Thursday, 19 July 2018

Pagi Di Ruang Pleno DKJ


Ruang pleno di kantor Dewan Kesenian Jakarta, Sabtu (14/7) pagi itu sudah cukup ramai ketika aku sampai. Hampir setengah dari total peserta terpilih kelas penulisan sastra anak telah mengambil bangku masing-masing mengitari meja kelas, tak terkecuali aku. Sembari menunggu Mbak Redagaudiamo yang masih menikmati kopi pagi Cikini, kami menyimak obrolan santai dengan komite sastra DKJ, Mbak Aini Sani Hutasoit dan Paman Yusi Avianto Pareanom. Dari mereka, diketahui jika kelas sastra anak DKJ baru memasuki tahun kedua dengan tanggapan yang begitu baik dari masyarakat sejak pembukaannya, yang mana pesertanya selalu mencapai angka ratusan tiap tahun. Bahkan di tahun pertama, DKJ menerima aplikasi hingga 400-an pendaftar. Mendadak, kurasa bangga sekali bisa terpilih untuk duduk dan belajar di ruang pleno pagi itu.
Oleh Mbak Aini juga, disampaikan alasan diadakannya kelas sastra anak, 
“Sudah sejak lama DKJ fokus dengan sastra dewasa. Sampai kemudian kami menyadari sastra anak tak kalah penting eksistensinya dengan sastra dewasa. Belum lagi ditambah kegelisahan kami melihat anak-anak nusantara lebih mengingat karakter-karakter cerita anak dari luar Indonesia, dibanding yang dalam negeri. Untuk itu, kelas ini diadakan dengan harapan bisa membangkitkan semangat kepenulisan kreatif cerita anak dan memunculkan buku-buku anak ikonik untuk anak-anak  Indonesia.”
Banyak dari kami pun mengakuinya. Kuingat ketika kukecil dulu, yang kujagokan adalah tokoh-tokoh heroik dan konyol dari komik maupun cerita rakyat yang difilmkan, yang berasal dari luar. Bahkan tontonan animasi anak pada tiap minggunya dibombardir dengan cerita-cerita anak dari beragam negara, yang mana porsinya dari dalam negerti sangatlah sedikit. Atau bahkan, kurang kuingat.
Hal serupa juga ditambahkan Mbak Aini, perempuan yang hari itu mengenakan terusan batik biru muda, mengatakan jika dulunya beliau mengikuti serial anak di salah satu media, namun sekarang serial tersebut pun tak lagi terdengar. Menurut beliau, dunia cerita anak khususnya di Indonesia butuh dinyalakan lewat penyegaran dan pembaruan agar tak redup. Beliau berharap seluruh peserta kelas sastra anak baik angkatan pertama dan sekarang, bisa keluar sebagai penulis anak unggul yang memberi warna dan sumbangsih untuk cerita anak.
Diskusi awal sebelum kelas menjadi hangat dan seru. Terlebih ketika salah satu peserta menyinggung mengenai batasan cerita anak – apakah harus selalu mengandung unsur moral yang baik-baik? Sampai di sini kami semua sepakat, cerita anak lebih dari sekadar buku cerita moral. Walau sesungguhnya, justru batasan ‘harus bercerita baik-baik dalam buku anak’ itulah yang mengekang kebebasan berimajinasi penulis ketika menulis cerita anak – yang kuamini membuatku sulit sekali menulis genre ini. Apakah kamu juga demikian?
Paman Yusi yang mendengarnya pun menyela, 
“Maka itu, jika tidak penting-penting sekali, jangan membolos kelas ini.”
Kami semua tertawa, bertepatan dengan datangnya Mbak Reda dengan tote bag penuh berisi koleksi buku anak yang akan dibedah hari itu. Diskusi kecil pun usai, berganti jadi sesi sambutan sebelum kemudian bagian paling ditunggu dimulai oleh Mbak Reda: belajar menulis cernak! Dan, apa saja yang kudapat selama dua jam kelas intens tersebut, bisa teman-teman simak di sini. Semoga bermanfaat!

This entry was posted in

ACOTAR: Pilihan Segar untuk Pecinta Serial Romance-Fantasy

Judul               : A Court of Thorn and Roses (ACOTAR)
Pengarang       : Sarah J. Maas
Tebal Buku      : 587 halaman
Penerbit           : Bhuana Sastra (imprint Bhuana Ilmu Populer Gramedia)
Tahun Terbit    : Februari 2018


Beberapa hari lalu dikirim buku ini oleh BIP Gramedia untuk kubaca dan kuulas. Ini perkenalan pertamaku dengan series-seriesnya Sarah J. Maas, setelah penasaran melihat buku-bukunya berseliweran pada foto-foto apik bookstagammer Indonesia. Seusai menyelaminya, aku punya beberapa poin ulasan buat novel yang pernah masuk nominasi Goodreads Choice Award for Fantasy and Sci-Fi 2015 ini.
Novel ini mengadopsi ulang cerita Beauty and The Beast yang diramu dengan aksi heroine ala Katniss Everdeen (terutama pembuka ceritanya, langsung mengingatkanku pada Katnis) dan karakter kisah percintaannya kental akan gaya saga Twilight. Tapi dieksekusi dengan segar dan menarik.
Sekitar seperempat cerita, khususnya pendekatan antara Feyre dan Tamlin cukup berjalan lambat – tapi buatku sendiri, tidak sampai membuatku lelah. Karena kupikir ini perlu agar tidak terjadi ‘instant love’, terlebih ketika Feyre diatur sejak awal membenci dunia peri, serta ini kupandang sebagai cara Maas menjelaskan keadaan dunia peri. Terutama juga, ada petunjuk-petunjuk yang disebar sepanjang cerita yang akhirnya terjawab menjelang ending.
Ada adegan yang kontroversial, mengingatkanku pada sekte yang memang punya ritual ini: melakukan persenggamaan untuk kesuburan tanah peri tiap tahunnya. Baiklah, adegan ini sedikit buatku mengerutkan dahi.

