Thursday, 29 August 2019

#MerdekainWarung dari Ketertinggalan, Inovasi Kudo Solusinya


Kamu tahu apa yang paling menyebalkan pada Minggu siang? Teriakan Emak dari balik dapur yang memintamu ke warung untuk membeli bermacam-macam bumbu dapur, diikuti sepupu di rumah yang begitu bersemangat minta ikut karena ingin jajan. Kekesalan itu belum ditambah Bapak yang sekaligus minta tolong untuk dibayarkan tagihan listriknya.

Itulah yang terjadi padaku hari itu: menjadi kurir Emak-Bapak sekaligus kakak pengurus. Padahal, episode webtoon favoritku sedang seru-serunya kubaca dan sebentar lagi ada tontonan final kejuaraan dunia bulu tangkis yang kutunggu. Tapi, perintah Emak-Bapak dan rengekan sepupu adalah titah yang tak bisa dilanggar.

Baru saja aku hendak mengeluarkan motor dan mengatakan akan segera melaju ke warung langganan, Emak memotong. Warung itu sudah lama tutup, katanya. Aku dan Re, sepupuku yang masih duduk di bangku kelas 4 SD, pun diminta ke toko kelontong yang jaraknya lebih jauh dari warung. Sedikit terkejut, karena sepengetahuanku warung itu selalu ramai.

Dengan sedikit malas, motor bergigi itu aku bawa menembus jalanan kompleks perumahan yang lengang. Aku sudah membayangkan kerepotan perjalanan ini, pergi ke toko membeli bumbu dapur, ke loket PLN untuk bayar tagihan listrik, dan ke minimarket untuk membeli jajanan Re. Andai saja ada satu warung terdekat di rumah yang lengkap pilihan dan layanannya yang bisa memenuhi semua itu, aku pasti tak perlu pergi ke sana-sini.

Larut dalam lamunan dan keluhanku sendiri, tiba-tiba Re menarik ujung kausku dan memintaku berhenti di sebuah warung yang ditunjuknya. Ketika kutengok, warung itu cukup mencolok: cat dinding didominasi warna biru dan digantung banner bertuliskan “Kudo: Di sini Serba Bisa”. Karena rasa ingin tahu, aku pun berhenti.

Begitu terkejut ketika aku menemukan warung pinggiran itu tidak hanya menjual kudapan kekinian sekaligus cemilan pembangkit nostalgia yang membuat Re girang, tetapi juga menyediakan fasilitas untuk membayar tagihan. Aku melongo.

Di tengah Re yang sedang memilih jajanan, tak sedikit anak muda yang mampir ke warung sekadar membayar tagihan yang dititipkan oleh orang tuanya, hingga seorang ibu paruh baya yang bertanya tentang langkah menjadi mitra pengemudi Grab. Sepintas, aku merasa bukan di warung karena penawaran-penawarannya yang kekinian dan mampu menjawab permintaan konsumen zaman sekarang.

Dari warung yang lama kuketahui merupakan mitra Kudo tersebut, aku belajar jika memang seperti itu warung harusnya berjalan dan bersaing di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang menuntut efektivitas dan efisienitas. Warung perlu membuka diri terhadap peluang inovasi dengan beragam cara, antara lain sebagai berikut:

a)      Pelayanan tambahan
Pelayanan tambahan yang dimaksud bukan sekadar ramah tamah penjaga warung atau diskon-diskon bagi konsumen langganan, melainkan pilihan pelayanan yang sesuai dengan tuntutan zaman, yakni pelayanan digital. Sekarang ini, hampir seluruh konsumen dari segala usia dan latar belakang bergantung pada kemudahan dan kecanggihan teknologi. Warung perlu menjadi solusi dan jawaban atas persoalan dan tantangan ini. Untuk memenuhi hal tersebut, warung bisa bekerja sama dengan Kudo, agar menjadi warung modern seperti yang kutemui yang mampu menyediakan pelayanan digital tambahan seperti fasilitas bayar tagihan telepon, transfer uang, hingga pesan tiket kereta. 

b)      Kelengkapan bahan
Keunggulan warung bisa jadi karena jarak dan persebarannya sangat dekat dengan kompleks perumahan sehingga mudah dijangkau. Tetapi, kendalanya juga ada. Persediaan bahan di warung sering kali tidak cukup lengkap pilihannya dibanding minimarket maupun pasar. Bahkan warung dianggap hanya tempat untuk membeli eceran sembako saja. Warung perlu menggeser citra ini dengan menyetok bahan jualan semisal sembako, secara lebih lengkap. Warung bisa memanfaatkan layanan grosir sembako dari Kudo untuk melengkapi bahan-bahan jual dengan harga lebih murah, pilihan lebih beragam, dan lebih mudah langsung klik saja dari layar ponsel.

c)      Program pemberdayaan
Masyarakat kerap mengira warung hanya menjadi tempat jajan dan membeli bahan sembako terdekat. Padahal, warung bisa lebih dari itu, yakni menjadi sumber informasi pendapatan baru. Maksudnya? Warung bisa menjembatani antara peluang kerja digital dengan konsumennya yang membutuhkan dengan menyediakan pelayanan daftar Grab (menjadi mitra pengemudi Grab) dan pelayanan membuka bisnis pulsa. Dengan seperti itu, konsumen seperti tetangga akan terbantu dan bahkan bisa menjadi langganan favorit warung. Warung bisa bergabung dengan Kudo untuk membuka pelayanan pemberdayaan ini terwujud dan jadi nyata.

