Saturday, 9 April 2016

Tentang Ada yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni



Kukira ketabahan hujan bulan Juni benar-benar mengusikku. Sebab, ada ketabahan-ketabahan lain yang menyerupainya atau mungkin lebih darinya, hanya saja, mereka tidak pandai berpuisi.
sumber gambar: vi.sualize.us
: secangkir kopi hangat yang diaduk-aduk; berputar-putar – tak kunjung disesap si pemesannya. Sementara pusaran kecil yang tercipta di tengah adukan, semakin lama semakin membesar, mencipta lubang menganga yang lebar di pusat genangan kopi dalam cangkir. Untuk menyimpan kenangan-kenangan yang menetes dari kedua mata si pemesan, yang sembab oleh cairan hangat berwarna merah, berbau anyir yang busuk. Dan, secangkir kopi itu masih menunggu seraya melontarkan pertanyaan yang sama; kapan aku diteguk?
: buku-buku yang berantakan di atas meja kerja dan belajar; yang tak kunjung dibaca oleh si pembelinya. Katanya tak sempat, lantas menjemput mereka pulang dari toko buku ke kamar, hanya untuk ditelanjangi sampulnya, diraba-raba halamannya, dan dicium wanginya. Lalu, dionggok sedemikian lama. Namun, buku-buku itu – yang pelan-pelan menua dengan menyepia – masih setia di sana. Tidak beranjak atau berpindah. Sebab, kata mereka, selalu ada alasan mengapa mereka dipilih di antara jejalan buku di rak. Mereka punya harapan, itu yang mereka percaya; pembaca akan kembali mencintai mereka seperti pada pandang pertama.
: daun yang menguning dan bergantung begitu rapuhnya di dahan pohon; yang tak kunjung dijatuhkan oleh angin. Ia sudah cukup dewasa untuk menemui pinangannya, sebidang tanah. Tapi ia masih belum dibantu embus-embus atau sepoi angin yang tiap hari lewat. Ada kebimbangan merajut perlahan di sana. Tentang sebatang pohon yang belum rela melepaskannya, dan angin yang masih mau berbincang dengannya sebelum ia benar-benar jadi milik tanah. Daun tidak memberontak, ia biarkan dirinya mengering, dimakan musim, menunggu waktu yang tepat untuk bertemu.
: seekor anjing yang pergi ke tempat yang sama setiap harinya, berdiri di sisi yang serupa selama kesehariannya; yang tak kunjung absen demi bisa melihat majikannya menyambutnya, sekali lagi. Terlalu banya kemungkinan yang berkelebat di benak si anjing; mulai dari ia dibuang, majikan yang meninggalkannya begitu saja, ia salah tempat, tersesat, atau memang majikannya sudah tiada dan ia tidak diajak ke surga. Barang kali tak satupun yang ia percaya selain bahwa suatu waktu nanti ia pasti bisa menemukan majikannya lagi, sepulang kerja sembari mengeles-elus dagu dan kepalanya, seperti dulu. Karenanya ia masih menunggu; berubah jadi ketabahan yang membuatnya jadi patung.
Atau yang terakhir,
: seorang perempuan yang terus mencintaimu, yang selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu. Ia jugalah yang menggeletar dalam doa-doamu dan kau pun bisa tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu. Keduanya, tanpa pernah kamu tahu. Juga sama, tetap ia yang selalu berbisik lembut di telingamu, hingga seluruh kenangan menjadi hangat dalam ingatan, dan ketika kamu terisak menahan tangis, ia merasuk ke dalam sesak dada dukamu hingga kamu memahami air matamu jatuh bukan untuk sia-sia. Seluruhnya, tanpa pernah engkau menyadari. Bahwa memang ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, lebih arif. Sebab ia selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu. Kamu hanya tak pernah tahu. Tak pernah menyadari.*
 

*judul dan paragraf terakhir dari tulisan ini diambil dari puisi berjudul ‘Ada yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni’ karya Agus Noor, yang dalam penulisannya kembali di sini, mengalami sedikit perubahan dan pemangkasan olehku. Aku jatuh cinta berkali-kali dengan puisi tersebut kemarin malam – sampai-sampai aku membacakan sepotong puisi itu sendirian di kamar bersama alunan piano 'When The Love Falls', dan ibuku mengetuk-ngetuk pintu bertanya jenis setan seperti apa yang merasukiku. Baru kusadari belakangan ini, ada semacam upaya aku untuk membunuh diriku sendiri dengan berhenti menulis selama berminggu-minggu. Dan, bermonolog sendiri ditemani puisi-puisi yang berusaha menyelamatkan diri dari kesedihan seperti ini, menjadi penghiburan yang cukup ampuh buatku. Mungkin, kalau kita bertemu suatu waktu nanti, akan kubacakan satu untukmu.

This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment