Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Sunday, 27 August 2023

Pulang ke Rumah Masing-masing

Sudah hampir sebulan, apa kabar? 

Kami berubah dari rekan akrab dalam semalam menjadi orang asing yang pura-pura tidak kenal jika bertemu di supermarket kota. 

Aku dan dia kembali di tempat masing-masing, mengurusi pekerjaan yang bisa membuat hari jadi lebih pendek sekaligus panjang. 

Sumber: Getty Images

Walau sesekali aku masih menemukan dia di mana-mana - di kursi kosong dekat dinding kaca sebuah kedai kopi, di antara harum donat yang baru ke luar dari panggangan, dari teriakan barista memanggil namaku dengan keliru, di depan etalase kue yang membuatku kebingungan memilih, dan…inilah tempat aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. 

Dia mengenakan hitam, yang saat ini kupikir sangat cocok untuknya. Warna yang sama dengan manik matanya - hitam, bukan coklat, apalagi biru laut. Hitam sama seperti malam, tanpa bintang, bulan, atau awan. Hanya hitam - seperti ruangan tanpa lampu tempatku menyembunyikannya rapat-rapat dan merindukannya dalam diam. 

Sudah lewat sebulan, apa kabar? Kami berubah dari teman akrab dalam sehari menjadi kenalan jauh yang punya janji temu tapi tak pernah terwujud. Aku terus mengosongkan jadwal pada tanggal-tanggal tertentu, berjaga mungkin saja dia akan mengirim pesan untuk membahas apa-apa yang belum usai. 

Namun, nama dia tetap bergeming di urutan pesan masuk paling bawah. Sementara namaku hanya pernah terlintas di surat kontrak kerja yang dia siapkan. Selebihnya hanya mimpi-mimpi janggal dan pengandaian-pengandaian tentang…

pertemuan lebih awal

kesempatan-kesempatan lebih banyak

dan 

keberanian untuk bilang 

bisa jadi, 

aku jatuh cinta

Sudah lama sekali, apa kabar?  Tidak ada jarak yang dilipat dengan kami melihat bulan yang sama. Semesta sudah terang-terangan memberi tanda bahwa aku dan dia tidak dipertemukan untuk memiliki satu sama lain. Tapi, tenang saja. Nyatanya aku baik-baik saja, kuyakin begitu juga dengan dia. 

Dia - sering kali aku menyebut namanya pelan-pelan, lirih, dingin - seperti mengucapkan selamat tinggal pada orang yang sudah berjalan jauh dan tidak menengok lagi ke belakang. 

Friday, 28 July 2023

Kereta Malam dan Hal-hal yang Tidak Akan Kumiliki

Dalam sebuah perjalanan kereta jarak jauh, aku melihat lanskap gunung berganti cepat dari balik jendelaku yang kebetulan buram. Aku menyandarkan kepalaku, mengeluarkan ponsel dan memutar Banda Neira. Kini pemandangan sudah berganti hijau hamparan sawah. Tiba-tiba saja aku berpikir, rasanya seperti dia.

Sumber foto: Unsplash

Sejak dulu, aku percaya jika setiap orang hadir dengan tugas dan tujuannya masing-masing. Kamu di sampingku dan aku belajar cara mencintai. Dia dekat di sini untuk singgah dan ajarkanku cara melepas dengan utuh; tanpa setengah-setengah, tanpa ampun. Dan, karenanya, izinkanku bicara tentang dia - setidaknya untuk terakhir kalinya. 

Aku tidak pernah menemukan gambaran yang tepat untuk mendeskripsikannya. Kami hanya memiliki kurang dari tujuh hari. Tidak ada ruang, apalagi waktu, untuk berhasil. 

Semesta memaksaku memahami bahwa ada hal-hal yang tak akan jadi milikku. Dan, merawat apa yang tersisa adalah sebaik-baiknya yang bisa kulakukan, atau jika tidak, aku hanya menemui kehilangan.

