Saturday, 25 August 2018

Nasi Goreng Salty, Pilihan Tasty Buat Kita yang Vegetarian


Sejak dulu, aku selalu suka nasi goreng dan tak pernah bosan. Nasi goreng andalan sekaligus langgananku adalah nasi goreng yang dijual di gerobakan di ujung kompleks rumah. Sajiannya sederhana saja: nasi goreng dengan telur dicampur sayur caisim dan suwiran ayam. Kalau disantap saat malam dan masih dalam keadaan hangat: nikmatnya jadi berkali lipat. Terlebih kalau ditemani es teh manis, membayangkannya saja bikin lapar! Tapi, kebiasaan itu berubah karena sekitar dua atau tiga tahun lalu, aku memutuskan menjadi seorang vegetarian. Aku tak bisa lagi menyantap nasi goreng biasa yang mengandung produk hewani: suwiran ayam, minyak sapi, dan perisa (ayam, sapi, dan lain-lain). Namun, bukan berarti kecintaanku terhadap nasi goreng harus terhenti. Aku pun mulai berburu nasi goreng vegetarian yang tersedia di kotaku, Tangerang. Dan, aku menemukannya! Di sebuah resto vegetarian sederhana di pinggir kota Tangerang, Visual Veggie House, ada tujuh menu nasgor vegetarian yang tersedia. Namun, yang bikin nagih di sini adalah Nasi Goreng Salty!
Penampakan Nasi Goreng Salty yang Kupesan di Visual Veggie House
Wangi Bumbu Xiang Chun

Tantangan memasak nasgor vegetarian ada pada cita rasanya. Kenapa? Karena masakan vegetarian wajib menghindari semua jenis bawang, bumbu dapur berperisa hewani, dan tentunya: minyak babi dan sapi. Sepintas, kita pasti mengira rasanya tidak akan enak tanpa semua itu. Namun, Nasi Goreng Salty berhasil membuktikan kalau kita salah.

Nasi Goreng Salty dimasak dengan penyedap rasa Xiang Chun yang khas. Bumbu penyedap ini terbuat dari paduan minyak nabati dengan daun cina Xiang Chun yang harum. Sehingga, enggak heran kalau Nasi Goreng Salty punya bau wangi nan unik. Soalnya bumbu Xiang Chun memang diracik dari bahan-bahan alami: kedelai, daun Toona Xiang Chun, hingga wijen. Komposisi itu juga yang memberi bintik dan warna kehijauan untuk tiap butir nasi gorengnya, sehingga tampilan Nasi Goreng Salty beda dari yang lain!
Wangi Bumbu Xiang Chun yang Khas Di Kalangan Vegetarian
Topping Variatif Nan Favorit

Kalau makan nasi goreng enggak akan lengkap kalau enggak ada topping-nya. Nasi Goreng Salty yang memang dihidangkan tanpa kecap, menyuguhkan campuran topping yang variatif: telur, cah taoge, cabai merah, dan potongan daging ikan asin vegetarian. Tak lupa juga irisan tomat dan timun sebagai pelengkap. Semua topping itu dengan perhitungan yang sesuai, disatukan dalam sepiring Nasi Goreng Salty. Dan, dari keseluruhan topping, tentunya yang paling kusuka adalah potongan daging ikan asin vegetariannya.

Potongan daging ikan asin vegetarian itu tak hanya topping kunci yang memberi Nasi Goreng Salty lebih tasty, tapi juga dimasak dengan cerdas. Soalnya daging ikan asin ini dipotong panjang, dengan pinggiran yang digoreng gurih tanpa menghilangkan rasa asin pas dagingnya di sisi tengah. Ada sensai ‘kriuk-kriuk’ renyah, namun juga berdaging. Jadi, bisa kita bayangkan sendiri ketika menyendoknya bersama campuran topping lainnya: rasanya luar biasa! Aku sering menyisakan potongan-potongan daging ikan asing vegetarian di Nasi Goreng Salty ini sebagai topping yang save the best for last, hehehe.
Toppingnya banyak dan enyak!

Ditambah Kerupuk Kulit Nori

Kerupuk dan nasi goreng adalah dua varian makanan yang enggak terpisahkan. Ada yang bilang kalau makan nasi goreng tanpa kerupuk itu kayak bakso tanpa kuah gurihnya: enggak afdol! Sayangnya, sebagai vegetarian, aku enggak bisa lagi asal sambar kerupuk karena umumnya kerupuk dibuat dari sari udang dan bawang. Tapi, aku enggak khawatir. Soalnya Nasi Goreng Salty juga disajikan dengan banyak pilihan kerupuk vegetarian, lho. Di Visual Veggie House, sudah disediakan keranjang kerupuk yang bisa kita comot sesuai selera untuk menemani hidangan Nasi Goreng Salty.
Kalau rekomendasiku adalah kerupuk kulit nori! Kerupuk ini digoreng dengan tepung kentang dan rumput laut nori sebagai cita rasa utamanya. Jadi kalau kita lihat di foto, bagian hitam-hitam di kerupuk itu adalah rumput laut nori. Rasanya? Jangan ditanya lagi! Renyah, gurih, garing, enyak, super!
Paduan Surga Kerupuk Nori x Nasgor Salty
Nah, buat kita seorang vegetarian, pecinta nasi goreng, dan penggemar rasa yang enggak melulu itu-itu saja, bisa langsung meluncur buat nyobain Nasi Goreng Salty-nya. Sssst, jangan lupa ajak aku juga yah! Aku senang menemani dan menerima traktiran makan Nasi Goreng Salty, hahaha!

My Food Lover Tips: Nasi Goreng Salty di Visual Veggie House ini punya dua varian masakan yaitu varian Ricchie dan Vegan. Kalau Richie itu, nasgor Salty vegetarian-nya dimasak dengan telur. Kalau Vegan, akan dimasak tanpa telur. Jadi pilih yang sesuai dengan gaya hidup hijau kita yah!
Oh ya, ini #NasiGorengDiKotaku, bagaimana cerita nasi goreng di kotamu?