d)      Outlet pembayaran tagihan
Setiap keluarga dan rumah pasti memiliki tagihan rutin, seperti listrik, air, cicilan kendaraan bermotor, dan lain-lain. Kendalanya, untuk pergi ke loket pembayaran PLN, PDAM, dan lain-lain yang letaknya berbeda dan jauh, memerlukan usaha tersendiri. Apabila membayar via daring pun, kadang untuk mereka yang telah berusia tua, kurang paham prosedurnya. Warung bisa hadir menjadi outlet pembayaran tagihan sebagai solusinya. Lewat pendaftaran warung ke aplikasi Kudo, warung kini bisa menerima PPOB (pembayaran online bank) yang meliputi pelayanan pembayaran tagihan telepon Telkom, listrik PLN, air PDAM, hingga cicilan lainnya.

e)      Menyediakan tempat nongkrong
Warung sering kali jadi tempat bertemu orang-orang kompleks rumah yang sudah saling kenal dan dekat, kerap terjadi obrolan kecil antarmereka. Jika warung punya lahan sedikit lebih luas, bisa juga disulap menjadi tempat nongkrong sederhana bagi bapak-bapak sehabis bekerja yang ingin mengemil, ibu-ibu yang mengobrol sejenak, maupun anak-anak yang butuh tempat makan sebentar sehabis jajan. Dengan menyatukan keunggulan offline warung dan pelayanan tambahan online dari Kudo, warung konvesional bisa menjadi warung digital serba bisa.

Menilik lima langkah tersebut yang bisa difasilitasi oleh Kudo, ada baiknya warung segera berbenah dan bergabung bersama. Bukan hanya bagi kebaikan konsumen akan lebih mudah dan nyaman dalam berbelanja di warung, tetapi juga untuk kemajuan warung itu sendiri dalam menghadapi beratnya persaingan digital.

Kita yang punya warung kesayangan favorit, bisa menjadi #PejuangWarung yang membawa misi buat #MajuinWarung langganan kita agar tidak tutup dengan menawarkan inovasi Kudo ini. #MerdekainWarung dari ketertinggalan adalah wajib, sebab tiap warung berhak memiliki inovasi lebih baik lagi.

Sehabis tertegun oleh keragaman pilihan dan kelengkapan warung yang jadi mitra bisnis Kudo tersebut, aku pun pulang setelah membeli jajanan Re, bumbu dapur Emak, dan membayar tagihan listrik Bapak. Tak pernah terbayangkan olehku akan tiba di rumah lebih cepat karena semua permintaan rutin di rumah sudah kuselesaikan hanya dengan pergi ke warung berlabel mitra Kudo.

Lega rasanya ada aplikasi digital yang peduli dengan warung sebagai usaha kecil dan menengah, yang menawarkan pemberdayaan dan inovasi lebih, yang memberi bantuan dan uluran tangan ketika lainnya hanya melihat warung tergerus oleh kebutuhan zaman. Terima kasih Kudo, sudah bikin warung Indonesia lebih maju dengan teknologi sampai hari ini.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog "Merdekain Warung" yang diselenggarakan oleh Kudo

This entry was posted in

Monday, 15 April 2019

Ayo Streetfeeding: Cara Sederhana Berbagi pada Satwa Jalanan

“Verily, there is a heavenly reward for every act of kindness done towards a living animal.” – Nabi Muhammad SAW
Petang itu, aku menunggu bus di halte Slipi seperti biasa. Laju kendaraan yang tersendat-sendat jadi pemandangan sehari-hari, ditemani gerutuan orang-orang yang berkali-kali mengecek waktu lewat jam tangan. Semuanya tampak tidak sabar.

Tak ada yang lebih penting selain menit demi menit menuju kedatangan bus selanjutnya, sampai akhirnya aku mendengar lirih suara berisik dari balik tong sampah.  Ketika mencoba menengoknya, aku menemukan seekor anak kucing dengan bulu yang berdiri kaku – tampak kering sehabis tercebur air – dengan pandangan takut, tengah berusaha mencari sisa makanan. Sayangnya makanan yang diharapkan tidak ada, tapi ia tak kunjung menyerah. Anak kucing ringkih itu melompat ke mulut tong, ia melirik ke dalam untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa mengisi perut kosongnya. Namun, kucing itu justru terpeleset dan badannya jatuh ke dalam tong berisi sampah.
Ketemu anak kucing depan rumah, akhirnya diajak ke teras dan makan ikan kembung sachet-an
Sedikit panik, aku hendak menolong. Untungnya, si anak kucing berhasil menjatuhkan tong sampah sehingga ia bisa keluar dengan selamat. Kejadian selanjutnya begitu mengiris hati: si anak kucing mengeong keras, tanda kecewa tak menemukan apapun. Sekali lagi aku menatap mata polosnya yang seakan bicara: ia hanya mau makan. Sesuap makan untuk menyambung hidupnya hari itu.

