Monday, 15 April 2019

Ayo Streetfeeding: Cara Sederhana Berbagi pada Satwa Jalanan

“Verily, there is a heavenly reward for every act of kindness done towards a living animal.” – Nabi Muhammad SAW
Petang itu, aku menunggu bus di halte Slipi seperti biasa. Laju kendaraan yang tersendat-sendat jadi pemandangan sehari-hari, ditemani gerutuan orang-orang yang berkali-kali mengecek waktu lewat jam tangan. Semuanya tampak tidak sabar.

Tak ada yang lebih penting selain menit demi menit menuju kedatangan bus selanjutnya, sampai akhirnya aku mendengar lirih suara berisik dari balik tong sampah.  Ketika mencoba menengoknya, aku menemukan seekor anak kucing dengan bulu yang berdiri kaku – tampak kering sehabis tercebur air – dengan pandangan takut, tengah berusaha mencari sisa makanan. Sayangnya makanan yang diharapkan tidak ada, tapi ia tak kunjung menyerah. Anak kucing ringkih itu melompat ke mulut tong, ia melirik ke dalam untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa mengisi perut kosongnya. Namun, kucing itu justru terpeleset dan badannya jatuh ke dalam tong berisi sampah.
Ketemu anak kucing depan rumah, akhirnya diajak ke teras dan makan ikan kembung sachet-an
Sedikit panik, aku hendak menolong. Untungnya, si anak kucing berhasil menjatuhkan tong sampah sehingga ia bisa keluar dengan selamat. Kejadian selanjutnya begitu mengiris hati: si anak kucing mengeong keras, tanda kecewa tak menemukan apapun. Sekali lagi aku menatap mata polosnya yang seakan bicara: ia hanya mau makan. Sesuap makan untuk menyambung hidupnya hari itu.

Bus yang kutunggu sudah datang. Orang-orang di belakangku berebut masuk. Aku memilih mundur dengan pandangan nanar, keluar dari halte dan mencari warung nasi. Sepotong paha ayam utuh akhirnya kubelikan untuknya. Anak kucing itu memakannya dengan lahap. Bus-bus dengan beragam rute berhenti bergantian, tapi tidak ada satu pun yang kumasuki.

Aku masih di sana, menanti si anak kucing selesai makan. Setelah memastikan makanannya habis dan ia tak lagi kelaparan, aku baru bisa pulang ke rumah dengan lega. 
Pada momen itulah aku menyadari jika manusia bukan satu-satunya makhluk hidup yang berusaha untuk bertahan hidup setiap harinya.
Semenjak itu, pandanganku pada anjing dan kucing jalanan jadi berubah. Mereka bukan hewan domestik yang kebetulan tidak punya rumah dan hidup terlantar di jalan, tetapi keadaan sulit mereka akibat dari ketidakpedulian kita sebagai manusia. Aku merasa terusik, dan merasa perlu berbuat sesuatu.

Aku mulai mengikuti akun-akun penyelamatan satwa domestik untuk mengetahui bagaimana cara aku bisa berkontribusi. Dan, tahu jika persoalan ini kompleks. Kian bertambahnya populasi kucing dan anjing liar dikarenakan edukasi mengenai sterilisasi masihlah tabu. Banyaknya kasus penganiayaan terhadap satwa domestik bukan hanya disebabkan kurangnya empati dan simpati manusia sejak dini, tetapi juga lemahnya hukum undang-undang mengenai satwa di Indonesia.

Hampir putus asa? Rasanya, iya. Tapi bukan berarti jadi alasan menyerah. Karena kepedulian dimulai dari diri sendiri, sebab tindakan baik digerakkan dari kuatnya keinginan hati. Aku belajar mengulurkan tangan untuk satwa domestik terlantar (anjing dan kucing jalanan) dengan satu gerakan sederhana: berbagi.
Namanya “Ayo Streetfeeding”. Kita diajak memberi makan kucing dan anjing jalanan kelaparan yang kita temui. Aku mulai rutin mengikuti ajakan ini, hingga tiap pergi ke minimarket, rak yang akan kudatangi pertama kali adalah yang memajang makanan kucing dan anjing. Hingga aku pun punya petshop favorit yang sering kukunjungi. Hampir tiap bulan aku menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli stok makanan kucing dan anjing (lebih sering makanan kucing), dalam beragam merk. Biasanya aku memilih makanan basah kalengan yang akan kucampur dengan nasi, serta makanan kering kiloan sebagai snack-nya.
saat streetfeeding depan rumah

Ke mana saja aku membagikannya? Lingkungan paling dekat: sekitar kompleks rumahku sendiri. Awalnya sulit karena kucing dan anjing jalanan masih asing denganku. Namun, karena rutin dan gigih – perlahan aku berhasil mendapat kepercayaan mereka. Bahkan, mereka tak jarang menunggui depan pagar rumah hingga aku pulang kerja, selarut apa pun itu. Ketika melihat aku turun dari motor, kucing-kucing jalanan sekitar kompleks yang berada di seberang rumah atau tengah mengorek tempat sampah tetangga, berbondong-bondong lari menghampiri. Rasanya jadi punya gerombolan peliharaan tersendiri.

Kalau sedang tidak bawa makanan kucing atau anjing, biasanya aku menyisihkan sisa makanan yang masih layak mereka makan. Sesekali sehabis diberi makan, terutama anak kucing, sering kali menempelkan pipi mungilnya ke kakiku lalu menggesek-gesekkan kepalanya di sana. Seakan ingin berbisik, “Terima kasih.”

Seperti ada yang mengetuk dan menyentuh hatiku lembut sekali, aku menangis. Kupikir apa yang kulakukan hanyalah tindakan kecil, tapi tanpa disadari, itu berarti banyak dan luar biasa buat mereka. Mungkin, sepanjang hari mereka sudah mengemis makan di mana saja, mengais sisa makanan di tong sampah, dan tidak satu pun yang mereka dapatkan. Lalu ketika ada manusia yang sengaja berbagi makanan buat mereka, rasanya bagai kelegaan besar buat mereka, yang tak kita pahami.

