Tuesday, 26 May 2020

Pilihan Karir Menulis: Jadi Jurnalis, Copywriter, atau Content Writer?

Sejak dulu, aku suka menulis. Berawal dari nulis fiksi seperti cerpen dan novel, diam-diam aku menyimpan impian untuk berprofesi jadi penulis. 

Jadi, saat kuliah aku mulai mencari apa saja peluang karir yang pekerjaan utamanya diisi oleh tulis-menulis. Lalu aku menemukan tiga pilihan: jurnalis, copywriter, dan content writer

Senangnya karena aku berkesempatan mencoba ketiga peran tadi. Walaupun ketiganya sama-sama membutuhkan keterampilan menulis, tapi saat dijalani berbeda sekali. 

Aku mau berbagi sedikit pengalamanku, karena aku pernah sempat bekerja paruh waktu sebagai jurnalis majalah, magang sebagai content writer, hingga bekerja penuh waktu saat ini sebagai copywriter

Tapi satu hal yang bisa kubilang di awal: ketiganya adalah hal yang seru!

Jurnalis, Pembaca Situasi


Buatku, jurnalis enggak hanya bisa nulis saja tapi juga cerdas membaca situasi. Maksudnya, situasi saat ini (tren terkini) maupun situasi saat itu (liputan dan wawancara di lapangan). 

Pengalamanku dulu, aku pernah meliput ulang tahun salah satu e-commerce terbesar di Indonesia hingga jam 10 malam. 

Aku sudah dijanjikan akan doorstop interview dengan CEO-nya. Namun jelang jam 10, tidak muncul batang hidung si CEO. 

Aku pun berusaha untuk tidak “terlena” dengan sajian hiburan di panggung dan menyelinap keluar. 

Sesuai instingku, aku menemukan si CEO keluar dari pintu lain dan berhasil dicegat oleh rekan-rekan wartawan. 

Aku pun menyiapkan perekam suara dan kamera, siap memburu berita bersama. 

Bayangkan, andai saja aku diam di tempat dan tidak peka terhadap situasi, aku mungkin gagal mendapat pernyataan CEO malam itu. 

Bersama Tim Marcomm Harian Kompas
Bersama Tim Marcomm Harian Kompas

Copywriter, Penyulap Kata-kata


Aku seringkali bilang ke banyak orang kalau komposisi menjadi copywriter itu 90% berpikir kreatif dan out of the box dan sisanya 10% adalah kompetensi menyusun kata. 

Soalnya, dibutuhkan pemikiran ekstra kreatif untuk menyulap pesan yang begitu panjang dan banyak menjadi kalimat singkat yang “ngena” dan “nendang”. Singkat, tapi padat. 

Memang begitu. Dalam beberapa kasus pengalamanku, makna tulisan bahkan baru lebih tersampaikan jika didukung visual yang mampu berbicara.

Maka itu, menjadi copywriter adalah tentang membangun sudut pandang berbeda dari suatu hal dan melakukan kerja sama proaktif dengan para desainer. 

Content Writer, Penulis Topik Palugada


Walaupun kita bekerja sebagai full time content writer maupun freelance content writer di satu brand yang sudah pasti bahasannya, itu tidak menutup kemungkinan untuk diminta mengeksplorasi lebih jauh dan dalam. 

Semisal, menghubungkan tren terkini (yang tampaknya tidak ada korelasinya) dengan brand kita. Tidak hanya itu, seringkali juga harus mengiyakan topik “pesanan” dari atasan maupun klien. 

Sepanjang pengalaman menjadi content writer, aku pernah diminta menulis konten yang mampu menghubungkan antara topik kesehatan dengan peringatan Kartini. 

Pernah juga menulis topik pesanan berupa promo “JSM” salah satu toko ritel yang aku sendiri tidak tahu seperti apa bentuk kontennya. 

Banyak suara di kepalaku yang berbisik “duh, kayaknya enggak bisa deh!”, “ini bakal susah”, “emangnya bisa?”, dan lain-lain. 

Tapi karena tuntutan, akhirnya kujalani dengan melakukan riset (biasanya kulakukan sederhana dengan berselancar di mesin pencari atau dibantu tools-tools), tanya sana-sini (ke teman ahli atau narasumber), hingga “meditasi” mendapatkan ide kreatif. 

Sejauh ini bisa kujalani dan (untungnya!) masih baik-baik saja, hingga kupelajari satu hal: jangan berkata tidak sebelum mencoba dan berusaha. 
Saat menjadi SEO Content Writer Intern di Gramedia Digital Nusantara
Saat menjadi SEO Content Writer Intern di Gramedia Digital Nusantara

Pada akhirnya, saat aku mencoba menengok lagi perjalanan karir kepenulisan profesionalku, sesungguhnya menjadi penulis tidak hanya soal menulis , tapi juga banyak hal lain. 

Karena ini soal cara berpikir, kepekaan, kreativitas, hingga kolaborasi. 
Masih penasaran soal profesi ini? 

