Saturday, 8 January 2022

Kenapa Sih Harus Peduli Sama Hewan?

Belakangan ini, kamu sering dapat berita soal penyiksaan dan penganiayaan hewan, gak? Kalau aku, iya. Sekalinya buka media sosial, pasti dengan mudah nemu konten-konten viral yang tidak ramah satwa baik disengaja maupun tidak. Mulai dari kucing yang diinjak kepalanya, anjing yang dipukul oleh majikannya, monyet yang dipaksa minum arak, gajah yang terkena jerat, dan lainnya. 

Rasanya berita-berita itu tidak berhenti dan terus datang bertubi-tubi. Seakan hewan tak punya perasaan, atau lebih parah, dianggap bukan makhluk hidup. Padahal, peduli akan kesejahteraan satwa adalah salah satu bentuk kecintaan terhadap lingkungan.

Penyelamatan alam tak melulu soal pengelolaan sampah dan penghijauan sekitar, tapi juga bagaimana kita hidup harmoni dengan Bumi beserta isinya, yang mana salah satunya adalah para satwa. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Mulai dari yang paling dekat

Pada suatu talkshow yang mengulas salah satu buku nonfiksi “Paw Stories” (Elex Media, 2020) yang kuluncurkan, pernah ada peserta yang bertanya, “Kenapa buku ini hanya membahas kepedulian terhadap satwa domestik? Apakah satwa-satwa lainnya tidak penting?”

Buatku ini pertanyaan yang sangat menarik. Kala itu, kujawab jika aksi kepedulian terhadap satwa baru bisa ditumbuhkan lebih jauh dan luas andai kita semua sudah cukup peka terlebih dulu dengan satwa yang paling dekat dan akrab dengan kita, anjing dan kucing. 

Kedua satwa domestik yang bisa kuasumsikan “paling banyak dibela dan disayang” saja masih sering ditemukan tindak kekerasan terhadap mereka, bagaimana dengan satwa yang lebih jauh dan bahkan belum pernah kita temui?

Jadi, coba mulai bergerak dan berbuat baik terhadap satwa domestik, itu hal paling mudah yang bisa langsung kita lakukan karena mereka bisa kita temui bahkan di depan rumah. 

Tak harus materi

Tindakan kepedulian yang dimulai terhadap satwa domestik tak melulu harus berbentuk materi seperti uang. Ada banyak aksi sederhana yang kelihatannya kecil untuk kita, tapi sangat berarti untuk mereka, para satwa. Kamu bisa…

Ini potret sehabis streetfeeding depan rumah

  • Streetfeeding, berbagi makanan dan minuman layak bagi kucing dan anjing telantar di jalanan. Sisihkan uang jajan untuk beli dogfood/catfood yang seharga kopi kekinian atau bobamu. Kalau memang masih belum bisa, bagi lauk makan siang kita untuk mereka juga bisa, lho! Kalau aku, suka banget ngelakuin ini!
  • Adopter dan foster parents, buat kamu yang punya lahan lebih di rumah dan ramah satwa, bisa banget adopsi kucing atau anjing dari rumah singgah (animal shelter). Biasanya prosesnya gratis asal lolos skrining, bahkan anjing atau kucing adopsi ini sering kali sudah melalui proses steril maupun vaksin, lho.
  • Relawan, coba cari akun rumah singgah yang lagi butuh bantuan, baik itu dalam proses rescue atau pun bantu bersih-bersih di tempat penampungan mereka. Kamu sudah berkontribusi banyak lewat waktu dan tenagamu. 

Oke, sampai di sini masih ngerasa belum sanggup? Kamu masih boleh coba dengan…

  • Jangan ngebut di jalan, apalagi di kompleks perumahan! Biasanya banyak anjing atau kucing yang nyeberang.
  • Taruh wadah berisi air minum bersih di depan rumah. Cuaca panas bikin anjing atau kucing jalanan bingung cari minum di mana. 
  • Ajak anjing atau kucing telantar untuk neduh di rumah kita saat lagi hujan. 
  • Menandatangani petisi terkait perlindungan satwa, seperti stop perdagangan daging anjing, dan sejenisnya.
  • Bantu mengangkat anjing/kucing kecil di tengah jalan ke tempat lebih aman agar mereka tak terlindas.
  • Sisihkan uang jajan per hari yang dikit-dikit jadi bukit untuk donasi ke rumah singgah terdekat di kota.