Sejak itu, makna berbagi menjadi lebih luas di mataku. Ia tak melulu tentang manusia, tapi makhluk hidup. Dan, makhluk hidup berarti juga hewan. Aku memilih berbagi dengan caraku melalui streetfeeding.

banyak anak kucing yang sembunyi di balik tong sampah buat cari makan,
 jadi beraniin diri deketin sampah buat ajak mereka makan nasi ikan yang lebih layak

Banyak yang bilang, apakah aku tidak takut? Mereka adalah hewan-hewan gembel. Buatku tidak, mereka adalah makhluk hidup juga, ciptaan Tuhan, memberi kasih pada mereka adalah kewajiban yang sesekali dilupakan. Apakah aku tidak rugi? Jumlah mereka semakin lama semakin banyak, secara tidak langsung biaya makan untuk mereka juga bertambah. Buatku, tidak. 

Jika memang sedang tidak punya cukup uang, kita bisa memilih merk makanan kucing dan anjing yang lebih murah atau yang berjenis repack. Atau, kita hanya perlu menyisakan makanan sendiri – sedikit saja tidak membuat kita kelaparan seharian. Intinya adalah, mulai saja dulu, #JanganTakutBerbagi
Karena sudah satu setengah tahun sejak pertama kali aku melakukan streetfeeding, aku selalu merasa lebih bahagia tiap kali melihat kucing dan anjing jalanan bisa makan. Berbagi makan pada mereka seperti cara istimewa bagiku untuk menghilangkan stress. Bahwa berbagi tidak hanya selagi kita mampu, tetapi juga selama kita berniat mengusahakannya. Selalu ada cara dan jalan. Kita menemukan kekayaan tersendiri di tengah kekurangan kita ketika mulai berbagi. Aku semakin yakin kalau #SayaBerbagiSayaBahagia.
Terlebih saat ini bentuk dan fasilitas untuk berbagi kian mudah dipilih, bisa dalam bentuk donasi yang difasilitasi Dompet Dhuafa – tempat kita menyalurkan bantuan dan kepedulian, dengan lebih mudah, bermanfaat, dan bermakna. Ayo berbagi bersama dan buat hari jadi lebih berarti! Ini ceritaku, apa ceritamu?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Jangan Takut Berbagi” yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

This entry was posted in

Monday, 11 February 2019

Review Lengkap Novel #LESAP

Novel Lesap adalah novel soloku yang keempat. Berangkat dengan genre young adult, novel ini terbit di Falcon Publishing pada November 2018 lalu. Bagian paling menyenangkan setelah perilisan tentunya menerima kiriman foto dan ulasan dari teman-teman pembaca, serta bookstagrammer. Berikut ini aku merangkum kiriman dari teman-teman. Potretnya apik dan ulasannya menyeluruh. Suka!

1.      Review Splendid Words
foto: @splendidwords
“Bicara tentang masalah, kadang ia hadir bukan untuk diselesaikan secepatnya, tapi diterima jadi bagian hidup agar hidup lebih berwarna.” ―Lesap, Veronica Gabriella

Akhirnya selesai baca Lesap! Wah, gila, rasanya udah lama banget saya ga baca novel yang berhasil buat saya senyam-senyum gemes sendiri.  Lesap bercerita tentang kehilangan Khanza dan Mikel terhadap orang-orang yang mereka sayangi. Lesap sendiri, dalam KBBI 5 (iya, saya sampai ngecek sendiri saking keponya), memiliki arti "hilang; lenyap; lucut". Jadi, judulnya emang sesuai banget sama isinya.

Hal pertama yang saya suka dari Lesap ga lain dan ga bukan adalah KOVERNYA! Yup, saya sampe pake kapital saking gregetannya. Abisnya, kover Lesap benar-benar estetik dan bagus dan... ARGH, AUTO-BUY LAH POKOKNYA! ILUSTRASINYA ITU LHOOO KECE BANGET!  Saya yakin novel ini juga bisa jadi cover-buy kalian.


foto: @splendidwords

Lalu, ceritanya ternyata ga kalah kece dong! Saya bilang gini bukan karena saya kenal penulisnya, tapi karena ceritanya murni kece beneran! Saya suka permainan diksi Vero yang cukup puitis, membuat saya kepengin baca halaman selanjutnya lagi dan lagi. Udah gitu, Lesap ini juga agak kelam karena menyinggung isu self-harm. Aura kovernya emang rada menipu, ya.

OH, SAYA JUGA SUKA TOKOH UTAMANYA―Khanza dan Mikel. Waktu baru baca, saya suka banget sama karakter Khanza dan Mikel yang konsisten. Khanza konsisten sulit memercayai orang baru, Mikel konsisten ingin menjadi teman Khanza. Jadi kerasa banget gigihnya perjuangan Mikel dan enggannya Khanza percaya sama orang baru. Saya sering senyum-senyum kalo mereka lagi berdua. DAN PLOT TWISTNYA SEDIKIT DI LUAR EKSPEKTASI YA.

Namun, saya masih agak sering nemu saltik. Ga begitu ganggu sih untungnya, hehe. Selain itu, saya berharap endingnya bisa lebih dari 'itu' karena masih ada pertanyaan dalam benak saya yang ga kejawab. Bukan berarti endingnya jelek lho ya, soalnya saya suka juga kok. Namun secara keseluruhan, saya tetap puas baca Lesap.

Kalo kalian penyuka novel romansa yang bikin emosi kalian nano-nano, novel ini saya rekomendasikan buat kalian!


RATING: 4,3/5 !

2.      Review Rizky Mirgawati
"Siapa pun bisa punya masa lalu begitu buruk hingga ia sendiri tidak berani menengok kembali. Namun, selalu ada satu orang yang menerima dirimu dengan baik, menggenggam tanganmu untuk mengajakmu berdamai dan mengatakan kamu tak perlu khawatir. Saat itu terwujud, kamu menyadari bahwa Tuhan sedang mengirim seseorang untuk menemanimu dalam selamanya hidup: dia."

Lesap merupakan novel ketiga Kak Vero yang kubaca. Sebelumnya aku pernah membaca novel hasil kolaborasinya bersama penulis lainnya Time in a Bootle dan Lisa's Diary, namun Lesap ini berbeda.
Awalnya aku pikir kisah Lesap ini ringan dan sederhana tentang seseorang yang pernah kehilangan dan kemudian bertemu dengan seseorang yang membantunya berdamai dengan masa lalu. Nyatanya, kisah ini tak sesederhana yang kubayangkan.