Bagian paling kusuka dari novel ini adalah saat bab sudah menyentuh halaman 300-an ke atas: ketika adegan demi adegan sudah cukup membuat tegang, rahasia sihir yang melingkupi dunia peri terungkap serta kenekadan Feyre ke Kaki Gunung untuk melawan Amarantha, dan menyelematkan Prythian (juga tentunya, Tamlin). Tokoh antagonisnya buatku sukses dibawakan Maas dengan baik.
Kuakui Maas punya kemampuan deskripsi yang mendetil dan imajinasi nan luas. Karakter yang dibangun cukup kuat walau buatku masih terbayang-bayang Beast x Edward Cullen dalam karakter lelakinya.
Awalnya jatuh cinta dengan Tamlin, tapi saat menjelang akhir, Ryhsand lebih mempesona (yang buas-buas memang bikin tertarik, tapi yang misterius dan gelap justru lebih menantang dijelajahi #uhuk).
Dari segi fisik buku, BIPGramedia memberikan jenis dan ukuran font yang pas untuk dibaca mata, serta terjemahan yang enak dibaca (sebab kutahu ini tidak mudah, yang menerjemahkannya perlu paham plot pikir Maas). Walau masih kutemukan tiga typo dalam buku ini.
Kalau kita dasarnya suka roman dengan bumbu fantasi, kupikir novel ini akan cocok buat kita – menemukan karakter idola baru, menyelami kisah cinta dua dunia seraya terhanyut dalam petualangan fantasinya satu persatu.
Simpulannya, buku ini layak diberi kesempatan untuk dibaca sampai habis dan ditunggu seri kedua dan ketiganya.
Bintang? 3,8 dari 5
Aku merekomendasikannya!
Selamat jatuh cinta pada Tamlin dan Rhysand! 




Wednesday, 18 July 2018

(GIVEAWAY & BLOGTOUR) Novel 'Follow Me Back': Ketakutan-ketakutan yang Penuh Kejutan

Judul               : FOLLOW ME BACK 
Penulis             : A.V Geiger
Penerjemah      : Lisa Mahardika
Halaman          : 340 halaman, 20 cm
Tahun Terbit    : Mei 2018 
ISBN               : 978-602-6682-20-8 
Penerbit           : Spring 

Blurb              


Dunia Tessa Hart terasa sangat sempit. Dia terkurung di dalam kamar karena agorafobia yang diidapnya. Satu-satunya pelariannya adalah dengan memasuki dunia fandom online penyanyi pop yang sedang naik daun, Eric Thorn. Ketika Eric menyapa para fansnya lewat Twitter, rasanya seperti cowok itu berbicara langsung kepadanya.
Eric Thorn takut pada penggemarnya yang obsesif. Mereka memujanya dengan cara berlebihan. Belum lagi tim publisisnya yang tidak berhenti menulis tweet dengan akunnya untuk menyemangati khayalan mereka. Benar-benar tidak membantu. 
Ketika temannya yang sesama penyanyi pop dibunuh seorang penggemar, Eric tahu dia harus melakukan sesuatu untuk menghancurkan citra dirinya di online. Contohnya, menjatuhkan salah satu pengikut besarnya di Twitter. Sayangnya rencana Eric untuk mengganggu @TessaHeartsEric berubah menjadi hubungan online yang lebih dalam daripada yang pernah dia bayangkan. Dan ketika hubungan mereka semakin dekat, sesuatu yang tidak disangka-sangka mengejutkan mereka semua!


Kesan pertama yang saya tangkap saat membaca novel ini adalah idenya yang segar dan khas milenial zaman sekarang. Secara garis besar, cerita ini memiliki potret kedekatan dengan kegiatan keseharian anak muda era kini. Sebut saja: aktivitas fangirling,senang menghabiskan waktu dengan media sosial semisal Twitter, punya pacar, konflik dengan orang tua, tekanan psikologis hingga kegalauan pribadi, semuanya dikemas jadi satu cerita utuh dengan bumbu romansa dan misteri. Bagian lebih menariknya adalah novel ini menyuguhkan sejumlah kejutan sekaligus sesuatu yang berbeda. Apa saja?

Tessa tidak serta-merta mengidap agorafobia atau ketakutan terhadap keramaian atau kerumunan. Terjadi hal yang buruk ketika ia mengikuti program belajar musim panas di kampusnya. Sejak itulah, ia mulai menutup diri dan mendekam di dalam kamar rumah. Bahkan ia sampai harus melakukan terapi setiap minggunya, mengonsumsi obat peredam kecemasan/kepanikan, sampai mencoba beragam cara untuk menenangkan diri.

Reaksi ketidaksukaan Tessa ketika Scott, pacarnya yang menyebalkan, sering muncul tiba-tiba di kamar atau kesedihan Tessa saat ibunya memaksa Tessa keluar rumah dan menganggap itu adalah hal yang mudah, menjadi poin menarik di sini. Mengapa? Karena berhasil memberi gambaran dan pesan pada siapa pun untuk tidak memandang sebelah mata gangguan psikologis yang dialami remaja. Bahwa gangguan tersebut nyata adanya dan perlu diobati, perlu dukungan banyak pihak. Jika tidak justru bisa bertambah parah, dan dalam banyak kasus, bisa terjadi bunuh diri.
“Kau berengsek! Kau menakutiku setengah mati! Kau mengerti itu? Kau lihat pil-pil ini? Aku tidak main-main. Aku punya fobia. Kondisi yang sudah didiagnosis secara medis. Kau tidak bisa begitu saja masuk ke kamarku. Tidak boleh!” – Tessa Hart, halaman 144
Pernahkah kita berpikir apakah artis idola benar-benar mencintai para fans-nya atau justru sebaliknya? Novel ini memberi jawabannya. Di balik kalimat-kalimat balasan ‘aku juga mencintaimu, fansku!’, terdapat masalah privasi antara artis idola dan fans yang sering kali jadi pikiran si artis. Begitu yang tergambar dari keadaan tokoh utama pria, Eric Thorn, seorang idola remaja masa kini, yang punya kecenderungan takut berlebihan pada fans perempuannya yang menggila. Terutama saat temannya sesama artis meninggal akibat ditikam oleh fans sendiri. Sejak itu Eric benar-benar paranoid dan merasa jutaan fans-nya lebih dari sekadar stalker profesional tapi juga berkemungkinan membunuhnya. Cerita novel ini mengajak kita menengok lebih jauh dampak gelap fangirling obsesif terhadap artis kesayangan.