Langit jingga mulai pekat. Malam sudah mampir dan aku belum juga sampai. Lalu, kupikir usaha coba-coba untuk mencintai dia seperti berjalan ke luar kamar di tengah malam.  Aku melangkah dalam diam, penuh hati-hati, khawatir menimbulkan bunyi dan membuat yang lain bangun - yang membuatmu tahu. Itu jalan yang sederhana, sebentar, tapi berbahaya. 

Beri aku satu kesempatan lagi untuk membayangkan dia sebelum aku menutup tulisan ini dan membiarkan semua yang kupunya untuk pergi. Dalam beberapa waktu, aku sering merasa dia mirip laut. Dia punya pandangan yang benar-benar teduh - sama ketika kita memandang jauh ke laut luas dan merasa tenang - sampai kupikir aku bisa berlindung di balik mata itu pada hari hujan. 

Tapi, sama seperti laut, sayang. Aku tak pernah benar-benar tahu apa yang ia simpan. Ombaknya penuh kejutan, dalamnya selalu mampu menenggelamkan. 

Menurutku, salah satu cara menikmati laut adalah diam memotretnya dalam ingatan, menyimpannya baik-baik, dan membukanya lagi ketika rindu. Itulah caraku memperlakukan sesuatu yang kusukai tapi tak mungkin kubawa pulang ke rumah. 

Perjalananku masih jauh. Apa yang ada di luar jendela sekarang sepenuhnya hitam, bintik-bintik cahaya dari lampu kota atau desa tampak seperti kunang-kunang. Kupikir ini waktunya aku mengakhiri bagian yang bahkan tidak sempat dimulai. Sebab, dia datang memang untuk kulepas sesegera mungkin, sebelum aku membunuh apa yang ada di antara kamu dan aku. 

Friday, 21 July 2023

Mencari Pintu Labirin

Sayang, beberapa bulan lalu aku menemui seorang lelaki di sudut kafe. Aku dengannya duduk bersisian dengan dinding kaca, membicarakan proyek panjang yang kupikir akan melelahkan tapi dia membuatnya terasa seperti permainan baru untuk kutaklukan. 

Credit: Getty Images/iStockphoto

Dalam banyak diskusi, pandangan-pandangannya mengingatkanku padamu. Dalam berbagai pertemuan dan perjalanan intens, keputusan-keputusannya terasa seperti kamu. Entah aku rindu kamu atau memang dia akan jadi kesalahanku. 

Sayang, terlalu dini untuk bilang aku mencintainya. Bagaimana harus kugambarkan ini? Rasanya seperti ada yang bilang padamu kalau bintang malam yang kita lihat di langit sebenarnya sudah lama mati. Padahal, nyatanya tidak. Bintang yang jaraknya masih bisa kita temui dalam mata telanjang, ia masih hidup. Kita hanya meyakini hal yang sama sekali salah - kuharap seperti itu. 

Saat ini, aku menaruhnya jauh di kedalaman diriku - bagian yang tak kujangkau, jika iya pun, adalah boks yang kukunci rapat. Tersembunyi darimu, juga dari kita. Jadi, jika kamu baca tulisan ini, jangan khawatir. Dia - seharusnya -  tidak akan mengusik kamu dan aku. Sebab tiada yang tumbuh, apalagi mulai. Aku menekannya kuat-kuat. Ia kupastikan mati sejak kutahu aku punya kamu. 

Sayang, kuakui dia menghantuiku dalam beberapa lagu yang kuputar. Dia tidak ada di sini - dan tak akan pernah, tapi bayangannya ketika bicara tentang dunia, impiannya, hingga pemikiran-pemikirannya terus berputar bagai kaset musik yang rusak. Rasanya seperti mengisi kekosongan di antara pertemuan kita yang jarang dan dingin. 

Suatu waktu kamu bilang, mencintaiku adalah jebakan. Kamu menjebak diri dalam labirin yang kamu sendiri tidak tahu di mana pintu ke luarnya, tapi kamu menikmatinya sebab kamu terkunci bersamaku. Kamu sukarela hidup dalam jebakan itu. Malam ini, tiba-tiba saja aku berpikir, mungkin kamu memang benar. Hanya saja, aku khawatir sekarang aku tengah berusaha mencari pintu itu. 