Gampang kan? Semua gak harus pakai materi, asalkan kita punya hati untuk peduli. Kalau kamu punya cara lain, boleh banget bikin jurnal kebaikan satwa untuk dilakukan sehari-hari. Setelahnya, jangan lupa untuk share ke media sosial biar lebih banyak yang terinspirasi dan ikut tergerak!

Aku percaya, kebaikan juga perlu disuarakan. Bukan untuk pamer, melainkan merayakan indahnya kepedulian. Kayak aku gini, yang cerita soal ini dan diikutkan ke kampanye kebaikan dari Campaign.com

Setiap aksi kebaikan kita baik itu untuk lingkungan, sosial, komunitas, maupun organisasi kita, lalu share di Aplikasi Campaign #ForChange. Itu berarti kita udah ikut berdonasi Rp10.000 dari Campaign.com untuk bantu korban terdampak Semeru. Jadi, uluran tangan kebaikan ini tak berhenti. Siap untuk ikutan juga? Yuk, join sekarang karena Semua Bisa Jadi Changemaker!

Aku juga udah ikutan, lho! 😁



Thursday, 9 December 2021

Kesedihan yang Berserakan di Sepanjang Jalan

Aku berjalan menembus padatnya lalu lalang orang pada jam pulang kerja di stasiun. Nyaring klakson kereta yang memekakkan telinga menambah lengkap kebisingan kota selepas petang. Notifikasi pesan di ponselku menunjukkan driver ojek yang kupesan sudah hampir sampai, spontan aku mempercepat langkah.
Kakiku berhenti di depan toko baju yang begitu terang dan berisik. Salah seorang pramuniaganya sedang berteriak heboh dengan mic demi mempromosikan pakaian-pakaian diskon akhir tahun. Tiap ada keluarga yang lewat, suaranya kian kencang berseru. 

Rasanya sangat kontras dengan ruang di benakku yang begitu sepi.

Sekitar setahun lalu, di sini adalah tempat aku menunggumu datang menjemput. Sesekali pukul tujuh tepat atau setengah delapan malam. Kamu sudah tiba terlebih dulu dan mengekori pandanganmu pada langkahku menuruni jalan stasiun. Lalu, begitu sampai di depan toko, kamu akan memberi tanda dengan klakson dua-tiga kali untuk memberitahu kehadiranmu. 

Potret Jalanan di antara Ria Busana dan Stasiun Tangerang


Bunyi klakson mendadak terdengar. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Aku terjaga dari lamunanku. Kupikir ada keajaiban bahwa itu dari kamu - dengan jaket biru dan topi kelabu di atas motor. Namun, yang kudapati hanyalah jalanan yang sedang macet dan ketidaksabaran di mana-mana. 


Aku pun menyelip pandang di antara kendaraan yang melaju tersendat-sendat. Samar di antara celah itu, aku menemukan bayanganmu: turun dari motor karena lelah menunggu, lalu berdiri di belakang angkutan umum seraya berdiri melipat tangan, beberapa menit kemudian mengambil batang rokok sembari bermain Facebook, seakan tidak terjadi apa-apa.

 

Sementara aku dengan bodohnya menyeberangi kemacetan dengan langkah berat, berusaha menggapai sosokmu yang walau bayangan, buatku tak apa. Asal aku bisa menemuimu, mengobrol denganmu seperti dulu, sekadar untuk bilang hal yang mungkin sudah begitu terlambat: aku sayang kamu, Papa. Selalu dan akan selamanya begitu. 

 

Namun, sesampaiku di seberang yang ada hanyalah bayangan hitam mobil angkutan yang supirnya marah-marah karena aku menghalanginya memutar kendaraan. Aku menepi dan menemukan driver ojek yang masam karena mencari-cariku ke mana-mana. 

Aku pulang dengan perasaan rindu yang membatu di dada dan kesedihan yang berserakan di sepanjang jalan ke rumah. 

 Tangerang, 9 Desember 2021, 14.52 PM

Sunday, 5 December 2021

Semua (Tidak) Baik-baik Saja

Apa yang kupunya pada pukul setengah dua belas malam? Dengkuran halus mama di sisi kiri kasur. Nyaringnya derik serangga dari teras rumah. Bunyi-bunyi ganjil di ruang tengah - tikus jamban yang ke luar untuk mengobrak-abrik sampah, cecak merayap di dinding memangsa kecoa malang, dan lain-lain. Saluran TV yang menyala dengan volume rendah. Lalu, yang terakhir: isi kepala yang gaduh sekali. 