Cara dapetin Nasi Goreng Salty, dateng aja ke:
Visual Veggie House
Suka Asih, Jl. Taman Makam Pahlawan Taruna No.2, Sukaasih, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15118



This entry was posted in

Friday, 24 August 2018

Catatan Panjang Tentang Christopher Robin


Sekitar tiga hari yang lalu, aku menonton Christopher Robin, setelah menunggu sepanjang Agustus untuk tayang di Indonesia. Aku kecil selalu suka dengan Pooh; aku ingat ketika aku menggambari Pooh yang gendut dengan toples madunya, lalu menggandakannya banyak-banyak di tukang foto kopi untuk kujadikan buku mewarnai karyaku versi Winnie The Pooh - disamping Peter Rabbit tentunya. Lalu, memilih sprei bercetakkan kepala Pooh yang besar-besar, serta kotak bekal yang memuat potret Pooh dan kawan-kawan yang piknik di hutan. Salah satu boneka yang kukoleksi pun berasal dari serial Pooh, aku tidur bersama Tigger (ssst, T I double guh err. That speels Tigger! Hahaha).
"It always a sunny day when Christopher Robin comes to play."
sumber foto: crofficial
Maka, menyaksikan kembali Robin dan Pooh seperti membawa diriku jalan-jalan kembali ketika aku masih kecil – ketika tidak melakukan apa-apa bukanlah hal yang berdosa. Itu terasa saat Robin akan pergi dan Robin kecil berharap ia bisa berharap untuk tetap tidak melakukan apa-apa, namun ia tidak bisa. Lalu, Pooh dengan polosnya mendukungnya dan mengatakan kalimat yang menarik:  “Doing nothing often leads to the very best kind of something”. Hampir setiap hari kau dan aku mungkin merasa harus melakukan sesuatu apapun itu – agar produktif, agar bermakna, agar tidak sia-sia, dan lain-lain. Lantas aku terdiam dan teringat, tulisan-tulisan terbaikku justru  bermula ketika aku tak bersusah payah mencari idenya – aku hanya butuh diam, merilekskan diri, membuat diri nyaman tanpa memberi tenggat. Aku pun sampai pada pemahaman: kau hanya butuh sesekali diam mengenali diri sendiri tanpa pretensi apa-apa.
What should happen if you forget about me, Christopher Robin?
sumber foto: cr trailer
Kembali soal film, petualangan dimulai ketika Robin dewasa memutuskan membantu Pooh untuk mencari teman-temannya (Piglet, Tiger, Eeyore, dkk) yang hilang. Buatku ada satu adegan yang membuatku hampir menitikkan air mata di sini – ketika Pooh tidak bisa membaca kompas dengan baik, dan mengacaukan semuanya. Lalu, tanpa sengaja membuat koper berisi dokumen penting milik Robin dewasa tercecer kemana-mana. Robin dewasa membentak dan mencaci maki Pooh sebagai beruang pandir, tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu sepenting apa isi kopernya. Robin dewasa tidak paham mengapa Pooh bisa begitu bodohnya menganggap dunia ini sebatas dan seindah balon dan toples madu. Sedangkan Pooh pun tidak paham mengapa Robin menganggap dunia ini digantung pada koper berisi dokumen yang dibawa kemana-mana.
“Christopher Robin: There’s more to life than balloons and honey!
Pooh: (doubtfully) Are you sure?” 
Adegan favoritku jatuh pada bagian terakhir film. Diisi percakapan antara Robin dewasa dan Pooh. Ini percakapan yang akan tertanam lama di kepalaku. Pooh bertanya pada Robin dewasa ‘hari apa sekarang?’ Alih-alih menjawab nama hari lengkap dengan jamnya, Robin dewasa menyahut ‘It’s today – hari ini’. Pooh semringah dan berkata, ‘Aku suka hari ini. Sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’. Aku hampir menangis setelahnya. Dialog ini benar-benar menampar. Pernahkah kita menjalani hari ini sebenar-benarnya hari ini, tanpa mengkhawatirkan hari esok?
“If you live to be a 100, I want to live to be a 100 minus one day so I never have to live without you.”
sumber foto: tyrantgeek
Kita kerap melalui hari ini dengan bekerja keras dan belajar giat bukan demi menjalani hari ini, tapi untuk hari esok, demi masa depan. Lalu mengeluh tiap harinya semakin berat. Lantas lupa, sesungguhnya segalanya akan lebih ringan ketika semua hal dijalani hari ini dinikmati secara sadar dan hadir penuh untuk hari ini. Kita sudah lama sekali menjadikan hari ini adalah hari esok. Masa kini adalah masa depan. Padahal, kebahagiaan itu adalah hari ini dan sekarang. Izinkan aku mengutip dialog antara Robin dan Evelyn, istrinya ketika mereka berdebat mengenai Robin yang tidak bisa ikut liburan akhir pekan. Saat itu, Robin berkilah jika ia bekerja untuk kehidupan yang nanti lebih baik untuk keluarga mereka, sedangkan Evelyn berkata kehidupan mereka adalah sekarang tepat di depan mata Robin. Bukan nanti-nanti. 
Evelyn: You won’t be coming to the cottage?Christopher Robin: It can’t be helped. Evelyn: Your life is happening now, right in front of you!
Sampai di sini mungkin akan ada banyak yang mendebat, hidup memang tak sesederhana yang dipandang anak kecil. Saat itu, aku hanya ingin menyahut kecil, sayang, kita hanya lupa jika hidup dan kebahagiaan itu memang sederhana. Kita lupa semenjak kita beranjak dewasa.
“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”
Goodbye, Christopher Robin...
sumber foto: crofficial
Catatan:
Aku menulis ini seraya mendengar Home, Should I Think yang dibawakan Carter Burwell. Itu musik yang pas untuk menemani kita menikmati tulisan ini. Semoga suka! Ah ya, sesungguhnya dari sisi ide cerita, aku lebih suka COCO, lebih segar dan baru. Sementara Christopher Robin masih mengangkat konflik umum antara orang tua yang sibuk dan anaknya. Tapi, buat kita yang butuh mengambil napas sejenak dan mengizinkan anak kecil dalam diri kita keluar untuk bermain, Christopher Robin termasuk film yang menurutku: must watch! Dan, aku suka sekali bagaimana Pooh menyebut dan memanggil 'Christopher Robin', ikonik - jempol buat pengisi suaranya. 

Thursday, 23 August 2018

Pergi Bermain dengan Teman yang Hanya Bisa Kau dan Aku Lihat


Kita masih mengelilingi kota seusai menonton film yang kubilang berhasil mengajak anak kecil dalam diriku untuk keluar dan bermain. Jalanan lenggang, di pinggiran hanya tersisa satu-dua gerobak jajanan pasar berlampu minyak yang masih menyala. Pintu-pintu pertokoan tertutup rapat, digantungi sampah plastik yang berusaha diraih kucing-kucing jalanan yang masih kelaparan. Aku membungkus pandanganku dan mengalihkannya pada kau yang masih menyetir. Bagaimana kau saat kanak-kanak?
sumber foto: Favim.com