Wednesday, 19 July 2023

Kita dan Komidi Putar

Kita bertemu pada musim panas tujuh tahun lalu. Sejak itu, langit biru dan air hangat jadi ‘waktunya kita’. Namun, suatu hari hujan. Dinginnya diam-diam memasuki selimutku, menggelitik tengkuk, meningkahi tubuh seakan bermain-main. Ia datang bersama mendung yang penuh ragu, tapi bagiku justru terlihat seperti tebak-tebakan. Penuh petualangan.

Dan, secara rahasia ternyata aku menyukainya - hal yang tak kukatakan padamu. 


Photo by Alex Grodkiewicz


Hari ini, kamu datang dengan sekeranjang buah-buahan. Kita pergi ke tempat makan favoritku. Lalu, kubiarkan kamu memilih film untuk ditonton karena aku percaya kamu tahu apa yang kumau. Kata orang-orang, kamu memang musim panas. Kamu seperti matahari dengan agenda penuh kepastian.

Kamu adalah kebutuhan, sementara dia hanya keinginan - yang kusimpan rapat-rapat. 

Sayang, kamu pernah bilang keyakinanku ini konyol, bahwa saat Tuhan menciptakan perasaan cinta, Ia melakukannya sambil bermain dadu. Sebab jika tidak, bagaimana mungkin, aku sudah punya rumah lengkap dengan segala isinya, tapi aku memilih mencopot jendela-jendelanya dan membiarkannya terlihat ganjil dan pincang? Sekadar karena itu baru dan terasa seru. 


Akhirnya, aku mengajakmu duduk di sudut kedai. Kusampaikan ini dengan berani di hadapanmu. Menyayangimu adalah bagian paling mudah. Mencintainya ibarat bermain api - aku perlu hati-hati. Mencintainya seperti aktivitas merokok yang kamu benci. Ia merusakku dengan rapi dan tertib, aku mengetahuinya tapi kesulitan berhenti. Ia candu yang berbahaya, yang sebaiknya kujauhi sejak dini, tapi justru makin kulakoni. 


Bersamamu, aku mengarungi banyak kesempatan dan kemungkinan. Sementara bersamanya, hanya berupa pengandaian-pengandaian. Sebab dia adalah komidi putar. Menyenangkan tapi tidak ke mana-mana. Dia datang dari tempat yang sama sekali berbeda, singgah sebentar hanya sebagai ejekan semesta untuk mengujiku, apakah mencintai datang sepaket dengan kemampuan untuk bertahan? 


Kopi tinggi gula yang kamu pesan, mendadak sisa setengah dan tidak kamu seruput lagi. Ia mendingin sementara kedai memutar lagu yang tak kita sukai. Segalanya terasa mengganggu dan kita ingin sama-sama mengakhiri ini, tapi tidak tahu cara pergi satu sama lain. 


Kamu pun mencondongkan tubuh dan berbisik lirih. Kamu takut kamu telah terjebak. Aku terkekeh geli. Sementara aku takut jika kamu adalah pilihan semua orang, kecuali aku. 

Tuesday, 21 April 2020

Tetap Streetfeeding Selama Pandemi

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberinya makan, bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai." (HR. Bukhari)

Langit mulai memerah, menandakan hari sudah senja. Aku menutup layar laptopku setelah seharian bekerja dari rumah, lalu bersiap pergi membeli makan malam untuk ibu dan ayah. 

Sayangnya, pedagang nasi goreng favorit yang kudatangi sedang tutup. Aku pun memilih pulang dan berpikir untuk memasak sendiri.

Saat aku hendak memutar langkah, seekor kucing mendatangiku. Ia duduk dengan kepalanya yang menegadah padaku diikuti kemunculan dua ekor kucing lainnya yang mengeong keras dari balik gerobak nasi goreng yang gelap. 

Kupandangi sekali lagi kucing yang menghampiriku tadi: sorot matanya meminta dan berharap.
Berbagi makanan ke anak kucing yang tidur
di sela-sela pot dekat rumah
Lama akhirnya kusadari, mereka adalah gerombolan kucing telantar penunggu meja-meja pembeli nasi goreng. 

