Tuesday, 21 August 2018

(Opini) Upaya Merdeka di Era Digital: Perangi Hoaks!

Suatu waktu, seminggu sebelum perayaan 17 Agustus, salah satu kawan karib saya mengirim pesan kalau ia ingin mengkredit sebuah motor sambil curhat panjang lebar. Kawan saya cerita jika ia sempat termakan iklan abal-abal dari media sosial mengenai tempat kredit motor. Penawarannya terdengar menjanjikan, padahal itu hanya cara untuk menipu uangnya. Untungnya, kawan saya tidak sampai melakukan transaksi karena telah mencium bau-bau janggal sejak awal. Ia pun bertanya adakah tempat kredit motor yang bisa saya rekomendasikan atau pernah keluarga saya pakai jasanya. Saat itu ada satu hal yang muncul di kepala: Moladin.com!
Saya pun mengetik pesan balasan, Moladin, aja! Moladin itu situs terpercaya tempat jual beli motor. Di situ ada penawaran bagus mulai dari perlengkapan, aksesoris, suku cadangm layanan perawatan sampai bengkel motor. Jadi semuanya lengkap dan all in! Kawan saya pun segera meluncur ke sana dan takjub ada situs yang bisa memuat seluruh hasratnya mengenai dunia motor. Sejak itu, kami berdua jika bicara motor selalu ingat Moladin.com, hahaha!
Dan, berkat pengalaman kecilnya mengenai penipuan di media sosial, serta bertepatan dengan momen kemerdekaan 17 Agustus-an, saya pun terpantik untuk bicara soal makna merdeka di era digital. Saya tergelitik oleh pertanyaan, apakah kita sudah merdeka dalam dunia digital? Sementara masih ada saja iklan abal-abal sampai berita palsu beredar di jejaring dunia maya.  
Hoaks Menggurita Via Media Sosial
 
sumber foto: Tribata
Setiap harinya kita selalu menerima banyak informasi dari berbagai sumber, sebagian berasal dari media konvensional, sering kali didapatkan bahkan dari komunikasi warung kopi dan sebagian besarnya lagi didapatkan dari media 2.0 yang memperkenalkan media sosial. Media sosial adalah base media baru yang dengan mudah dimiliki oleh setiap individu, kelompok, maupun lembaga. Karena hal ini, setiap orang dapat menjadi jurnalis/penulis bagi media sosial miliknya. Mereka inilah orang-orang yang disebut sebagai citizen journalism, yang mampu memanfaatkan media sosial yang dimiliki untuk menghasilkan informasi dan menyampaikan pendapat secara mudah dan cepat. Ini adalah salah satu bentuk hadiah besar dari tujuh puluh tiga tahun kemerdekaan Indonesia: kebebasan berpendapat dan beropini. 

Namun, ‘hadiah’ besar ini bagai pisau bermata dua terutama saat dihadapkan di era digital. Di satu sisi, memudahkan kita sebagai individu untuk berekspresi dan berkarya, tapi di sisi lain ada ancaman baru mengintai: beredarnya berita fiksi atau istilah populernya hoaks. Hoaks sendiri diartikan sebagai  sebuah pemberitaan palsu untuk menipu seseorang atau mengakali publik untuk mempercayai sesuatu hal, yang sifatnya tidak benar dan kemudian disebarluaskan melalui media elektronik. Disebut sebagai berita hoaks karena sulitnya di identifikasi siapa yang menyebarluaskan dan sumber berita yang tidak jelas, terlebih saat siapa pun bisa menghasilkan informasi dan mendistribusikannya via media sosial.

Dampaknya, tidak sedikit berita yang beredar dan dipercayai oleh masyarakat adalah berita fiksi atau sering di sebut hoaks, biasanya hoaks sangat cepat menyebar melalui jaringan media sosial. Semakin banyak berita itu di-share dan like maka berita itu akan dianggap mempunyai value dan dipercayai kebenarannya. Padahal, hoaks adalah sebuah bentuk penipuan massal. Sebab, hoaks tak jauh berbeda dari pesan berita yang tidak benar atau kabar burung. Kejahatan dan kriminalitas bisa muncul dari hoaks, contohnya adalah penyebaran berita yang menjelek-jelekkan seseorang, rekayasa atas berita akan kejadian dan insiden tertentu, sampai hasutan-hasutan kebencian. Hal ini harus diantisipasi, mengingat hoaks bertujuan untuk membentuk suatu opini publik dan juga mengiringnya pada suatu titik membentuk persepsi orang banyak.