 

Sudah jadi kebiasaan sejak kamu pergi, jelang pertengahan malam seperti ini selalu mengantarkanku pada banyak ingatan. Ini adalah waktu ketika kamu dan aku baru selesai menonton film bioskop pada jam paling larut. Kita melangkah menuju lift yang letaknya cukup terpencil di balik tembok berlorong gelap. Lampu-lampu mal sudah mati, derap kaki kita begitu jelas di tengah bangunan yang sepi. Walau begitu sesekali masih terpantul jelas bayangan satpam yang hilir-mudik di etalase. 

 

Sumber: @plumrain, We Heart It

Sampai di parkiran, kamu menyalakan rokok yang asapnya berkali-kali kukeluhkan mengenai wajahku. Kamu hanya tertawa dan mengeluarkan kunci sembari membunyikan alarm motor dari kejauhan. Ketika kamu mengajakku naik, mendadak sosokmu memudar menjadi kabut yang ditelan pekatnya malam.  Aku sendiri tersisa bersama kesedihan.

 

Sudah jadi rutinitas sejak kamu pergi, menuju pertengahan malam seperti ini selalu mengingatkanku pada banyak memori. Ini adalah momen ketika kamu mengebut di jalan lengang hingga angin dingin malam menampar wajahku tanpa ampun.

 

Kamu akan berhenti di pom bensin yang penerangannya paling terang mengalahkan bulan, lalu aku melipir ke teras minimarket 24 jam untuk menunggu. Di sana, aku akan mendongak sembari berpikir apakah bulan tidak kesepian sendirian di langit gelap.  Saat tank sudah penuh dan kamu balik menjemputku, tiba-tiba wujudmu lenyap menyatu dengan malam yang hitam. Aku sendiri tersisa bersama kehilangan.

 

Dua jarum jam kompak berhenti di angka dua belas. Mama terbangun oleh lampu kamar yang masih menyala lalu menyuruhku tidur. Apa yang sedang kutunggu? Mataku basah dan benakku terlalu gelisah. Semuanya sudah berubah.

 

Kamarmu kosong, ranjangmu dingin. Asbak rokokmu lenyap, baju-bajumu lesap. Lalu, orang-orang akan membisikkan kebohongan terbesarnya padaku: semua akan baik-baik saja. Bagaimana mungkin? Kamu tak akan lagi pulang. Aku mendadak memelihara luka yang tak akan sembuh dan memendam rindu yang tak pernah tuntas. 

 

Rasanya seperti

 

...aku memeluk duri yang makin erat kudekap makin dalam aku terluka. 

...aku memakai baju sempit yang berkali-kali kupaksa kenakan justru membuatku kian sesak.

...aku menaiki sepeda yang kehilangan satu rodanya tapi masih bisa melaju dengan kemungkinan jatuh di tiap kayuhannya. 

 

Dan, pengandaian-pengandaian lain yang seberapa banyak pun aku membayangkannya agar kamu tahu betapa runtuhnya aku ketika kamu pergi, tetap saja tidak membuatmu tahu dan kembali. 

 

Kematian adalah perjalanan satu arah, tidak ada jalan memutar untuk balik. Sama seperti aku yang kamu tinggalkan, ini perasaan sakit satu arah, ia tidak akan pulih hanya dengan keyakinan semu semua akan baik-baik saja. Maka, izinkan aku menangis - sepanjang malam hingga aku menemukan yang mereka sebut sebagai keikhlasan atau justru: melupakan.

Friday, 12 November 2021

Ziarah Kecil

Ada banyak kalimat menyakitkan yang pernah ditujukan padaku. Mulai dari sosok guru les yang bilang kalau aku tidak akan bisa lolos UASBN, seorang teman kelasku yang mencibirku bodoh karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika, lelaki yang tidak mengizinkanku menumpang karena dianggapnya aku buruk rupa dan tidak pantas menaiki motornya, kakak kelas yang mengatai rambut keritingku sebagai brokoli berjalan, dan sejenisnya. 