Bus yang kutunggu sudah datang. Orang-orang di belakangku berebut masuk. Aku memilih mundur dengan pandangan nanar, keluar dari halte dan mencari warung nasi. Sepotong paha ayam utuh akhirnya kubelikan untuknya. Anak kucing itu memakannya dengan lahap. Bus-bus dengan beragam rute berhenti bergantian, tapi tidak ada satu pun yang kumasuki.

Aku masih di sana, menanti si anak kucing selesai makan. Setelah memastikan makanannya habis dan ia tak lagi kelaparan, aku baru bisa pulang ke rumah dengan lega. 
Pada momen itulah aku menyadari jika manusia bukan satu-satunya makhluk hidup yang berusaha untuk bertahan hidup setiap harinya.
Semenjak itu, pandanganku pada anjing dan kucing jalanan jadi berubah. Mereka bukan hewan domestik yang kebetulan tidak punya rumah dan hidup terlantar di jalan, tetapi keadaan sulit mereka akibat dari ketidakpedulian kita sebagai manusia. Aku merasa terusik, dan merasa perlu berbuat sesuatu.

Aku mulai mengikuti akun-akun penyelamatan satwa domestik untuk mengetahui bagaimana cara aku bisa berkontribusi. Dan, tahu jika persoalan ini kompleks. Kian bertambahnya populasi kucing dan anjing liar dikarenakan edukasi mengenai sterilisasi masihlah tabu. Banyaknya kasus penganiayaan terhadap satwa domestik bukan hanya disebabkan kurangnya empati dan simpati manusia sejak dini, tetapi juga lemahnya hukum undang-undang mengenai satwa di Indonesia.

Hampir putus asa? Rasanya, iya. Tapi bukan berarti jadi alasan menyerah. Karena kepedulian dimulai dari diri sendiri, sebab tindakan baik digerakkan dari kuatnya keinginan hati. Aku belajar mengulurkan tangan untuk satwa domestik terlantar (anjing dan kucing jalanan) dengan satu gerakan sederhana: berbagi.
Namanya “Ayo Streetfeeding”. Kita diajak memberi makan kucing dan anjing jalanan kelaparan yang kita temui. Aku mulai rutin mengikuti ajakan ini, hingga tiap pergi ke minimarket, rak yang akan kudatangi pertama kali adalah yang memajang makanan kucing dan anjing. Hingga aku pun punya petshop favorit yang sering kukunjungi. Hampir tiap bulan aku menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli stok makanan kucing dan anjing (lebih sering makanan kucing), dalam beragam merk. Biasanya aku memilih makanan basah kalengan yang akan kucampur dengan nasi, serta makanan kering kiloan sebagai snack-nya.
saat streetfeeding depan rumah

Ke mana saja aku membagikannya? Lingkungan paling dekat: sekitar kompleks rumahku sendiri. Awalnya sulit karena kucing dan anjing jalanan masih asing denganku. Namun, karena rutin dan gigih – perlahan aku berhasil mendapat kepercayaan mereka. Bahkan, mereka tak jarang menunggui depan pagar rumah hingga aku pulang kerja, selarut apa pun itu. Ketika melihat aku turun dari motor, kucing-kucing jalanan sekitar kompleks yang berada di seberang rumah atau tengah mengorek tempat sampah tetangga, berbondong-bondong lari menghampiri. Rasanya jadi punya gerombolan peliharaan tersendiri.

Kalau sedang tidak bawa makanan kucing atau anjing, biasanya aku menyisihkan sisa makanan yang masih layak mereka makan. Sesekali sehabis diberi makan, terutama anak kucing, sering kali menempelkan pipi mungilnya ke kakiku lalu menggesek-gesekkan kepalanya di sana. Seakan ingin berbisik, “Terima kasih.”

Seperti ada yang mengetuk dan menyentuh hatiku lembut sekali, aku menangis. Kupikir apa yang kulakukan hanyalah tindakan kecil, tapi tanpa disadari, itu berarti banyak dan luar biasa buat mereka. Mungkin, sepanjang hari mereka sudah mengemis makan di mana saja, mengais sisa makanan di tong sampah, dan tidak satu pun yang mereka dapatkan. Lalu ketika ada manusia yang sengaja berbagi makanan buat mereka, rasanya bagai kelegaan besar buat mereka, yang tak kita pahami.

Sejak itu, makna berbagi menjadi lebih luas di mataku. Ia tak melulu tentang manusia, tapi makhluk hidup. Dan, makhluk hidup berarti juga hewan. Aku memilih berbagi dengan caraku melalui streetfeeding.

banyak anak kucing yang sembunyi di balik tong sampah buat cari makan,
 jadi beraniin diri deketin sampah buat ajak mereka makan nasi ikan yang lebih layak

Banyak yang bilang, apakah aku tidak takut? Mereka adalah hewan-hewan gembel. Buatku tidak, mereka adalah makhluk hidup juga, ciptaan Tuhan, memberi kasih pada mereka adalah kewajiban yang sesekali dilupakan. Apakah aku tidak rugi? Jumlah mereka semakin lama semakin banyak, secara tidak langsung biaya makan untuk mereka juga bertambah. Buatku, tidak. 