Memangnya, bagaimana sih cara menjadi content writer atau cara menjadi freelance writer? Yuk, belajar content writing lebih jauh bareng aku di sini

Sunday, 17 May 2020

Ceritaku Di Rumah Bersama Simba

“Simba!” panggilku cukup nyaring. Seekor kucing jalanan berwarna loreng abu-abu yang berada di seberang rumah langsung menengok ketika mendengarku.

Untuk memastikan jika aku memang memanggilnya, aku mengangkat toples berisi makanan kucing rasa tuna yang menjadi favoritnya. Simba – begitu aku menamainya – melompat dari atas tempat sampah dan berlari menyeberang jembatan menuju rumahku. Sesampainya depan rumah, Simba menerobos masuk lewat kolong pagar dengan begitu bersemangat. Lalu, ia segera makan lahap di wadah yang sudah kusiapkan di teras rumah.

Yuk kenalan! Ini Simba

Aku selalu lega melihat Simba makan di tempatku karena berarti ia tak perlu mengorek sisa makanan di tempat sampah yang membuat perutnya cacingan atau memaksa menelan tulang di warung yang membikin kerongkongannya terluka.

Banyak tetangga dan orang kompleks perumahan yang kerap memandangku penuh tanya karenanya. Bagaimana bisa kucing jalanan telantar begitu menurut ketika dipanggil? Bahkan mampu mengenali wajahku dan rute menuju rumahku? Aku tersenyum. Karena di sinilah #ceritakudarirumah dimulai.

Bermula dari streetfeeding

Sejak dua tahun lalu, aku suka sekali streetfeeding (aktivitas berbagi makanan dan minuman layak kepada hewan domestik kelaparan). Awalnya hanya spontanitas karena rasa iba melihat kucing dan anjing kelaparan di jalan raya sepulang kantor. Perlahan, aku merasa aktivitas ini menjadi terapi bagi hati dan kedalaman jiwaku. Aku memahami jika manusia bukan satu-satunya makhluk hidup di Bumi ini yang bertahan hidup setiap harinya. Dan dalam kondisi sekarang, hewan juga jadi korban terdampak pandemi.

Sejak itu, aku rutin streetfeeding terutama di lingkungan perumahanku. Simba adalah salah satu kucing di sekitar rumah yang sejak masih kecil (kitten), aku streetfeeding hingga sebesar sekarang. Maka itu, walau Simba diliarkan di lingkungan perumahan, ia akan selalu menjadi kucing penurut nan manja ketika bertemu denganku.

Awalnya interaksiku dengan Simba hanya sekadar berbagi makanan dan minuman. Namun, menjadi lebih intens sejak kantorku memberlakukan kerja dari rumah akibat pandemi. Aku jadi punya banyak waktu luang untuk bermain bersamanya.

Sekarang selama #dirumahaja, setiap kali Simba selesai makan kenyang, aku akan menyempatkan diri mengelusnya tiga kali atau memijitnya hingga ia tertidur pulas di pangkuanku. Bagiku, momen bersama Simba adalah waktu relaksasiku dari pekerjaan dan pemberitaan mengenai COVID-19 yang menggelisahkan.

Menyempatkan diri bermain bersama kucing jalanan, Simba

Simba yang mengelus kakiku seakan mengucapkan terima kasih

Bahkan, aku punya jadwal tersendiri untuk memanggil Simba makan. Kalau dulu hanya pagi sebelum berangkat kantor dan malam seusai pulang ke rumah, sekarang tiap pagi pukul tujuh, jam makan siang, dan sore pukul lima atau malam sehabis jam buka puasa, menjadi waktuku untuk memberi makan dan minum bagi Simba.

Kucing jalanan penjaga rumah

Saking seringnya aku streetfeeding Simba, kucing-kucing jalanan yang kelaparan di kompleks perumahan sering mampir ke rumahku mengekori Simba. Perlahan, panggilan Simba bahkan menjadi sinyal atau penanda waktunya makan enak bagi kucing jalanan di sekitar rumah. Hal ini membuat banyak sekali kucing jalanan sekitar rumahku yang nongkrong depan pagar, terutama pada waktu sore untuk menunggu jatah makan. Mereka tampak seperti penjaga rumah.

kucing jalanan sekitar kompleks yang menungguku streetfeeding

streetfeeding depan rumah sehabis jam buka puasa

Sampai suatu waktu, ada kurir yang bingung akan patokan menuju rumahku, dan satpam perumahan menunjuk rumahku sembari berkata, “Itu loh! Rumah yang penunggu kucingnya banyak”. Aku tertawa mendengarnya!

Walaupun harus menyisihkan sebagian uang jajan untuk membeli makanan kucing, aku tak merasa streetfeeding sebagai beban. Sebab di pandanganku, sedekah terutama di bulan suci Ramadan ini tak melulu ditujukan kepada manusia tapi bisa juga kepada hewan. Lebih penting lagi, aku melakukannya dengan bahagia terutama ketika mengetahui ada sekelompok kucing yang menggantungkan harapan baik padaku.