Cerita dimulai oleh berkas transkrip interogasi kepolisian. Sejak awal kita langsung disodorkan satu sinyal: ada sesuatu yang serius tengah terjadi antara Tessa-Eric pada akhirnya. Pembuka ini sukses membuat saya terus mebalik halaman demi halaman untuk mengetahui apa yang terjadi hingga harus melibatkan kepolisian. Paduan antara berkas laporan interogasi dan jalan cerita Tessa-Eric, membuat novel ini punya alur maju-mundur yang bikin kita penasaran sampai akhir.
“Penyidik: Mr. Thorn, tolong duduk. Kita berada di tengah-tengah penyidikan kriminal.Thorn: Katakan dimana dia!” – Transkrip Resmi Interogasi Kepolisian, halaman 5

Buat kita yang udah baca selesai novel ini, pasti punya satu pendapat yang sama: endingnya bikin kepikiran! Yup, cerita ini memberikan ending yang tak terduga, bahkan benar-benar di luar prediksi. A.V Geiger berhasil mengejutkan pembacanya dengan menaruh twist di ending. Dijamin, siapapun yang habis membacanya pasti segera berspekulasi macam-macam mengenai kelanjutannya. Saya enggak bisa spoiler, tapi ini jenis ending yang: CLIFFHANGER!

Kedekatan antara Tessa dan Eric (yang menyamar sebagai Taylor) bisa kita temukan lewat pertukaran pesan mereka via DM. Saya senang membacanya karena tidak membuat kita ‘lelah’, sebab ditulis khas pertukaran pesan remaja dengan gaya yang ringan dan mengalir.

“Tapi aku tak akan melupakan keping saljuku. Tak sanggup kulelehkan dia dari pikiranku. Aku akan mengawasinya dari jendela. Demi cinta yang dia tinggalkan.” – Snowflakes, Eric Thorn, halaman 322

Reccomended!
Rating             : 3,8 dari 5



Perlu diakui, A.V Geiger sukses menghadirkan novel remaja ringan dengan bumbu misteri-thriller yang menyenangkan untuk dibaca. Saya sendiri menghabiskannya dalam waktu satu setengah hari saking penasarannya. Kalau buat saya, Follow Me Back bisa jadi rekomendasi bacaan akhir pekan kita!

Giveaway Time!


Penasaran dengan kisah Eric-Tessa? Penerbit Spring akan membagikan secara gratis novel ‘Follow Me Back’, lho! Bagaimana caranya? Gampang banget. Berikut ketentuannya:


1.      Like fanpage Penerbit Spring, dan follow juga blog ini agar teman-teman bisa dapat informasi seputar blogtour dan giveaway finalnya.
2.      Follow akun Twitter @PenerbitSpring dan akun Twitter @verooogabriel
3.      Follow akun Instagram @PenerbitSpring dan akun Instagram @verooogabriel
4.      Share postingan ini melalui Twitter, Facebook, atau Instagram (boleh pilih salah satu). Lalu, jangan lupa mention @PenerbitSpring dan @VeroooGabriel (jika via Twitter dan Instagram), atau tag Penerbit Spring (jika via Facebook)
5.      Jawab pertanyaan ini:
Siapa nama pacar Tessa Hart?
6.      Simpan jawaban dari pertanyaan setiap host (untuk tautan blog dapat dilihat di banner)
7.      Di akhir blogtour, akan diadakan giveaway di fanpage Penerbit Spring pada tanggal 22 Juli 2018 dan jawaban atas pertanyaan yang sudah dikumpulkan dari semua host blogtour akan menjadi kunci penentu untuk mendapatkan novel ‘Follow Me Back’.
8.      Pengumuman pemenang akan dilakukan segera setelah giveaway berakhir di fanpage PenerbitSpring.

Jadi, tunggu apalagi! Langsung aja ikuti blogtour-nya dan menangkan satu novel ‘Follow Me Back’ gratis dari Penerbit Spring! Semoga beruntung dan bisa menyelami thriller-nya kisah Eric-Tessa yah!




Friday, 1 June 2018

Curly in Love #MemeliharaKeriting



Apa yang ada di kepala kita yang punya rambut keriting? Kribo. Berantakan. Enggak bisa disisir. Singa. Ketombean. Cepet panas. Kriwil-kriwil. Barang bisa nyangkut. Akar pohon. Mie awut-awutan. Jelek. Takut digerai. Ngembang. Acak-acakan. Diiket aja. Dikepang aja. Dilurusin aja.

Tapi, benarkah iya? Atau tanpa sadar kita tengah terjebak oleh stigma kecantikan? Sebab, ada tujuh cewek berambut keriting yang berani membagikan kisahnya. Dari suka hingga duka memiliki keriting sejak lahir hingga sekarang – diejek, dicerca, hingga dirisak, lalu dipuji, diiri, hingga diingini. Mereka saksi bagaimana masyarakat dan lingkungan memberi labelisasi pada keriting. Dari sedih hingga lucu – ditertawakan, dicandakan, hingga diguyonkan. Mereka menyaksikan bagaimana masyarakat dan sekitar memberi labelisasi pada keriting; sering kali diikuti frasa buruk yang bikin tak tercaya diri.

Namun, mereka berkata lantang, melawan balik lewat pilihan memelihara keriting. Menunjukkan seribu satu alasan keriting layak dipertahankan dan dicintai. Menampilkan bahwa kecantikan bukan perihal soal gaya dan bentuk rambut, melainkan kepercayaan dan kecintaan pada diri.

Jika keriting punya kesempatan bicara, lewat mereka bertujuhlah cerita keriting disampaikan!