Kalau hanya melihat covernya, novel ini terkesan manis, nyatanya novel ini akan membawamu ke perasaan yang campur aduk, membahagiakan sekaligus mengharukan disaat bersamaan.Karakter Khanza dan Mikel yang berbeda, membuat mereka saling melengkapi. Chemistrynya dapat banget. Aku benar-benar gak menyangka hubungan mereka begitu rumit sekali, plot twistnya cukup mengejutkan.
Isu yang diangkat juga tidak hanya tentang kehilangan, namun bagaimana pengaruh kehilangan itu terhadap seseorang itu bisa berbeda. Seperti Khanza yang memilih jalan berbeda.
foto: @rizkymirgawati
 Aku benar-benar tak bisa berhenti membaca, saking aku menikmatinya. Endingnya juga terasa realistis, walau aku yakin bisa lebih diperpanjang lagi. Membaca kisah Khanza dan Mikel, sebagai pembaca aku belajar untuk memahami bahwa kehilangan bagi setiap orang itu memiliki porsi yang berbeda-beda dan akan menimbulkan reaksi yang berbeda juga.
Ah, aku SUKA novel ini.

3.      Review Reindom Things
Impresi pertama ketika lihat novel ini adalah kover-nya cantik banget. Lalu, berkat beberapa review yang berseliweran di bookstagram aku pun memutuskan memiliki novel ini. Enggak hanya kover-nya saja yang keren, tapi ide ceritanya juga. Aku suka tema ceritanya.

Temanya tentang dua orang yang kehilangan orang kesayangan dan mencoba bangkit dari masa lalu itu. Novel ini juga melibatkan aksi kriminal perihal pembunuhan. Hal pertama yang terpikirkan setelah selesai baca novel ini adalah...

Kover dan tema ceritanya bagus, tapi eksekusinya kurang. Novel ini tipis; 240 halaman. Tipisnya novel ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan terhadap jalan ceritanya.


Kelebihannya:·         Novel ini fast-paced. Dengan tulisannya yang mengalir dan santai, novel ini bisa menjadi pilihan jika butuh bacaan cepat.·         Bahasanya enggak bertele-tele. Aku suka bagaimana penuturan penulis dalam menggambarkan suasana yang ada. Benar-benar mengalir!·         Romansanya manis dan enggak begitu drama. Kalau ada drama-drama dikit, yaudahlah ya. Namanya juga jatuh cinta.
foto: @reindomthings

Kekurangannya:
·         Karena fast-paced dan tipis, alur ceritanya dipercepat. Untuk novel yang temanya seperti ini, aku rasa 240 halaman kurang sih. Mungkin masalah antara Mikel dan Khanza selesai, tapi bagaimana dengan tokoh-tokoh sampingan yang andil? Jadi, terkesan konfliknya selesai dgn sedikit dipaksakan.
·         Padahal aku suka konfliknya, bikin deg-deg-an dan cukup mengejutkan. Sayangnya, kurang dieksekusi jadi agak kecewa sih karena selesainya begitu aja.
foto: @reindomthings
·         Perkembangan karakternya terkesan buru-buru. Enggak cuma perkembangan perasaan Mikel dan Khanza, tapi juga sifat para tokoh itu sendiri. Secara superfisial, aku bisa tahu bahwa Khanza itu 'kelam' dan Mikel pengertian. Tapi hanya sebatas itu. Selebihnya, aku kurang dapat sifat khas mereka.

Sekiranya itu saja yang bisa kusampaikan perihal novel ini. Meskipun memiliki kekurangan, aku tetap menikmati kisah Mikel dan Khanza ini. .

Ratingnya: 3/5

4.      Review Kailemra
"Lo tahu, Za? Hal-hal besar memang membuat kita mengingat sesuatu, tapi hanya bagian-bagian kecil dan sederhana yang bisa menjadikan seseorang merindukan sesuatu. Dan, itu yang terjadi pada gue sekarang." - Lesap, Veronica Gabriella

Setelah sekian lama gak baca novel remaja yang memang remaja banget, novel ini bikin aku kangen berat sama masa-masa smp, masa aku lagi gila-gilanya sama teenlit dan metropop. Novel ini sendiri berkisah tentang Khanza, yang karena kehilangan kedua orang tuanya, harus merantau ke Jakarta untuk tinggal bersama bibinya. Hal itu pun membawanya pada pertemuan dengan Mikel, seorang penyiar radio SKY FM yang sukses dengan acara curhat tengah malamnya.


Penggambaran karakter-karakter di buku ini menurutku sudah cukup kuat. Pembaca bisa benar-benar terbawa dengan emosi dan perasaan Khanza yang bisa dibilang cukup ekstrim (ada kasus self harm dan depresi yang diangkat di novel ini). Sedangkan pembawaan Mikel cenderung lebih santai dan terkesan fun. sebagai penyiar radio, porsi kebawelan Mikel menurutku sudah pas banget.
foto: @kailemra
Konflik yang ada di buku ini pun dapet banget: adegan manis, sedih, dan reka peristiwa masa lalu memegang peran penting dengan porsi yang seimbang. Twist yang terjadi di tengah cerita juga tidak terasa dilebihkan (tapi serius, ngagetin banget). Aku juga suka cara penulis merangkai kalimat, mengalir banget. Hanya saja, coba kalau endingnya sedikit "dilebihkan", pasti akan jadi lebih bagus lagi. dan jujur deh, covernya cakep banget gak sih? Suka!

Buat kalian yang suka cerita romance, buku ini boleh banget dicoba! Tambahan lagi, ada banyak banget quote yang super ngena, salah satunya kayak yang sudah aku kutip di atas. Hayo, siapa yang tertarik? 