Jika memang sedang tidak punya cukup uang, kita bisa memilih merk makanan kucing dan anjing yang lebih murah atau yang berjenis repack. Atau, kita hanya perlu menyisakan makanan sendiri – sedikit saja tidak membuat kita kelaparan seharian. Intinya adalah, mulai saja dulu, #JanganTakutBerbagi
Karena sudah satu setengah tahun sejak pertama kali aku melakukan streetfeeding, aku selalu merasa lebih bahagia tiap kali melihat kucing dan anjing jalanan bisa makan. Berbagi makan pada mereka seperti cara istimewa bagiku untuk menghilangkan stress. Bahwa berbagi tidak hanya selagi kita mampu, tetapi juga selama kita berniat mengusahakannya. Selalu ada cara dan jalan. Kita menemukan kekayaan tersendiri di tengah kekurangan kita ketika mulai berbagi. Aku semakin yakin kalau #SayaBerbagiSayaBahagia.
Terlebih saat ini bentuk dan fasilitas untuk berbagi kian mudah dipilih, bisa dalam bentuk donasi yang difasilitasi Dompet Dhuafa – tempat kita menyalurkan bantuan dan kepedulian, dengan lebih mudah, bermanfaat, dan bermakna. Ayo berbagi bersama dan buat hari jadi lebih berarti! Ini ceritaku, apa ceritamu?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Jangan Takut Berbagi” yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

This entry was posted in

Monday, 11 February 2019

Review Lengkap Novel #LESAP

Novel Lesap adalah novel soloku yang keempat. Berangkat dengan genre young adult, novel ini terbit di Falcon Publishing pada November 2018 lalu. Bagian paling menyenangkan setelah perilisan tentunya menerima kiriman foto dan ulasan dari teman-teman pembaca, serta bookstagrammer. Berikut ini aku merangkum kiriman dari teman-teman. Potretnya apik dan ulasannya menyeluruh. Suka!

1.      Review Splendid Words
foto: @splendidwords
“Bicara tentang masalah, kadang ia hadir bukan untuk diselesaikan secepatnya, tapi diterima jadi bagian hidup agar hidup lebih berwarna.” ―Lesap, Veronica Gabriella

Akhirnya selesai baca Lesap! Wah, gila, rasanya udah lama banget saya ga baca novel yang berhasil buat saya senyam-senyum gemes sendiri.  Lesap bercerita tentang kehilangan Khanza dan Mikel terhadap orang-orang yang mereka sayangi. Lesap sendiri, dalam KBBI 5 (iya, saya sampai ngecek sendiri saking keponya), memiliki arti "hilang; lenyap; lucut". Jadi, judulnya emang sesuai banget sama isinya.

Hal pertama yang saya suka dari Lesap ga lain dan ga bukan adalah KOVERNYA! Yup, saya sampe pake kapital saking gregetannya. Abisnya, kover Lesap benar-benar estetik dan bagus dan... ARGH, AUTO-BUY LAH POKOKNYA! ILUSTRASINYA ITU LHOOO KECE BANGET!  Saya yakin novel ini juga bisa jadi cover-buy kalian.


foto: @splendidwords

Lalu, ceritanya ternyata ga kalah kece dong! Saya bilang gini bukan karena saya kenal penulisnya, tapi karena ceritanya murni kece beneran! Saya suka permainan diksi Vero yang cukup puitis, membuat saya kepengin baca halaman selanjutnya lagi dan lagi. Udah gitu, Lesap ini juga agak kelam karena menyinggung isu self-harm. Aura kovernya emang rada menipu, ya.

OH, SAYA JUGA SUKA TOKOH UTAMANYA―Khanza dan Mikel. Waktu baru baca, saya suka banget sama karakter Khanza dan Mikel yang konsisten. Khanza konsisten sulit memercayai orang baru, Mikel konsisten ingin menjadi teman Khanza. Jadi kerasa banget gigihnya perjuangan Mikel dan enggannya Khanza percaya sama orang baru. Saya sering senyum-senyum kalo mereka lagi berdua. DAN PLOT TWISTNYA SEDIKIT DI LUAR EKSPEKTASI YA.

Namun, saya masih agak sering nemu saltik. Ga begitu ganggu sih untungnya, hehe. Selain itu, saya berharap endingnya bisa lebih dari 'itu' karena masih ada pertanyaan dalam benak saya yang ga kejawab. Bukan berarti endingnya jelek lho ya, soalnya saya suka juga kok. Namun secara keseluruhan, saya tetap puas baca Lesap.

Kalo kalian penyuka novel romansa yang bikin emosi kalian nano-nano, novel ini saya rekomendasikan buat kalian!


RATING: 4,3/5 !

2.      Review Rizky Mirgawati
"Siapa pun bisa punya masa lalu begitu buruk hingga ia sendiri tidak berani menengok kembali. Namun, selalu ada satu orang yang menerima dirimu dengan baik, menggenggam tanganmu untuk mengajakmu berdamai dan mengatakan kamu tak perlu khawatir. Saat itu terwujud, kamu menyadari bahwa Tuhan sedang mengirim seseorang untuk menemanimu dalam selamanya hidup: dia."

