Friday, 12 November 2021

Ziarah Kecil

Ada banyak kalimat menyakitkan yang pernah ditujukan padaku. Mulai dari sosok guru les yang bilang kalau aku tidak akan bisa lolos UASBN, seorang teman kelasku yang mencibirku bodoh karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika, lelaki yang tidak mengizinkanku menumpang karena dianggapnya aku buruk rupa dan tidak pantas menaiki motornya, kakak kelas yang mengatai rambut keritingku sebagai brokoli berjalan, dan sejenisnya. 

Namun, pada suatu malam aku menyadari semua itu bukan apa-apa. Sebab aku menemukan ucapan yang tidak sekadar melukai, melainkan juga menghancurkanku: “Vero, ayo bangun. Papamu sudah enggak ada.”

Sumber: Pinterest

Malam itu sekitar pukul setengah dua. Ibu membuka lampu kamar dengan suara serak membawa kabar yang tak pernah terlintas sekalipun di benakku. Bayangan selama seminggu belakangan bersamamu mendadak berputar dalam kepalaku seperti kaset rusak, lalu perlahan menjelma godam besar yang menghantamku sampai lebam dari dalam. 

Semua memori tiba-tiba saja berlabel “yang terakhir”.

Sudah tepat setahun sejak kabar itu kudengar. Namun, rasa sakitnya masih segar seperti baru kemarin tertoreh. Aku tidak punya nyali melangkah masuk ke bioskop, tempat kita berdua menghabiskan sebagian besar waktu bersama di sana. Aku tidak benar-benar berani mengelilingi kota ini seorang diri, tempat kamu dan aku menuai cerita-cerita di tiap sudut-sudutnya - tepi pom bensin dengan sebungkus liang teh manis bagi dua, seporsi kroket telur-keju seharga sepuluh ribu dapat empat, hingga kios minum es kelapa di pinggir jalan raya. Kamu ingat itu semua di surga?

Aku berdiri di depan kalender dinding. Pada tanggal yang sama satu tahun lalu, kamu pergi dan tidak akan kembali. Dunia berjalan biasa seolah semua baik-baik saja dan tersisa aku yang tak pernah benar-benar seutuhnya menerima. 

Di ingatanku, kamu terlalu hidup untuk dibilang sudah tiada. 

Aku pun beranjak menuju warung rokok yang biasanya kamu kunjungi, rumah makan nasi padang yang kamu sukai, dan tempat-tempat kecil yang kamu datangi rutin setiap hari ketika kamu masih di sini. 

Itu ziarah kecilku untuk mengumpulkan apa-apa tentang kita yang bisa kuselamatkan agar tidak dihapus waktu dan ditelan kematian. Atau mungkin sesederhana, aku hanya sedang...rindu.

Selamat Hari Ayah. 

Tangerang, 12 November 2021

11.38

Monday, 12 July 2021

Tentang Aku yang Tidak Lagi Suka Nonton di Bioskop

Aku suka sekali menonton film apalagi jika dilakukan di bioskop. Nyaris semua hal-hal yang khas dari gedung teater film tersebut pasti kusukai. Mulai dari aroma popcorn, suara mesin minuman, pendingin ruangan lebih sejuk, pilihan musik latar, lorong tunggu berpenerangan teduh, hingga pengisi suara pengumuman yang populer itu. 

Saking sukanya, setiap pulang kuliah, magang, sampai kerja tahun pertama, aku selalu memilih berakhir pekan di sana. Pernah suatu tahun, daftar film paling diantisipasi habis kutonton satu per satu. Malam pergantian tahun ketika banyak orang memutuskan membakar jagung atau menyaksikan kembang api, aku justru mengurung diri di bioskop menonton sajian film tahun baru. Saat selesai sekitar pukul satu pagi, jalanan sudah lengang dan aku akan berhenti di gerobak tek-tek nasi goreng yang masih buka 24 jam.

Sumber foto: Boris Krstic, Flickr

Alih-alih bersama teman, sahabat, kerabat, apalagi pacar, aku melakukan kebiasaan favorit ini dengan papa. Kami punya ritual khusus sebelum menonton film yang selalu segar kuingat: memburu promo di aplikasi pembelian tiket, membeli roti kopi dan menyimpannya di tas untuk diselundupkan sebagai camilan nonton, memesan mi instan telur atau kentang goreng atau sundae atau boba sembari menunggu pemutaran film (kami paling suka memilih jam putar terakhir, sekitar jam 9 atau setengah 9 atau jam 10 atau lebih). 