5.      Review Emma Susanti
"Buat jadi bahagia dan enggak punya masalah bukan harus jadi anak-anak, melainkan melihat dunia lewat kacamata mereka. Gue percaya setiap orang punya anak kecil dalam diri mereka, yang ngebantu mereka buat melihat segala hal lebih sederhana dan punya jalan keluar."--hal 88, Lesap

Seperti masa lalu, luka membutuhkan waktu. Gak sampe nangis, tapi cukup berkaca-kaca baca ini. 

foto: @emma_susanti
Sakit yang dirasa Khanza bener-bener kerasa sampe bikin dada sesek. Tema cerita yang diangkat gak langka, sih. Cukup umum kalo bisa dibilang. Tapi penyampaiannya itu yang bikin gimanaa gitu. Gak nyesel beli deh!

6.      Review Yessie L Rismar
Saya suka banget sama cover Lesap ini. Paduan warna dan ilustrasinya benar-benar cantik! Setuju, nggak?

Bulan ini berarti sudah dua kali saya membaca novel bertema radio. Agak-agak mirip juga karena si penyiar membawakan acara curhat. Bedanya, di novel ini penyiarnya cowok.


Gaya bahasa Kak Vero yang mengalir bikin saya betah bacanya. Ditambah lagi bab yang disajikan pendek-pendek, jadi nggak terasa, tahu-tahu selesai. Saya suka konfliknya yang sekilas seperti sederhana, tapi ternyata rumit. Plotnya pun rapi.
foto: @yessielrismar

Ketika Mikel berusaha mendekati Khanza adalah momen yang jadi favorit saya di sini. Duh, betapa sabarnya cowok itu. Tapi, menurut saya endingnya kecepetan sih. Mungkin bisa ditambah beberapa bab lagi. Saya juga agak terganggu dengan flashback yang menggunakan format italic. Kalau ini teknis banget sih, ya. Hehe.


Kalau kamu, sudah punya LESAP? Yuk foto dan ulas novel LESAP, jangan lupa tandai aku untuk kemudian kurangkum dan kuunggah di blog ini. Kamu juga bisa beri bintang dan ulasan di Goodreads Terima kasih!

This entry was posted in

Saturday, 25 August 2018

Nasi Goreng Salty, Pilihan Tasty Buat Kita yang Vegetarian


Sejak dulu, aku selalu suka nasi goreng dan tak pernah bosan. Nasi goreng andalan sekaligus langgananku adalah nasi goreng yang dijual di gerobakan di ujung kompleks rumah. Sajiannya sederhana saja: nasi goreng dengan telur dicampur sayur caisim dan suwiran ayam. Kalau disantap saat malam dan masih dalam keadaan hangat: nikmatnya jadi berkali lipat. Terlebih kalau ditemani es teh manis, membayangkannya saja bikin lapar! Tapi, kebiasaan itu berubah karena sekitar dua atau tiga tahun lalu, aku memutuskan menjadi seorang vegetarian. Aku tak bisa lagi menyantap nasi goreng biasa yang mengandung produk hewani: suwiran ayam, minyak sapi, dan perisa (ayam, sapi, dan lain-lain). Namun, bukan berarti kecintaanku terhadap nasi goreng harus terhenti. Aku pun mulai berburu nasi goreng vegetarian yang tersedia di kotaku, Tangerang. Dan, aku menemukannya! Di sebuah resto vegetarian sederhana di pinggir kota Tangerang, Visual Veggie House, ada tujuh menu nasgor vegetarian yang tersedia. Namun, yang bikin nagih di sini adalah Nasi Goreng Salty!
Penampakan Nasi Goreng Salty yang Kupesan di Visual Veggie House
Wangi Bumbu Xiang Chun

Tantangan memasak nasgor vegetarian ada pada cita rasanya. Kenapa? Karena masakan vegetarian wajib menghindari semua jenis bawang, bumbu dapur berperisa hewani, dan tentunya: minyak babi dan sapi. Sepintas, kita pasti mengira rasanya tidak akan enak tanpa semua itu. Namun, Nasi Goreng Salty berhasil membuktikan kalau kita salah.

Nasi Goreng Salty dimasak dengan penyedap rasa Xiang Chun yang khas. Bumbu penyedap ini terbuat dari paduan minyak nabati dengan daun cina Xiang Chun yang harum. Sehingga, enggak heran kalau Nasi Goreng Salty punya bau wangi nan unik. Soalnya bumbu Xiang Chun memang diracik dari bahan-bahan alami: kedelai, daun Toona Xiang Chun, hingga wijen. Komposisi itu juga yang memberi bintik dan warna kehijauan untuk tiap butir nasi gorengnya, sehingga tampilan Nasi Goreng Salty beda dari yang lain!
Wangi Bumbu Xiang Chun yang Khas Di Kalangan Vegetarian
Topping Variatif Nan Favorit

Kalau makan nasi goreng enggak akan lengkap kalau enggak ada topping-nya. Nasi Goreng Salty yang memang dihidangkan tanpa kecap, menyuguhkan campuran topping yang variatif: telur, cah taoge, cabai merah, dan potongan daging ikan asin vegetarian. Tak lupa juga irisan tomat dan timun sebagai pelengkap. Semua topping itu dengan perhitungan yang sesuai, disatukan dalam sepiring Nasi Goreng Salty. Dan, dari keseluruhan topping, tentunya yang paling kusuka adalah potongan daging ikan asin vegetariannya.

Potongan daging ikan asin vegetarian itu tak hanya topping kunci yang memberi Nasi Goreng Salty lebih tasty, tapi juga dimasak dengan cerdas. Soalnya daging ikan asin ini dipotong panjang, dengan pinggiran yang digoreng gurih tanpa menghilangkan rasa asin pas dagingnya di sisi tengah. Ada sensai ‘kriuk-kriuk’ renyah, namun juga berdaging. Jadi, bisa kita bayangkan sendiri ketika menyendoknya bersama campuran topping lainnya: rasanya luar biasa! Aku sering menyisakan potongan-potongan daging ikan asing vegetarian di Nasi Goreng Salty ini sebagai topping yang save the best for last, hehehe.
Toppingnya banyak dan enyak!