Kau melirikku dari sudut mata. Tak menjawab. Kau hanya menepi ke arah gerobak yang menjual telur gulung. Kita turun. Kau memesan dua porsi dan aku menarik bangku plastik yang ditumpuk dua. Kita duduk menghadap sebuah gedung kuliner yang tubuh putihnya mengelupas dan papan-papan nama restorannya menghitam.
“Aku saat kanak-kanak? Bertanya kenapa bulan mengikuti kemana pun aku pergi. Kenapa pohon-pohon di pinggir jalan tampak berlari ke belakang tiap kali mobil yang kutumpangi melaju cepat. Bangun pagi di hari Minggu demi kartun-kartun subuh, sebelum kemudian tertidur kembali jelang makan siang. Mengupil dan menempeli tumpukan upil ke baju mama. Mengisi kardus kosong hingga cukup kuat untuk kulompati sebagai superman. Menyukai dongeng tentang kelinci yang suka buang besar dan kotornya menggunung. Menjahili anjing tetangga. Bagaimana denganmu?”
Kau tertawa kecil. Lalu beranjak mengambil dua porsi telur gulung hangat yang sudah selesai. Kau celupi dengan saos cabai  yang banyak. Cerita kau mengingatkanku pada aku kecil dulu dan aku sekarang – ada jarak yang begitu jauh dan waktu yang tampak lama hingga aku merasa asing pada diri sendiri.

Aku mengoleksi ratusan boneka, percaya mereka semua hidup. Dan, aku berbicara pada mereka. Aku mengumpulkan daun kering, memetik bunga liar, dan mengambil sisa-sisa sayuran tak terpakai, meraciknya jadi makanan lezat bak tukang nasi langganan. Aku jajan banyak cemilan hanya untuk mengumpulkan kartu-kartu hadiah. Aku menggambar tokoh-tokoh kartun dan menggandakannya di tukang fotokopi, menjilidnya jadi buku mewarnai. Aku –

“...melakukan hal-hal yang bisa kau tebak, tak bisa lagi kulakukan sekarang.”

Dadaku sesak. Kau meraih tanganku.


“Kau tahu bagian apa yang paling kusuka dari Christopher Robin?
Aku menggeleng.
“Percakapan Robin dengan Pooh di akhir cerita. Ketika Pooh bertanya, ‘ini hari apa?', dan Robin berpikir sejenak sebelum menjawab, ‘hari ini, Pooh’. Lalu, Pooh semringah, ‘Aku suka hari ini, karena sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’.”
Kau menghabiskan tusuk terakhir telur gulungmu. 
“Percakapan itu seakan bicara padamu, hal terbaik ketika menjalani hari adalah kau menjalani hari ini tanpa berpikir soal hari esok. Kau hadir sepenuhnya sekarang. Kupikir itu yang dilakukan setiap hari oleh anak-anak. Dan, salah satu yang masih bisa kau dan aku lakukan.”
Malam itu, kau dan aku tidak pulang. Lupa hari itu hari apa selain hari itu sendiri. Kita sepakat jadi anak-anak yang membohongi mama-papa akan segera tidur, tapi ketika sakelar lampu dimatikan, kita menyibak selimut dan melompati jendela kamar untuk mulai bertualang bersama teman yang hanya bisa kau dan aku lihat.

This entry was posted in

Tuesday, 21 August 2018

(Opini) Upaya Merdeka di Era Digital: Perangi Hoaks!

Suatu waktu, seminggu sebelum perayaan 17 Agustus, salah satu kawan karib saya mengirim pesan kalau ia ingin mengkredit sebuah motor sambil curhat panjang lebar. Kawan saya cerita jika ia sempat termakan iklan abal-abal dari media sosial mengenai tempat kredit motor. Penawarannya terdengar menjanjikan, padahal itu hanya cara untuk menipu uangnya. Untungnya, kawan saya tidak sampai melakukan transaksi karena telah mencium bau-bau janggal sejak awal. Ia pun bertanya adakah tempat kredit motor yang bisa saya rekomendasikan atau pernah keluarga saya pakai jasanya. Saat itu ada satu hal yang muncul di kepala: Moladin.com!
Saya pun mengetik pesan balasan, Moladin, aja! Moladin itu situs terpercaya tempat jual beli motor. Di situ ada penawaran bagus mulai dari perlengkapan, aksesoris, suku cadangm layanan perawatan sampai bengkel motor. Jadi semuanya lengkap dan all in! Kawan saya pun segera meluncur ke sana dan takjub ada situs yang bisa memuat seluruh hasratnya mengenai dunia motor. Sejak itu, kami berdua jika bicara motor selalu ingat Moladin.com, hahaha!
Dan, berkat pengalaman kecilnya mengenai penipuan di media sosial, serta bertepatan dengan momen kemerdekaan 17 Agustus-an, saya pun terpantik untuk bicara soal makna merdeka di era digital. Saya tergelitik oleh pertanyaan, apakah kita sudah merdeka dalam dunia digital? Sementara masih ada saja iklan abal-abal sampai berita palsu beredar di jejaring dunia maya.  
Hoaks Menggurita Via Media Sosial
 
sumber foto: Tribata
Setiap harinya kita selalu menerima banyak informasi dari berbagai sumber, sebagian berasal dari media konvensional, sering kali didapatkan bahkan dari komunikasi warung kopi dan sebagian besarnya lagi didapatkan dari media 2.0 yang memperkenalkan media sosial. Media sosial adalah base media baru yang dengan mudah dimiliki oleh setiap individu, kelompok, maupun lembaga. Karena hal ini, setiap orang dapat menjadi jurnalis/penulis bagi media sosial miliknya. Mereka inilah orang-orang yang disebut sebagai citizen journalism, yang mampu memanfaatkan media sosial yang dimiliki untuk menghasilkan informasi dan menyampaikan pendapat secara mudah dan cepat. Ini adalah salah satu bentuk hadiah besar dari tujuh puluh tiga tahun kemerdekaan Indonesia: kebebasan berpendapat dan beropini. 

Namun, ‘hadiah’ besar ini bagai pisau bermata dua terutama saat dihadapkan di era digital. Di satu sisi, memudahkan kita sebagai individu untuk berekspresi dan berkarya, tapi di sisi lain ada ancaman baru mengintai: beredarnya berita fiksi atau istilah populernya hoaks. Hoaks sendiri diartikan sebagai  sebuah pemberitaan palsu untuk menipu seseorang atau mengakali publik untuk mempercayai sesuatu hal, yang sifatnya tidak benar dan kemudian disebarluaskan melalui media elektronik. Disebut sebagai berita hoaks karena sulitnya di identifikasi siapa yang menyebarluaskan dan sumber berita yang tidak jelas, terlebih saat siapa pun bisa menghasilkan informasi dan mendistribusikannya via media sosial.

