang serius. Tapi, bukankah begitu caranya membalikkan hujan menjadi pelangi?
Itulah kamu, sahabatku. Kamu; yang selalu menungguiku sehabis pulang sekolah. Duduk di sebuah lorong tunggu yang kadang kala sudah diisi sunyinya siang. Hanya untuk pulang bersama, membunuh waktu perjalanan pulang yang bosan jika dilewati sendirian. Kamu; yang pernah secara spontan, muncul di pagar depan rumahku di waktu menjelang pertengahan malam, dan menukar berpuluh, beribu dan berjuta kisah akan banyak hal. Dan, membuatku kerap kali tertawa karena kekonyolan dan kepercayaan diri kita berdua. Banyak yang bilang, pertemuan kita berdua adalah hasil persetubuhan antara keramaian dan kebisingan, sebab kita selalu mampu memecah hening menjadi perdebatan sengit dan meretakkan sunyi menjadi percakapan panjang yang menghabiskan bercangkir-cangkir minuman berwarna. Kamu; yang menawarkan sepotong senja menenangkan setelah aku dipayungi mendung. Sejak itu, aku selalu memotret senja dalam tiap kisah yang kutulis. Sebab, ia sepertimu. Senja yang selalu berarti pulang. Padamu, aku seolah merasakan kehangatan berpulang pada rumah yang nyaman.
Mungkin, pernah terbersit dibenakmu, aku terus menulis kisah tentang banyak orang. Tentang orang-orang di sekitarku. Tentang mereka yang pernah menyinggahi tepian hatiku dan memberi jejak berarti di sana. Namun, dari ratusan tulisan itu, tak pernah sekalipun kutulis tentang kisahmu. Andai kamu tahu, sebab, kata-kata, sebanyak apa pun itu, seindah apapun itu, tak pernah mampu sekalipun melukis kebersamaan kita. Terlalu banyak. Terlalu indah. Hingga sederet dan sebaris kata saja menyerah untuk menguntainya.
Bersama tulisan ini, kuucapkan terima kasih padamu, sahabatku. Yang akhir April lalu, ia potongkan senja pukul enam sore untukku. Kini, senja itu sudah kupangku. Meresap perlahan pada kenangan kita. Menarikku untuk bercerita di sini kepada dunia, jika aku merasa berharga pernah dan berharap selalu memilikimu, sahabatku.
Sebab, memilikimu dalam persahabatan adalah hal berharga yang pernah kupunya, Ricky Phan.

Kamuflase Mimpi

Sebuah performance art perdana nan sederhana (dan aku berharap ini bukan performance art terakhir, karena membuat performance art itu ternyata menyenangkan!) yang kubuat bersama kawan-kawan sekelasku akhir Februari lalu. Kami berusaha sedikit ‘memberontak’ dengan mengambil tema pendidikan, dengan ‘menyentil’ sistem pendidikan sekarang yang dikeluhkan para pelajar. Katanya tempat menggantungkan mimpi. Katanya wadah kreasi minat bakat. Tapi, angka-angka justru semakin menekan, menjerat dan menghakimi. Kemana kebebasan berekspresi untuk mengejar mimpi sesuai bidang? Saat angka berbicara, saat waktu menekan, saat tugas-tugas hanya terasa seperti beban yang harus cepat-cepat diselesaikan untuk formalitas belaka. Dan, inilah kamuflase mimpi. Silahkan menikmati. 
Saat kau duduk di bangku kayu itu selama lebih dari tiga tahun. Menelanjangi putihnya papan yang dinodai tinta di tiap hitung waktu. Berusaha meretas masa depan dengan deret angka dan kata, yang katanya jaminan. Lantas bertanya, apakah ia hanya bunglon. Memimikri. Diam-diam mengamuflase mimpimu. Hingga kau tak tahu, sudah sampai tahap metamorfosis yang manakah kau jajaki mimpi bersama ilmu.
the poster

my team

during performance

 This is the klip:

This entry was posted in