Ditambah Kerupuk Kulit Nori

Kerupuk dan nasi goreng adalah dua varian makanan yang enggak terpisahkan. Ada yang bilang kalau makan nasi goreng tanpa kerupuk itu kayak bakso tanpa kuah gurihnya: enggak afdol! Sayangnya, sebagai vegetarian, aku enggak bisa lagi asal sambar kerupuk karena umumnya kerupuk dibuat dari sari udang dan bawang. Tapi, aku enggak khawatir. Soalnya Nasi Goreng Salty juga disajikan dengan banyak pilihan kerupuk vegetarian, lho. Di Visual Veggie House, sudah disediakan keranjang kerupuk yang bisa kita comot sesuai selera untuk menemani hidangan Nasi Goreng Salty.
Kalau rekomendasiku adalah kerupuk kulit nori! Kerupuk ini digoreng dengan tepung kentang dan rumput laut nori sebagai cita rasa utamanya. Jadi kalau kita lihat di foto, bagian hitam-hitam di kerupuk itu adalah rumput laut nori. Rasanya? Jangan ditanya lagi! Renyah, gurih, garing, enyak, super!
Paduan Surga Kerupuk Nori x Nasgor Salty
Nah, buat kita seorang vegetarian, pecinta nasi goreng, dan penggemar rasa yang enggak melulu itu-itu saja, bisa langsung meluncur buat nyobain Nasi Goreng Salty-nya. Sssst, jangan lupa ajak aku juga yah! Aku senang menemani dan menerima traktiran makan Nasi Goreng Salty, hahaha!

My Food Lover Tips: Nasi Goreng Salty di Visual Veggie House ini punya dua varian masakan yaitu varian Ricchie dan Vegan. Kalau Richie itu, nasgor Salty vegetarian-nya dimasak dengan telur. Kalau Vegan, akan dimasak tanpa telur. Jadi pilih yang sesuai dengan gaya hidup hijau kita yah!
Oh ya, ini #NasiGorengDiKotaku, bagaimana cerita nasi goreng di kotamu?

Cara dapetin Nasi Goreng Salty, dateng aja ke:
Visual Veggie House
Suka Asih, Jl. Taman Makam Pahlawan Taruna No.2, Sukaasih, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15118



This entry was posted in

Friday, 24 August 2018

Catatan Panjang Tentang Christopher Robin


Sekitar tiga hari yang lalu, aku menonton Christopher Robin, setelah menunggu sepanjang Agustus untuk tayang di Indonesia. Aku kecil selalu suka dengan Pooh; aku ingat ketika aku menggambari Pooh yang gendut dengan toples madunya, lalu menggandakannya banyak-banyak di tukang foto kopi untuk kujadikan buku mewarnai karyaku versi Winnie The Pooh - disamping Peter Rabbit tentunya. Lalu, memilih sprei bercetakkan kepala Pooh yang besar-besar, serta kotak bekal yang memuat potret Pooh dan kawan-kawan yang piknik di hutan. Salah satu boneka yang kukoleksi pun berasal dari serial Pooh, aku tidur bersama Tigger (ssst, T I double guh err. That speels Tigger! Hahaha).
"It always a sunny day when Christopher Robin comes to play."
sumber foto: crofficial
Maka, menyaksikan kembali Robin dan Pooh seperti membawa diriku jalan-jalan kembali ketika aku masih kecil – ketika tidak melakukan apa-apa bukanlah hal yang berdosa. Itu terasa saat Robin akan pergi dan Robin kecil berharap ia bisa berharap untuk tetap tidak melakukan apa-apa, namun ia tidak bisa. Lalu, Pooh dengan polosnya mendukungnya dan mengatakan kalimat yang menarik:  “Doing nothing often leads to the very best kind of something”. Hampir setiap hari kau dan aku mungkin merasa harus melakukan sesuatu apapun itu – agar produktif, agar bermakna, agar tidak sia-sia, dan lain-lain. Lantas aku terdiam dan teringat, tulisan-tulisan terbaikku justru  bermula ketika aku tak bersusah payah mencari idenya – aku hanya butuh diam, merilekskan diri, membuat diri nyaman tanpa memberi tenggat. Aku pun sampai pada pemahaman: kau hanya butuh sesekali diam mengenali diri sendiri tanpa pretensi apa-apa.
What should happen if you forget about me, Christopher Robin?
sumber foto: cr trailer
Kembali soal film, petualangan dimulai ketika Robin dewasa memutuskan membantu Pooh untuk mencari teman-temannya (Piglet, Tiger, Eeyore, dkk) yang hilang. Buatku ada satu adegan yang membuatku hampir menitikkan air mata di sini – ketika Pooh tidak bisa membaca kompas dengan baik, dan mengacaukan semuanya. Lalu, tanpa sengaja membuat koper berisi dokumen penting milik Robin dewasa tercecer kemana-mana. Robin dewasa membentak dan mencaci maki Pooh sebagai beruang pandir, tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu sepenting apa isi kopernya. Robin dewasa tidak paham mengapa Pooh bisa begitu bodohnya menganggap dunia ini sebatas dan seindah balon dan toples madu. Sedangkan Pooh pun tidak paham mengapa Robin menganggap dunia ini digantung pada koper berisi dokumen yang dibawa kemana-mana.
“Christopher Robin: There’s more to life than balloons and honey!
Pooh: (doubtfully) Are you sure?” 
Adegan favoritku jatuh pada bagian terakhir film. Diisi percakapan antara Robin dewasa dan Pooh. Ini percakapan yang akan tertanam lama di kepalaku. Pooh bertanya pada Robin dewasa ‘hari apa sekarang?’ Alih-alih menjawab nama hari lengkap dengan jamnya, Robin dewasa menyahut ‘It’s today – hari ini’. Pooh semringah dan berkata, ‘Aku suka hari ini. Sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’. Aku hampir menangis setelahnya. Dialog ini benar-benar menampar. Pernahkah kita menjalani hari ini sebenar-benarnya hari ini, tanpa mengkhawatirkan hari esok?
“If you live to be a 100, I want to live to be a 100 minus one day so I never have to live without you.”
sumber foto: tyrantgeek
Kita kerap melalui hari ini dengan bekerja keras dan belajar giat bukan demi menjalani hari ini, tapi untuk hari esok, demi masa depan. Lalu mengeluh tiap harinya semakin berat. Lantas lupa, sesungguhnya segalanya akan lebih ringan ketika semua hal dijalani hari ini dinikmati secara sadar dan hadir penuh untuk hari ini. Kita sudah lama sekali menjadikan hari ini adalah hari esok. Masa kini adalah masa depan. Padahal, kebahagiaan itu adalah hari ini dan sekarang. Izinkan aku mengutip dialog antara Robin dan Evelyn, istrinya ketika mereka berdebat mengenai Robin yang tidak bisa ikut liburan akhir pekan. Saat itu, Robin berkilah jika ia bekerja untuk kehidupan yang nanti lebih baik untuk keluarga mereka, sedangkan Evelyn berkata kehidupan mereka adalah sekarang tepat di depan mata Robin. Bukan nanti-nanti. 
Evelyn: You won’t be coming to the cottage?Christopher Robin: It can’t be helped. Evelyn: Your life is happening now, right in front of you!
Sampai di sini mungkin akan ada banyak yang mendebat, hidup memang tak sesederhana yang dipandang anak kecil. Saat itu, aku hanya ingin menyahut kecil, sayang, kita hanya lupa jika hidup dan kebahagiaan itu memang sederhana. Kita lupa semenjak kita beranjak dewasa.
“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”
Goodbye, Christopher Robin...
sumber foto: crofficial
Catatan:
Aku menulis ini seraya mendengar Home, Should I Think yang dibawakan Carter Burwell. Itu musik yang pas untuk menemani kita menikmati tulisan ini. Semoga suka! Ah ya, sesungguhnya dari sisi ide cerita, aku lebih suka COCO, lebih segar dan baru. Sementara Christopher Robin masih mengangkat konflik umum antara orang tua yang sibuk dan anaknya. Tapi, buat kita yang butuh mengambil napas sejenak dan mengizinkan anak kecil dalam diri kita keluar untuk bermain, Christopher Robin termasuk film yang menurutku: must watch! Dan, aku suka sekali bagaimana Pooh menyebut dan memanggil 'Christopher Robin', ikonik - jempol buat pengisi suaranya. 