Kucing-kucing yang setiap hari ‘mengemis’ suwiran ayam untuk menyambung hidup.

Kalau aku pulang karena jualan tutup, kucing-kucing itu tidak. Mereka tetap setia menanti di sana sembari berharap meja-meja itu kembali ramai oleh orang-orang yang makan dan bersedia berbagi satu atau dua suwiran ayam untuk perut mereka yang sakit oleh lapar.

Hatiku perih, rasanya ada bagian dalam dadaku yang mendadak sesak. 

Karena nyatanya di masa pandemi, ada makhluk hidup lain selain manusia yang juga berjuang hidup setiap harinya. Dan mungkin, lebih berat.

Aku masih ingat bagaimana informasi simpang siur yang beredar di grup Whatsapp dan media sosial yang menuding hewan peliharaan (apalagi liar telantar) sebagai perantara infeksi virus. 

Lalu, perlahan timbul beragam kasus pembuangan hewan oleh pemilik tak bertanggung jawab dan penyiksaan hewan oleh mereka yang ketakutan.

Streetfeeding kucing di jalanan kompleks depan rumah
Ditambah lagi, cerita salah satu aktivis tentang kondisi kucing dan anjing telantar yang kelaparan di tempat-tempat persinggahan transportasi umum seperti halte dan stasiun, karena mereka kehilangan orang-orang yang biasa memberi mereka makan tiap pergi dan pulang kerja.

Kondisi diperparah oleh banyak tempat makan yang jadi sumber utama makanan kucing dan anjing telantar sudah tutup satu persatu. 

Jika buka pun, tak ada orang yang makan di tempat sehingga tiada juga yang bisa berbagi sisaan pada mereka.

Streetfeeding keluarga kucing di pinggir jalan saat pulang ke rumah
Beragam fakta ini berhasil membawa batu besar yang menghantam kepalaku. 

Baru pertama kalinya sejak PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberlakukan di kotaku, aku merasa begitu tak berdaya sebagai manusia.

Seharusnya imbauan #dirumahaja tidak membuat kita lebih individualis, tidak sensitif, dan serba membatasi diri. 
Justru sebaliknya, mendorong kita untuk lebih kreatif mengeksplorasi cara lain dalam menebar kebaikan.
Bukankah pekerjaan tetap kita dilakoni, hanya berganti tempat. Begitu pula curhat bersama teman tetap dilakukan, hanya berganti cara komunikasi. 

Jika begitu, kebaikan berbagi pada hewan telantar yang kelaparan (streetfeeding) tetap dijalankan, hanya berganti cara.

Sejak itu, aku memilih tetap streetfeeding (berbagi makanan dan minuman layak dengan hewan di jalanan). Tapi, caranya saja yang sedikit berbeda:

  • Membawa botol berisi makanan kucing tipe kering (cat dryfood) di tas aku tiap kali keluar rumah untuk beli makan atau belanja kebutuhan pokok. Jadi, walaupun aku tak lagi bisa berkunjung ke tiap kompleks perumahan untuk streetfeeding, setidaknya aku berkesempatan berbagi pada kucing yang ditemui di sepanjang jalanan yang kulewati saat itu.
Menggantung botol Daily Cat berisi catfood
di ujung tas dan membawanya ke mana saja untuk streetfeeding saat ke luar rumah

  • Menyediakan wadah minuman dan makanan kucing di depan rumah untuk kucing telantar sekitar rumah yang biasanya mampir. Sesekali jika ada kucing telantar yang lewat depan rumah, sering kali juga kupanggil dan memancing mereka datang untuk makan. 