Seringkali aktivitasku ini kuunggah ke media sosial agar pesan kebaikan pada hewan jalanan bisa tersebar lebih luas. Aku ingin menyampaikan bahwa hewan jalanan kelaparan juga butuh kasih sayang dan kepedulian kita sebagai sejatinya manusia yang bernurani.

Berkarya lewat #PassTheCatfoodChallenge

Cerita lainnya dariku selama di rumah bersama Simba adalah aku berniat membuat  #passthecatfoodchallenge. Tantangan ini mengadopsi ide video #passthebrushchallenge yang sedang ramai di media sosial. Tapi aku berpikir untuk memodifikasinya dengan menyelipkan pesan streetfeeding.

Aku pun mengajak teman-teman aktivis perlindungan satwa yang kukenal untuk membuat karya video #passthecatfoodchallenge ini bersama-sama dari rumah. Konsepnya adalah kita bersama menunjukkan botol berisi makanan kucing ke kamera, lalu merekam secara singkat aktivitas streetfeeding kita dengan botol tersebut ke kucing jalanan sekitar rumah. Setelahnya, botol tersebut dilempar ke teman lain untuk melanjutkan aktivitas serupa. Setelahnya potongan video tersebut disatukan jadi tayangan utuh dengan pesan sederhana: Ayo streetfeeding!

Dalam proses pembuatannya, aku mengajak Simba untuk muncul di video. Seru sekali walau harus berkali-kali mengambil adegan. Setelah videonya jadi dan diunggah bersama ke akun Instagram, aku senang sekali karena menerima banyak tanggapan positif sekaligus memaknainya dalam syukur karena masih bisa berbagi kebaikan melalui karya sederhana.

Pada akhirnya aku menyadari jika memang selalu ada hikmah di balik setiap masalah dan terdapat hal baik tersembunyi di balik kondisi sulit. Hal tersebut kualami selama pandemi di bulan Ramadan ini. Walau segala aktivitas serba terbatas, tapi bukan berarti bisa berpangku tangan pada nasib. Sebaliknya, ini jadi peluang yang mendorongku untuk lebih kreatif mencari cara menebar kebaikan yang bermanfaat bagi diri dan sesama.

This entry was posted in

Tuesday, 21 April 2020

Tetap Streetfeeding Selama Pandemi

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberinya makan, bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai." (HR. Bukhari)

Langit mulai memerah, menandakan hari sudah senja. Aku menutup layar laptopku setelah seharian bekerja dari rumah, lalu bersiap pergi membeli makan malam untuk ibu dan ayah. 

Sayangnya, pedagang nasi goreng favorit yang kudatangi sedang tutup. Aku pun memilih pulang dan berpikir untuk memasak sendiri.

Saat aku hendak memutar langkah, seekor kucing mendatangiku. Ia duduk dengan kepalanya yang menegadah padaku diikuti kemunculan dua ekor kucing lainnya yang mengeong keras dari balik gerobak nasi goreng yang gelap. 

Kupandangi sekali lagi kucing yang menghampiriku tadi: sorot matanya meminta dan berharap.
Berbagi makanan ke anak kucing yang tidur
di sela-sela pot dekat rumah
Lama akhirnya kusadari, mereka adalah gerombolan kucing telantar penunggu meja-meja pembeli nasi goreng. 

Kucing-kucing yang setiap hari ‘mengemis’ suwiran ayam untuk menyambung hidup.

Kalau aku pulang karena jualan tutup, kucing-kucing itu tidak. Mereka tetap setia menanti di sana sembari berharap meja-meja itu kembali ramai oleh orang-orang yang makan dan bersedia berbagi satu atau dua suwiran ayam untuk perut mereka yang sakit oleh lapar.

Hatiku perih, rasanya ada bagian dalam dadaku yang mendadak sesak. 

Karena nyatanya di masa pandemi, ada makhluk hidup lain selain manusia yang juga berjuang hidup setiap harinya. Dan mungkin, lebih berat.

Aku masih ingat bagaimana informasi simpang siur yang beredar di grup Whatsapp dan media sosial yang menuding hewan peliharaan (apalagi liar telantar) sebagai perantara infeksi virus. 

Lalu, perlahan timbul beragam kasus pembuangan hewan oleh pemilik tak bertanggung jawab dan penyiksaan hewan oleh mereka yang ketakutan.

Streetfeeding kucing di jalanan kompleks depan rumah
Ditambah lagi, cerita salah satu aktivis tentang kondisi kucing dan anjing telantar yang kelaparan di tempat-tempat persinggahan transportasi umum seperti halte dan stasiun, karena mereka kehilangan orang-orang yang biasa memberi mereka makan tiap pergi dan pulang kerja.

Kondisi diperparah oleh banyak tempat makan yang jadi sumber utama makanan kucing dan anjing telantar sudah tutup satu persatu. 