Namun, pada suatu malam aku menyadari semua itu bukan apa-apa. Sebab aku menemukan ucapan yang tidak sekadar melukai, melainkan juga menghancurkanku: “Vero, ayo bangun. Papamu sudah enggak ada.”

Sumber: Pinterest

Malam itu sekitar pukul setengah dua. Ibu membuka lampu kamar dengan suara serak membawa kabar yang tak pernah terlintas sekalipun di benakku. Bayangan selama seminggu belakangan bersamamu mendadak berputar dalam kepalaku seperti kaset rusak, lalu perlahan menjelma godam besar yang menghantamku sampai lebam dari dalam. 

Semua memori tiba-tiba saja berlabel “yang terakhir”.

Sudah tepat setahun sejak kabar itu kudengar. Namun, rasa sakitnya masih segar seperti baru kemarin tertoreh. Aku tidak punya nyali melangkah masuk ke bioskop, tempat kita berdua menghabiskan sebagian besar waktu bersama di sana. Aku tidak benar-benar berani mengelilingi kota ini seorang diri, tempat kamu dan aku menuai cerita-cerita di tiap sudut-sudutnya - tepi pom bensin dengan sebungkus liang teh manis bagi dua, seporsi kroket telur-keju seharga sepuluh ribu dapat empat, hingga kios minum es kelapa di pinggir jalan raya. Kamu ingat itu semua di surga?

Aku berdiri di depan kalender dinding. Pada tanggal yang sama satu tahun lalu, kamu pergi dan tidak akan kembali. Dunia berjalan biasa seolah semua baik-baik saja dan tersisa aku yang tak pernah benar-benar seutuhnya menerima. 

Di ingatanku, kamu terlalu hidup untuk dibilang sudah tiada. 

Aku pun beranjak menuju warung rokok yang biasanya kamu kunjungi, rumah makan nasi padang yang kamu sukai, dan tempat-tempat kecil yang kamu datangi rutin setiap hari ketika kamu masih di sini. 

Itu ziarah kecilku untuk mengumpulkan apa-apa tentang kita yang bisa kuselamatkan agar tidak dihapus waktu dan ditelan kematian. Atau mungkin sesederhana, aku hanya sedang...rindu.

Selamat Hari Ayah. 

Tangerang, 12 November 2021

11.38

Monday, 12 July 2021

Tentang Aku yang Tidak Lagi Suka Nonton di Bioskop

Aku suka sekali menonton film apalagi jika dilakukan di bioskop. Nyaris semua hal-hal yang khas dari gedung teater film tersebut pasti kusukai. Mulai dari aroma popcorn, suara mesin minuman, pendingin ruangan lebih sejuk, pilihan musik latar, lorong tunggu berpenerangan teduh, hingga pengisi suara pengumuman yang populer itu. 

Saking sukanya, setiap pulang kuliah, magang, sampai kerja tahun pertama, aku selalu memilih berakhir pekan di sana. Pernah suatu tahun, daftar film paling diantisipasi habis kutonton satu per satu. Malam pergantian tahun ketika banyak orang memutuskan membakar jagung atau menyaksikan kembang api, aku justru mengurung diri di bioskop menonton sajian film tahun baru. Saat selesai sekitar pukul satu pagi, jalanan sudah lengang dan aku akan berhenti di gerobak tek-tek nasi goreng yang masih buka 24 jam.

Sumber foto: Boris Krstic, Flickr

Alih-alih bersama teman, sahabat, kerabat, apalagi pacar, aku melakukan kebiasaan favorit ini dengan papa. Kami punya ritual khusus sebelum menonton film yang selalu segar kuingat: memburu promo di aplikasi pembelian tiket, membeli roti kopi dan menyimpannya di tas untuk diselundupkan sebagai camilan nonton, memesan mi instan telur atau kentang goreng atau sundae atau boba sembari menunggu pemutaran film (kami paling suka memilih jam putar terakhir, sekitar jam 9 atau setengah 9 atau jam 10 atau lebih). 

Kebiasaan tersebut dilakukan rutin dan menahun. Perlahan menjelma momen yang kalau dikenang ulang selalu berhasil menghangatkan hati. Namun, segalanya berhenti setelah pandemi datang dan papa tak pernah lagi pulang.

