Tuesday, 29 May 2018

Cita-cita Harum Citarum


Pada kedalaman, kuyakin tiap manusia percaya jika alam berbahasa lewat pertanda. Abrasi jadi cara pantai bicara ia kehilangan bakau. Air bah datang jadi cara hutan berbisik ia terlampau gundul. Sesekali, sedikit dari pemisalan itu sesungguhnya bukan saja perihal pertanda, melainkan juga peringatan. Terlebih ketika si penghuni – kita kerap abai; jauh dari hirau. Pertanda itu berubah jadi peringatan, dan naik sebagai bencana.
sumber foto: www.austroindonesianartsprogram.org

Begitu yang kemudian kau dan aku temukan ketika berdiri memandang selengkungan sungai yang memanjang hingga 297 km di Tatar Pasundan, tanah Jawa, kota Bandung.  Ia adalah Ci Tarum – secara harafiah, kita bisa memanggilnya air nila; air indigo. Namun, saat ini ia tampak sewarna got: cokelat menghitam nan gelap. Ia adalah sungai terpanjang dan terbesar di dataran Barat Jawa, jadi kebanggaan sebab lebih dari sekadar aliran air, ia punya sejarah dekat dengan Nusantara. Mulai dari jadi saksi bisu berdirinya kerajaan Tarumanegara dan pembacaan teks proklamasi, hingga jadi bukti perbatasan wilayah-wilayah. Namun, saat ini ia berganti peran jadi tempat pembuangan sampah dan limbah yang tak bertanggungjawab. Ia adalah aliran air panjang yang padanya sekitar jutaan orang penduduk, ratusan pabrik, waduk-waduk, hingga hutan, bergantung. Jadi pembangkit tenaga, pemasok air baku, sumber mata air pengunungan. Namun, saat ini ia tak lagi didekati, melainkan ditakuti – sebab banyak pasang mata bersaksi, minum airnya adalah mati bunuh diri.

Sudah puluhan tahun lalu Ci Tarum beri pertanda. Tapi kau dan aku pernah abai, dan lupa. Lalu tahun-tahun itu terlewati dengan peringatan yang juga tak kunjung peka oleh kita. Hingga Ci Tarum menjerit pada 2007 dan berteriak pada dunia dengan penyakitnya yang sudah tua: aku jadi sungai paling tercemar di dunia! Paling rusak. Paling bernoda. Paling sakit. Maka, inilah keadaannya: jadi bencana.

Dilaporkan NatGeo[1], kotornya Ci Tarum menyebabkan 100.000 hektar sawah tidak produktif memanen hasil dikarenakan pengairan dari sungai yang kotor justru mematikan tanaman. Pada tahun yang sama, Ci Tarum tak lagi cukup mampu membudidayakan bio laut yang potensial untuk ekonomi masyarakat. Dikatakan, hilir Ci Tarum memiliki sifat air tawar yang diperlukan untuk mengurangi keasinan air tambak jadi payau telah terganggu akibat tercemarnya sungai oleh limbah dan sampah. Maka, penduduk pun kehilangan pertumbuhan ikan bandeng dan penanaman udang windu.

Disampaikan Kompas[2], tercemarnya Ci Tarum berdampak pada kerusakan turbin pembangkit listrik. Menurut General Manajer Indonesia Power dikutip lewat harian yang sama, hal ini dikarenakan pencemaran sungai memudahkan pengkaratan pada alat-alat pembangkit, sehingga pergantian rutinnya jadi lebih cepat, memakan biaya, dan tentunya kerugian.  Dipaparkan juga, rusaknya Ci Tarum akibat kandungan limbah berbahaya baik bilogis maupun kimiawi telah menjadi sumber penyakit. Oleh Badan Pengendali Lingkungan Hidup Jawa Barat, di Ci Tarum telah ditemukan sejumlah vektor penyakit antara lain cacing, moluska, nyamuk dan tikus. Ke semuanya berpotensi menulari masyarakat penyakit seperti malaria, tipus, demam berdarah, hingga cacing atmbang.