Kebiasaan tersebut dilakukan rutin dan menahun. Perlahan menjelma momen yang kalau dikenang ulang selalu berhasil menghangatkan hati. Namun, segalanya berhenti setelah pandemi datang dan papa tak pernah lagi pulang.

Sejak itu, terjadi perubahan besar dalam hidupku. Aku punya ketakutan baru: pergi ke bioskop. Hal yang dulunya sangat indah untuk dilakoni justru begitu menyakitkan saat ini. Semesta berhasil melahirkan sesuatu yang begitu keras dan padat untuk menabrak batinku tanpa ampun. Rasanya seperti memiliki baju favorit saat kau kecil dulu, tapi saat kau paksa kenakan sekarang sudah tak lagi pas, sebaliknya baju itu menyekap tubuhmu bagai pelukan kasar dan kencang yang menyesakkan.

Untukku, pergi dan menonton film di bioskop adalah kengerian yang lebih hebat dibanding berangkat ke laut tempat papa dilarung saat sudah jadi abu. Aku tidak punya banyak kenangan tentang sungai dan laut, tapi aku menyimpan kegembiraan akhir pekan dan kehangatan cinta bersama papa di bioskop.

Aku tidak mungkin melangkah di lorong bioskop untuk memilih bangku kosong, mengantre tiket di loker, mampir ke toiletnya yang bersih, membeli camilannya yang mahal, dan lain-lain tanpa terluka, dihajar kenangan, dikoyak abis kesepian yang diam-diam membuatku tidak waras.

Bioskop bagiku bukan lagi tempat hiburan, melainkan ziarah. Berkas bayangan papa yang duduk di bangku tunggu sambil bermain Facebook atau gim daring menamparku habis-habisan. Berkas bayangan papa yang menepuk pundakku untuk pergi merokok sebentar di parkiran bioskop menggulungku dalam-dalam.

Papa telah pergi dan menyisakan kenangan yang penuh perlawanan untuk mempertahankannya tanpa babak belur. Menonton bioskop tanpa papa seperti menumbuhkan duri-duri kecil yang membunuhku dari dalam.  

Maka itu, aku mulai keranjingan aplikasi film streaming yang dulu aku bilang bikin lelah mata dan tidak menawarkan pengalaman menonton sepenuhnya. Tapi sekarang justru menyelamatkanku dari kesedihan-kesedihan yang terus memanjang tiada jeda.

- Tangerang, 16.40 pm

Ditulis sambil membayangkan aku dan papa ke luar bioskop sebagai penonton terakhir, lalu menikmati setiap langkah di mal gelap dan sepi menuju tempat parkir. Aku rindu asap rokok papa yang berkali-kali kukeluhkan menabrak wajahku. Aku rindu papa yang mengebut di jalan tengah malam. Aku rindu pria yang kupanggil papa tanpa gelar almarhum di depannya.

Friday, 4 June 2021

Bagian-bagian yang Telah Berubah

Aku tidak mahir menghadapi perubahan, sementara kata banyak orang kehidupan justru berjalan karena adanya yang berubah. Maka, di sinilah aku: duduk di tepi jalan kompleks perumahan menjelang petang, mengenakan pakaian jogging, membawa makanan kucing, dan membiarkan kesibukan berlalu lalang di depanku. Aku bergeming dan diam-diam merekam perubahan untuk kukabarkan padamu. 

Sumber foto: Running In The Night —  (tumblr.com)

Ini adalah bagian-bagian yang berubah sejak kamu pergi – aku sengaja mencatatnya dan memberitahumu supaya saat keajaiban datang yang memungkinkanmu pulang ke rumah, kamu tidak akan tertinggal tentang apa-apa saja yang tidak lagi sama.

Nasi uduk langgananmu di persimpangan Jl. Aster yang kamu bilang abang penjualnya ganjil karena baru memasak sehabis maghrib dan lauk pauknya siap sedia saat jelang pukul delapan malam, sudah tutup. Mungkin bangkrut akibat kebiasaan janggalnya itu. Siapa yang mau makan nasi uduk malam hari dengan jam buka sampai subuh? Ya, ada. Itu kamu – eh tidak, kita!

