Wednesday, 3 January 2018

Setiap Malam Aku Bermimpi Jatuh Cinta Padamu Sambil Berduka Cita

Malam itu, kamu mengantarku pulang setelah hari yang panjang. Di balik kaca jendela mobil yang dikemudikan seseorang asing buatku namun melihatmu tumbuh sedari remaja, kubilang padamu – malam berhasil memaksa kota untuk bersalin baju. Lihatlah, gedung tua itu yang tubuhnya retak di  bawah dada dan bagian belakang punggung, yang sesekali basah dan kupikir itu air matanya, kini samar di bawah hitam hingga tampak berdiri utuh tanpa luka. Kamu hanya butuh menggantunginya satu atau dua lampu oranye, ia akan terlihat seperti punya jendela kosong yang mengajak siapapun yang menengok untuk bercerita. 

Dan, sayang, malam sesekali bisa mengubahmu jadi pujangga paling romatik di kota atau para pecinta yang baru menyadari mereka jatuh cinta sambil berduka cita.

Kamu mengernyit. Wajahmu hanya separuh di mataku, dan setengahnya lagi dipinjam malam. Begitukah cara langit gelap menyentuhmu? Merebutmu sebagian, dan sisanya adalah tebakan-tebakan penuh kerinduan. Mari berhenti sejenak, sampai di sini ada hal-hal yang ingin kuberitahu padamu. 
sumber: pinterest
Setidaknya sudah tiga kali mereka bilang kita tidak akan berhasil. Tak ada petang untuk malamku dan siangmu – jembatan itu terlihat terbakar. Dan kamu tertawa ketika aku membalas, ciuman panas memang bisa membakar apa-apa yang di sekitar. Kita sama-sama memahami jika aku tak percaya ramalan – satu-satunya alasan aku terus menulis tentang kita, karena aku tahu aku bisa menciptakan dan menyusun akhir cerita kita sendiri. Namun di luar itu, kamu harus percaya apa yang muncul di kepalaku setiap selesai kubisikkan selamat menghitung domba sebelum tidur; aku punya kebiasaan menolak lelap karena belakangan ini ide-ide perpisahan kita hadir timbul tenggelam, dan semakin hari terasa kian nyata.
Kamu berdiri di ujung fajar mengenakan kaus yang kubilang berbau seperti jahe atau jamu dengan celana hitam favoritmu yang kamu pilih saat kutemani, dan aku minum teh beraroma sitrus seraya menunggu senja menurunkan diri – sayang, orang-orang melihat kita sebagai gambaran untuk suatu yang pasti dan lupa kalau terbit dan benam tak pernah bertemu dan punya cerita soal kebersamaan menjalani hari. Aku takut, kita terlampau begitu berbeda hingga jalan kamu dan aku hanya saling menabrak dan meninggalkan bekas-bekas yang membiru; kita saling mencintai sambil melukai satu sama lain. Atau terlalu sama, sampai kita hidup terus bersisian, jalan berdampingan, dan lupa kalau kisah butuh ujung yang berlawanan untuk sampai di satu titik yang mereka sebut: pertemuan dan kepulangan. Aku sangsi kita punya itu.
Kamu pergi jauh. Kamu bilang untuk mengisi rentang kekosongan karena aku memintamu menunggu dan kamu memilih menantinya di sana. Dan kita memakai jargon-jargon manis yang dijual iklan benda-benda lucu hadiah valentine seperti pakaian sehari-hari untuk menutupi kesalah yang kamu dan aku rajut bersama. Kita mengenakannya untuk memaafkan satu sama lain atau bahkan: diri sendiri. Karena mungkin saja, aku lalai mencintaimu dengan benar, dan kamu lelah menjalaninya.
Mari kuucapkan lebih nyaring: aku bermimpi dengan mata terbuka, membayangkanmu melihat separuh dari diriku yang kamu favoritkan di wajah orang lain. Kamu menemukan genapnya jawaban-jawaban tergantung di dada perempuan yang kamu temui setelah aku, di depan toko roti tempat biasa kamu pulang berkantor. Kamu berada di atasku dan aku menciumi rasa vanilla asing yang sebelumnya tak pernah kutemui di bibirmu. Kamu lupa caranya menunggu karena denganku terasa selalu dalam waktu tunggu. Dan, aku menemukan selama ini kita menyimpan kematian-kematian kecil, hanya saja aku dan kamu sanggup membelah diri jadi banyak dan mulai lagi dari awal.

Sayang, lambat laun tampak seperti rasa rindu yang terus menggigil dan aku kehilangan tubuhmu untuk menyelimutiku, jadi dingin itu terus menusuk dan perlahan aku mati. Atau mungkin tubuhmu ada di sini, hanya saja juga mengigil, rasanya sama: dingin – dan kita sampai pada persimpangan, salju sudah menebal, cuaca terus menimbun es, dan matahari menolak terbit, lalu aku pun menyadari kita sudah tidak ingat lagi cara memakai korek api.

Aku bangkit dari kasur – kulirik weker digital di atas nakas kamar: sudah pukul tiga. Pagi masih kehilangan penglihatannya dan kudengar suara pentung dari pos ronda menyelip di antara dengkuran. Aku tak bisa tidur kemarin, lalu kutelepon kamu yang dijawab dengan seperempat nyawa. Kira-kira seperti ini percakapan kita.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Untukmu boleh apa saja.”
“Setiap kali kita mengucap selamat tidur, mengapa terasa seperti kecupan perpisahan?”*

--
*percakapan ini dinukil dan diterjemahkan dari puisi ‘Souls/Jiwa’ karya Lang Leav