Thursday, 23 August 2018

Pergi Bermain dengan Teman yang Hanya Bisa Kau dan Aku Lihat


Kita masih mengelilingi kota seusai menonton film yang kubilang berhasil mengajak anak kecil dalam diriku untuk keluar dan bermain. Jalanan lenggang, di pinggiran hanya tersisa satu-dua gerobak jajanan pasar berlampu minyak yang masih menyala. Pintu-pintu pertokoan tertutup rapat, digantungi sampah plastik yang berusaha diraih kucing-kucing jalanan yang masih kelaparan. Aku membungkus pandanganku dan mengalihkannya pada kau yang masih menyetir. Bagaimana kau saat kanak-kanak?
sumber foto: Favim.com

Kau melirikku dari sudut mata. Tak menjawab. Kau hanya menepi ke arah gerobak yang menjual telur gulung. Kita turun. Kau memesan dua porsi dan aku menarik bangku plastik yang ditumpuk dua. Kita duduk menghadap sebuah gedung kuliner yang tubuh putihnya mengelupas dan papan-papan nama restorannya menghitam.
“Aku saat kanak-kanak? Bertanya kenapa bulan mengikuti kemana pun aku pergi. Kenapa pohon-pohon di pinggir jalan tampak berlari ke belakang tiap kali mobil yang kutumpangi melaju cepat. Bangun pagi di hari Minggu demi kartun-kartun subuh, sebelum kemudian tertidur kembali jelang makan siang. Mengupil dan menempeli tumpukan upil ke baju mama. Mengisi kardus kosong hingga cukup kuat untuk kulompati sebagai superman. Menyukai dongeng tentang kelinci yang suka buang besar dan kotornya menggunung. Menjahili anjing tetangga. Bagaimana denganmu?”
Kau tertawa kecil. Lalu beranjak mengambil dua porsi telur gulung hangat yang sudah selesai. Kau celupi dengan saos cabai  yang banyak. Cerita kau mengingatkanku pada aku kecil dulu dan aku sekarang – ada jarak yang begitu jauh dan waktu yang tampak lama hingga aku merasa asing pada diri sendiri.

Aku mengoleksi ratusan boneka, percaya mereka semua hidup. Dan, aku berbicara pada mereka. Aku mengumpulkan daun kering, memetik bunga liar, dan mengambil sisa-sisa sayuran tak terpakai, meraciknya jadi makanan lezat bak tukang nasi langganan. Aku jajan banyak cemilan hanya untuk mengumpulkan kartu-kartu hadiah. Aku menggambar tokoh-tokoh kartun dan menggandakannya di tukang fotokopi, menjilidnya jadi buku mewarnai. Aku –

“...melakukan hal-hal yang bisa kau tebak, tak bisa lagi kulakukan sekarang.”

Dadaku sesak. Kau meraih tanganku.


“Kau tahu bagian apa yang paling kusuka dari Christopher Robin?
Aku menggeleng.
“Percakapan Robin dengan Pooh di akhir cerita. Ketika Pooh bertanya, ‘ini hari apa?', dan Robin berpikir sejenak sebelum menjawab, ‘hari ini, Pooh’. Lalu, Pooh semringah, ‘Aku suka hari ini, karena sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’.”
Kau menghabiskan tusuk terakhir telur gulungmu. 
“Percakapan itu seakan bicara padamu, hal terbaik ketika menjalani hari adalah kau menjalani hari ini tanpa berpikir soal hari esok. Kau hadir sepenuhnya sekarang. Kupikir itu yang dilakukan setiap hari oleh anak-anak. Dan, salah satu yang masih bisa kau dan aku lakukan.”
Malam itu, kau dan aku tidak pulang. Lupa hari itu hari apa selain hari itu sendiri. Kita sepakat jadi anak-anak yang membohongi mama-papa akan segera tidur, tapi ketika sakelar lampu dimatikan, kita menyibak selimut dan melompati jendela kamar untuk mulai bertualang bersama teman yang hanya bisa kau dan aku lihat.