Lesap merupakan novel ketiga Kak Vero yang kubaca. Sebelumnya aku pernah membaca novel hasil kolaborasinya bersama penulis lainnya Time in a Bootle dan Lisa's Diary, namun Lesap ini berbeda.
Awalnya aku pikir kisah Lesap ini ringan dan sederhana tentang seseorang yang pernah kehilangan dan kemudian bertemu dengan seseorang yang membantunya berdamai dengan masa lalu. Nyatanya, kisah ini tak sesederhana yang kubayangkan.

Kalau hanya melihat covernya, novel ini terkesan manis, nyatanya novel ini akan membawamu ke perasaan yang campur aduk, membahagiakan sekaligus mengharukan disaat bersamaan.Karakter Khanza dan Mikel yang berbeda, membuat mereka saling melengkapi. Chemistrynya dapat banget. Aku benar-benar gak menyangka hubungan mereka begitu rumit sekali, plot twistnya cukup mengejutkan.
Isu yang diangkat juga tidak hanya tentang kehilangan, namun bagaimana pengaruh kehilangan itu terhadap seseorang itu bisa berbeda. Seperti Khanza yang memilih jalan berbeda.
foto: @rizkymirgawati
 Aku benar-benar tak bisa berhenti membaca, saking aku menikmatinya. Endingnya juga terasa realistis, walau aku yakin bisa lebih diperpanjang lagi. Membaca kisah Khanza dan Mikel, sebagai pembaca aku belajar untuk memahami bahwa kehilangan bagi setiap orang itu memiliki porsi yang berbeda-beda dan akan menimbulkan reaksi yang berbeda juga.
Ah, aku SUKA novel ini.

3.      Review Reindom Things
Impresi pertama ketika lihat novel ini adalah kover-nya cantik banget. Lalu, berkat beberapa review yang berseliweran di bookstagram aku pun memutuskan memiliki novel ini. Enggak hanya kover-nya saja yang keren, tapi ide ceritanya juga. Aku suka tema ceritanya.

Temanya tentang dua orang yang kehilangan orang kesayangan dan mencoba bangkit dari masa lalu itu. Novel ini juga melibatkan aksi kriminal perihal pembunuhan. Hal pertama yang terpikirkan setelah selesai baca novel ini adalah...

Kover dan tema ceritanya bagus, tapi eksekusinya kurang. Novel ini tipis; 240 halaman. Tipisnya novel ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan terhadap jalan ceritanya.


Kelebihannya:·         Novel ini fast-paced. Dengan tulisannya yang mengalir dan santai, novel ini bisa menjadi pilihan jika butuh bacaan cepat.·         Bahasanya enggak bertele-tele. Aku suka bagaimana penuturan penulis dalam menggambarkan suasana yang ada. Benar-benar mengalir!·         Romansanya manis dan enggak begitu drama. Kalau ada drama-drama dikit, yaudahlah ya. Namanya juga jatuh cinta.
foto: @reindomthings

Kekurangannya:
·         Karena fast-paced dan tipis, alur ceritanya dipercepat. Untuk novel yang temanya seperti ini, aku rasa 240 halaman kurang sih. Mungkin masalah antara Mikel dan Khanza selesai, tapi bagaimana dengan tokoh-tokoh sampingan yang andil? Jadi, terkesan konfliknya selesai dgn sedikit dipaksakan.
·         Padahal aku suka konfliknya, bikin deg-deg-an dan cukup mengejutkan. Sayangnya, kurang dieksekusi jadi agak kecewa sih karena selesainya begitu aja.
foto: @reindomthings
·         Perkembangan karakternya terkesan buru-buru. Enggak cuma perkembangan perasaan Mikel dan Khanza, tapi juga sifat para tokoh itu sendiri. Secara superfisial, aku bisa tahu bahwa Khanza itu 'kelam' dan Mikel pengertian. Tapi hanya sebatas itu. Selebihnya, aku kurang dapat sifat khas mereka.

Sekiranya itu saja yang bisa kusampaikan perihal novel ini. Meskipun memiliki kekurangan, aku tetap menikmati kisah Mikel dan Khanza ini. .

Ratingnya: 3/5

4.      Review Kailemra
"Lo tahu, Za? Hal-hal besar memang membuat kita mengingat sesuatu, tapi hanya bagian-bagian kecil dan sederhana yang bisa menjadikan seseorang merindukan sesuatu. Dan, itu yang terjadi pada gue sekarang." - Lesap, Veronica Gabriella

Setelah sekian lama gak baca novel remaja yang memang remaja banget, novel ini bikin aku kangen berat sama masa-masa smp, masa aku lagi gila-gilanya sama teenlit dan metropop. Novel ini sendiri berkisah tentang Khanza, yang karena kehilangan kedua orang tuanya, harus merantau ke Jakarta untuk tinggal bersama bibinya. Hal itu pun membawanya pada pertemuan dengan Mikel, seorang penyiar radio SKY FM yang sukses dengan acara curhat tengah malamnya.