Sampai di sini, kau dan aku mungkin melihat Ci Tarum tampak menyerah – ia sakit dan menunggu ajal. Mungkin sudah lupa cara mencecap rasa jernihnya laut, sudah tak ingat bagaimana bisa mengalir lancar dari hulu ke hilir, dari laut ke samudra, hingga memeluk bumi pertiwi lewat mata airnya yang menghidupkan. Ia gelap pertanda akan mati segera. Tapi, iyakah?

Pemerintah Indonesia berkomitmen akan menormalisasi Ci Tarum dalam waktu 7 tahun. Langkah-langkahnya mulai terlihat baik secara struktural dan non-struktural. Berdasarkan laporan Tribun Jabar[3], terdapat kerja sama banyak pihak dan lembaga untuk menyukseskan normalisasi Ci Tarum. Dikutip lewat Tribun Jabar, menurut Balai Besar Wilayah Sungai Ci Tarum, dari pembuatan tanggul untuk menanggulangi potensi banjir per-periode, hingga penggalian sedimen dan membuat gradien kemiringan dasar sungai agar aliran cepat mengalir terus dilakukan sebagai cara perbaikan. Menurut Setkab, pemerintah akan membangun terowongan air dan kolam retensi, gunanya untuk menampung debit air hujan yang melimpah ruah serta diikuti untuk menormalisasi empat anak sungai terkait. Menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Barat, akan dilakukan penghijauan pada sekitar 7.200 hektar lahan kritis sekitar Ci Tarum, mendesak perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan aliran Ci Tarum selama ini untuk bekerja sama melakukan pengolahan air limbah, pembuatan WC komunal bagi masyarakat agar pembuangan tinja atau kotoran tidak dialirkan ke Ci Tarum. Menurut Bappenas, akan dilakukan penghilangan kawasan kumuh sekitar Ci Tarum demi menargetkan ‘Ci Tarum Zero Kawasan Kumuh, Seratus Persen Air Bersih’.

Melihat sejumlah langkah tersebut, yang mana menyatukan banyak lembaga yang saling bahu membahu jadi satu untuk mengembalikan lagi Ci Tarum bersih, maka jawaban untuk ‘iyakah Ci Tarum kehilangan nyawa?’. Jawabannya, tidak. Masih ada harapan, dan selalu. Sebab, kondisi Ci Tarum saat ini akibat kau dan aku jua, maka kita juga yang mampu membawanya pada sungai sebagaima mestinya lagi: bersih nan sehat untuk diminum, jernih nan berkualitas untuk perkembangan budidaya bio laut, lancar alirannya untuk membangkit energi, hingga indah kawasannya untuk rekreasi. Segenap potensi yang bisa kembali jika kau dan aku bersatu jadi kita, untuk hadirkan solusi. Berikut langkah lainnya yang dapat kau dan aku jadikan referensi program pembersihan Ci Tarum agar senantiasa lestari.

                Pertama, bisa mulai dari pemurnian air limbah. Mencontoh cara Jerman menormalisasi Sungai Elbe[4] yang terkenal tercemar oleh limbah industri, Ci Tarum juga bisa mempraktekkannya mengingat salah satu penyebab besar pencemaran adalah limbah. Pemurnian air limbah bisa dilakukan dengan membangun IPAL, yang tidak hanya menyaring limbah secara mekanis, tapi juga harus biologis dan kimiawi. Namun pemurnian ini harus dialkukan terus menerus, bukan saja hulu ke hilir atau sebaliknya, melainkan juga di tiap kanal-kanal. Jadi, dilakukan pemurnian dari kanalisasi yang berkomitmen. Sehingga air limbah jadi aman untuk dibuang.

                Permurnian secara biologis, menurut Riffat[5], bisa dilakukan dengan proses penghancuran atau penghilangan kontanminan dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Tujuan utama pengolahan dengan metode biologi adalah menghilangkan dan mengurangi bahan organik biodegradable dari air limbah ke tingkat yang dapat diterima sesuai dengan ambang batas yang telah ditentukan. Pengolahan secara biologi juga digunakan untuk menghilangkan nitrogen dan fosfor dari air limbah. Beberapa metode yang digunakan pada proses pengolahan biologis antara lain proses anaerobik, aerobik, bioreaktor, dan lumpur teaktifasi.