Menaruh tempat makan dan minum depan rumah
untuk kebutuhan kucing jalanan kelaparan
  • Mengajak teman-teman yang memang masih bekerja ke kantor dengan transportasi umum untuk menyempatkan diri streetfeeding di halte atau stasiun, menggantikan orang-orang yang biasa streetfeeding (tapi tidak ada lagi karena banyak yang sudah bekerja dari rumah).
  • Mendonasikan sedikit uang jajan untuk kebutuhan makanan kucing dan anjing di yayasan atau tempat penampungan hewan telantar.
  • Melakukan cuci tangan secara baik dan benar setiap kali sebelum dan setelah streetfeeding. Tak hanya untuk menjaga kebersihan makanan si kucing, tapi juga untuk keamanan diri.
  • Membagikan informasi hanya dari sumber yang benar. Karena Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) sudah merilis pernyataan resmi yang menyatakan bahwa hewan kesayangan tidak menyebar virus COVID-19. 

Mengajak seekor anak kucing masuk ke teras rumahku untuk makan #dirumahaja

Menebar makanan untuk kucing dan anjing jalanan kelaparan adalah caraku menebar kebaikan. 

Sepintas ini hanya tindakan sederhana, tapi bagi kucing dan anjing yang kelaparan, ini adalah tindakan luar biasa. Kecil tapi berdampak buat mereka. 

Karena mungkin saja, makanan layak yang kita bagi telah membantu mereka membangun harapan hidup hari itu.

Lagipula aku yakin, wabah bukan berarti kita lupa zakat dan sedekah, pandemi bukan berarti kita hilang peduli. Sebaliknya, ini momen yang menguji diri kita sebagai sejatinya manusia yang bernurani.

Teringat salah satu aktivis perlindungan satwa yang sempat berkata padaku, “Kalau kita tidur karena kekenyangan. Kucing atau anjing telantar di jalan saat ini tidur untuk menahan lapar.” 
Menyediakan tempat makan dan minum untuk kucing jalanan dekat rumah agar bisa
makan dan minum layak selama pandemi
Karenanya, gerakan berbagi makanan layak bagi satwa telantar di jalanan butuh peran kita bersama, tak cukup hanya aku saja.

Maka itu, maukah kita memulainya detik ini juga secara bersama-sama? 

Karena waktu terbaik menebar kebaikan adalah sekarang.


This entry was posted in

Monday, 15 April 2019

Ayo Streetfeeding: Cara Sederhana Berbagi pada Satwa Jalanan

“Verily, there is a heavenly reward for every act of kindness done towards a living animal.” – Nabi Muhammad SAW
Petang itu, aku menunggu bus di halte Slipi seperti biasa. Laju kendaraan yang tersendat-sendat jadi pemandangan sehari-hari, ditemani gerutuan orang-orang yang berkali-kali mengecek waktu lewat jam tangan. Semuanya tampak tidak sabar.

Tak ada yang lebih penting selain menit demi menit menuju kedatangan bus selanjutnya, sampai akhirnya aku mendengar lirih suara berisik dari balik tong sampah.  Ketika mencoba menengoknya, aku menemukan seekor anak kucing dengan bulu yang berdiri kaku – tampak kering sehabis tercebur air – dengan pandangan takut, tengah berusaha mencari sisa makanan. Sayangnya makanan yang diharapkan tidak ada, tapi ia tak kunjung menyerah. Anak kucing ringkih itu melompat ke mulut tong, ia melirik ke dalam untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa mengisi perut kosongnya. Namun, kucing itu justru terpeleset dan badannya jatuh ke dalam tong berisi sampah.
Ketemu anak kucing depan rumah, akhirnya diajak ke teras dan makan ikan kembung sachet-an
Sedikit panik, aku hendak menolong. Untungnya, si anak kucing berhasil menjatuhkan tong sampah sehingga ia bisa keluar dengan selamat. Kejadian selanjutnya begitu mengiris hati: si anak kucing mengeong keras, tanda kecewa tak menemukan apapun. Sekali lagi aku menatap mata polosnya yang seakan bicara: ia hanya mau makan. Sesuap makan untuk menyambung hidupnya hari itu.

Bus yang kutunggu sudah datang. Orang-orang di belakangku berebut masuk. Aku memilih mundur dengan pandangan nanar, keluar dari halte dan mencari warung nasi. Sepotong paha ayam utuh akhirnya kubelikan untuknya. Anak kucing itu memakannya dengan lahap. Bus-bus dengan beragam rute berhenti bergantian, tapi tidak ada satu pun yang kumasuki.