Additional Notes:
THIS ZINE/ EBOOK IS NOT FOR COMMERCIAL USE
FEEL FREE TO DOWNLOAD and SHARE 

Wednesday, 4 April 2018

(In Memoriam) Miki Moppy : Sepotong Cerita

in memoriam of Miki Moppy
Maret mungkin jadi bulan yang paling kuingat di tahun ini. Ia adalah waktu ketika Miki – anak kaki empat yang kuadopsi – pertama kali datang ke rumahku, juga pulang ke rumah Tuhan, di bulan yang sama. Hanya tiga minggu waktu yang diberi Tuhan untukku belajar memahami sederhananya mencintai Miki dan dicintai balik. Saat kehilangan ia dalam suatu kecelakaan pada petang, yang mengisiku kemudian hanya sesak dada dan isak tangis tak kunjung berjeda. 

Lalu diikuti percakapan-percakapan seolah Miki masih ada, kemudian diiringi penyesuaian untuk kebiasaan-kebiasaan yang mendadak lenyap. Lenggang ada di mana-mana, dan rasanya jadi ganjil yang menyiksa. 

Ingatan akan Miki yang menyambutku pulang dari festival jajanan, yang berbau napas pagi tapi masih dengan percaya dirinya menggonggong meminta sarapan, yang menunggui janjiku memberinya makan pisang sehari dua kali, dan lain-lain, justru menyeretku pada kerinduan yang bergerigi tajam – setiap merindu, sesering itu juga aku harus siap terluka. 
Aku memang punya kebiasaan membayangkan beragam versi kepergian untuk apapun yang kucintai, dan kehilangan Miki dalam sebuah kecelakaan yang begitu cepat dan tiba-tiba tak pernah ada di kepala. Kupikir ia akan pulang dalam beberapa tahun ke depan ketika ia menua di pangkuan, namun skenario semesta (selalu) punya garis cerita lain untuknya dan kematian sudah memilih tempat. Kepergian pada sesuatu yang kau cintai dan sayangi tak pernah mudah dihadapi, terlebih lagi kenangan akannya begitu dekat kau sentuh. 

Aku sempat tidak tahu bagaimana cara berdiri tegak mengatakan pada kenang yang menolak menjadi sepia itu kalau aku sudah cukup penuh menerima semuanya – hingga babak belur membiru, meluka memerah darah.

Sampai kuputuskan untuk pelan-pelan merapikan potongan dan fragmen memori yang berantakan oleh air mata dengan menuliskannya. Sehingga kesedihan yang menumpuk di kepala menemukan tempat lain selain dalam diriku, untuk bermuara. Maka, selama tiga hari pertama kepergian Miki, aku kerap menuliskan ini semua – bagian-bagian dari kesedihan dan kedukaanku, untuk kemudian kubagi bersama pada siapa pun yang ingin memeluk kehilangannya bersamaku, juga sebagai caraku mengendapkannya dan memeliharanya abadi dalam ingatan.

Selamat mendekap memori akan momen-momen singkat Miki beserta menemaniku kehilangannya. Terima kasih!


Wednesday, 3 January 2018

Setiap Malam Aku Bermimpi Jatuh Cinta Padamu Sambil Berduka Cita

Malam itu, kamu mengantarku pulang setelah hari yang panjang. Di balik kaca jendela mobil yang dikemudikan seseorang asing buatku namun melihatmu tumbuh sedari remaja, kubilang padamu – malam berhasil memaksa kota untuk bersalin baju. Lihatlah, gedung tua itu yang tubuhnya retak di  bawah dada dan bagian belakang punggung, yang sesekali basah dan kupikir itu air matanya, kini samar di bawah hitam hingga tampak berdiri utuh tanpa luka. Kamu hanya butuh menggantunginya satu atau dua lampu oranye, ia akan terlihat seperti punya jendela kosong yang mengajak siapapun yang menengok untuk bercerita. 

Dan, sayang, malam sesekali bisa mengubahmu jadi pujangga paling romatik di kota atau para pecinta yang baru menyadari mereka jatuh cinta sambil berduka cita.

Kamu mengernyit. Wajahmu hanya separuh di mataku, dan setengahnya lagi dipinjam malam. Begitukah cara langit gelap menyentuhmu? Merebutmu sebagian, dan sisanya adalah tebakan-tebakan penuh kerinduan. Mari berhenti sejenak, sampai di sini ada hal-hal yang ingin kuberitahu padamu. 
sumber: pinterest
Setidaknya sudah tiga kali mereka bilang kita tidak akan berhasil. Tak ada petang untuk malamku dan siangmu – jembatan itu terlihat terbakar. Dan kamu tertawa ketika aku membalas, ciuman panas memang bisa membakar apa-apa yang di sekitar. Kita sama-sama memahami jika aku tak percaya ramalan – satu-satunya alasan aku terus menulis tentang kita, karena aku tahu aku bisa menciptakan dan menyusun akhir cerita kita sendiri. Namun di luar itu, kamu harus percaya apa yang muncul di kepalaku setiap selesai kubisikkan selamat menghitung domba sebelum tidur; aku punya kebiasaan menolak lelap karena belakangan ini ide-ide perpisahan kita hadir timbul tenggelam, dan semakin hari terasa kian nyata.
Kamu berdiri di ujung fajar mengenakan kaus yang kubilang berbau seperti jahe atau jamu dengan celana hitam favoritmu yang kamu pilih saat kutemani, dan aku minum teh beraroma sitrus seraya menunggu senja menurunkan diri – sayang, orang-orang melihat kita sebagai gambaran untuk suatu yang pasti dan lupa kalau terbit dan benam tak pernah bertemu dan punya cerita soal kebersamaan menjalani hari. Aku takut, kita terlampau begitu berbeda hingga jalan kamu dan aku hanya saling menabrak dan meninggalkan bekas-bekas yang membiru; kita saling mencintai sambil melukai satu sama lain. Atau terlalu sama, sampai kita hidup terus bersisian, jalan berdampingan, dan lupa kalau kisah butuh ujung yang berlawanan untuk sampai di satu titik yang mereka sebut: pertemuan dan kepulangan. Aku sangsi kita punya itu.
Kamu pergi jauh. Kamu bilang untuk mengisi rentang kekosongan karena aku memintamu menunggu dan kamu memilih menantinya di sana. Dan kita memakai jargon-jargon manis yang dijual iklan benda-benda lucu hadiah valentine seperti pakaian sehari-hari untuk menutupi kesalah yang kamu dan aku rajut bersama. Kita mengenakannya untuk memaafkan satu sama lain atau bahkan: diri sendiri. Karena mungkin saja, aku lalai mencintaimu dengan benar, dan kamu lelah menjalaninya.
Mari kuucapkan lebih nyaring: aku bermimpi dengan mata terbuka, membayangkanmu melihat separuh dari diriku yang kamu favoritkan di wajah orang lain. Kamu menemukan genapnya jawaban-jawaban tergantung di dada perempuan yang kamu temui setelah aku, di depan toko roti tempat biasa kamu pulang berkantor. Kamu berada di atasku dan aku menciumi rasa vanilla asing yang sebelumnya tak pernah kutemui di bibirmu. Kamu lupa caranya menunggu karena denganku terasa selalu dalam waktu tunggu. Dan, aku menemukan selama ini kita menyimpan kematian-kematian kecil, hanya saja aku dan kamu sanggup membelah diri jadi banyak dan mulai lagi dari awal.