Dampaknya, tidak sedikit berita yang beredar dan dipercayai oleh masyarakat adalah berita fiksi atau sering di sebut hoaks, biasanya hoaks sangat cepat menyebar melalui jaringan media sosial. Semakin banyak berita itu di-share dan like maka berita itu akan dianggap mempunyai value dan dipercayai kebenarannya. Padahal, hoaks adalah sebuah bentuk penipuan massal. Sebab, hoaks tak jauh berbeda dari pesan berita yang tidak benar atau kabar burung. Kejahatan dan kriminalitas bisa muncul dari hoaks, contohnya adalah penyebaran berita yang menjelek-jelekkan seseorang, rekayasa atas berita akan kejadian dan insiden tertentu, sampai hasutan-hasutan kebencian. Hal ini harus diantisipasi, mengingat hoaks bertujuan untuk membentuk suatu opini publik dan juga mengiringnya pada suatu titik membentuk persepsi orang banyak.

Oleh karena itu, memaknai kemerdekaan di era digital saat ini bisa dimulai dengan upaya bahu-membahu kita semua untuk melawan serangan hoaks. Jangan mau dijajah oleh berita palsu di dunia digital. Jangan mau dipasung oleh informasi-informasi bohong yang memecah belah. Jangan mau dibodohi oleh hoaks. Lawan balik! Kabar baiknya, ‘perang’ terhadap hoaks di momen kemerdekaan Indonesia di era digital ini telah dilakukan dengan banyak dukungan. Pergerakan melawan hoaks diterapkan baik dari pihak LSM atau komunitas, pemerintah, media, maupun masyarakat dalam memerdekan diri dari hoaks.

Cek dan Ricek dari Situs Kredibel

Dari pihak LSM, saya sempat mewawancarai ketua MAFINDO atau Masyarakat Anti Hoax Indonesia, Septiadji Eko Nugroho via Skype. Beliau berbagi banyak pengetahuan perihal alur kerja hoaks serta bagaimana MAFINDO berperang melawannya.
“Tujuan dari HOAX adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan.  Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah langkah. Oleh karenanya kita perlu langkah untuk melawan hoaks ini. Dari MAFINDO, kami punya empat gerakan perlawanan yakni narasi kontra hoaks, edukasi literasi, advokasi, dan silaturahmi,” ujar ketua MAFINDO yang akrab disapa Adjie ini.
sumber foto: Keep Calm o-Matic

Tak hanya itu, pihak pemerintah pun tinggal tinggal diam. Dalam kesempatan yang baik, saya mengobrol dengan Kabid Diskominfo Kabupaten Tangerang, Syahrizal, yang menuturkan bahwa Diskominfo Kabupaten Tangerang membentuk khusus KIM atau Kelompok Informasi Masyarakat. Kelompok ini terdiri atas relawan-relawan dari masyarakat yang berkolaborasi dengan pemerintah untuk menggalakan kampanye penyaringan informasi atau berita.
Dalam obrolan itu, Syahrizal juga menyampaikan tips bagi kita, khususnya anak muda dalam menangkal hoaks, “Lakukan cek dan ricek. Konsumsi berita dan informasi hanya dari media yang kredibel dan terpercaya. Selain itu, jangan telan mentah-mentah informasi yang berbedar di medsos, tetap cari bukti kebenarannya lewat mesin pencari. Balik lagi ke awal: cek dan ricek!”
Sampai di sini, saya sangat sepakat dengan tips dari Kabid Diskominfo Kab. Tangerang, Syahrizal. Cek dan ricek. Contoh dari tindakan ini bisa diwujudkan seperti yang kawan karib saya curhatkan di awal. Ia melakukan cek dan ricek terhadap iklan abal-abal di medsos, sehingga ia tidak terkena tipu. Cek dan ricek bisa dimulai dari mengecek ke media dan tempat yang kredibel. Semisal jika ingin mengcek pemberitaan yang dibagi di grup Whatsapp, kita bisa ricek ke media besar nan kredibel seperti Kompas, Detik, Tirto, dan lain-lain. Lalu, kalau mau tahu informasi dunia motor, apapun itu dari segi perawatan hingga pemasaran jual-belinya, bisa dicek ke situs Moladin.com.


Wawancara dan obrolan itu pun saya tutup dengan harapan dan kepercayaan besar. Hoaks mungkin bisa menyebar cepat, tapi dengan adanya sinergitas dari seluruh lapisan masyarakat akan literasi media dan pengembangan sikap selektif, besar peluang kita untuk merdeka dari hoaks! Dan, ssst, kawan saya itu akhirnya mendapatkan pertimbangan yang bagus dari review-review motor di situs Moladin.com, lalu ia sempat menelepon saya untuk bilang, “Moladin.com trusted,  anti-hoaks! Thanks rekomendasinya”. Saya hanya bisa tertawa mendengarnya, hahaha. Dibilang juga apa!
This entry was posted in

Sunday, 22 July 2018

(Minggu Pertama ) Kelas Penulisan Cerita Anak DKJ 2018: Sebuah Catatan Tentang Buku Anak