Jika buka pun, tak ada orang yang makan di tempat sehingga tiada juga yang bisa berbagi sisaan pada mereka.

Streetfeeding keluarga kucing di pinggir jalan saat pulang ke rumah
Beragam fakta ini berhasil membawa batu besar yang menghantam kepalaku. 

Baru pertama kalinya sejak PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberlakukan di kotaku, aku merasa begitu tak berdaya sebagai manusia.

Seharusnya imbauan #dirumahaja tidak membuat kita lebih individualis, tidak sensitif, dan serba membatasi diri. 
Justru sebaliknya, mendorong kita untuk lebih kreatif mengeksplorasi cara lain dalam menebar kebaikan.
Bukankah pekerjaan tetap kita dilakoni, hanya berganti tempat. Begitu pula curhat bersama teman tetap dilakukan, hanya berganti cara komunikasi. 

Jika begitu, kebaikan berbagi pada hewan telantar yang kelaparan (streetfeeding) tetap dijalankan, hanya berganti cara.

Sejak itu, aku memilih tetap streetfeeding (berbagi makanan dan minuman layak dengan hewan di jalanan). Tapi, caranya saja yang sedikit berbeda:

  • Membawa botol berisi makanan kucing tipe kering (cat dryfood) di tas aku tiap kali keluar rumah untuk beli makan atau belanja kebutuhan pokok. Jadi, walaupun aku tak lagi bisa berkunjung ke tiap kompleks perumahan untuk streetfeeding, setidaknya aku berkesempatan berbagi pada kucing yang ditemui di sepanjang jalanan yang kulewati saat itu.
Menggantung botol Daily Cat berisi catfood
di ujung tas dan membawanya ke mana saja untuk streetfeeding saat ke luar rumah

  • Menyediakan wadah minuman dan makanan kucing di depan rumah untuk kucing telantar sekitar rumah yang biasanya mampir. Sesekali jika ada kucing telantar yang lewat depan rumah, sering kali juga kupanggil dan memancing mereka datang untuk makan. 

Menaruh tempat makan dan minum depan rumah
untuk kebutuhan kucing jalanan kelaparan
  • Mengajak teman-teman yang memang masih bekerja ke kantor dengan transportasi umum untuk menyempatkan diri streetfeeding di halte atau stasiun, menggantikan orang-orang yang biasa streetfeeding (tapi tidak ada lagi karena banyak yang sudah bekerja dari rumah).
  • Mendonasikan sedikit uang jajan untuk kebutuhan makanan kucing dan anjing di yayasan atau tempat penampungan hewan telantar.
  • Melakukan cuci tangan secara baik dan benar setiap kali sebelum dan setelah streetfeeding. Tak hanya untuk menjaga kebersihan makanan si kucing, tapi juga untuk keamanan diri.
  • Membagikan informasi hanya dari sumber yang benar. Karena Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) sudah merilis pernyataan resmi yang menyatakan bahwa hewan kesayangan tidak menyebar virus COVID-19. 

Mengajak seekor anak kucing masuk ke teras rumahku untuk makan #dirumahaja

Menebar makanan untuk kucing dan anjing jalanan kelaparan adalah caraku menebar kebaikan. 

Sepintas ini hanya tindakan sederhana, tapi bagi kucing dan anjing yang kelaparan, ini adalah tindakan luar biasa. Kecil tapi berdampak buat mereka. 

Karena mungkin saja, makanan layak yang kita bagi telah membantu mereka membangun harapan hidup hari itu.

Lagipula aku yakin, wabah bukan berarti kita lupa zakat dan sedekah, pandemi bukan berarti kita hilang peduli. Sebaliknya, ini momen yang menguji diri kita sebagai sejatinya manusia yang bernurani.

Teringat salah satu aktivis perlindungan satwa yang sempat berkata padaku, “Kalau kita tidur karena kekenyangan. Kucing atau anjing telantar di jalan saat ini tidur untuk menahan lapar.” 
Menyediakan tempat makan dan minum untuk kucing jalanan dekat rumah agar bisa
makan dan minum layak selama pandemi
Karenanya, gerakan berbagi makanan layak bagi satwa telantar di jalanan butuh peran kita bersama, tak cukup hanya aku saja.

Maka itu, maukah kita memulainya detik ini juga secara bersama-sama? 

Karena waktu terbaik menebar kebaikan adalah sekarang.


This entry was posted in

Monday, 15 April 2019

Ayo Streetfeeding: Cara Sederhana Berbagi pada Satwa Jalanan

“Verily, there is a heavenly reward for every act of kindness done towards a living animal.” – Nabi Muhammad SAW
Petang itu, aku menunggu bus di halte Slipi seperti biasa. Laju kendaraan yang tersendat-sendat jadi pemandangan sehari-hari, ditemani gerutuan orang-orang yang berkali-kali mengecek waktu lewat jam tangan. Semuanya tampak tidak sabar.