Sayang, lambat laun tampak seperti rasa rindu yang terus menggigil dan aku kehilangan tubuhmu untuk menyelimutiku, jadi dingin itu terus menusuk dan perlahan aku mati. Atau mungkin tubuhmu ada di sini, hanya saja juga mengigil, rasanya sama: dingin – dan kita sampai pada persimpangan, salju sudah menebal, cuaca terus menimbun es, dan matahari menolak terbit, lalu aku pun menyadari kita sudah tidak ingat lagi cara memakai korek api.

Aku bangkit dari kasur – kulirik weker digital di atas nakas kamar: sudah pukul tiga. Pagi masih kehilangan penglihatannya dan kudengar suara pentung dari pos ronda menyelip di antara dengkuran. Aku tak bisa tidur kemarin, lalu kutelepon kamu yang dijawab dengan seperempat nyawa. Kira-kira seperti ini percakapan kita.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Untukmu boleh apa saja.”
“Setiap kali kita mengucap selamat tidur, mengapa terasa seperti kecupan perpisahan?”*

--
*percakapan ini dinukil dan diterjemahkan dari puisi ‘Souls/Jiwa’ karya Lang Leav

Friday, 29 December 2017

Sayang, Ada Bagian Dari Diriku yang Tak Pernah Rapi Kususun

Aku duduk di ujung kasur, bersebelahan dengan jendela berkaca buram akibat embun dan sisa rintik gerimis yang mengering di sana tanpa sempat kubersihkan. Kulempar ponsel ke atas nakas dan mematikan koneksi jaringan. Terlampau banyak mulut-mulut yang berebut mengambil tempat, sedangkan layar ponselku tak pernah punya cukup ruang – alhasil mereka menempeli sekujur tubuhku lalu menelanjanginya, lantas membuat siapapun berpikir: kamu tidak lagi butuh tayangan infotainment ketika sudah memiliki media sosial. Kamu dan aku bisa kapan pun naik panggung. Ponsel itu masih bergetar. Aku beranjak. 
sumber foto: wisegag.com
Belakangan aku merasa berantakan, seperti ada bagian dari kedalaman yang tak pernah rapi walau sudah disusun berulang kali. Kehilangan masih mengisi segar di rongga dadaku. Dua proyek yang menungguku masih berdebu di atas meja kerja. Panggilan-panggilan mulai berhenti kujawab. Ajakan bertemu pelan-pelan kutepis. Janji-janji yang kubiarkan berserakan dan tak kutepati. Aku mendongakkan kepalaku – kembang api di mana-mana, tahun baru sebentar lagi menyapa hai, namun aku selalu merasa bagai dipeluk selamat tinggal. Aku terbayang seseorang dengan busa kopi yang tidak sengaja tertinggal di pucuk hidungnya. Kemudian, aku memeluk pulang diri sendiri.
Sudah lebih dari tiga bulan aku menghentikan kebiasaan membaca puisi keras-keras pada seperempat malam – salah satu caraku memberi terapi pada bagian-bagian dari diriku yang menolak damai. Tapi aku masih ingat barang satu kalimat yang bicara soal hal-hal yang diselindung rapat orang-orang dan menyebutnya: rahasia. Katanya, ia adalah doa yang minta diampuni dari kerinduan. Buatku, adalah sesederhana jawaban baik-baik saja.

Semuanya terasa janggal ketika aku berdiri terlalu dekat dengan tahun yang sebentar lagi sekarat. Obituari yang terlalu cepat, kesedihan yang terasa begitu melekat, ciuman-ciuman yang berubah sepat, dan mendadak sepi begitu gaduh meminta dekat. Kamu tahu, langit malam seakan runtuh dan gelapnya begitu pekat  memangsaku dari dalam. Aku lupa caranya menjadi hangat.

Aku kembali ke kamar. Menarik selimut tidur hingga sedagu. Kuhidupkan radio peninggalan marhum kakekku. Sepotong lagu hits dari penyayi solo laki yang kupikir seksi, melantun memecah sepi yang tak mau menamatkan diri. Aku teringat benam senja di lantai tiga gedung kampusku, siluet seorang pria yang duduk di bahu jendela kamar apartemen seraya menelisik pandang pada pantulan cahaya matahari jelang petang, dan surat-surat sore dari orang asing yang tak pernah memberikan alamat balasannya. Aku pun terlelap, bermimpi menemukan peta harta karun yang tidak membawaku kemana-mana.