Reda Gaudiamo, atau yang akrab disapa Mbak Reda, membuka kelas penulisan cernak pagi itu dengan satu pertanyaan sederhana,
 “Apa yang menarik dari cerita anak?”
Pertanyaan ini membuat satu kelas berpikir sejenak. Dunia anak memang menarik, mengingat apa pun yang dilakukan mereka selalu ada momen ‘kali pertama’ atau ‘pengalaman pertama’. Tapi, kalau cernak, apa yang menarik?
Aku dan Mbak Reda di Kelas Penulisan Sastra Anak DKJ
Fakta Menarik Buku Cernak di Indonesia
Mbak Reda mengemukakan data menarik mengenai buku anak di Indonesia,
“Studi yang dikeluarkan oleh Scholastic tahun 2017 mengungkapkan kalau ada 86% Ayah-Ibu yang disurvei dari 2.718 orang tua dengan anak 6-7 tahun, percaya kalau kebiasaan membaca itu penting untuk masa depan yang baik. Kenyataan ini diperkuat oleh pengakuan 58% anak dari 2.718 anak yang menyatakan sepakat jika membaca cerita itu menyenangkan.”
Hasil dari studi tersebut nyatanya berdampak pada produksi dan penerbitan buku anak di Indonesia. Survei IKAPI tahun 2015 menyebutkan sekitar 22,64% buku anak terbit di Indonesia pada tahun 2014. Trivianya, angka ini membuat kategori buku anak menjadi kategori terbesar dari kategori buku lainnya, dan menariknya, terbesar dua kali lipat dari kategori sastra.
Sampai di sini, bisa disimpulkan, secara permintaan dan penawaran pasar, buku anak cukup tinggi. Kita punya peluang. Besar.
Memahami Apa Itu Buku Anak
“Apakah itu buku anak? Cerita dengan karakter utama anak-anak? Benarkah? Atau, cerita yang mengisahkan kehidupan khas anak-anak?” pancing Mbak Reda.
Namun, bisa ditebak, buku anak bukanlah salah satu dari itu. Jika dibilang buku anak adalah tokohnya anak-anak, bagaimana dengan novel IT karya Stephen King? Tokoh utamanya anak-anak, tapi apakah lantas dibilang novel itu adalah novel anak? Kalau dikatakan buku anak ialah kisah keseharian anak, bagaimana dengan buku anak yang berbau cerita detektif, petualangan, dan lain-lain? Buku anak punya pemahaman yang lebih besar dari itu dan kerap kita lupakan.
“Saya suka definisi cerita anak dar Robyn Opie Parnell, ya. Beliau mengatakan cerita anak adalah cerita yang ditujukan untuk pembaca anak, yang amna dalam cerita tokoh utamanya menyelesaikan masalahnya dengan upayanya sendiri. Bantuan dari tokoh orang dewasa sangat minimal, atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagian ini yang sering kita lewatkan. Satu lagi, cerita anak itu tidak melulu berbentuk buku cerita bergambar atau novel anak. Tapi juga bisa dalam wujud posa, puisi, fiksi, hingga nonfiksi,” tambah Mbak Reda.
Jika kita sudah mengerti apa itu buku anak dan cakupan bentukannya yang luas, kita akan lebih mudah menentukan karya cernak seperti apa yang ingin dibuat sebab pilihannya banyak. Bahkan jika dikategorisasi secara lebih spesifik, seperti ini hasilnya:
sumber: PPT Kelas Sastra Anak Reda Gaudiamo
Kalau kamu, tertarik untuk bikin yang mana?
Mengkeksplorasi Jenis Cerita Anak Dan Mengidentifikasi Tantangan Menulisnya
Cerita anak punya banyak jenisnya, tidak kalah dengan jenis cerita dewasa juga. Beberapa jenis cerita anak yang bisa kita selami jika ingin mulai menulisnya, antara lain science fiction, fantasy, horror/ghost stories, action/adventure, true stories, historical fiction, biography, learning/educational, religion/diversity, gender oriented, dan licensed character/ books into brands.
Mengenai jenis buku anak ini, Mbak Reda punya pengalaman tersendiri,
“Buku anak tu banyak jenisnya. Saya ingat sekali pernah membaca komik luar negeri itu isi ceritanya mengenai perang dunia kedua. Gaya berceritanya sangat menarik, ketika dua negara berperang dan sedang sepakat untuk gencatan senjata, komik itu lewat dua karakter dari dua negara berbeda yang berperang itu dikisahkan sedang beristirahat. Ini contoh cara mengenalkan sejarah dunia pada anak-anak lewat cara kreatif. Saya berharap kisah seperti Diponegoro juga disampaikan dengan cara serupa.”
Aku pun setuju dengan Mbak Reda. Kalau diingat lagi, saat kukecil dulu, cerita mengenai kerajaan maupun perang di tanah air, tidak ada yang disuguhkan dalam komik dengan pengandaian-pengandaian yang mudah dicerna anak. Sebaliknya, dihadirkan dalam bentuk buku teks pelajaran yang kesannya menggurui dan membuatku mengantuk, hehehe. Alhasil, aku lari ke komik-komik Donal Bebek. Keadaan ini berbeda sekali dengan keadaan bacaan anak di Inggris. Menurut Mbak Reda, karya Shakespeare sudha dikenalkan dan dibuat versi buku anaknya untuk jadi bacaan anak di sana. Caranya adalah dengan membuat serial Shakespeare khusus anak. Berbagai episode cerita Shakespeare disampaikan secara bertahap, dikenalkan sedikit-sedikit.
sumber: PPT Kelas Sastra Anak Reda Gaudiamo
Akhirnya menyadari justru tantangan buku anak terletak di sini, bagaimana menghadirkan cerita serius menjadi bentuk yang lebih sederhana dan sesuai dengan sudut pandang anak. Ketika kusampaikan ini, Mbak Reda mengamini, 
“Tantangan terbesar menulis cernak memang di situ. Bagaimana kita bisa menerjemahkan hal-hal serius hingga anak memahaminya.”
Bicara soal hal serius, Mbak Reda mengeluarkan koleksi buku anak jenis learning/educational miliknya dulu. Beliau juga menyarankan bagi teman-teman kelas untuk membawa buku anak yang dianggap punya poin menarik untuk dibagikan tiap minggunya, sehingga kita semua bisa belajar sudut pandang anak.
“Ini buku A for Activist. Kenapa menarik? Karena biasanya kita menemukan buku anak learning/educational itu ‘A for Apple’, tapi buku ini berbeda dan berani. Lihat lagi ke halaman selanjutnya, ‘F for Feminist’. Ada yang lebih kontroversial, ‘L for LGBTQ’. Di awal mungkin kita kaget karena ini berbeda dari biasanya, tapi kalau kita berani menengok lebih dalam lagi, apa salahnya dengan kata Activist, Feminist, dan LGBTQ. Hal-hal begitu perlu kita beritahu pengetahuannya sejak dini. Tidak ada yang salah dengan memberi pengetahuan pada anak.”
Contoh lainnya yang dijadikan pembahasan di kelas adalah jenis buku anak gender oriented.  Ini jenis yang sangat spesifik, biasanya ditujukan untuk salah satu gender khusus. Semisal buku ‘I Love My Hair’ karya Natasha A. Tarpley, buku anak ini khusus untuk anak perempuan di Afrika yang sering insecure dengan kondisi rambut keriting mereka dan hendak meluruskannya. Jadi, buku anak itu berusaha memotivasi anak perempuan di Afrika untuk bangga dengan rambut alaminya serta mendorong keyakinan mereka bahwa mempunyai rambut keriting itu tidak ada yang salah. Lainnya yang menarik adalah buku dari jenis religion and diversity. Contoh dari buku anak jenis ini adalah ‘The Sandwich Swap’ karya Queen Rania of Jordan Al Abdullah dan Kelly DiPucchio, yang mana diterbitkan untuk mengenalkan pengetahuan akan Islam pada anak-anak, khususnya anak-anak di Amerika dan Eropa sejak kejadian penyerangan teroris 9/11. Banyak sekali contoh lainnya yang dibawa dan dibahas Mbak Reda, namun yang jadi penekanan adalah,
“Apa pun bisa diajarkan. Enggak harus hal yang baik-baik saja dan enggak melulu mengangkat topik aman. Jadi, berhentilah menabukan banyak hal.”
Tips Awal Menulis Cerita Anak
Setelah punya pengetahuan mendasar mengenai kondisi pasar buku anak, definisinya, jenis-kategorinya, dan tantangannya, kini saatnya menulis dan mengurai kesulitan-kesulitannya. Tips utama dari Mbak Reda untuk bisa melihat seperti pandangan anak adalah milikilah pandangan yang sederhana tapi istimewa. Lalu, berceritalah dengan simpel dan baik. Simpel artinya kita coba menempatkan diri menjadi si anak yang semua pengalaman dalam hidupnya serba pertama kali. Baik artinya kita harus menulis dengan tata cara yang benar, jadi ayo belajar lagi pedoman UKBI dan KBBI.
“Begini yang saya maksud soal sederhana tapi istimewa. Acap kali kita melihat radio sebagai salah satu medium mendengar berita/informasi, lagu, dan lain-lain. Itu pandangan kita sebagai orang dewasa. Coba kalau kita jadikan diri kita anak kecil yang baru pertama kali dengar radio, anak itu pasti bingung karena bagaimana caranya benda itu bisa mengeluarkan suara. Mungkinkah ada penyanyi di dalamnya? Lalu anak itu mulai menempelkan telinganya ke pelantang suara radio, dan memicingkan matanya, mencari tahu di mana si penyanyi dan bagaimana bisa ada penyanyi masuk ke dalamnya sampai menghasilkan lagu,” jelas Mbak Reda. Beliau juga berpesan, berpandanga istimewa namun sederhana ini bisa dilatih. Caranya mudah, banyak baca! Itulah alasan mengapa sejak awal dikenalkan banyak jenis buku anak beserta contohnya.
Lebih jauh lagi, Mbak Reda mengajak teman-teman kelas untuk mengakses tautan dari Sarah Maizes, mengenai ‘WantTo Write A Good Children’s Book? Here are 7 Tips to Guide You’. Setelah kuakses dan kubaca, inti dari bahasan Mbak Reda dan Sarah Maizes adalah sama: pakailah sudut pandang anak-anak yang serba pertama kali! Karena dari sana, kita akan dapat pandangan unik dan berbeda.
Kalau mau tips lebih banyak lagi, kita bisa coba cari di sini:
sumber: PPT Kelas Sastra Anak Reda Gaudiamo
Catatan Penting Mengenai Dunia Penulisan Buku Anak
Buat kita yang sering bertanya apakah anak akan mengerti jika kita membuat cerita yang seperti ini atau itu tanpa menyelipkan pesan moral secara langsung, dan lain-lain? Begini jawaban Mbak Reda: 
“Jangan anggap anak-anak, kita meremehkan. Mereka makhluk yang cerdas!”
Pertanyaan lainnya, apakah oke jika menyampaikan isu serius? Caranya bagaimana? Begini tanggapan Mbak Reda: 
“Isu serius bisa disampaikan pada anak-anak. Caranya: menulis dengan sederhana, jadi perbanyaklah latihan. Salah satu latihannya selain terus dan sering menulis, banyak-banyaklah membaca! Soalnya menulis dengan baik itu dimuali dari membaca buku-buku yang baik.”
Terus, ada lagi pertanyaan, buku anak yang baik itu yang seperti apa sih? Mbak Reda menjawab: 
“Buku anak yang baik, akan disukai oleh orang dewasa. Contohnya juga sudah banyak seperti serial Harry Potter-nya J.K Rowling, atau novelnya John Boyne yang sudah difilmkan juga berjudul ‘The Boy in the Striped Pajamas’.”
Dari semua pertanyaan-pertanyaan itu, Mbak Reda memberi catatan khusus yang diulang berkali-kali oleh beliau pada seluruh peserta kelas, 
“Buku cerita anak itu bukanlah buku pelajaran agama, juga bukan khotbah!”
Begitu catatan pelajaran dari kelas penulisan sastra anak DKJ pada pertemuan pertama ini, yang bisa kubagikan buat teman-teman. Sampai jumpa di postingan minggu depan lagi yah mengenai hasil dari pertemuan kedua. Semoga bermanfaat dan bersama bangkitkan lagi gelora sastra anak nusantara!