                Sedangkan proses normalisasi air secara kimiawi menurut Riffat[6], bisa dilakukan dengan proses yang melibatkan penambahan bahan kimia untuk mengubah atau destruksi kontaminan. Proses pengolahan air limbah secara kimia antara lain dengan menggunakan koagulasi dan adsorpsi.

Kedua, tidak hanya limbah cair, limbah padat dari industri juga perlu diberi perhatian. Dalam hal ini, kita bisa mencontoh cara Tiongkok membersihkan sungai-sungai. Berdasarkan penuturan
Profesor Wang Hao, Ketua China Sustainable Development Research Association pada dikutip dari
CNBC Indonesia[7], kita bisa menerapkan sistem Kepala Sungai utnuk pembersihan limbah padat Ci Tarum. Maksudnya, hadirkan sistem kepala sungai untuk perwakilan administrasi di semua wilayah. Contoh, jika ada dua belas kabupaten di aliran, pastikan dua yang paling hulu jadi kepala sungai. Lalu, dari sana diidentifikasi mendalam apa penyebab utamanya dari hulu yang mengaliri sungai hingga tercemar. Jika penyebabnya adalah limbah padat dari masyarakat. Segera lakukan pengolahan dengan cara pembuatan lubang tanah untuk limbah hingga menuju cara pembakaran. Proyek pengolahan ini harus dilakukan konsisten, Jepang pernah melakoninya hingga 25 tahun, begitu pula dengan Jerman sampai 40 tahun hingga mampu mempertahankan hasil sungai bersih untuk masa depan. Selain itu, bisa juga dibuatkan waduk atau danau dengan sistem pengolahan limbah yang canggih, sehingga pembuangan diarahkan dari daerah alisan sungai (DAS) menuju waduk atau danau tersebut. Setelah pengolahan selesai dari sana, baru kemudian dialirkan kembali ke sungai.

Lebih lanjut mengenai metode pengolahan limbah padat ini, kita bisa mencontoh pembersihan sungai Emscher. Pada normalisasi sungai tersebut, insinyur Manfred Ruter[8] pada Emscher Genossenschaft, sempat menuturkan bahwa diperlukan teknologi pompa air berupa ulir raksasa. Pompa ini nantinya berguna untuk memindahkan air dari sungai ke instalasi pengolah limbah yang ditunjuk atau IPAL, sehingga akan dimulai penyaringan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah tahap pembersihan secara mekanis. Dengan cara seperti ini, limbah padat bisa dipisah dan dibagi untuk kemudian diproses filtrasi hingga berguna sebagai bahan bakar generator listrik.

                Lebih dalam lagi, menurut Manfred, dalam proses mekanis pengolahan limbah, akan terjadi permisahan terhadap limba jenis padat, lalu pemisahan dilakukan lebih rinci lagi hingga pasir dan kerikil juga. Lalu, pada tahap selanjutnya atau yang sering disebut penjernihan awal, semua unsur yang mengendap tersebut akan dipisahkan dari air. Setiap harinya pembersihan ini harus dilakukan, jika bisa, setidaknya menargetkan perharinya 70.000 kubik air. Agar program pembersihan ini berjalan maksimal, ada baiknya juga dilakukan pengawasan ketat menggunakan komputer yang terhubung dengan instalasi – sehingga bisa memantau pengerjaan normalisasi serta mampu mendeteksi adanya gangguan berarti pada sungai yang memerlukan tindakan segera.

                Setiap air kotor dibersihkan dengan cara demikian pada tiap kanal maupun kolam yang dilalui. Maka, tersisa limbah padat dan air bersih yang sudah tersaring. Limbah padat yang tersisa bisa dimanfaatkan lagi dengan cara dibakar dan energi yang dihasilkan bisa digunakan untuk menggerakan pembangkit listrik.