Aku terbangun menjelang subuh – keringat memandikan tubuhku dan aku menyadari sesuatu di pinggir pagi yang masih perawan. Kau pun tahu: ini tulisan yang jumpalitan melompati pikiranku ke pikiranmu, lalu seterusnya begitu. Dan ia menikmati dirinya yang sesekali tak memiliki tujuan, sebab orang-orang sekali saja butuh tersesat untuk kemudian menemukan.

catatan
: akhir-akhir ini aku merasa begitu berantakan, ada kegaduhan di kepalaku yang menolak diam bersamaan dengan angka-angka tenggat yang menghantuiku tiap malam, ditambah suara-suara orang di luar sana yang melebihi volume keras lagu dangdut tetanggaku yang diputar hampir tiap sore, dan pada ujung hari, aku menyadari aku berputar-putar pada kehilangan dan kesedihan yang tak kuketahui asalnya dari mana, tapi tumbuh subur seperti kenangan buruk yang kusiram dan kupupuki terus-terusan di belakang rumah
This entry was posted in

Saturday, 23 December 2017

Nikotopia dan Kenangan yang Memanjang Tentangnya

Aku sedang menunggu jajanan Taiwan temanku ketika kabar itu datang. Rasanya seperti hujan siang yang mampir tiba-tiba dan kau tak sempat mengangkat jemuran yang sebentar lagi kering. Layaknya keberangkatan seseorang yang negeri nun jauh, dan kau terlambat memberikan pelukan selamat tinggal karena itu bukan adegan film yang mana kesempatan selalu datang lebih dari dua kali. Bagai kopi yang mendingin karena tertinggal lama di meja selasar rumah dan kau lupa membawanya masuk. Lalu, setelahnya yang ada di ruang kepalamu hanya pengandaian-pengandaian.

Aku mengenalnya tepat seminggu sebelum Natal tahun lalu. Ia menghubungiku mengajak bertemu – alasannya sederhana: ia penasaran dengan tulisan-tulisanku, ingin mengenalku, dan tahu aku punya akses yang cukup dekat dengan tempat tinggalnya. Kami sempat mengobrol singkat lewat telepon dan ia bilang menyukai suaraku. Kami pun bertemu, membahas proyek yang tengah dikerjakan masing-masing serta kemungkinan untuk berkarya bersama dengan nama samaran.
Sewaktu itu, bersama sahabatnya yang juga temanku, kami bersepakat akan menulis trio: membuat sebuah novel horor yang disukai pasar, tahun depan ketika satu sama lain sudah selesai dengan kesibukan yang dipunya. Setelah diskusi hangat itu, kami jalan berbarengan menuju toko buku dan mengomentari tiap buku yang ada – sebegitu hebohnya hingga kami setuju toko buku adalah surga kecil yang membuat kami lupa sejenak tenggat-tenggat yang menghajar kami dari belakang. Ia menemaniku membeli boneka Santa dan kereta rusanya untuk hiasan Natal.
Kami pun berpisah – sebelum kemudian ia menghadiri salah satu talkshow yang menjadikanku narasumbernya. Ia paling aktif bertanya. Kuingat dulu ia pernah bilang bagaimana pun harus memiliki satu buku aku untuk dibaca, dan pada kesempatan itu aku menghadiahkannya novel pertamaku. Ia begitu bahagia sembari mengatakan akan membantuku membuat video trailer untuk buku terbaruku nanti. Dan, kudengar ia menelurkan buku antologi terbaru yang kubeli dan kujanjikan akan kuulas di blogku nanti. Ia banyak membahas cerita dibalik penulisannya serta impiannya menembus salah satu penerbit mayor. Kami saling menukar dukungan, membagikan cerita, dan mendiskusikan banyak hal. Dari kerja sama yang merepotkan dengan beberapa pihak sampai film-film yang jadi favorit dan menggairahkannya. Hingga kuingat pesan obrol kami terakhir yang saling berjanji: see us on top, Ver.

Aku membaca ulang pesan obrol itu tertanggal 30 Agustus 2017, tadi pagi sehabis bangun tidur ketika aku mendadak merindukannya dan merasa bahwa ia masih ada, dan sesekali akan mengirimiku pesan bertanya perihal novel-novel baru yang akan kutulis dan skenario yang sedang ia kerjakan. Mataku basah. Kabar itu kuterima malam kemarin saat dua teman membawakan kabar kepulangannya padaku, kemudian aku merasa malam terasa lebih panjang dari biasanya.

Seorang kawanku bilang, kawanku pergi ke toko buku siang itu dan mendadak memandangi lama sekali buku antologi yang bertuliskan nama dia. Tidak tahu apa yang mendorongnya demikian hingga kabar itu juga mampir padanya. Mungkin itu pertanda semesta, semacam bahasa alam yang mengabarkan ada seseorang yang sudah sampai rumah Tuhan hari itu.
Tak pernah terlintas sepintas saja di kepalaku akan menulis obituari yang isinya ingatan-ingatan indah tentangnya secepat ini. Temanku baru saja selesai mengambil pesanannya dan menghampiriku yang mematung di depan ponsel – berusaha mengirim pesan pada sahabat-sahabat untuk memastikan kabar itu hanya hoaks-hoaks. Namun jawaban sama kerap kuterima, ikhlaskan sebab ia sudah damai di sana.

“Ver, kamu masih mau nangis? Kita menepi aja dulu.”
“Enggak. Ia tidur damai selamanya di sana, tapi bagiku ia selalu bangun di kepala dan hati orang-orang yang mencintainya.”
“Tentu, Ver.”
“Lagipula, aku menolak ucapan selamat tinggal padanya. Untuknya: selamat jalan. Sebab ia tidak pergi meninggalkanku dan orang-orang, ia hanya sedang menempuh jalan menuju istana Tuhan lebih dulu dibanding aku dan yang lain. Sebab kematian bukan perihal kepergian dan tangisan, melainkan cara Tuhan memberi kesempatan bagi orang-orang untuk memaknai kehidupan.”