This entry was posted in

Thursday, 19 July 2018

Pagi Di Ruang Pleno DKJ


Ruang pleno di kantor Dewan Kesenian Jakarta, Sabtu (14/7) pagi itu sudah cukup ramai ketika aku sampai. Hampir setengah dari total peserta terpilih kelas penulisan sastra anak telah mengambil bangku masing-masing mengitari meja kelas, tak terkecuali aku. Sembari menunggu Mbak Redagaudiamo yang masih menikmati kopi pagi Cikini, kami menyimak obrolan santai dengan komite sastra DKJ, Mbak Aini Sani Hutasoit dan Paman Yusi Avianto Pareanom. Dari mereka, diketahui jika kelas sastra anak DKJ baru memasuki tahun kedua dengan tanggapan yang begitu baik dari masyarakat sejak pembukaannya, yang mana pesertanya selalu mencapai angka ratusan tiap tahun. Bahkan di tahun pertama, DKJ menerima aplikasi hingga 400-an pendaftar. Mendadak, kurasa bangga sekali bisa terpilih untuk duduk dan belajar di ruang pleno pagi itu.
Oleh Mbak Aini juga, disampaikan alasan diadakannya kelas sastra anak, 
“Sudah sejak lama DKJ fokus dengan sastra dewasa. Sampai kemudian kami menyadari sastra anak tak kalah penting eksistensinya dengan sastra dewasa. Belum lagi ditambah kegelisahan kami melihat anak-anak nusantara lebih mengingat karakter-karakter cerita anak dari luar Indonesia, dibanding yang dalam negeri. Untuk itu, kelas ini diadakan dengan harapan bisa membangkitkan semangat kepenulisan kreatif cerita anak dan memunculkan buku-buku anak ikonik untuk anak-anak  Indonesia.”
Banyak dari kami pun mengakuinya. Kuingat ketika kukecil dulu, yang kujagokan adalah tokoh-tokoh heroik dan konyol dari komik maupun cerita rakyat yang difilmkan, yang berasal dari luar. Bahkan tontonan animasi anak pada tiap minggunya dibombardir dengan cerita-cerita anak dari beragam negara, yang mana porsinya dari dalam negerti sangatlah sedikit. Atau bahkan, kurang kuingat.
Hal serupa juga ditambahkan Mbak Aini, perempuan yang hari itu mengenakan terusan batik biru muda, mengatakan jika dulunya beliau mengikuti serial anak di salah satu media, namun sekarang serial tersebut pun tak lagi terdengar. Menurut beliau, dunia cerita anak khususnya di Indonesia butuh dinyalakan lewat penyegaran dan pembaruan agar tak redup. Beliau berharap seluruh peserta kelas sastra anak baik angkatan pertama dan sekarang, bisa keluar sebagai penulis anak unggul yang memberi warna dan sumbangsih untuk cerita anak.
Diskusi awal sebelum kelas menjadi hangat dan seru. Terlebih ketika salah satu peserta menyinggung mengenai batasan cerita anak – apakah harus selalu mengandung unsur moral yang baik-baik? Sampai di sini kami semua sepakat, cerita anak lebih dari sekadar buku cerita moral. Walau sesungguhnya, justru batasan ‘harus bercerita baik-baik dalam buku anak’ itulah yang mengekang kebebasan berimajinasi penulis ketika menulis cerita anak – yang kuamini membuatku sulit sekali menulis genre ini. Apakah kamu juga demikian?
Paman Yusi yang mendengarnya pun menyela, 
“Maka itu, jika tidak penting-penting sekali, jangan membolos kelas ini.”
Kami semua tertawa, bertepatan dengan datangnya Mbak Reda dengan tote bag penuh berisi koleksi buku anak yang akan dibedah hari itu. Diskusi kecil pun usai, berganti jadi sesi sambutan sebelum kemudian bagian paling ditunggu dimulai oleh Mbak Reda: belajar menulis cernak! Dan, apa saja yang kudapat selama dua jam kelas intens tersebut, bisa teman-teman simak di sini. Semoga bermanfaat!