Penggambaran karakter-karakter di buku ini menurutku sudah cukup kuat. Pembaca bisa benar-benar terbawa dengan emosi dan perasaan Khanza yang bisa dibilang cukup ekstrim (ada kasus self harm dan depresi yang diangkat di novel ini). Sedangkan pembawaan Mikel cenderung lebih santai dan terkesan fun. sebagai penyiar radio, porsi kebawelan Mikel menurutku sudah pas banget.
foto: @kailemra
Konflik yang ada di buku ini pun dapet banget: adegan manis, sedih, dan reka peristiwa masa lalu memegang peran penting dengan porsi yang seimbang. Twist yang terjadi di tengah cerita juga tidak terasa dilebihkan (tapi serius, ngagetin banget). Aku juga suka cara penulis merangkai kalimat, mengalir banget. Hanya saja, coba kalau endingnya sedikit "dilebihkan", pasti akan jadi lebih bagus lagi. dan jujur deh, covernya cakep banget gak sih? Suka!

Buat kalian yang suka cerita romance, buku ini boleh banget dicoba! Tambahan lagi, ada banyak banget quote yang super ngena, salah satunya kayak yang sudah aku kutip di atas. Hayo, siapa yang tertarik? 

5.      Review Emma Susanti
"Buat jadi bahagia dan enggak punya masalah bukan harus jadi anak-anak, melainkan melihat dunia lewat kacamata mereka. Gue percaya setiap orang punya anak kecil dalam diri mereka, yang ngebantu mereka buat melihat segala hal lebih sederhana dan punya jalan keluar."--hal 88, Lesap

Seperti masa lalu, luka membutuhkan waktu. Gak sampe nangis, tapi cukup berkaca-kaca baca ini. 

foto: @emma_susanti
Sakit yang dirasa Khanza bener-bener kerasa sampe bikin dada sesek. Tema cerita yang diangkat gak langka, sih. Cukup umum kalo bisa dibilang. Tapi penyampaiannya itu yang bikin gimanaa gitu. Gak nyesel beli deh!

6.      Review Yessie L Rismar
Saya suka banget sama cover Lesap ini. Paduan warna dan ilustrasinya benar-benar cantik! Setuju, nggak?

Bulan ini berarti sudah dua kali saya membaca novel bertema radio. Agak-agak mirip juga karena si penyiar membawakan acara curhat. Bedanya, di novel ini penyiarnya cowok.


Gaya bahasa Kak Vero yang mengalir bikin saya betah bacanya. Ditambah lagi bab yang disajikan pendek-pendek, jadi nggak terasa, tahu-tahu selesai. Saya suka konfliknya yang sekilas seperti sederhana, tapi ternyata rumit. Plotnya pun rapi.
foto: @yessielrismar

Ketika Mikel berusaha mendekati Khanza adalah momen yang jadi favorit saya di sini. Duh, betapa sabarnya cowok itu. Tapi, menurut saya endingnya kecepetan sih. Mungkin bisa ditambah beberapa bab lagi. Saya juga agak terganggu dengan flashback yang menggunakan format italic. Kalau ini teknis banget sih, ya. Hehe.


Kalau kamu, sudah punya LESAP? Yuk foto dan ulas novel LESAP, jangan lupa tandai aku untuk kemudian kurangkum dan kuunggah di blog ini. Kamu juga bisa beri bintang dan ulasan di Goodreads Terima kasih!

This entry was posted in

Saturday, 25 August 2018

Nasi Goreng Salty, Pilihan Tasty Buat Kita yang Vegetarian


Sejak dulu, aku selalu suka nasi goreng dan tak pernah bosan. Nasi goreng andalan sekaligus langgananku adalah nasi goreng yang dijual di gerobakan di ujung kompleks rumah. Sajiannya sederhana saja: nasi goreng dengan telur dicampur sayur caisim dan suwiran ayam. Kalau disantap saat malam dan masih dalam keadaan hangat: nikmatnya jadi berkali lipat. Terlebih kalau ditemani es teh manis, membayangkannya saja bikin lapar! Tapi, kebiasaan itu berubah karena sekitar dua atau tiga tahun lalu, aku memutuskan menjadi seorang vegetarian. Aku tak bisa lagi menyantap nasi goreng biasa yang mengandung produk hewani: suwiran ayam, minyak sapi, dan perisa (ayam, sapi, dan lain-lain). Namun, bukan berarti kecintaanku terhadap nasi goreng harus terhenti. Aku pun mulai berburu nasi goreng vegetarian yang tersedia di kotaku, Tangerang. Dan, aku menemukannya! Di sebuah resto vegetarian sederhana di pinggir kota Tangerang, Visual Veggie House, ada tujuh menu nasgor vegetarian yang tersedia. Namun, yang bikin nagih di sini adalah Nasi Goreng Salty!
Penampakan Nasi Goreng Salty yang Kupesan di Visual Veggie House
Wangi Bumbu Xiang Chun

Tantangan memasak nasgor vegetarian ada pada cita rasanya. Kenapa? Karena masakan vegetarian wajib menghindari semua jenis bawang, bumbu dapur berperisa hewani, dan tentunya: minyak babi dan sapi. Sepintas, kita pasti mengira rasanya tidak akan enak tanpa semua itu. Namun, Nasi Goreng Salty berhasil membuktikan kalau kita salah.