Sejak itu, terjadi perubahan besar dalam hidupku. Aku punya ketakutan baru: pergi ke bioskop. Hal yang dulunya sangat indah untuk dilakoni justru begitu menyakitkan saat ini. Semesta berhasil melahirkan sesuatu yang begitu keras dan padat untuk menabrak batinku tanpa ampun. Rasanya seperti memiliki baju favorit saat kau kecil dulu, tapi saat kau paksa kenakan sekarang sudah tak lagi pas, sebaliknya baju itu menyekap tubuhmu bagai pelukan kasar dan kencang yang menyesakkan.

Untukku, pergi dan menonton film di bioskop adalah kengerian yang lebih hebat dibanding berangkat ke laut tempat papa dilarung saat sudah jadi abu. Aku tidak punya banyak kenangan tentang sungai dan laut, tapi aku menyimpan kegembiraan akhir pekan dan kehangatan cinta bersama papa di bioskop.

Aku tidak mungkin melangkah di lorong bioskop untuk memilih bangku kosong, mengantre tiket di loker, mampir ke toiletnya yang bersih, membeli camilannya yang mahal, dan lain-lain tanpa terluka, dihajar kenangan, dikoyak abis kesepian yang diam-diam membuatku tidak waras.

Bioskop bagiku bukan lagi tempat hiburan, melainkan ziarah. Berkas bayangan papa yang duduk di bangku tunggu sambil bermain Facebook atau gim daring menamparku habis-habisan. Berkas bayangan papa yang menepuk pundakku untuk pergi merokok sebentar di parkiran bioskop menggulungku dalam-dalam.

Papa telah pergi dan menyisakan kenangan yang penuh perlawanan untuk mempertahankannya tanpa babak belur. Menonton bioskop tanpa papa seperti menumbuhkan duri-duri kecil yang membunuhku dari dalam.  

Maka itu, aku mulai keranjingan aplikasi film streaming yang dulu aku bilang bikin lelah mata dan tidak menawarkan pengalaman menonton sepenuhnya. Tapi sekarang justru menyelamatkanku dari kesedihan-kesedihan yang terus memanjang tiada jeda.

- Tangerang, 16.40 pm

Ditulis sambil membayangkan aku dan papa ke luar bioskop sebagai penonton terakhir, lalu menikmati setiap langkah di mal gelap dan sepi menuju tempat parkir. Aku rindu asap rokok papa yang berkali-kali kukeluhkan menabrak wajahku. Aku rindu papa yang mengebut di jalan tengah malam. Aku rindu pria yang kupanggil papa tanpa gelar almarhum di depannya.

Friday, 4 June 2021

Bagian-bagian yang Telah Berubah

Aku tidak mahir menghadapi perubahan, sementara kata banyak orang kehidupan justru berjalan karena adanya yang berubah. Maka, di sinilah aku: duduk di tepi jalan kompleks perumahan menjelang petang, mengenakan pakaian jogging, membawa makanan kucing, dan membiarkan kesibukan berlalu lalang di depanku. Aku bergeming dan diam-diam merekam perubahan untuk kukabarkan padamu. 

Sumber foto: Running In The Night —  (tumblr.com)

Ini adalah bagian-bagian yang berubah sejak kamu pergi – aku sengaja mencatatnya dan memberitahumu supaya saat keajaiban datang yang memungkinkanmu pulang ke rumah, kamu tidak akan tertinggal tentang apa-apa saja yang tidak lagi sama.

Nasi uduk langgananmu di persimpangan Jl. Aster yang kamu bilang abang penjualnya ganjil karena baru memasak sehabis maghrib dan lauk pauknya siap sedia saat jelang pukul delapan malam, sudah tutup. Mungkin bangkrut akibat kebiasaan janggalnya itu. Siapa yang mau makan nasi uduk malam hari dengan jam buka sampai subuh? Ya, ada. Itu kamu – eh tidak, kita!

Tidak hanya tempat nasi uduk favoritmu saja yang berubah, tapi juga rumah makan vegetarian kesukaanku. Ia sudah tidak buka lagi dan berpindah untuk jualan dari rumahnya. Aku dan ibu harus bersusah payah mempelajari dan menghafal rute baru jika ingin tetap makan dari sana.

Gerobak keripik singkong yang letaknya di depan gedung tempat les bahasa Inggris saat aku kecil dulu, kini menjual sebungkus singkong goreng tipis sebesar enam ribu rupiah. Sudah naik seribu rupiah dari terakhir kali kamu mampir. Tahu bulat yang biasanya berkeliling tiap sore di kompleks juga tak lagi lewat depan rumah, begitu pun ibu-ibu Yakult bersepeda tak lagi berkunjung ke rumah kita untuk menawarkan jualannya.