Tidak hanya tempat nasi uduk favoritmu saja yang berubah, tapi juga rumah makan vegetarian kesukaanku. Ia sudah tidak buka lagi dan berpindah untuk jualan dari rumahnya. Aku dan ibu harus bersusah payah mempelajari dan menghafal rute baru jika ingin tetap makan dari sana.

Gerobak keripik singkong yang letaknya di depan gedung tempat les bahasa Inggris saat aku kecil dulu, kini menjual sebungkus singkong goreng tipis sebesar enam ribu rupiah. Sudah naik seribu rupiah dari terakhir kali kamu mampir. Tahu bulat yang biasanya berkeliling tiap sore di kompleks juga tak lagi lewat depan rumah, begitu pun ibu-ibu Yakult bersepeda tak lagi berkunjung ke rumah kita untuk menawarkan jualannya.

Perubahan-perubahan kecil ini diikuti juga oleh yang besar-besar, asal kamu tahu. Giant akhir Juli nanti dikabarkan akan tutup total. Padahal, kita belum sempat belanja bulanan terakhir kalinya di sana. Orang yang selama ini membuatmu menggerutu di depan televisi, Menteri Kesehatan kita, sudah dicopot dan berganti orang. Aku belum sempat bertanya padamu bagaimana pendapatmu mengenai sosok baru ini, tapi kamu sudah memilih pergi terlebih dulu.

Oh, ada lagi. Sinetron yang sering kita tonton sebelum tidur juga sudah tamat. Beberapa tokoh antagonisnya berubah menjadi baik sebelum berakhir bahagia. Tokoh utama hidup damai dengan keluarga besarnya. Aku menontonnya sampai selesai untukmu.

Di samping itu semua, banyak kabar dari teman-temanku dan kamu yang juga berubah. Walau orang-orang bilang bukan ‘kabar perubahan’ melainkan ‘kabar terbaru’, buatku tetap saja yang baru mengandung ubah. Ibu dari salah satu sahabat sekolahku meninggal. Bapak penjual nasi uduk yang tidak terlalu kamu sukai dagangannya karena menurutmu terlampau mahal untuk nasi uduk topping jengkol seharga lima belas sampai delapan belas ribu, juga meninggal. Tetangga seberang rumah kita lebih sering menutup pagar pintu dibanding membukanya semenjak tahu kamu tak akan lagi berkunjung.

Sampai di sini dulu cicilan kabar perubahan yang kusampaikan padamu. Satu per satu agar kamu tidak terkejut betapa banyak yang berganti ketika kamu pergi dan aku masih di sini. Jangan tanya bagaimana rasanya menyaksikan perubahan-perubahan yang (lagi-lagi) kata orang, membentuk denyut kehidupan, tanpa kamu bersamaku. Sebab, apa yang berada di kedalamanku juga telah berubah.

Ada sisa-sisa kesedihan yang seberapa keras pun aku berusaha mengeluarkannya tetap saja gagal karena sudah mendekam di dada dan menjadi batu. Ini perubahan yang pasti dan abadi sejak kamu pergi.

Tangerang, 15.48 pm

Sunday, 23 May 2021

Kerinduan Membawaku Memimpikanmu Tanpa Koma

Kerinduan membawaku memimpikanmu selama tiga hari berturut-turut. Kamu mengajakku ke toko swalayan untuk memilih piyama berwarna biru kesukaanku. Kamu mengantarku ke tempat ibadah dan mengajariku cara bersembahyang untuk pertama kalinya. Kamu mengawasiku bermain di ruang tengah dan sesekali ikut bergabung. Masih banyak lagi dan satu yang pasti: dalam mimpi itu, kamu tidak pergi dan masih di sini. 

Sumber: We Heart It

Kupikir aku akan punya hobi baru: tidur. Sebab dengan begitu, aku bisa terus bermimpi karena hanya di sanalah aku bisa bertemu denganmu dalam sosok utuh dan mendekapmu erat seperti yang sudah-sudah.