Aku masih di sana, menanti si anak kucing selesai makan. Setelah memastikan makanannya habis dan ia tak lagi kelaparan, aku baru bisa pulang ke rumah dengan lega. 
Pada momen itulah aku menyadari jika manusia bukan satu-satunya makhluk hidup yang berusaha untuk bertahan hidup setiap harinya.
Semenjak itu, pandanganku pada anjing dan kucing jalanan jadi berubah. Mereka bukan hewan domestik yang kebetulan tidak punya rumah dan hidup terlantar di jalan, tetapi keadaan sulit mereka akibat dari ketidakpedulian kita sebagai manusia. Aku merasa terusik, dan merasa perlu berbuat sesuatu.

Aku mulai mengikuti akun-akun penyelamatan satwa domestik untuk mengetahui bagaimana cara aku bisa berkontribusi. Dan, tahu jika persoalan ini kompleks. Kian bertambahnya populasi kucing dan anjing liar dikarenakan edukasi mengenai sterilisasi masihlah tabu. Banyaknya kasus penganiayaan terhadap satwa domestik bukan hanya disebabkan kurangnya empati dan simpati manusia sejak dini, tetapi juga lemahnya hukum undang-undang mengenai satwa di Indonesia.

Hampir putus asa? Rasanya, iya. Tapi bukan berarti jadi alasan menyerah. Karena kepedulian dimulai dari diri sendiri, sebab tindakan baik digerakkan dari kuatnya keinginan hati. Aku belajar mengulurkan tangan untuk satwa domestik terlantar (anjing dan kucing jalanan) dengan satu gerakan sederhana: berbagi.
Namanya “Ayo Streetfeeding”. Kita diajak memberi makan kucing dan anjing jalanan kelaparan yang kita temui. Aku mulai rutin mengikuti ajakan ini, hingga tiap pergi ke minimarket, rak yang akan kudatangi pertama kali adalah yang memajang makanan kucing dan anjing. Hingga aku pun punya petshop favorit yang sering kukunjungi. Hampir tiap bulan aku menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli stok makanan kucing dan anjing (lebih sering makanan kucing), dalam beragam merk. Biasanya aku memilih makanan basah kalengan yang akan kucampur dengan nasi, serta makanan kering kiloan sebagai snack-nya.
saat streetfeeding depan rumah

Ke mana saja aku membagikannya? Lingkungan paling dekat: sekitar kompleks rumahku sendiri. Awalnya sulit karena kucing dan anjing jalanan masih asing denganku. Namun, karena rutin dan gigih – perlahan aku berhasil mendapat kepercayaan mereka. Bahkan, mereka tak jarang menunggui depan pagar rumah hingga aku pulang kerja, selarut apa pun itu. Ketika melihat aku turun dari motor, kucing-kucing jalanan sekitar kompleks yang berada di seberang rumah atau tengah mengorek tempat sampah tetangga, berbondong-bondong lari menghampiri. Rasanya jadi punya gerombolan peliharaan tersendiri.

Kalau sedang tidak bawa makanan kucing atau anjing, biasanya aku menyisihkan sisa makanan yang masih layak mereka makan. Sesekali sehabis diberi makan, terutama anak kucing, sering kali menempelkan pipi mungilnya ke kakiku lalu menggesek-gesekkan kepalanya di sana. Seakan ingin berbisik, “Terima kasih.”

Seperti ada yang mengetuk dan menyentuh hatiku lembut sekali, aku menangis. Kupikir apa yang kulakukan hanyalah tindakan kecil, tapi tanpa disadari, itu berarti banyak dan luar biasa buat mereka. Mungkin, sepanjang hari mereka sudah mengemis makan di mana saja, mengais sisa makanan di tong sampah, dan tidak satu pun yang mereka dapatkan. Lalu ketika ada manusia yang sengaja berbagi makanan buat mereka, rasanya bagai kelegaan besar buat mereka, yang tak kita pahami.