Tak ada yang lebih penting selain menit demi menit menuju kedatangan bus selanjutnya, sampai akhirnya aku mendengar lirih suara berisik dari balik tong sampah.  Ketika mencoba menengoknya, aku menemukan seekor anak kucing dengan bulu yang berdiri kaku – tampak kering sehabis tercebur air – dengan pandangan takut, tengah berusaha mencari sisa makanan. Sayangnya makanan yang diharapkan tidak ada, tapi ia tak kunjung menyerah. Anak kucing ringkih itu melompat ke mulut tong, ia melirik ke dalam untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa mengisi perut kosongnya. Namun, kucing itu justru terpeleset dan badannya jatuh ke dalam tong berisi sampah.
Ketemu anak kucing depan rumah, akhirnya diajak ke teras dan makan ikan kembung sachet-an
Sedikit panik, aku hendak menolong. Untungnya, si anak kucing berhasil menjatuhkan tong sampah sehingga ia bisa keluar dengan selamat. Kejadian selanjutnya begitu mengiris hati: si anak kucing mengeong keras, tanda kecewa tak menemukan apapun. Sekali lagi aku menatap mata polosnya yang seakan bicara: ia hanya mau makan. Sesuap makan untuk menyambung hidupnya hari itu.

Bus yang kutunggu sudah datang. Orang-orang di belakangku berebut masuk. Aku memilih mundur dengan pandangan nanar, keluar dari halte dan mencari warung nasi. Sepotong paha ayam utuh akhirnya kubelikan untuknya. Anak kucing itu memakannya dengan lahap. Bus-bus dengan beragam rute berhenti bergantian, tapi tidak ada satu pun yang kumasuki.

Aku masih di sana, menanti si anak kucing selesai makan. Setelah memastikan makanannya habis dan ia tak lagi kelaparan, aku baru bisa pulang ke rumah dengan lega. 
Pada momen itulah aku menyadari jika manusia bukan satu-satunya makhluk hidup yang berusaha untuk bertahan hidup setiap harinya.
Semenjak itu, pandanganku pada anjing dan kucing jalanan jadi berubah. Mereka bukan hewan domestik yang kebetulan tidak punya rumah dan hidup terlantar di jalan, tetapi keadaan sulit mereka akibat dari ketidakpedulian kita sebagai manusia. Aku merasa terusik, dan merasa perlu berbuat sesuatu.

Aku mulai mengikuti akun-akun penyelamatan satwa domestik untuk mengetahui bagaimana cara aku bisa berkontribusi. Dan, tahu jika persoalan ini kompleks. Kian bertambahnya populasi kucing dan anjing liar dikarenakan edukasi mengenai sterilisasi masihlah tabu. Banyaknya kasus penganiayaan terhadap satwa domestik bukan hanya disebabkan kurangnya empati dan simpati manusia sejak dini, tetapi juga lemahnya hukum undang-undang mengenai satwa di Indonesia.

Hampir putus asa? Rasanya, iya. Tapi bukan berarti jadi alasan menyerah. Karena kepedulian dimulai dari diri sendiri, sebab tindakan baik digerakkan dari kuatnya keinginan hati. Aku belajar mengulurkan tangan untuk satwa domestik terlantar (anjing dan kucing jalanan) dengan satu gerakan sederhana: berbagi.
Namanya “Ayo Streetfeeding”. Kita diajak memberi makan kucing dan anjing jalanan kelaparan yang kita temui. Aku mulai rutin mengikuti ajakan ini, hingga tiap pergi ke minimarket, rak yang akan kudatangi pertama kali adalah yang memajang makanan kucing dan anjing. Hingga aku pun punya petshop favorit yang sering kukunjungi. Hampir tiap bulan aku menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli stok makanan kucing dan anjing (lebih sering makanan kucing), dalam beragam merk. Biasanya aku memilih makanan basah kalengan yang akan kucampur dengan nasi, serta makanan kering kiloan sebagai snack-nya.
saat streetfeeding depan rumah

Ke mana saja aku membagikannya? Lingkungan paling dekat: sekitar kompleks rumahku sendiri. Awalnya sulit karena kucing dan anjing jalanan masih asing denganku. Namun, karena rutin dan gigih – perlahan aku berhasil mendapat kepercayaan mereka. Bahkan, mereka tak jarang menunggui depan pagar rumah hingga aku pulang kerja, selarut apa pun itu. Ketika melihat aku turun dari motor, kucing-kucing jalanan sekitar kompleks yang berada di seberang rumah atau tengah mengorek tempat sampah tetangga, berbondong-bondong lari menghampiri. Rasanya jadi punya gerombolan peliharaan tersendiri.

Kalau sedang tidak bawa makanan kucing atau anjing, biasanya aku menyisihkan sisa makanan yang masih layak mereka makan. Sesekali sehabis diberi makan, terutama anak kucing, sering kali menempelkan pipi mungilnya ke kakiku lalu menggesek-gesekkan kepalanya di sana. Seakan ingin berbisik, “Terima kasih.”