Di dalam mimpi, kamu tidak merasa sakit apalagi mati. Mungkin selama ini kita telah salah. Mimpi bukan bunga tidur yang layu saat bangun, melainkan kehidupan nyata sesungguhnya. Di sana segala berjalan begitu ajaib dan bebas berfantasi. Setiap kemungkinan punya peluang untuk terjadi dan kamu bisa jadi apa serta siapa saja. Berbeda dengan semesta saat ini yang membatasimu lewat aturan-aturan tak kasat mata.

Namun, pada akhirnya kamu menganggapku hanya bercanda. Bagaimana tidak? Aku tetap terbangun sepanjang dan selama apa pun aku bermimpi. Lama kemudian aku menyadari mimpi-mimpi itu hanyalah cara ingatanku merawat kenangan tentangmu sekaligus mengobati kerinduan yang tersesat karena rumah tempatnya berpulang sudah pergi.

Tangerang, 12.54 pm – satu hari menuju ulang tahun papa

 

Cara (Tidak Jitu) Menangani Kepergianmu

Tidak ada orang yang benar-benar sembuh setelah kehilangan. Setidaknya itu yang kupelajari sesudah kamu pergi dan meninggalkanku sendiri bersama dunia yang terus berganti wajah setiap harinya. Aku tidak kuat, hanya dalam posisi bertahan untuk tidak ambruk ketika orang-orang mencoba membohongiku dengan berkata semua akan baik-baik saja. Mau tahu cara yang kulakukan untuk menangani ketiadaanmu? Sini, kuceritakan satu persatu.

Sumber: We Heart It

Aku memutar salah satu lagu dari grup musik tahun 90-an yang pernah kita nyanyikan nyaring saat tengah malam di kamar jelang tidur. Bedanya, kali ini aku melagukannya seorang diri. Tidak peduli tangga nada apalagi barisan lirik, yang penting aku bisa berteriak melalui lagu-lagu kita dulu dan membiarkan kesedihan berhamburan. Diam-diam aku menyimpan harap agar samar aku bisa mendengar suaramu ikut bernyanyi di awal lagu yang dimulai dengan bunyi pecahan kaca.

Aku mengirim pesan padamu hampir setiap hari. Bercerita padamu jika aku mendapat kiriman parsel kopi yang biasanya kubagi dua bersamamu, bapak RT masih menagih iuran dengan cara menyebalkan, warung makan favorit kita sudah tidak lagi buka, dan lain-lain. Di antara pesan-pesan yang selamanya tak akan terbaca itu, aku menyelipkan asa mungkin suatu saat nanti secara ajaib akan terbalas.

Aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan memandang langit-langit yang kosong. Biasanya aku akan membayangkannya sebagai kanvas untuk berkhayal segala kemungkinan-kemungkinan. Namun, kusadari kehidupan ini bukan plot novel yang memungkinkan aku sebagai tokoh utama bisa membuat kesepakatan dengan malaikat atau setan, dengan tuhan atau hantu, agar bisa menghidupkanmu lagi dengan jaminan tertentu. Kesempatan kedua tidak berlaku untuk hal semacam itu.

Dan, banyak cara-cara lainnya tapi tidak satu pun yang mampu membuatku memahami kamu pergi, tiada, dan membiarkanku menghadapi semesta yang tercipta tanpa buku manual. Kamu pergi dan sampai hari ini tidak ada cara yang benar-benar jitu untuk hidup tanpa merasa ganjil, tercerabut, dan pincang.

Tangerang, 12.32 pm – satu hari menuju ulang tahun papa 

Bagian-bagian yang Kutakuti dari Kehilangan

Setengah tahun berlalu sejak kamu pergi tanpa isyarat. Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis setiap hari. Namun, bukan berarti kesedihan selesai dituntaskan. Aku masih sering mampir ke kamarmu yang berlampu redup sekadar duduk di pinggir ranjang dan membayangkan kamu masih tidur di sana sembari menonton video musik favoritmu. Atau, setiap petang aku akan pergi ke halaman belakang tempat kamu mandi sore saat saluran air toilet mampat untuk mencari-cari aroma tubuhmu.  

Sumber: We Heart It

Kupikir bagian inilah yang paling kubenci dari kehilangan: hal-hal yang tadinya berupa rutinitas membosankan menjadi kepingan terpenting yang tiba-tiba ingin kamu ulang tapi sudah sia-sia.