This entry was posted in

Sunday, 22 July 2018

(Minggu Pertama ) Kelas Penulisan Cerita Anak DKJ 2018: Sebuah Catatan Tentang Buku Anak

Reda Gaudiamo, atau yang akrab disapa Mbak Reda, membuka kelas penulisan cernak pagi itu dengan satu pertanyaan sederhana,
 “Apa yang menarik dari cerita anak?”
Pertanyaan ini membuat satu kelas berpikir sejenak. Dunia anak memang menarik, mengingat apa pun yang dilakukan mereka selalu ada momen ‘kali pertama’ atau ‘pengalaman pertama’. Tapi, kalau cernak, apa yang menarik?
Aku dan Mbak Reda di Kelas Penulisan Sastra Anak DKJ
Fakta Menarik Buku Cernak di Indonesia
Mbak Reda mengemukakan data menarik mengenai buku anak di Indonesia,
“Studi yang dikeluarkan oleh Scholastic tahun 2017 mengungkapkan kalau ada 86% Ayah-Ibu yang disurvei dari 2.718 orang tua dengan anak 6-7 tahun, percaya kalau kebiasaan membaca itu penting untuk masa depan yang baik. Kenyataan ini diperkuat oleh pengakuan 58% anak dari 2.718 anak yang menyatakan sepakat jika membaca cerita itu menyenangkan.”
Hasil dari studi tersebut nyatanya berdampak pada produksi dan penerbitan buku anak di Indonesia. Survei IKAPI tahun 2015 menyebutkan sekitar 22,64% buku anak terbit di Indonesia pada tahun 2014. Trivianya, angka ini membuat kategori buku anak menjadi kategori terbesar dari kategori buku lainnya, dan menariknya, terbesar dua kali lipat dari kategori sastra.
Sampai di sini, bisa disimpulkan, secara permintaan dan penawaran pasar, buku anak cukup tinggi. Kita punya peluang. Besar.
Memahami Apa Itu Buku Anak
“Apakah itu buku anak? Cerita dengan karakter utama anak-anak? Benarkah? Atau, cerita yang mengisahkan kehidupan khas anak-anak?” pancing Mbak Reda.
Namun, bisa ditebak, buku anak bukanlah salah satu dari itu. Jika dibilang buku anak adalah tokohnya anak-anak, bagaimana dengan novel IT karya Stephen King? Tokoh utamanya anak-anak, tapi apakah lantas dibilang novel itu adalah novel anak? Kalau dikatakan buku anak ialah kisah keseharian anak, bagaimana dengan buku anak yang berbau cerita detektif, petualangan, dan lain-lain? Buku anak punya pemahaman yang lebih besar dari itu dan kerap kita lupakan.
“Saya suka definisi cerita anak dar Robyn Opie Parnell, ya. Beliau mengatakan cerita anak adalah cerita yang ditujukan untuk pembaca anak, yang amna dalam cerita tokoh utamanya menyelesaikan masalahnya dengan upayanya sendiri. Bantuan dari tokoh orang dewasa sangat minimal, atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagian ini yang sering kita lewatkan. Satu lagi, cerita anak itu tidak melulu berbentuk buku cerita bergambar atau novel anak. Tapi juga bisa dalam wujud posa, puisi, fiksi, hingga nonfiksi,” tambah Mbak Reda.
Jika kita sudah mengerti apa itu buku anak dan cakupan bentukannya yang luas, kita akan lebih mudah menentukan karya cernak seperti apa yang ingin dibuat sebab pilihannya banyak. Bahkan jika dikategorisasi secara lebih spesifik, seperti ini hasilnya:
sumber: PPT Kelas Sastra Anak Reda Gaudiamo
Kalau kamu, tertarik untuk bikin yang mana?
Mengkeksplorasi Jenis Cerita Anak Dan Mengidentifikasi Tantangan Menulisnya
Cerita anak punya banyak jenisnya, tidak kalah dengan jenis cerita dewasa juga. Beberapa jenis cerita anak yang bisa kita selami jika ingin mulai menulisnya, antara lain science fiction, fantasy, horror/ghost stories, action/adventure, true stories, historical fiction, biography, learning/educational, religion/diversity, gender oriented, dan licensed character/ books into brands.
Mengenai jenis buku anak ini, Mbak Reda punya pengalaman tersendiri,
“Buku anak tu banyak jenisnya. Saya ingat sekali pernah membaca komik luar negeri itu isi ceritanya mengenai perang dunia kedua. Gaya berceritanya sangat menarik, ketika dua negara berperang dan sedang sepakat untuk gencatan senjata, komik itu lewat dua karakter dari dua negara berbeda yang berperang itu dikisahkan sedang beristirahat. Ini contoh cara mengenalkan sejarah dunia pada anak-anak lewat cara kreatif. Saya berharap kisah seperti Diponegoro juga disampaikan dengan cara serupa.”
Aku pun setuju dengan Mbak Reda. Kalau diingat lagi, saat kukecil dulu, cerita mengenai kerajaan maupun perang di tanah air, tidak ada yang disuguhkan dalam komik dengan pengandaian-pengandaian yang mudah dicerna anak. Sebaliknya, dihadirkan dalam bentuk buku teks pelajaran yang kesannya menggurui dan membuatku mengantuk, hehehe. Alhasil, aku lari ke komik-komik Donal Bebek. Keadaan ini berbeda sekali dengan keadaan bacaan anak di Inggris. Menurut Mbak Reda, karya Shakespeare sudha dikenalkan dan dibuat versi buku anaknya untuk jadi bacaan anak di sana. Caranya adalah dengan membuat serial Shakespeare khusus anak. Berbagai episode cerita Shakespeare disampaikan secara bertahap, dikenalkan sedikit-sedikit.
sumber: PPT Kelas Sastra Anak Reda Gaudiamo
Akhirnya menyadari justru tantangan buku anak terletak di sini, bagaimana menghadirkan cerita serius menjadi bentuk yang lebih sederhana dan sesuai dengan sudut pandang anak. Ketika kusampaikan ini, Mbak Reda mengamini, 
“Tantangan terbesar menulis cernak memang di situ. Bagaimana kita bisa menerjemahkan hal-hal serius hingga anak memahaminya.”