Aku dan temanku pun berjalan menelusuri pohon natal besar yang terpajang di tengah taman, menuntaskan perayaan Natal kecil yang tengah aku dan temanku nikmati sejenak. Sembari kuputar ulang kenang-kenang akannya, yang terasa tak pernah habis, sebab ia senantiasa hidup di kedalaman doa-doa dan harapan baik yang mengantarkannya pulang. Aku memanggilnya sahabatku, Kak Niko.
In Memoriam Nikotopia
22 Desember 2017
Sabbe Sankhara Anicca

Thursday, 28 September 2017

Eva Novira Afiati: Menjaga Eksistensi Tari Tradisional adalah Keharusan

Diiringi tepukan kendang dengan irama khas gamelan Bali, Eva memadukan gerak dinamis pinggul, bahu, tangan, dan kepala dengan begitu enerjik. Melangkah ke depan-belakang hingga samping kanan-kiri, gadis dua puluh tahun itu berpindah-pindah membuat formasi tertentu bersama ketiga temannya. Kebaya biru cerah bergaya khas Pasundan dengan selendang yang membaluti lengannya, Eva dan teman-teman tampak menawan membawakan tarian di atas panggung pementasan. Sepintas, gerakan bahu yang kerap dipakai membuat penonton menebak itu adalah Jaipong dari Karawang. Namun jika dicermati, latar musik yang menonjolkan suara kendang itu sekilas mengingatkan orang-orang pada tari Ketuk Tilu dari Sunda. Nyatanya bukan.

Eva berbisik di belakangku yang tengah menikmati dokumentasi pementasan tarinya, bahwa itu adalah tari bajidor kahot. Sebuah tari yang lahir dari perkawinan Jaipongan dan Ketuk Tilu, sepenggal tari yang tercipta dari kombinasi dua kekayaan tari tradisional dua daerah Karawang-Sunda. “Bajidor Kahot adalah tari kreasi yang memadukan dua tari daerah. Ia indah sekaligus menantang. Serta tentunya, salah satu favoritku!” ujar Eva terdengar nada antusias yang menyelip pada ucapannya.

Berawal dari Bajidor Kahot, seorang gadis remaja bernama lengkap Eva Novira Afiati akhirnya bercerita banyak perihal pekerjaannya sebagai pelatih tari daerah di Sanggar Tari Karina Enterprise. Ia tuturkan bagaimana tari tradisional dari daerah-daerah memberi cermin akan kekayaan Nusantara, serta berbagi pandangan mengenai eksistensinya di tengah modernitas zaman. 

Menemukan Diri Sendiri dalam Jaipong
            “Sudah sekitar empat tahun aku gabung di Sanggar Tari Karina sebagai pelatih Jaipongan. Aku enggak serta-merta terjun begitu saja ke profesi ini, perjalanannya panjang. Kalau dibilang suka dengan tari tradisional, sudah dari SMP aku tertarik. Cuman, belum benar-benar ngelirik. Bahkan dulunya aku itu lebih fokus modern dance, sebelum akhirnya aku nyoba tari daerah dan nemuin kalau passion aku di sini. Aku pun jatuh cinta dan memilih serius menggelutinya lebih dari sekadar peserta ekskul sekolah,” buka gadis kelahiran Wonogiri itu. 
Eva dengan kostum tari Jaipong (foto: dok.pribadi)
            Berkat keseriusannya itu, semasa sekolah ia kerap meraih juara satu diberbagai perlombaan tari bersama timnya. Mulai dari juara satu FLS2N tingkat Kabupaten Tangerang tahun 2011 dan 2013 sampai meraih peringkat pertama di ajang perlombaan opening BFI Finance 2015. Melihat prestasi Eva, sekolahnya pun merekomendasikannya untuk bergabung di sanggar tari Karina Enterprise binaan pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Ia pun dipercaya melatih tari tradisional Jaipong setiap akhir pekan dengan durasi kurang lebih dua jam setiap pertemuannya. Sekarang ini, sudah ada sekitar empat puluh anak muda yang menjadi murid tetap Eva.
            Ia pun mengakui, memperkenalkan dan mengajar anak-anak tiap minggunya bukan perkara mudah. Bahkan sangat melelahkan, karena tantangan terbesarnya tidak hanya membawakan gerakan-gerakan, tapi juga mencari tim gamelan yang bisa memainkan aransemen musik Jaipongan yang apik nan sesuai dengan tarian. Namun Eva menolak menyerah, ia melihat Sanggar Tari Karina adalah surga kecil yang memberi cermin akan kekayaan tari dari Indonesia. Maka ia akan berjuang mempertahankannya, menyuburkannya, dan melestarikan apa yang ada di dalamnya sebagai hadiah sederhananya bagi budaya Nusantara di tengah gerusan modernitas era milenial.

            “Jaipongan bukan hanya soal gerak, tapi juga musik. Jaipongan adalah hasil harmoni dari keduanya. Dan, dalam menyajikannya aku dan teman-teman enggak mau setengah-setengah. Biasanya aku dan senior-senior akan saling bantu, jadi walaupun capek enggak akan kerasa banget. Mungkin itu juga salah satu alasannya aku bertahan. Jaipong bukan cuma tempatku jadi diri sendiri, tapi juga wadah aku menemukan teman sebagai saudara, dan sahabat sebagai keluarga kedua.”


Tari Modern vs Tari Tradisional
            Bicara jauh soal profesi Eva sebagai pelatih Jaipong, Eva mengaku jika mengajak anak-anak milenial sekarang untuk belajar tari daerah adalah pekerjaan rumah yang perlu diberi perhatian. Ia mudah sekaligus menyulitkan. Mudah di satu sisi dikarenakan masih banyak lingkungan yang kental dengan kebudayaan daerah, sehingga orang tua dan sekolah-sekolah mendukung untuk mendorong anak-anak yang ada belajar tari tradisional. Sementara itu, kesulitannya terletak pada anak-anak itu sendiri yang kerap dikendalikan oleh mood instan dan lebih tertarik belajar cover dance Barat maupun Asia Timur. Eva sendiri sesungguhnya memahami hal itu. Mengingat ia sendiri dulunya pernah menyemplungkan diri pada dunia tari modern sebelum memutuskan serius memelajari tari daerah bukan untuk hobi saja tapi juga pelestarian budaya.

            “Pada dasarnya mengapa modern dance lebih menarik perhatian anak-anak remaja, karena musiknya mudah untuk di mix and match, diaransemen ulang sesuai keinginan dan gaya. Beat musik modern pun lebih ramah dengan telinga remaja-remaja. Berbeda dengan tari tradisional, yang kerap memiliki pakem-pakem tertentu baik dari segi musik maupun gerakannya,” papar perempuan yang mengidolakan Didik Nini Thowok ini.