Setengah tahun terlewati sejak kamu pergi tanpa aba-aba. Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis setiap orang lain bertanya tentangmu. Namun, aku menolak diri disebut kuat. Aku lebih suka dibilang sedang bertahan. Sebab sampai hari ini, aku hanya pembelajar yang masih sering gagal untuk membiasakan diri hidup tanpa sahutan-sahutanmu. Lebih tepatnya, aku masih mencari tahu cara mencapai ikhlas dalam formula yang benar-benar utuh.

Kupikir bagian inilah yang paling kutakuti dari kehilangan: aku terjebak sendirian di labirin yang penuh pengandaian-pengandaian tanpa jeda. Sementara dunia memaksaku menerima jika yang tersisa darimu hanyalah sepotong nama di KTP yang tidak lagi aktif atau tagihan token listrik yang masih belum berganti nama.

Setengah tahun terlalui sejak kamu pergi begitu saja. Aku masih gagal mengetahui cara untuk tidak menangis setiap mengeja namamu, melihat fotomu, menonton film bioskop, menaiki motor, melangkah di parkiran mal, mengelilingi kota, dan lain-lainnya yang kalau kusebutkan orang-orang akan tahu ternyata kedukaan begitu cerdas menyembunyikan diri di dalam aku yang hancur lebur.

Kupikir bagian inilah yang paling kuhindari dari kehilangan: melakukan segala hal seperti biasanya dan berkali-kali menemukan bahwa kamu memang sudah tidak lagi di sini. Setiap hari aku tidak berhenti diingatkan semesta jika kamu tidak akan pulang – tidak ada klakson tidak sabarmu agar aku membuka pagar, bau asap tembakaumu yang menganggu, gerutu-gerutuanmu terhadap negara, dan lain-lainnya yang kalau kukatakan satu persatu semakin menegaskan ketidakberdayaanku menghadapi kepergianmu.

Papa, kamu sudah tiada dan aku sibuk mencari cara melindungi diri dari ketidakwarasan.

Tangerang, 11.20 pm satu hari menuju ulang tahun papa

Saturday, 22 May 2021

Dunia dengan Segala Kehilangan di Dalamnya

Kemarin, aku bekerja sampai cukup malam di kota tetangga. Mobil berbasis pemesanan daring tidak kunjung datang dan membatalkan rencana perjalanan karena alasan akses macet. Akhirnya kuputuskan memilih motor agar mudah menyalip dan menembus padat kendaraan yang berjalan tersendat. Pilihan yang kemudian mengundang segala ingatan tentangmu. 

Sumber: Pinterest

Nyaris seluruh kenangan kita dimulai dari atas motor. Punggungmu yang dibalut jaket biru dongker kusam dari jok belakang adalah pemandangan rutin tiap pagi dan sore, sesekali malam. Kamu dan motormu selalu siap sedia mengantarku ke mana saja, menjemputku dari mana saja seperti pintu ajaib Doraemon.

Saat aku mendapat izin pertama kali dari ibu untuk menginap di rumah teman pada malam tahun baru. Besok paginya, kamu sudah melajukan motor untuk membawaku pulang. Ketika aku bersikeras ingin aktif di salah satu komunitas literasi pinggir kota, kamu mengajakku berkeliling dengan motormu untuk mencari alamat tempat komunitasnya bergiat. Pernah juga, aku memintamu datang karena waktu bekerjaku sudah usai tapi ternyata masih ada beberapa berkas yang perlu diselesaikan. Kamu tiba tepat waktu dan menunggu di seberang gedung sembari duduk di atas motormu.

Kamu selalu berhasil hadir di momen sederhana tapi penting. Setelahnya, percakapan kita sepanjang perjalanan menjelma diari tak kasat mata. Kita mengomentari orang-orang, memikirkan nanti malam makan apa, mengutuk kesialan-kesialan, hingga memilih film untuk ditonton pada akhir pekan dengan tiket setengah harga. Semua kita lakukan di atas motor karena hanya di atas kendaraan itulah, kita berdua tidak sibuk dengan ponsel masing-masing – aku tidak gila kerja dan kau tidak kecanduan media sosial.

Merah berpendar dari lampu lalu lintas sehingga motor asing yang kutumpangi memilih berhenti. Aku mengambil napas dalam dan mengunci sebentar laci kenangan tentangmu. Ingatan akanmu sudah terlalu basah hingga membuat mataku lembap.