Seperti ada yang mengetuk dan menyentuh hatiku lembut sekali, aku menangis. Kupikir apa yang kulakukan hanyalah tindakan kecil, tapi tanpa disadari, itu berarti banyak dan luar biasa buat mereka. Mungkin, sepanjang hari mereka sudah mengemis makan di mana saja, mengais sisa makanan di tong sampah, dan tidak satu pun yang mereka dapatkan. Lalu ketika ada manusia yang sengaja berbagi makanan buat mereka, rasanya bagai kelegaan besar buat mereka, yang tak kita pahami.

Sejak itu, makna berbagi menjadi lebih luas di mataku. Ia tak melulu tentang manusia, tapi makhluk hidup. Dan, makhluk hidup berarti juga hewan. Aku memilih berbagi dengan caraku melalui streetfeeding.

banyak anak kucing yang sembunyi di balik tong sampah buat cari makan,
 jadi beraniin diri deketin sampah buat ajak mereka makan nasi ikan yang lebih layak

Banyak yang bilang, apakah aku tidak takut? Mereka adalah hewan-hewan gembel. Buatku tidak, mereka adalah makhluk hidup juga, ciptaan Tuhan, memberi kasih pada mereka adalah kewajiban yang sesekali dilupakan. Apakah aku tidak rugi? Jumlah mereka semakin lama semakin banyak, secara tidak langsung biaya makan untuk mereka juga bertambah. Buatku, tidak. 

Jika memang sedang tidak punya cukup uang, kita bisa memilih merk makanan kucing dan anjing yang lebih murah atau yang berjenis repack. Atau, kita hanya perlu menyisakan makanan sendiri – sedikit saja tidak membuat kita kelaparan seharian. Intinya adalah, mulai saja dulu, #JanganTakutBerbagi
Karena sudah satu setengah tahun sejak pertama kali aku melakukan streetfeeding, aku selalu merasa lebih bahagia tiap kali melihat kucing dan anjing jalanan bisa makan. Berbagi makan pada mereka seperti cara istimewa bagiku untuk menghilangkan stress. Bahwa berbagi tidak hanya selagi kita mampu, tetapi juga selama kita berniat mengusahakannya. Selalu ada cara dan jalan. Kita menemukan kekayaan tersendiri di tengah kekurangan kita ketika mulai berbagi. Aku semakin yakin kalau #SayaBerbagiSayaBahagia.
Ayo berbagi bersama dan buat hari jadi lebih berarti! Ini ceritaku, apa ceritamu?



This entry was posted in

Monday, 11 February 2019

Review Lengkap Novel #LESAP

Novel Lesap adalah novel soloku yang keempat. Berangkat dengan genre young adult, novel ini terbit di Falcon Publishing pada November 2018 lalu. Bagian paling menyenangkan setelah perilisan tentunya menerima kiriman foto dan ulasan dari teman-teman pembaca, serta bookstagrammer. Berikut ini aku merangkum kiriman dari teman-teman. Potretnya apik dan ulasannya menyeluruh. Suka!

1.      Review Splendid Words
foto: @splendidwords
“Bicara tentang masalah, kadang ia hadir bukan untuk diselesaikan secepatnya, tapi diterima jadi bagian hidup agar hidup lebih berwarna.” ―Lesap, Veronica Gabriella

Akhirnya selesai baca Lesap! Wah, gila, rasanya udah lama banget saya ga baca novel yang berhasil buat saya senyam-senyum gemes sendiri.  Lesap bercerita tentang kehilangan Khanza dan Mikel terhadap orang-orang yang mereka sayangi. Lesap sendiri, dalam KBBI 5 (iya, saya sampai ngecek sendiri saking keponya), memiliki arti "hilang; lenyap; lucut". Jadi, judulnya emang sesuai banget sama isinya.

Hal pertama yang saya suka dari Lesap ga lain dan ga bukan adalah KOVERNYA! Yup, saya sampe pake kapital saking gregetannya. Abisnya, kover Lesap benar-benar estetik dan bagus dan... ARGH, AUTO-BUY LAH POKOKNYA! ILUSTRASINYA ITU LHOOO KECE BANGET!  Saya yakin novel ini juga bisa jadi cover-buy kalian.


foto: @splendidwords

Lalu, ceritanya ternyata ga kalah kece dong! Saya bilang gini bukan karena saya kenal penulisnya, tapi karena ceritanya murni kece beneran! Saya suka permainan diksi Vero yang cukup puitis, membuat saya kepengin baca halaman selanjutnya lagi dan lagi. Udah gitu, Lesap ini juga agak kelam karena menyinggung isu self-harm. Aura kovernya emang rada menipu, ya.