Perubahan-perubahan kecil ini diikuti juga oleh yang besar-besar, asal kamu tahu. Giant akhir Juli nanti dikabarkan akan tutup total. Padahal, kita belum sempat belanja bulanan terakhir kalinya di sana. Orang yang selama ini membuatmu menggerutu di depan televisi, Menteri Kesehatan kita, sudah dicopot dan berganti orang. Aku belum sempat bertanya padamu bagaimana pendapatmu mengenai sosok baru ini, tapi kamu sudah memilih pergi terlebih dulu.

Oh, ada lagi. Sinetron yang sering kita tonton sebelum tidur juga sudah tamat. Beberapa tokoh antagonisnya berubah menjadi baik sebelum berakhir bahagia. Tokoh utama hidup damai dengan keluarga besarnya. Aku menontonnya sampai selesai untukmu.

Di samping itu semua, banyak kabar dari teman-temanku dan kamu yang juga berubah. Walau orang-orang bilang bukan ‘kabar perubahan’ melainkan ‘kabar terbaru’, buatku tetap saja yang baru mengandung ubah. Ibu dari salah satu sahabat sekolahku meninggal. Bapak penjual nasi uduk yang tidak terlalu kamu sukai dagangannya karena menurutmu terlampau mahal untuk nasi uduk topping jengkol seharga lima belas sampai delapan belas ribu, juga meninggal. Tetangga seberang rumah kita lebih sering menutup pagar pintu dibanding membukanya semenjak tahu kamu tak akan lagi berkunjung.

Sampai di sini dulu cicilan kabar perubahan yang kusampaikan padamu. Satu per satu agar kamu tidak terkejut betapa banyak yang berganti ketika kamu pergi dan aku masih di sini. Jangan tanya bagaimana rasanya menyaksikan perubahan-perubahan yang (lagi-lagi) kata orang, membentuk denyut kehidupan, tanpa kamu bersamaku. Sebab, apa yang berada di kedalamanku juga telah berubah.

Ada sisa-sisa kesedihan yang seberapa keras pun aku berusaha mengeluarkannya tetap saja gagal karena sudah mendekam di dada dan menjadi batu. Ini perubahan yang pasti dan abadi sejak kamu pergi.

Tangerang, 15.48 pm

Sunday, 23 May 2021

Kerinduan Membawaku Memimpikanmu Tanpa Koma

Kerinduan membawaku memimpikanmu selama tiga hari berturut-turut. Kamu mengajakku ke toko swalayan untuk memilih piyama berwarna biru kesukaanku. Kamu mengantarku ke tempat ibadah dan mengajariku cara bersembahyang untuk pertama kalinya. Kamu mengawasiku bermain di ruang tengah dan sesekali ikut bergabung. Masih banyak lagi dan satu yang pasti: dalam mimpi itu, kamu tidak pergi dan masih di sini. 

Sumber: We Heart It

Kupikir aku akan punya hobi baru: tidur. Sebab dengan begitu, aku bisa terus bermimpi karena hanya di sanalah aku bisa bertemu denganmu dalam sosok utuh dan mendekapmu erat seperti yang sudah-sudah.

Di dalam mimpi, kamu tidak merasa sakit apalagi mati. Mungkin selama ini kita telah salah. Mimpi bukan bunga tidur yang layu saat bangun, melainkan kehidupan nyata sesungguhnya. Di sana segala berjalan begitu ajaib dan bebas berfantasi. Setiap kemungkinan punya peluang untuk terjadi dan kamu bisa jadi apa serta siapa saja. Berbeda dengan semesta saat ini yang membatasimu lewat aturan-aturan tak kasat mata.

Namun, pada akhirnya kamu menganggapku hanya bercanda. Bagaimana tidak? Aku tetap terbangun sepanjang dan selama apa pun aku bermimpi. Lama kemudian aku menyadari mimpi-mimpi itu hanyalah cara ingatanku merawat kenangan tentangmu sekaligus mengobati kerinduan yang tersesat karena rumah tempatnya berpulang sudah pergi.