Sejak itu, makna berbagi menjadi lebih luas di mataku. Ia tak melulu tentang manusia, tapi makhluk hidup. Dan, makhluk hidup berarti juga hewan. Aku memilih berbagi dengan caraku melalui streetfeeding.

banyak anak kucing yang sembunyi di balik tong sampah buat cari makan,
 jadi beraniin diri deketin sampah buat ajak mereka makan nasi ikan yang lebih layak

Banyak yang bilang, apakah aku tidak takut? Mereka adalah hewan-hewan gembel. Buatku tidak, mereka adalah makhluk hidup juga, ciptaan Tuhan, memberi kasih pada mereka adalah kewajiban yang sesekali dilupakan. Apakah aku tidak rugi? Jumlah mereka semakin lama semakin banyak, secara tidak langsung biaya makan untuk mereka juga bertambah. Buatku, tidak. 

Jika memang sedang tidak punya cukup uang, kita bisa memilih merk makanan kucing dan anjing yang lebih murah atau yang berjenis repack. Atau, kita hanya perlu menyisakan makanan sendiri – sedikit saja tidak membuat kita kelaparan seharian. Intinya adalah, mulai saja dulu, #JanganTakutBerbagi
Karena sudah satu setengah tahun sejak pertama kali aku melakukan streetfeeding, aku selalu merasa lebih bahagia tiap kali melihat kucing dan anjing jalanan bisa makan. Berbagi makan pada mereka seperti cara istimewa bagiku untuk menghilangkan stress. Bahwa berbagi tidak hanya selagi kita mampu, tetapi juga selama kita berniat mengusahakannya. Selalu ada cara dan jalan. Kita menemukan kekayaan tersendiri di tengah kekurangan kita ketika mulai berbagi. Aku semakin yakin kalau #SayaBerbagiSayaBahagia.
Ayo berbagi bersama dan buat hari jadi lebih berarti! Ini ceritaku, apa ceritamu?



This entry was posted in

Thursday, 23 August 2018

Pergi Bermain dengan Teman yang Hanya Bisa Kau dan Aku Lihat


Kita masih mengelilingi kota seusai menonton film yang kubilang berhasil mengajak anak kecil dalam diriku untuk keluar dan bermain. Jalanan lenggang, di pinggiran hanya tersisa satu-dua gerobak jajanan pasar berlampu minyak yang masih menyala. Pintu-pintu pertokoan tertutup rapat, digantungi sampah plastik yang berusaha diraih kucing-kucing jalanan yang masih kelaparan. Aku membungkus pandanganku dan mengalihkannya pada kau yang masih menyetir. Bagaimana kau saat kanak-kanak?
sumber foto: Favim.com

Kau melirikku dari sudut mata. Tak menjawab. Kau hanya menepi ke arah gerobak yang menjual telur gulung. Kita turun. Kau memesan dua porsi dan aku menarik bangku plastik yang ditumpuk dua. Kita duduk menghadap sebuah gedung kuliner yang tubuh putihnya mengelupas dan papan-papan nama restorannya menghitam.
“Aku saat kanak-kanak? Bertanya kenapa bulan mengikuti kemana pun aku pergi. Kenapa pohon-pohon di pinggir jalan tampak berlari ke belakang tiap kali mobil yang kutumpangi melaju cepat. Bangun pagi di hari Minggu demi kartun-kartun subuh, sebelum kemudian tertidur kembali jelang makan siang. Mengupil dan menempeli tumpukan upil ke baju mama. Mengisi kardus kosong hingga cukup kuat untuk kulompati sebagai superman. Menyukai dongeng tentang kelinci yang suka buang besar dan kotornya menggunung. Menjahili anjing tetangga. Bagaimana denganmu?”
Kau tertawa kecil. Lalu beranjak mengambil dua porsi telur gulung hangat yang sudah selesai. Kau celupi dengan saos cabai  yang banyak. Cerita kau mengingatkanku pada aku kecil dulu dan aku sekarang – ada jarak yang begitu jauh dan waktu yang tampak lama hingga aku merasa asing pada diri sendiri.