            Namun Eva secara tegas mengatakan jika alasan tersebut tetap tak bisa dijadikan dasar untuk meninggalkan tari tradisional. Kalau dibilang kurang menarik, Eva bisa memberikan segudang alasan bahwa tari daerah tidak kalah keren. Contohnya Jaipong, salah satu tari daerah tersebut memiliki beragam gerakan yang bisa dipilih dan tidak akan membosankan. Bahkan Jaipong telah mengalami perkembangan sesuai zamannya. Jika dulu Jaipong lebih sering dipentaskan buat upacara-upacara hingga terkesan kaku, sekarang sudah ada Jaipong Ronggeng. Ialah jenis Jaipong yang lebih modern dan sengaja dipentaskan untuk hiburan. Belum lagi tiap pelatih Jaipong biasanya memasukkan sendiri kreasi dan ciri khas mereka ke dalamnya, membuat Jaipong punya tampilan berbeda-beda di panggung. Di titik inilah, Jaipong sebenarnya luwes dengan zaman. Eva pun menantang anak remaja sekarang untuk membuat cover dance Jaipong kreasi sendiri.

            “Aku marah kalau ditanya ‘apakah tari tradisional akan eksis hingga ke depannya?’. Pertanyaan itu seakan mendesak kita untuk menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Padahal bukan kedua itu jawabannya. Buatku, bukan perkara tidak akan eksis atau bakal eksis, melainkan memang ‘HARUS’ eksis. Karenanya ini jadi peer kita bersama, menjadikan pelestarian budaya bukan sebagai pilihan tapi kewajiban. Sekaya apa pun budaya Nusantara akan lenyap jika tak ada yang menjaganya tetap lestari. Ini memang ajakan klasik, tapi akan selalu relevan: kalau bukan kita, siapa lagi?” tandas Eva, tegas.


Tidak Ada Penari yang Gagal
            Berkenaan dengan semangat Eva untuk menjaga eksistensi tari daerah, Eva tidak hanya mengabdikan diri menjadi pelatih tari Jaipong. Ia bersama teman-teman di Sanggar Tari Karina juga aktif pergi mengunjungi sekolah-sekolah untuk menawarkan pembukaan ekskul tari daerah bagi sekolah yang belum memilikinya. Di tengah giatnya Eva mengenalkan tari daerah pada anak-anak milenial lewat jalur sekolah dan sanggar, membuat Eva menemukan banyak fakta penuh kejutan. 

Eva bersama teman-temannya ketika membawakan tari Jaipong untuk pembukaan rapat besar suatu perusahaannya (foto: dok.pri)

            “Kupikir salah satu penyebab tari daerah sulit menjadi tren di kalangan milenial karena kita kurang melihat tari daerah sebagai budaya bersama untuk diperjuangkan kehadirannya. Misalkan, aku masih banyak menemui sekolah yang menolak menyediakan ekskul tari daerah, alasannya macam-macam termasuk tidak ingin menyediakan dana tambahan. Ini fakta menyedihkan. Solusinya, pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pada sekolah-sekolah untuk mewajibkan adanya ekskul ini dan harus mengalokasikan dananya.  Itu dari segi lingkungannya, harus mewadahi dan kondusif. Lalu untuk anak-anaknya, kita bisa memperbanyak kompetisi bertemakan tari daerah, sehingga mereka bisa tertarik untuk belajar demi ikut lomba. Tentunya juga dengan melakukan promosi besar-besaran akan tari daerah, untuk mengubah stigma bahwa tari tradisional itu kuno nan sulit jadi keren dan mudah,” tutur mahasiswa semester satu jurusan manajemen di STIE ISM itu.

            Bagi Eva, orang-orang yang mengatakan tari daerah itu sulit, adalah orang-orang yang malas mencoba. Tidak ada yang sulit, hanya mereka yang tidak membangun niat untuk itu. Oleh karenanya, Eva kerap menyuarakan pada anak didiknya bahwa tak ada penari yang gagal ataupun jelek tariannya. Semuanya tergantung seberapa besar kita menaruh ketulusan untuk memelajarinya dan membawakannya. Ia juga berpesan, sebelum menari yang harus dipersiapkan dan dipikirkan bukan hanya soal gerakan yang sudah dihafal, melainkan juga apakah hati, niat, dan mood sudah  benar-benar ada di sana? Jika iya, ingin menggeluti tari daerah atau budaya tradisional apa pun, pasti bisa. Karena apa saja yang berangkat dari hati selalu berbuah keajaiban. Sebab apa pun yang berawal untuk persembahan bagi negara tercinta Indonesia, pasti selalu ada jalannya.
            Waktu sudah menunjukkan setegah tiga siang ketika akhirnya kami mengakhiri obrolan sarat inspirasi itu. Sebelum benar-benar pamit, kusempatkan diri mengatakan pada Eva jika Indonesia butuh anak muda milenial seperti dirinya. Bahwa di tengah maraknya berita mengenai pencaplokan budaya negeri oleh tetangga, serta kepunahan-kepunahan budaya di pelosok Nusantara, sebenarnya Indonesia masih punya harapan. Jadi ketika ditanya apakah budaya tradisional masih punya tempat di hati generasi milenial? Masih. Kehadiran remaja seperti Eva sudah membuktikannya.
Maka, selama harapan itu ada dan kerap dipelihara oleh anak-anak muda layaknya Eva, kekayaan budaya tradisional Indonesia niscahya terawat dan terjaga. Kita hanya butuh mulai dari diri sendiri, sekarang, saat ini juga demi hari esok dan masa depan panjang Indonesia nanti.(*)

--
*artikel ini keluar sebagai juara 1 lomba menulis feature dalam ajang Festival Budaya Nusantara UMN 2017
*terima kasih untuk Eva, yang sudah meluangkan waktunya untuk kuwawancara demi keperluan artikel, serta untuk Ghea Chyntia yang membantu mencarikan kontak Sanggar Tari dan narsum yang kubutuhkan


This entry was posted in