OH, SAYA JUGA SUKA TOKOH UTAMANYA―Khanza dan Mikel. Waktu baru baca, saya suka banget sama karakter Khanza dan Mikel yang konsisten. Khanza konsisten sulit memercayai orang baru, Mikel konsisten ingin menjadi teman Khanza. Jadi kerasa banget gigihnya perjuangan Mikel dan enggannya Khanza percaya sama orang baru. Saya sering senyum-senyum kalo mereka lagi berdua. DAN PLOT TWISTNYA SEDIKIT DI LUAR EKSPEKTASI YA.

Namun, saya masih agak sering nemu saltik. Ga begitu ganggu sih untungnya, hehe. Selain itu, saya berharap endingnya bisa lebih dari 'itu' karena masih ada pertanyaan dalam benak saya yang ga kejawab. Bukan berarti endingnya jelek lho ya, soalnya saya suka juga kok. Namun secara keseluruhan, saya tetap puas baca Lesap.

Kalo kalian penyuka novel romansa yang bikin emosi kalian nano-nano, novel ini saya rekomendasikan buat kalian!


RATING: 4,3/5 !

2.      Review Rizky Mirgawati
"Siapa pun bisa punya masa lalu begitu buruk hingga ia sendiri tidak berani menengok kembali. Namun, selalu ada satu orang yang menerima dirimu dengan baik, menggenggam tanganmu untuk mengajakmu berdamai dan mengatakan kamu tak perlu khawatir. Saat itu terwujud, kamu menyadari bahwa Tuhan sedang mengirim seseorang untuk menemanimu dalam selamanya hidup: dia."

Lesap merupakan novel ketiga Kak Vero yang kubaca. Sebelumnya aku pernah membaca novel hasil kolaborasinya bersama penulis lainnya Time in a Bootle dan Lisa's Diary, namun Lesap ini berbeda.
Awalnya aku pikir kisah Lesap ini ringan dan sederhana tentang seseorang yang pernah kehilangan dan kemudian bertemu dengan seseorang yang membantunya berdamai dengan masa lalu. Nyatanya, kisah ini tak sesederhana yang kubayangkan.

Kalau hanya melihat covernya, novel ini terkesan manis, nyatanya novel ini akan membawamu ke perasaan yang campur aduk, membahagiakan sekaligus mengharukan disaat bersamaan.Karakter Khanza dan Mikel yang berbeda, membuat mereka saling melengkapi. Chemistrynya dapat banget. Aku benar-benar gak menyangka hubungan mereka begitu rumit sekali, plot twistnya cukup mengejutkan.
Isu yang diangkat juga tidak hanya tentang kehilangan, namun bagaimana pengaruh kehilangan itu terhadap seseorang itu bisa berbeda. Seperti Khanza yang memilih jalan berbeda.
foto: @rizkymirgawati
 Aku benar-benar tak bisa berhenti membaca, saking aku menikmatinya. Endingnya juga terasa realistis, walau aku yakin bisa lebih diperpanjang lagi. Membaca kisah Khanza dan Mikel, sebagai pembaca aku belajar untuk memahami bahwa kehilangan bagi setiap orang itu memiliki porsi yang berbeda-beda dan akan menimbulkan reaksi yang berbeda juga.
Ah, aku SUKA novel ini.

3.      Review Reindom Things
Impresi pertama ketika lihat novel ini adalah kover-nya cantik banget. Lalu, berkat beberapa review yang berseliweran di bookstagram aku pun memutuskan memiliki novel ini. Enggak hanya kover-nya saja yang keren, tapi ide ceritanya juga. Aku suka tema ceritanya.

Temanya tentang dua orang yang kehilangan orang kesayangan dan mencoba bangkit dari masa lalu itu. Novel ini juga melibatkan aksi kriminal perihal pembunuhan. Hal pertama yang terpikirkan setelah selesai baca novel ini adalah...

Kover dan tema ceritanya bagus, tapi eksekusinya kurang. Novel ini tipis; 240 halaman. Tipisnya novel ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan terhadap jalan ceritanya.


Kelebihannya:·         Novel ini fast-paced. Dengan tulisannya yang mengalir dan santai, novel ini bisa menjadi pilihan jika butuh bacaan cepat.·         Bahasanya enggak bertele-tele. Aku suka bagaimana penuturan penulis dalam menggambarkan suasana yang ada. Benar-benar mengalir!·         Romansanya manis dan enggak begitu drama. Kalau ada drama-drama dikit, yaudahlah ya. Namanya juga jatuh cinta.
foto: @reindomthings

Kekurangannya:
·         Karena fast-paced dan tipis, alur ceritanya dipercepat. Untuk novel yang temanya seperti ini, aku rasa 240 halaman kurang sih. Mungkin masalah antara Mikel dan Khanza selesai, tapi bagaimana dengan tokoh-tokoh sampingan yang andil? Jadi, terkesan konfliknya selesai dgn sedikit dipaksakan.
·         Padahal aku suka konfliknya, bikin deg-deg-an dan cukup mengejutkan. Sayangnya, kurang dieksekusi jadi agak kecewa sih karena selesainya begitu aja.
foto: @reindomthings
·         Perkembangan karakternya terkesan buru-buru. Enggak cuma perkembangan perasaan Mikel dan Khanza, tapi juga sifat para tokoh itu sendiri. Secara superfisial, aku bisa tahu bahwa Khanza itu 'kelam' dan Mikel pengertian. Tapi hanya sebatas itu. Selebihnya, aku kurang dapat sifat khas mereka.