Nasi Goreng Salty dimasak dengan penyedap rasa Xiang Chun yang khas. Bumbu penyedap ini terbuat dari paduan minyak nabati dengan daun cina Xiang Chun yang harum. Sehingga, enggak heran kalau Nasi Goreng Salty punya bau wangi nan unik. Soalnya bumbu Xiang Chun memang diracik dari bahan-bahan alami: kedelai, daun Toona Xiang Chun, hingga wijen. Komposisi itu juga yang memberi bintik dan warna kehijauan untuk tiap butir nasi gorengnya, sehingga tampilan Nasi Goreng Salty beda dari yang lain!
Wangi Bumbu Xiang Chun yang Khas Di Kalangan Vegetarian
Topping Variatif Nan Favorit

Kalau makan nasi goreng enggak akan lengkap kalau enggak ada topping-nya. Nasi Goreng Salty yang memang dihidangkan tanpa kecap, menyuguhkan campuran topping yang variatif: telur, cah taoge, cabai merah, dan potongan daging ikan asin vegetarian. Tak lupa juga irisan tomat dan timun sebagai pelengkap. Semua topping itu dengan perhitungan yang sesuai, disatukan dalam sepiring Nasi Goreng Salty. Dan, dari keseluruhan topping, tentunya yang paling kusuka adalah potongan daging ikan asin vegetariannya.

Potongan daging ikan asin vegetarian itu tak hanya topping kunci yang memberi Nasi Goreng Salty lebih tasty, tapi juga dimasak dengan cerdas. Soalnya daging ikan asin ini dipotong panjang, dengan pinggiran yang digoreng gurih tanpa menghilangkan rasa asin pas dagingnya di sisi tengah. Ada sensai ‘kriuk-kriuk’ renyah, namun juga berdaging. Jadi, bisa kita bayangkan sendiri ketika menyendoknya bersama campuran topping lainnya: rasanya luar biasa! Aku sering menyisakan potongan-potongan daging ikan asing vegetarian di Nasi Goreng Salty ini sebagai topping yang save the best for last, hehehe.
Toppingnya banyak dan enyak!

Ditambah Kerupuk Kulit Nori

Kerupuk dan nasi goreng adalah dua varian makanan yang enggak terpisahkan. Ada yang bilang kalau makan nasi goreng tanpa kerupuk itu kayak bakso tanpa kuah gurihnya: enggak afdol! Sayangnya, sebagai vegetarian, aku enggak bisa lagi asal sambar kerupuk karena umumnya kerupuk dibuat dari sari udang dan bawang. Tapi, aku enggak khawatir. Soalnya Nasi Goreng Salty juga disajikan dengan banyak pilihan kerupuk vegetarian, lho. Di Visual Veggie House, sudah disediakan keranjang kerupuk yang bisa kita comot sesuai selera untuk menemani hidangan Nasi Goreng Salty.
Kalau rekomendasiku adalah kerupuk kulit nori! Kerupuk ini digoreng dengan tepung kentang dan rumput laut nori sebagai cita rasa utamanya. Jadi kalau kita lihat di foto, bagian hitam-hitam di kerupuk itu adalah rumput laut nori. Rasanya? Jangan ditanya lagi! Renyah, gurih, garing, enyak, super!
Paduan Surga Kerupuk Nori x Nasgor Salty
Nah, buat kita seorang vegetarian, pecinta nasi goreng, dan penggemar rasa yang enggak melulu itu-itu saja, bisa langsung meluncur buat nyobain Nasi Goreng Salty-nya. Sssst, jangan lupa ajak aku juga yah! Aku senang menemani dan menerima traktiran makan Nasi Goreng Salty, hahaha!

My Food Lover Tips: Nasi Goreng Salty di Visual Veggie House ini punya dua varian masakan yaitu varian Ricchie dan Vegan. Kalau Richie itu, nasgor Salty vegetarian-nya dimasak dengan telur. Kalau Vegan, akan dimasak tanpa telur. Jadi pilih yang sesuai dengan gaya hidup hijau kita yah!
Oh ya, ini #NasiGorengDiKotaku, bagaimana cerita nasi goreng di kotamu?

Cara dapetin Nasi Goreng Salty, dateng aja ke:
Visual Veggie House
Suka Asih, Jl. Taman Makam Pahlawan Taruna No.2, Sukaasih, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15118