This entry was posted in

ACOTAR: Pilihan Segar untuk Pecinta Serial Romance-Fantasy

Judul               : A Court of Thorn and Roses (ACOTAR)
Pengarang       : Sarah J. Maas
Tebal Buku      : 587 halaman
Penerbit           : Bhuana Sastra (imprint Bhuana Ilmu Populer Gramedia)
Tahun Terbit    : Februari 2018


Beberapa hari lalu dikirim buku ini oleh BIP Gramedia untuk kubaca dan kuulas. Ini perkenalan pertamaku dengan series-seriesnya Sarah J. Maas, setelah penasaran melihat buku-bukunya berseliweran pada foto-foto apik bookstagammer Indonesia. Seusai menyelaminya, aku punya beberapa poin ulasan buat novel yang pernah masuk nominasi Goodreads Choice Award for Fantasy and Sci-Fi 2015 ini.
Novel ini mengadopsi ulang cerita Beauty and The Beast yang diramu dengan aksi heroine ala Katniss Everdeen (terutama pembuka ceritanya, langsung mengingatkanku pada Katnis) dan karakter kisah percintaannya kental akan gaya saga Twilight. Tapi dieksekusi dengan segar dan menarik.
Sekitar seperempat cerita, khususnya pendekatan antara Feyre dan Tamlin cukup berjalan lambat – tapi buatku sendiri, tidak sampai membuatku lelah. Karena kupikir ini perlu agar tidak terjadi ‘instant love’, terlebih ketika Feyre diatur sejak awal membenci dunia peri, serta ini kupandang sebagai cara Maas menjelaskan keadaan dunia peri. Terutama juga, ada petunjuk-petunjuk yang disebar sepanjang cerita yang akhirnya terjawab menjelang ending.
Ada adegan yang kontroversial, mengingatkanku pada sekte yang memang punya ritual ini: melakukan persenggamaan untuk kesuburan tanah peri tiap tahunnya. Baiklah, adegan ini sedikit buatku mengerutkan dahi.

Bagian paling kusuka dari novel ini adalah saat bab sudah menyentuh halaman 300-an ke atas: ketika adegan demi adegan sudah cukup membuat tegang, rahasia sihir yang melingkupi dunia peri terungkap serta kenekadan Feyre ke Kaki Gunung untuk melawan Amarantha, dan menyelematkan Prythian (juga tentunya, Tamlin). Tokoh antagonisnya buatku sukses dibawakan Maas dengan baik.
Kuakui Maas punya kemampuan deskripsi yang mendetil dan imajinasi nan luas. Karakter yang dibangun cukup kuat walau buatku masih terbayang-bayang Beast x Edward Cullen dalam karakter lelakinya.
Awalnya jatuh cinta dengan Tamlin, tapi saat menjelang akhir, Ryhsand lebih mempesona (yang buas-buas memang bikin tertarik, tapi yang misterius dan gelap justru lebih menantang dijelajahi #uhuk).
Dari segi fisik buku, BIPGramedia memberikan jenis dan ukuran font yang pas untuk dibaca mata, serta terjemahan yang enak dibaca (sebab kutahu ini tidak mudah, yang menerjemahkannya perlu paham plot pikir Maas). Walau masih kutemukan tiga typo dalam buku ini.
Kalau kita dasarnya suka roman dengan bumbu fantasi, kupikir novel ini akan cocok buat kita – menemukan karakter idola baru, menyelami kisah cinta dua dunia seraya terhanyut dalam petualangan fantasinya satu persatu.
Simpulannya, buku ini layak diberi kesempatan untuk dibaca sampai habis dan ditunggu seri kedua dan ketiganya.
Bintang? 3,8 dari 5
Aku merekomendasikannya!
Selamat jatuh cinta pada Tamlin dan Rhysand! 




Wednesday, 18 July 2018

(GIVEAWAY & BLOGTOUR) Novel 'Follow Me Back': Ketakutan-ketakutan yang Penuh Kejutan

Judul               : FOLLOW ME BACK 
Penulis             : A.V Geiger
Penerjemah      : Lisa Mahardika
Halaman          : 340 halaman, 20 cm
Tahun Terbit    : Mei 2018 
ISBN               : 978-602-6682-20-8 
Penerbit           : Spring 

Blurb              


Dunia Tessa Hart terasa sangat sempit. Dia terkurung di dalam kamar karena agorafobia yang diidapnya. Satu-satunya pelariannya adalah dengan memasuki dunia fandom online penyanyi pop yang sedang naik daun, Eric Thorn. Ketika Eric menyapa para fansnya lewat Twitter, rasanya seperti cowok itu berbicara langsung kepadanya.
Eric Thorn takut pada penggemarnya yang obsesif. Mereka memujanya dengan cara berlebihan. Belum lagi tim publisisnya yang tidak berhenti menulis tweet dengan akunnya untuk menyemangati khayalan mereka. Benar-benar tidak membantu. 
Ketika temannya yang sesama penyanyi pop dibunuh seorang penggemar, Eric tahu dia harus melakukan sesuatu untuk menghancurkan citra dirinya di online. Contohnya, menjatuhkan salah satu pengikut besarnya di Twitter. Sayangnya rencana Eric untuk mengganggu @TessaHeartsEric berubah menjadi hubungan online yang lebih dalam daripada yang pernah dia bayangkan. Dan ketika hubungan mereka semakin dekat, sesuatu yang tidak disangka-sangka mengejutkan mereka semua!