Tangerang, 12.54 pm – satu hari menuju ulang tahun papa

 

Cara (Tidak Jitu) Menangani Kepergianmu

Tidak ada orang yang benar-benar sembuh setelah kehilangan. Setidaknya itu yang kupelajari sesudah kamu pergi dan meninggalkanku sendiri bersama dunia yang terus berganti wajah setiap harinya. Aku tidak kuat, hanya dalam posisi bertahan untuk tidak ambruk ketika orang-orang mencoba membohongiku dengan berkata semua akan baik-baik saja. Mau tahu cara yang kulakukan untuk menangani ketiadaanmu? Sini, kuceritakan satu persatu.

Sumber: We Heart It

Aku memutar salah satu lagu dari grup musik tahun 90-an yang pernah kita nyanyikan nyaring saat tengah malam di kamar jelang tidur. Bedanya, kali ini aku melagukannya seorang diri. Tidak peduli tangga nada apalagi barisan lirik, yang penting aku bisa berteriak melalui lagu-lagu kita dulu dan membiarkan kesedihan berhamburan. Diam-diam aku menyimpan harap agar samar aku bisa mendengar suaramu ikut bernyanyi di awal lagu yang dimulai dengan bunyi pecahan kaca.

Aku mengirim pesan padamu hampir setiap hari. Bercerita padamu jika aku mendapat kiriman parsel kopi yang biasanya kubagi dua bersamamu, bapak RT masih menagih iuran dengan cara menyebalkan, warung makan favorit kita sudah tidak lagi buka, dan lain-lain. Di antara pesan-pesan yang selamanya tak akan terbaca itu, aku menyelipkan asa mungkin suatu saat nanti secara ajaib akan terbalas.

Aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan memandang langit-langit yang kosong. Biasanya aku akan membayangkannya sebagai kanvas untuk berkhayal segala kemungkinan-kemungkinan. Namun, kusadari kehidupan ini bukan plot novel yang memungkinkan aku sebagai tokoh utama bisa membuat kesepakatan dengan malaikat atau setan, dengan tuhan atau hantu, agar bisa menghidupkanmu lagi dengan jaminan tertentu. Kesempatan kedua tidak berlaku untuk hal semacam itu.

Dan, banyak cara-cara lainnya tapi tidak satu pun yang mampu membuatku memahami kamu pergi, tiada, dan membiarkanku menghadapi semesta yang tercipta tanpa buku manual. Kamu pergi dan sampai hari ini tidak ada cara yang benar-benar jitu untuk hidup tanpa merasa ganjil, tercerabut, dan pincang.

Tangerang, 12.32 pm – satu hari menuju ulang tahun papa 

Bagian-bagian yang Kutakuti dari Kehilangan

Setengah tahun berlalu sejak kamu pergi tanpa isyarat. Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis setiap hari. Namun, bukan berarti kesedihan selesai dituntaskan. Aku masih sering mampir ke kamarmu yang berlampu redup sekadar duduk di pinggir ranjang dan membayangkan kamu masih tidur di sana sembari menonton video musik favoritmu. Atau, setiap petang aku akan pergi ke halaman belakang tempat kamu mandi sore saat saluran air toilet mampat untuk mencari-cari aroma tubuhmu.  

Sumber: We Heart It

Kupikir bagian inilah yang paling kubenci dari kehilangan: hal-hal yang tadinya berupa rutinitas membosankan menjadi kepingan terpenting yang tiba-tiba ingin kamu ulang tapi sudah sia-sia.

Setengah tahun terlewati sejak kamu pergi tanpa aba-aba. Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis setiap orang lain bertanya tentangmu. Namun, aku menolak diri disebut kuat. Aku lebih suka dibilang sedang bertahan. Sebab sampai hari ini, aku hanya pembelajar yang masih sering gagal untuk membiasakan diri hidup tanpa sahutan-sahutanmu. Lebih tepatnya, aku masih mencari tahu cara mencapai ikhlas dalam formula yang benar-benar utuh.

Kupikir bagian inilah yang paling kutakuti dari kehilangan: aku terjebak sendirian di labirin yang penuh pengandaian-pengandaian tanpa jeda. Sementara dunia memaksaku menerima jika yang tersisa darimu hanyalah sepotong nama di KTP yang tidak lagi aktif atau tagihan token listrik yang masih belum berganti nama.