                Ketiga, melakukan penambahan hutan kota atau ruang terbuka hijau raksasa. Fungsi hutan kota harus dikembalikan dan dimaksimalkan kembali – karena dengan adanya daerah resapan air, berguna untuk mengurangi debit air yang masuk ke sungai dan sekitarnya agar tak terjadi banjir dan mengangkut sampah-sampah di daratan lagi ke sungai. Hal ini bisa mengurangi tingkat kontaminasi sungai. Lebih jauh lagi, selain pembuatan hutan kota, menurut Maryono[9] bisa juga dilakukan penghijauan bantaran sungai, yakni mengembalikan daerah resapan air serta mengkondisikan kembali vegetasi daerah sungai agar kembali baik. Jika vegetasi baik, dampaknya bisa baik untuk pelestarian ekosistem ke depan. Karena vegetasi baik akan mampu menghambat laju sungai secara alamiah ke hilir, sehingga bisa mengurangi banjir dan erosi di sepanjang sungai. Dengan begitu, penciptaan sistem konservasi air dan tanah pun otomatis ikut terjaga. Hal ini harus jadi perhatian dalam hal perbaikan Ci Tarum, mengingat masih adanya pemukiman dan bangunan kumuh di sekitar bantaran yang telah menumbang kerusakan sungai secara ekosistem dan hidrologis aliran sungai.

                Dengan sejumlah langkah yang berfokus pada pengolahan limbah padat dan cair sungai Ci Tarum tersebut, jika dilakukan dengan konsisten dan komitmen dari semua pihak, niscahya cita-cita Ci Tarum untuk harum bukan lagi sekadar yang diangankan. Melainkan, yang diwujudkan jadi nyata. Mari buat Ci Tarum harum kembali, senyum lagi – sebab begitu bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia kepada alam, serta rasa terima kasih kau dan aku pada sungai yang selama ini telah memberi banyak sumber kehidupan bagi kita.

*tulisan ini dibuat untuk mengikuti kompetisi menulis Writingthon Dikti mengenai normalisasi sungai Ci Tarum



[1] National Geographic, “Efek Kerusakan Citarum Sangat Luas”, diakses dari http://nationalgeographic.grid.id/read/13279958/efek-kerusakan-citarum-sangat-luas?page=all pada Mei 2018
[2] Nurulloh, “Kerusakan Citarum Merugikan Semua Pihak”, Kompas Online, diakses dari https://regional.kompas.com/read/2011/04/26/12074821/kerusakan.citarum.merugikan.semua.pihak pada Mei 2018
[3] Theofilus Richard, “Ini 5 Langkah Penanganan Sungai Citarum”, Tribun Jabar Online, diakses dari http://jabar.tribunnews.com/2018/01/29/ini-5-langkah-penanganan-sungai-citarum-termasuk-penghilangan-kawasan-kumuh?page=3 pada Mei 2018
[4] Marc Von Lupke, “Bagaimana Sungai Jerman Bisa Bersih?”, DW online, diakses dari http://www.dw.com/id/bagaimana-sungai-jerman-bisa-bersih/a-17010309 pada Mei 2018
[5] Riffat, R., Fundamentals of Wastewater Treatment and Engineering, (Amerika: CRC Press, 2012)
[6] Riffat, R., Fundamentals of Wastewater Treatment and Engineering, (Amerika: CRC Press, 2012)
[7] Ray, “Bersihkan Sungai Terkotor di Tanah Air, Indonesia Tiru Cara Cina”, CNBC Online, diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20180406142051-4-9979/bersihkan-sungai-terkotor-di-tanah-air-ri-tiru-cara-china pada Mei 2018
[8] Grahame Lucas & Anwars Ashraf, “Membersihkan Sungai Emscher”, DW Online, diakses dari http://www.dw.com/id/membersihkan-sungai-emscher/a-17345018 pada Mei 2018
[9] Agus Maryono, River Development Impact and River Restorations - Pembangunan Sungai Dampak dan Restorasi Sungai, (Jogjakarta: 2003)

This entry was posted in

0 Comments:

Post a Comment