Kamu pergi dan tidak pernah sehari pun seisi semesta absen untuk mengingatkanku padamu. Kamu sudah tiada dan aku tidak bisa apa-apa kecuali memeliharamu dalam kepala dan merawatmu sebagai kenangan.

Motor kembali melaju untuk menuntaskan perjalanan menuju rumah. Malam itu, aku melihat apartemen yang gedungnya begitu menjulang tinggi seperti ingin menusuk langit. Aku membayangkan bisa lompat dari motor dan memanjati balkon demi balkonnya untuk bertemu denganmu di atas sana. 

Namun, nyaring klakson menyadarkanku jika ini bukan dongeng ‘Jack dan Pohon Kacang’, melainkan dunia dengan segala kehilangan di dalamnya.

 - Tangerang, 15.41 pm, dua hari menuju ulang tahun papa

Saturday, 30 January 2021

Bagaimana Caraku Sembuh?

Bagaimana cara aku sembuh? Aku tidak terlalu menyukai pertanyaan ini, seakan-akan kehilanganmu adalah sebuah penyakit atau kelainan. Rasanya memang janggal – kau tiba-tiba pergi dan aku jadi pincang. Aku lebih suka menyebutnya, bagaimana cara aku hidup berdampingan dengan ketiadaanmu?

Jadi, dulu aku pernah ditinggal seorang nenek. Aku menangis sepanjang hari. Kuputuskan untuk pergi ke tempat ibadah yang kata orang-orang bisa melapangkan jalan roh menuju surga. Kuminta jemaat mengirim doa bersamaku malam itu, sepulangnya aku menulis berlembar-lembar halaman kenangan tentangnya.

Sumber foto: Favim

Jadi, dulu aku pernah ditinggal seorang pria. Aku menangis sepanjang malam hingga hanya ditemani denging panjang radio yang tak lagi ada siaran. Lalu, pada malam jelang subuh pada titik tersunyi itu, aku membuka asal halaman buku puisi yang kubacakan selantang-lantangnya. Berharap kesedihanku bisa keluar dan lesap bersamaan dengan puisi-puisi yang tenggelam karena tidak ada yang mendengar.

Jadi, dulu aku pernah ditinggal seekor anjing. Aku menangis sepanjang bulan. Pada malam-malam yang tidak pernah orang tahu, aku bangun dari tidur hanya untuk mengintip kendang kosong dari tirai gorden ruang tengah. Kata orang rumah aku setengah gila, kataku sedang mengobati kerinduan yang tak tahu cara tuntas. Setelahnya kuperingati kematian ke tiga puluh harinya dengan menulis majalah obituari.

Jadi, sekarang aku ditinggal olehmu. Aku melakukan kombinasi hal-hal yang kukira dulu berhasil mengisiku kembali, tapi anehnya kali ini tidak bekerja baik padaku. Apakah ada caraku yang salah? Apakah ada yang terlewat? Apakah perlu kulakukan ulang dengan lebih keras?

Atau mungkin…kau lebih dari sekadar seorang tua, kekasih, dan keluarga. Kau ayahku, bagian dari hidupku. Untuk itu, aku tak pernah tahu cara terbaik kehilanganmu atau hidup dengan …kehilangan itu.

Aku hanya punya cara hidup saat bersamamu, saat kau masih ada di sini; hidup. Sampai hari ini masih terasa nyata, Pa.

Ditulis sembari menikmati lantunan sunyi Bon Iver


Percakapan

Pagi ini kau bangun seperti biasa. Boneka Santa Claus masih tiga dan berbaris rapi di pinggir ranjang. Ibu sudah sibuk di dapur merebus sup sayur katuk seperti pesannya kemarin. Gorden kamar yang belum dibuka. Ponsel di samping bantal. Dan, kau masih bernapas. Semua baik-baik saja, tapi mengapa rasanya ada yang salah?

Sumber foto: Favim


Tanpa membasuh tubuh, kau mengambil jaket panjang berukuran besar dan memutuskan ke luar rumah begitu saja. Kaubilang pada ibu mau memberi makan kucing kompleks seperti yang sudah-sudah, padahal tidak kaubawa apapun di kantong.