Oleh karena itu, memaknai kemerdekaan di era digital saat ini bisa dimulai dengan upaya bahu-membahu kita semua untuk melawan serangan hoaks. Jangan mau dijajah oleh berita palsu di dunia digital. Jangan mau dipasung oleh informasi-informasi bohong yang memecah belah. Jangan mau dibodohi oleh hoaks. Lawan balik! Kabar baiknya, ‘perang’ terhadap hoaks di momen kemerdekaan Indonesia di era digital ini telah dilakukan dengan banyak dukungan. Pergerakan melawan hoaks diterapkan baik dari pihak LSM atau komunitas, pemerintah, media, maupun masyarakat dalam memerdekan diri dari hoaks.

Cek dan Ricek dari Situs Kredibel

Dari pihak LSM, saya sempat mewawancarai ketua MAFINDO atau Masyarakat Anti Hoax Indonesia, Septiadji Eko Nugroho via Skype. Beliau berbagi banyak pengetahuan perihal alur kerja hoaks serta bagaimana MAFINDO berperang melawannya.
“Tujuan dari HOAX adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan.  Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah langkah. Oleh karenanya kita perlu langkah untuk melawan hoaks ini. Dari MAFINDO, kami punya empat gerakan perlawanan yakni narasi kontra hoaks, edukasi literasi, advokasi, dan silaturahmi,” ujar ketua MAFINDO yang akrab disapa Adjie ini.
sumber foto: Keep Calm o-Matic

Tak hanya itu, pihak pemerintah pun tinggal tinggal diam. Dalam kesempatan yang baik, saya mengobrol dengan Kabid Diskominfo Kabupaten Tangerang, Syahrizal, yang menuturkan bahwa Diskominfo Kabupaten Tangerang membentuk khusus KIM atau Kelompok Informasi Masyarakat. Kelompok ini terdiri atas relawan-relawan dari masyarakat yang berkolaborasi dengan pemerintah untuk menggalakan kampanye penyaringan informasi atau berita.
Dalam obrolan itu, Syahrizal juga menyampaikan tips bagi kita, khususnya anak muda dalam menangkal hoaks, “Lakukan cek dan ricek. Konsumsi berita dan informasi hanya dari media yang kredibel dan terpercaya. Selain itu, jangan telan mentah-mentah informasi yang berbedar di medsos, tetap cari bukti kebenarannya lewat mesin pencari. Balik lagi ke awal: cek dan ricek!”
Sampai di sini, saya sangat sepakat dengan tips dari Kabid Diskominfo Kab. Tangerang, Syahrizal. Cek dan ricek. Contoh dari tindakan ini bisa diwujudkan seperti yang kawan karib saya curhatkan di awal. Ia melakukan cek dan ricek terhadap iklan abal-abal di medsos, sehingga ia tidak terkena tipu. Cek dan ricek bisa dimulai dari mengecek ke media dan tempat yang kredibel. Semisal jika ingin mengcek pemberitaan yang dibagi di grup Whatsapp, kita bisa ricek ke media besar nan kredibel seperti Kompas, Detik, Tirto, dan lain-lain. Lalu, kalau mau tahu informasi dunia motor, apapun itu dari segi perawatan hingga pemasaran jual-belinya, bisa dicek ke situs Moladin.com.


Wawancara dan obrolan itu pun saya tutup dengan harapan dan kepercayaan besar. Hoaks mungkin bisa menyebar cepat, tapi dengan adanya sinergitas dari seluruh lapisan masyarakat akan literasi media dan pengembangan sikap selektif, besar peluang kita untuk merdeka dari hoaks! Dan, ssst, kawan saya itu akhirnya mendapatkan pertimbangan yang bagus dari review-review motor di situs Moladin.com, lalu ia sempat menelepon saya untuk bilang, “Moladin.com trusted,  anti-hoaks! Thanks rekomendasinya”. Saya hanya bisa tertawa mendengarnya, hahaha. Dibilang juga apa!
This entry was posted in

0 Comments:

Post a Comment