Kesan pertama yang saya tangkap saat membaca novel ini adalah idenya yang segar dan khas milenial zaman sekarang. Secara garis besar, cerita ini memiliki potret kedekatan dengan kegiatan keseharian anak muda era kini. Sebut saja: aktivitas fangirling,senang menghabiskan waktu dengan media sosial semisal Twitter, punya pacar, konflik dengan orang tua, tekanan psikologis hingga kegalauan pribadi, semuanya dikemas jadi satu cerita utuh dengan bumbu romansa dan misteri. Bagian lebih menariknya adalah novel ini menyuguhkan sejumlah kejutan sekaligus sesuatu yang berbeda. Apa saja?

Tessa tidak serta-merta mengidap agorafobia atau ketakutan terhadap keramaian atau kerumunan. Terjadi hal yang buruk ketika ia mengikuti program belajar musim panas di kampusnya. Sejak itulah, ia mulai menutup diri dan mendekam di dalam kamar rumah. Bahkan ia sampai harus melakukan terapi setiap minggunya, mengonsumsi obat peredam kecemasan/kepanikan, sampai mencoba beragam cara untuk menenangkan diri.

Reaksi ketidaksukaan Tessa ketika Scott, pacarnya yang menyebalkan, sering muncul tiba-tiba di kamar atau kesedihan Tessa saat ibunya memaksa Tessa keluar rumah dan menganggap itu adalah hal yang mudah, menjadi poin menarik di sini. Mengapa? Karena berhasil memberi gambaran dan pesan pada siapa pun untuk tidak memandang sebelah mata gangguan psikologis yang dialami remaja. Bahwa gangguan tersebut nyata adanya dan perlu diobati, perlu dukungan banyak pihak. Jika tidak justru bisa bertambah parah, dan dalam banyak kasus, bisa terjadi bunuh diri.
“Kau berengsek! Kau menakutiku setengah mati! Kau mengerti itu? Kau lihat pil-pil ini? Aku tidak main-main. Aku punya fobia. Kondisi yang sudah didiagnosis secara medis. Kau tidak bisa begitu saja masuk ke kamarku. Tidak boleh!” – Tessa Hart, halaman 144
Pernahkah kita berpikir apakah artis idola benar-benar mencintai para fans-nya atau justru sebaliknya? Novel ini memberi jawabannya. Di balik kalimat-kalimat balasan ‘aku juga mencintaimu, fansku!’, terdapat masalah privasi antara artis idola dan fans yang sering kali jadi pikiran si artis. Begitu yang tergambar dari keadaan tokoh utama pria, Eric Thorn, seorang idola remaja masa kini, yang punya kecenderungan takut berlebihan pada fans perempuannya yang menggila. Terutama saat temannya sesama artis meninggal akibat ditikam oleh fans sendiri. Sejak itu Eric benar-benar paranoid dan merasa jutaan fans-nya lebih dari sekadar stalker profesional tapi juga berkemungkinan membunuhnya. Cerita novel ini mengajak kita menengok lebih jauh dampak gelap fangirling obsesif terhadap artis kesayangan.

Cerita dimulai oleh berkas transkrip interogasi kepolisian. Sejak awal kita langsung disodorkan satu sinyal: ada sesuatu yang serius tengah terjadi antara Tessa-Eric pada akhirnya. Pembuka ini sukses membuat saya terus mebalik halaman demi halaman untuk mengetahui apa yang terjadi hingga harus melibatkan kepolisian. Paduan antara berkas laporan interogasi dan jalan cerita Tessa-Eric, membuat novel ini punya alur maju-mundur yang bikin kita penasaran sampai akhir.
“Penyidik: Mr. Thorn, tolong duduk. Kita berada di tengah-tengah penyidikan kriminal.Thorn: Katakan dimana dia!” – Transkrip Resmi Interogasi Kepolisian, halaman 5

Buat kita yang udah baca selesai novel ini, pasti punya satu pendapat yang sama: endingnya bikin kepikiran! Yup, cerita ini memberikan ending yang tak terduga, bahkan benar-benar di luar prediksi. A.V Geiger berhasil mengejutkan pembacanya dengan menaruh twist di ending. Dijamin, siapapun yang habis membacanya pasti segera berspekulasi macam-macam mengenai kelanjutannya. Saya enggak bisa spoiler, tapi ini jenis ending yang: CLIFFHANGER!

Kedekatan antara Tessa dan Eric (yang menyamar sebagai Taylor) bisa kita temukan lewat pertukaran pesan mereka via DM. Saya senang membacanya karena tidak membuat kita ‘lelah’, sebab ditulis khas pertukaran pesan remaja dengan gaya yang ringan dan mengalir.

“Tapi aku tak akan melupakan keping saljuku. Tak sanggup kulelehkan dia dari pikiranku. Aku akan mengawasinya dari jendela. Demi cinta yang dia tinggalkan.” – Snowflakes, Eric Thorn, halaman 322

Reccomended!
Rating             : 3,8 dari 5



Perlu diakui, A.V Geiger sukses menghadirkan novel remaja ringan dengan bumbu misteri-thriller yang menyenangkan untuk dibaca. Saya sendiri menghabiskannya dalam waktu satu setengah hari saking penasarannya. Kalau buat saya, Follow Me Back bisa jadi rekomendasi bacaan akhir pekan kita!

Giveaway Time!


Penasaran dengan kisah Eric-Tessa? Penerbit Spring akan membagikan secara gratis novel ‘Follow Me Back’, lho! Bagaimana caranya? Gampang banget. Berikut ketentuannya:


1.      Like fanpage Penerbit Spring, dan follow juga blog ini agar teman-teman bisa dapat informasi seputar blogtour dan giveaway finalnya.
2.      Follow akun Twitter @PenerbitSpring dan akun Twitter @verooogabriel
3.      Follow akun Instagram @PenerbitSpring dan akun Instagram @verooogabriel
4.      Share postingan ini melalui Twitter, Facebook, atau Instagram (boleh pilih salah satu). Lalu, jangan lupa mention @PenerbitSpring dan @VeroooGabriel (jika via Twitter dan Instagram), atau tag Penerbit Spring (jika via Facebook)
5.      Jawab pertanyaan ini:
Siapa nama pacar Tessa Hart?
6.      Simpan jawaban dari pertanyaan setiap host (untuk tautan blog dapat dilihat di banner)
7.      Di akhir blogtour, akan diadakan giveaway di fanpage Penerbit Spring pada tanggal 22 Juli 2018 dan jawaban atas pertanyaan yang sudah dikumpulkan dari semua host blogtour akan menjadi kunci penentu untuk mendapatkan novel ‘Follow Me Back’.
8.      Pengumuman pemenang akan dilakukan segera setelah giveaway berakhir di fanpage PenerbitSpring.

Jadi, tunggu apalagi! Langsung aja ikuti blogtour-nya dan menangkan satu novel ‘Follow Me Back’ gratis dari Penerbit Spring! Semoga beruntung dan bisa menyelami thriller-nya kisah Eric-Tessa yah!