Kau hanya berjalan dalam diam sepanjang pagi menuju siang. Di persimpangan kompleks, kau berhenti untuk duduk di bahu jalan yang sudah dibangun dengan bata bersemen tinggi yang kokoh. Lalu, kau mulai menggugat banyak hal.

“Menurutku, konsep kematian sangat tidak adil. Kita bukan hanya tidak tahu kapan mati, tapi juga tidak pernah tahu kabar seseorang yang sudah tiada. Apa yang dilakukannnya sekarang? Bagaimana kabarnya?”

Kau tak henti-hentinya menatap langit yang kata kau lebih mampu menyimpan rahasia daripada buku harian bergembok. Atau lebih tepatnya karena kau menganggap langit adalah nisan paling tepat bagi orang-orang yang meninggal, karena bukankah katanya masuk surga?

Kau masih gelisah.

“Kau tahu apa yang paling terasa tidak benar setelah kau kehilangan seseorang? Dunia di sekelilingmu berjalan seperti tidak terjadi apa-apa, sementara dunia di kedalaman dirimu hancur berantakan. Seolah-olah semesta tidak berduka atas apa yang menimpamu.”

Kau terdiam. Lama sekali sampai kukira kau tidak ada di sampingku. Lalu tiba-tiba kau mulai menangis.

“Saat ia pergi, baru kusadari rutinitas adalah bukti konsistensi darinya. Bukan bentuk kebosanan yang kukeluhkan. Bagaimana harus kujelaskan ini? Penyesalan?”

 

“Aku lebih suka menyebutnya kerinduan,” ujarku pada akhirnya.

 

“Kupikir Tuhan punya konsep kematian yang adil. Kita tidak diberi tahu kapan kita mati untuk menghargai siapa yang masih kita miliki hari ini. Kita tidak diberi tahu bagaimana kabar ia yang sudah berpulang agar kita tidak hidup dengan terus menoleh ke belakang.”

 

“Bumi masih berputar, fajar masih terbit, senja masih terbenam, bulan masih menjadi sabit dan kemudian Kembali purnama. Semesta berjalan semestinya untuk memberi tahu jika hidup kita masih perlu berlanjut.”

Tiba-tiba kau beranjak. Tidak menghirauku, berjalan begitu saja…

menembus tubuhku. 

Saat itulah kulihat para malaikat bernyanyi tapi tidak ada satupun yang terdengar oleh telingaku.

 

Thursday, 21 January 2021

Bagian-bagian yang Masih Sama

 

Dunia berjalan seperti biasanya, Pa. Kwetiau langganan kita tetap buka jelang maghrib. Ibu-ibu Yakult masih mengunjungi rumah kita setiap dua minggu sekali. Warung nasi padang favoritmu masih memberikan bonus es teh manis tiap Jumat. Kios kecil di pinggir jalan kompleks tempat kau membeli dua bungkus rokok yang kubilang akan membuatmu kanker tetap berjualan selama 24 jam.

Sumber foto: Pinterest

Tetangga seberang rumah masih memelihara burung-burung dan ikan cupang, serta sesekali membuka pagarnya untuk menjemur burung dan membilas akurarium ikan. Pos satpam di ujung kompleks masih sering diisi kelompok ronda bapak-bapak. Tukang cingcongfan dan tahu bulat keliling masih lewat di kompleks.

Apa? Kautanyakan kabar Mama? Mama masih seperti semula – sering mengoceh tentang menu makan setiap hari, menceramahiku mengenai keberadaan Tuhan dan surga-neraka, menyangkutpautkan banyak hal dengan klenik, dan lain-lain yang pasti kauhafal.

Kalau aku? Tetap kayak dulu. Aku masih bekerja di rumah dengan banyak keluhan dan niatan sama untuk bisa bekerja paruh waktu suatu saat nanti. Tetap streetfeeding sore seusai kerja. Undangan mengisi kelas dan seminar kepenulisan masih sering kuterima, termasuk memenuhi diri dengan proyek-proyek yang tak pernah usai. Aku jadi ingat, Pa. Kau dulu sering menegurku mengambil cuti bukan untuk jeda, melainkan justru mengerjakan proyek lain.

Semua masih sama, Pa. Hanya terasa tidak baik-baik saja.