Sekiranya itu saja yang bisa kusampaikan perihal novel ini. Meskipun memiliki kekurangan, aku tetap menikmati kisah Mikel dan Khanza ini. .

Ratingnya: 3/5

4.      Review Kailemra
"Lo tahu, Za? Hal-hal besar memang membuat kita mengingat sesuatu, tapi hanya bagian-bagian kecil dan sederhana yang bisa menjadikan seseorang merindukan sesuatu. Dan, itu yang terjadi pada gue sekarang." - Lesap, Veronica Gabriella

Setelah sekian lama gak baca novel remaja yang memang remaja banget, novel ini bikin aku kangen berat sama masa-masa smp, masa aku lagi gila-gilanya sama teenlit dan metropop. Novel ini sendiri berkisah tentang Khanza, yang karena kehilangan kedua orang tuanya, harus merantau ke Jakarta untuk tinggal bersama bibinya. Hal itu pun membawanya pada pertemuan dengan Mikel, seorang penyiar radio SKY FM yang sukses dengan acara curhat tengah malamnya.


Penggambaran karakter-karakter di buku ini menurutku sudah cukup kuat. Pembaca bisa benar-benar terbawa dengan emosi dan perasaan Khanza yang bisa dibilang cukup ekstrim (ada kasus self harm dan depresi yang diangkat di novel ini). Sedangkan pembawaan Mikel cenderung lebih santai dan terkesan fun. sebagai penyiar radio, porsi kebawelan Mikel menurutku sudah pas banget.
foto: @kailemra
Konflik yang ada di buku ini pun dapet banget: adegan manis, sedih, dan reka peristiwa masa lalu memegang peran penting dengan porsi yang seimbang. Twist yang terjadi di tengah cerita juga tidak terasa dilebihkan (tapi serius, ngagetin banget). Aku juga suka cara penulis merangkai kalimat, mengalir banget. Hanya saja, coba kalau endingnya sedikit "dilebihkan", pasti akan jadi lebih bagus lagi. dan jujur deh, covernya cakep banget gak sih? Suka!

Buat kalian yang suka cerita romance, buku ini boleh banget dicoba! Tambahan lagi, ada banyak banget quote yang super ngena, salah satunya kayak yang sudah aku kutip di atas. Hayo, siapa yang tertarik? 

5.      Review Emma Susanti
"Buat jadi bahagia dan enggak punya masalah bukan harus jadi anak-anak, melainkan melihat dunia lewat kacamata mereka. Gue percaya setiap orang punya anak kecil dalam diri mereka, yang ngebantu mereka buat melihat segala hal lebih sederhana dan punya jalan keluar."--hal 88, Lesap

Seperti masa lalu, luka membutuhkan waktu. Gak sampe nangis, tapi cukup berkaca-kaca baca ini. 

foto: @emma_susanti
Sakit yang dirasa Khanza bener-bener kerasa sampe bikin dada sesek. Tema cerita yang diangkat gak langka, sih. Cukup umum kalo bisa dibilang. Tapi penyampaiannya itu yang bikin gimanaa gitu. Gak nyesel beli deh!

6.      Review Yessie L Rismar
Saya suka banget sama cover Lesap ini. Paduan warna dan ilustrasinya benar-benar cantik! Setuju, nggak?

Bulan ini berarti sudah dua kali saya membaca novel bertema radio. Agak-agak mirip juga karena si penyiar membawakan acara curhat. Bedanya, di novel ini penyiarnya cowok.


Gaya bahasa Kak Vero yang mengalir bikin saya betah bacanya. Ditambah lagi bab yang disajikan pendek-pendek, jadi nggak terasa, tahu-tahu selesai. Saya suka konfliknya yang sekilas seperti sederhana, tapi ternyata rumit. Plotnya pun rapi.
foto: @yessielrismar

Ketika Mikel berusaha mendekati Khanza adalah momen yang jadi favorit saya di sini. Duh, betapa sabarnya cowok itu. Tapi, menurut saya endingnya kecepetan sih. Mungkin bisa ditambah beberapa bab lagi. Saya juga agak terganggu dengan flashback yang menggunakan format italic. Kalau ini teknis banget sih, ya. Hehe.


Kalau kamu, sudah punya LESAP? Yuk foto dan ulas novel LESAP, jangan lupa tandai aku untuk kemudian kurangkum dan kuunggah di blog ini. Kamu juga bisa beri bintang dan ulasan di Goodreads Terima kasih!

This entry was posted in