This entry was posted in

Friday, 24 August 2018

Catatan Panjang Tentang Christopher Robin


Sekitar tiga hari yang lalu, aku menonton Christopher Robin, setelah menunggu sepanjang Agustus untuk tayang di Indonesia. Aku kecil selalu suka dengan Pooh; aku ingat ketika aku menggambari Pooh yang gendut dengan toples madunya, lalu menggandakannya banyak-banyak di tukang foto kopi untuk kujadikan buku mewarnai karyaku versi Winnie The Pooh - disamping Peter Rabbit tentunya. Lalu, memilih sprei bercetakkan kepala Pooh yang besar-besar, serta kotak bekal yang memuat potret Pooh dan kawan-kawan yang piknik di hutan. Salah satu boneka yang kukoleksi pun berasal dari serial Pooh, aku tidur bersama Tigger (ssst, T I double guh err. That speels Tigger! Hahaha).
"It always a sunny day when Christopher Robin comes to play."
sumber foto: crofficial
Maka, menyaksikan kembali Robin dan Pooh seperti membawa diriku jalan-jalan kembali ketika aku masih kecil – ketika tidak melakukan apa-apa bukanlah hal yang berdosa. Itu terasa saat Robin akan pergi dan Robin kecil berharap ia bisa berharap untuk tetap tidak melakukan apa-apa, namun ia tidak bisa. Lalu, Pooh dengan polosnya mendukungnya dan mengatakan kalimat yang menarik:  “Doing nothing often leads to the very best kind of something”. Hampir setiap hari kau dan aku mungkin merasa harus melakukan sesuatu apapun itu – agar produktif, agar bermakna, agar tidak sia-sia, dan lain-lain. Lantas aku terdiam dan teringat, tulisan-tulisan terbaikku justru  bermula ketika aku tak bersusah payah mencari idenya – aku hanya butuh diam, merilekskan diri, membuat diri nyaman tanpa memberi tenggat. Aku pun sampai pada pemahaman: kau hanya butuh sesekali diam mengenali diri sendiri tanpa pretensi apa-apa.
What should happen if you forget about me, Christopher Robin?
sumber foto: cr trailer
Kembali soal film, petualangan dimulai ketika Robin dewasa memutuskan membantu Pooh untuk mencari teman-temannya (Piglet, Tiger, Eeyore, dkk) yang hilang. Buatku ada satu adegan yang membuatku hampir menitikkan air mata di sini – ketika Pooh tidak bisa membaca kompas dengan baik, dan mengacaukan semuanya. Lalu, tanpa sengaja membuat koper berisi dokumen penting milik Robin dewasa tercecer kemana-mana. Robin dewasa membentak dan mencaci maki Pooh sebagai beruang pandir, tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu sepenting apa isi kopernya. Robin dewasa tidak paham mengapa Pooh bisa begitu bodohnya menganggap dunia ini sebatas dan seindah balon dan toples madu. Sedangkan Pooh pun tidak paham mengapa Robin menganggap dunia ini digantung pada koper berisi dokumen yang dibawa kemana-mana.
“Christopher Robin: There’s more to life than balloons and honey!
Pooh: (doubtfully) Are you sure?” 
Adegan favoritku jatuh pada bagian terakhir film. Diisi percakapan antara Robin dewasa dan Pooh. Ini percakapan yang akan tertanam lama di kepalaku. Pooh bertanya pada Robin dewasa ‘hari apa sekarang?’ Alih-alih menjawab nama hari lengkap dengan jamnya, Robin dewasa menyahut ‘It’s today – hari ini’. Pooh semringah dan berkata, ‘Aku suka hari ini. Sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’. Aku hampir menangis setelahnya. Dialog ini benar-benar menampar. Pernahkah kita menjalani hari ini sebenar-benarnya hari ini, tanpa mengkhawatirkan hari esok?
“If you live to be a 100, I want to live to be a 100 minus one day so I never have to live without you.”
sumber foto: tyrantgeek
Kita kerap melalui hari ini dengan bekerja keras dan belajar giat bukan demi menjalani hari ini, tapi untuk hari esok, demi masa depan. Lalu mengeluh tiap harinya semakin berat. Lantas lupa, sesungguhnya segalanya akan lebih ringan ketika semua hal dijalani hari ini dinikmati secara sadar dan hadir penuh untuk hari ini. Kita sudah lama sekali menjadikan hari ini adalah hari esok. Masa kini adalah masa depan. Padahal, kebahagiaan itu adalah hari ini dan sekarang. Izinkan aku mengutip dialog antara Robin dan Evelyn, istrinya ketika mereka berdebat mengenai Robin yang tidak bisa ikut liburan akhir pekan. Saat itu, Robin berkilah jika ia bekerja untuk kehidupan yang nanti lebih baik untuk keluarga mereka, sedangkan Evelyn berkata kehidupan mereka adalah sekarang tepat di depan mata Robin. Bukan nanti-nanti. 
Evelyn: You won’t be coming to the cottage?Christopher Robin: It can’t be helped. Evelyn: Your life is happening now, right in front of you!
Sampai di sini mungkin akan ada banyak yang mendebat, hidup memang tak sesederhana yang dipandang anak kecil. Saat itu, aku hanya ingin menyahut kecil, sayang, kita hanya lupa jika hidup dan kebahagiaan itu memang sederhana. Kita lupa semenjak kita beranjak dewasa.
“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”
Goodbye, Christopher Robin...
sumber foto: crofficial
Catatan:
Aku menulis ini seraya mendengar Home, Should I Think yang dibawakan Carter Burwell. Itu musik yang pas untuk menemani kita menikmati tulisan ini. Semoga suka! Ah ya, sesungguhnya dari sisi ide cerita, aku lebih suka COCO, lebih segar dan baru. Sementara Christopher Robin masih mengangkat konflik umum antara orang tua yang sibuk dan anaknya. Tapi, buat kita yang butuh mengambil napas sejenak dan mengizinkan anak kecil dalam diri kita keluar untuk bermain, Christopher Robin termasuk film yang menurutku: must watch! Dan, aku suka sekali bagaimana Pooh menyebut dan memanggil 'Christopher Robin', ikonik - jempol buat pengisi suaranya.