Setengah tahun terlalui sejak kamu pergi begitu saja. Aku masih gagal mengetahui cara untuk tidak menangis setiap mengeja namamu, melihat fotomu, menonton film bioskop, menaiki motor, melangkah di parkiran mal, mengelilingi kota, dan lain-lainnya yang kalau kusebutkan orang-orang akan tahu ternyata kedukaan begitu cerdas menyembunyikan diri di dalam aku yang hancur lebur.

Kupikir bagian inilah yang paling kuhindari dari kehilangan: melakukan segala hal seperti biasanya dan berkali-kali menemukan bahwa kamu memang sudah tidak lagi di sini. Setiap hari aku tidak berhenti diingatkan semesta jika kamu tidak akan pulang – tidak ada klakson tidak sabarmu agar aku membuka pagar, bau asap tembakaumu yang menganggu, gerutu-gerutuanmu terhadap negara, dan lain-lainnya yang kalau kukatakan satu persatu semakin menegaskan ketidakberdayaanku menghadapi kepergianmu.

Papa, kamu sudah tiada dan aku sibuk mencari cara melindungi diri dari ketidakwarasan.

Tangerang, 11.20 pm satu hari menuju ulang tahun papa

Saturday, 22 May 2021

Dunia dengan Segala Kehilangan di Dalamnya

Kemarin, aku bekerja sampai cukup malam di kota tetangga. Mobil berbasis pemesanan daring tidak kunjung datang dan membatalkan rencana perjalanan karena alasan akses macet. Akhirnya kuputuskan memilih motor agar mudah menyalip dan menembus padat kendaraan yang berjalan tersendat. Pilihan yang kemudian mengundang segala ingatan tentangmu. 

Sumber: Pinterest

Nyaris seluruh kenangan kita dimulai dari atas motor. Punggungmu yang dibalut jaket biru dongker kusam dari jok belakang adalah pemandangan rutin tiap pagi dan sore, sesekali malam. Kamu dan motormu selalu siap sedia mengantarku ke mana saja, menjemputku dari mana saja seperti pintu ajaib Doraemon.

Saat aku mendapat izin pertama kali dari ibu untuk menginap di rumah teman pada malam tahun baru. Besok paginya, kamu sudah melajukan motor untuk membawaku pulang. Ketika aku bersikeras ingin aktif di salah satu komunitas literasi pinggir kota, kamu mengajakku berkeliling dengan motormu untuk mencari alamat tempat komunitasnya bergiat. Pernah juga, aku memintamu datang karena waktu bekerjaku sudah usai tapi ternyata masih ada beberapa berkas yang perlu diselesaikan. Kamu tiba tepat waktu dan menunggu di seberang gedung sembari duduk di atas motormu.

Kamu selalu berhasil hadir di momen sederhana tapi penting. Setelahnya, percakapan kita sepanjang perjalanan menjelma diari tak kasat mata. Kita mengomentari orang-orang, memikirkan nanti malam makan apa, mengutuk kesialan-kesialan, hingga memilih film untuk ditonton pada akhir pekan dengan tiket setengah harga. Semua kita lakukan di atas motor karena hanya di atas kendaraan itulah, kita berdua tidak sibuk dengan ponsel masing-masing – aku tidak gila kerja dan kau tidak kecanduan media sosial.

Merah berpendar dari lampu lalu lintas sehingga motor asing yang kutumpangi memilih berhenti. Aku mengambil napas dalam dan mengunci sebentar laci kenangan tentangmu. Ingatan akanmu sudah terlalu basah hingga membuat mataku lembap.

Kamu pergi dan tidak pernah sehari pun seisi semesta absen untuk mengingatkanku padamu. Kamu sudah tiada dan aku tidak bisa apa-apa kecuali memeliharamu dalam kepala dan merawatmu sebagai kenangan.

Motor kembali melaju untuk menuntaskan perjalanan menuju rumah. Malam itu, aku melihat apartemen yang gedungnya begitu menjulang tinggi seperti ingin menusuk langit. Aku membayangkan bisa lompat dari motor dan memanjati balkon demi balkonnya untuk bertemu denganmu di atas sana. 

Namun, nyaring klakson menyadarkanku jika ini bukan dongeng ‘Jack dan Pohon Kacang’, melainkan dunia dengan segala kehilangan di dalamnya.

 - Tangerang, 15.41 pm, dua hari menuju ulang tahun papa