Bicara soal hal serius, Mbak Reda mengeluarkan koleksi buku anak jenis learning/educational miliknya dulu. Beliau juga menyarankan bagi teman-teman kelas untuk membawa buku anak yang dianggap punya poin menarik untuk dibagikan tiap minggunya, sehingga kita semua bisa belajar sudut pandang anak.
“Ini buku A for Activist. Kenapa menarik? Karena biasanya kita menemukan buku anak learning/educational itu ‘A for Apple’, tapi buku ini berbeda dan berani. Lihat lagi ke halaman selanjutnya, ‘F for Feminist’. Ada yang lebih kontroversial, ‘L for LGBTQ’. Di awal mungkin kita kaget karena ini berbeda dari biasanya, tapi kalau kita berani menengok lebih dalam lagi, apa salahnya dengan kata Activist, Feminist, dan LGBTQ. Hal-hal begitu perlu kita beritahu pengetahuannya sejak dini. Tidak ada yang salah dengan memberi pengetahuan pada anak.”
Contoh lainnya yang dijadikan pembahasan di kelas adalah jenis buku anak gender oriented.  Ini jenis yang sangat spesifik, biasanya ditujukan untuk salah satu gender khusus. Semisal buku ‘I Love My Hair’ karya Natasha A. Tarpley, buku anak ini khusus untuk anak perempuan di Afrika yang sering insecure dengan kondisi rambut keriting mereka dan hendak meluruskannya. Jadi, buku anak itu berusaha memotivasi anak perempuan di Afrika untuk bangga dengan rambut alaminya serta mendorong keyakinan mereka bahwa mempunyai rambut keriting itu tidak ada yang salah. Lainnya yang menarik adalah buku dari jenis religion and diversity. Contoh dari buku anak jenis ini adalah ‘The Sandwich Swap’ karya Queen Rania of Jordan Al Abdullah dan Kelly DiPucchio, yang mana diterbitkan untuk mengenalkan pengetahuan akan Islam pada anak-anak, khususnya anak-anak di Amerika dan Eropa sejak kejadian penyerangan teroris 9/11. Banyak sekali contoh lainnya yang dibawa dan dibahas Mbak Reda, namun yang jadi penekanan adalah,
“Apa pun bisa diajarkan. Enggak harus hal yang baik-baik saja dan enggak melulu mengangkat topik aman. Jadi, berhentilah menabukan banyak hal.”
Tips Awal Menulis Cerita Anak
Setelah punya pengetahuan mendasar mengenai kondisi pasar buku anak, definisinya, jenis-kategorinya, dan tantangannya, kini saatnya menulis dan mengurai kesulitan-kesulitannya. Tips utama dari Mbak Reda untuk bisa melihat seperti pandangan anak adalah milikilah pandangan yang sederhana tapi istimewa. Lalu, berceritalah dengan simpel dan baik. Simpel artinya kita coba menempatkan diri menjadi si anak yang semua pengalaman dalam hidupnya serba pertama kali. Baik artinya kita harus menulis dengan tata cara yang benar, jadi ayo belajar lagi pedoman UKBI dan KBBI.
“Begini yang saya maksud soal sederhana tapi istimewa. Acap kali kita melihat radio sebagai salah satu medium mendengar berita/informasi, lagu, dan lain-lain. Itu pandangan kita sebagai orang dewasa. Coba kalau kita jadikan diri kita anak kecil yang baru pertama kali dengar radio, anak itu pasti bingung karena bagaimana caranya benda itu bisa mengeluarkan suara. Mungkinkah ada penyanyi di dalamnya? Lalu anak itu mulai menempelkan telinganya ke pelantang suara radio, dan memicingkan matanya, mencari tahu di mana si penyanyi dan bagaimana bisa ada penyanyi masuk ke dalamnya sampai menghasilkan lagu,” jelas Mbak Reda. Beliau juga berpesan, berpandanga istimewa namun sederhana ini bisa dilatih. Caranya mudah, banyak baca! Itulah alasan mengapa sejak awal dikenalkan banyak jenis buku anak beserta contohnya.
Lebih jauh lagi, Mbak Reda mengajak teman-teman kelas untuk mengakses tautan dari Sarah Maizes, mengenai ‘WantTo Write A Good Children’s Book? Here are 7 Tips to Guide You’. Setelah kuakses dan kubaca, inti dari bahasan Mbak Reda dan Sarah Maizes adalah sama: pakailah sudut pandang anak-anak yang serba pertama kali! Karena dari sana, kita akan dapat pandangan unik dan berbeda.
Kalau mau tips lebih banyak lagi, kita bisa coba cari di sini:
sumber: PPT Kelas Sastra Anak Reda Gaudiamo
Catatan Penting Mengenai Dunia Penulisan Buku Anak
Buat kita yang sering bertanya apakah anak akan mengerti jika kita membuat cerita yang seperti ini atau itu tanpa menyelipkan pesan moral secara langsung, dan lain-lain? Begini jawaban Mbak Reda: 
“Jangan anggap anak-anak, kita meremehkan. Mereka makhluk yang cerdas!”
Pertanyaan lainnya, apakah oke jika menyampaikan isu serius? Caranya bagaimana? Begini tanggapan Mbak Reda: 
“Isu serius bisa disampaikan pada anak-anak. Caranya: menulis dengan sederhana, jadi perbanyaklah latihan. Salah satu latihannya selain terus dan sering menulis, banyak-banyaklah membaca! Soalnya menulis dengan baik itu dimuali dari membaca buku-buku yang baik.”
Terus, ada lagi pertanyaan, buku anak yang baik itu yang seperti apa sih? Mbak Reda menjawab: 
“Buku anak yang baik, akan disukai oleh orang dewasa. Contohnya juga sudah banyak seperti serial Harry Potter-nya J.K Rowling, atau novelnya John Boyne yang sudah difilmkan juga berjudul ‘The Boy in the Striped Pajamas’.”
Dari semua pertanyaan-pertanyaan itu, Mbak Reda memberi catatan khusus yang diulang berkali-kali oleh beliau pada seluruh peserta kelas, 
“Buku cerita anak itu bukanlah buku pelajaran agama, juga bukan khotbah!”
Begitu catatan pelajaran dari kelas penulisan sastra anak DKJ pada pertemuan pertama ini, yang bisa kubagikan buat teman-teman. Sampai jumpa di postingan minggu depan lagi yah mengenai hasil dari pertemuan kedua. Semoga bermanfaat dan bersama bangkitkan lagi gelora sastra anak nusantara!


This entry was posted in