Aku mengoleksi ratusan boneka, percaya mereka semua hidup. Dan, aku berbicara pada mereka. Aku mengumpulkan daun kering, memetik bunga liar, dan mengambil sisa-sisa sayuran tak terpakai, meraciknya jadi makanan lezat bak tukang nasi langganan. Aku jajan banyak cemilan hanya untuk mengumpulkan kartu-kartu hadiah. Aku menggambar tokoh-tokoh kartun dan menggandakannya di tukang fotokopi, menjilidnya jadi buku mewarnai. Aku –

“...melakukan hal-hal yang bisa kau tebak, tak bisa lagi kulakukan sekarang.”

Dadaku sesak. Kau meraih tanganku.


“Kau tahu bagian apa yang paling kusuka dari Christopher Robin?”
Aku menggeleng.
“Percakapan Robin dengan Pooh di akhir cerita. Ketika Pooh bertanya, ‘ini hari apa?', dan Robin berpikir sejenak sebelum menjawab, ‘hari ini, Pooh’. Lalu, Pooh semringah, ‘Aku suka hari ini, karena sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’.”
Kau menghabiskan tusuk terakhir telur gulungmu. 
“Percakapan itu seakan bicara padamu, hal terbaik ketika menjalani hari adalah kau menjalani hari ini tanpa berpikir soal hari esok. Kau hadir sepenuhnya sekarang. Kupikir itu yang dilakukan setiap hari oleh anak-anak. Dan, salah satu yang masih bisa kau dan aku lakukan.”
Malam itu, kau dan aku tidak pulang. Lupa hari itu hari apa selain hari itu sendiri. Kita sepakat jadi anak-anak yang membohongi mama-papa akan segera tidur, tapi ketika sakelar lampu dimatikan, kita menyibak selimut dan melompati jendela kamar untuk mulai bertualang bersama teman yang hanya bisa kau dan aku lihat.

This entry was posted in

Friday, 29 December 2017

Sayang, Ada Bagian Dari Diriku yang Tak Pernah Rapi Kususun

Aku duduk di ujung kasur, bersebelahan dengan jendela berkaca buram akibat embun dan sisa rintik gerimis yang mengering di sana tanpa sempat kubersihkan. Kulempar ponsel ke atas nakas dan mematikan koneksi jaringan. Terlampau banyak mulut-mulut yang berebut mengambil tempat, sedangkan layar ponselku tak pernah punya cukup ruang – alhasil mereka menempeli sekujur tubuhku lalu menelanjanginya, lantas membuat siapapun berpikir: kamu tidak lagi butuh tayangan infotainment ketika sudah memiliki media sosial. Kamu dan aku bisa kapan pun naik panggung. Ponsel itu masih bergetar. Aku beranjak. 
sumber foto: wisegag.com
Belakangan aku merasa berantakan, seperti ada bagian dari kedalaman yang tak pernah rapi walau sudah disusun berulang kali. Kehilangan masih mengisi segar di rongga dadaku. Dua proyek yang menungguku masih berdebu di atas meja kerja. Panggilan-panggilan mulai berhenti kujawab. Ajakan bertemu pelan-pelan kutepis. Janji-janji yang kubiarkan berserakan dan tak kutepati. Aku mendongakkan kepalaku – kembang api di mana-mana, tahun baru sebentar lagi menyapa hai, namun aku selalu merasa bagai dipeluk selamat tinggal. Aku terbayang seseorang dengan busa kopi yang tidak sengaja tertinggal di pucuk hidungnya. Kemudian, aku memeluk pulang diri sendiri.
Sudah lebih dari tiga bulan aku menghentikan kebiasaan membaca puisi keras-keras pada seperempat malam – salah satu caraku memberi terapi pada bagian-bagian dari diriku yang menolak damai. Tapi aku masih ingat barang satu kalimat yang bicara soal hal-hal yang diselindung rapat orang-orang dan menyebutnya: rahasia. Katanya, ia adalah doa yang minta diampuni dari kerinduan. Buatku, adalah sesederhana jawaban baik-baik saja.

Semuanya terasa janggal ketika aku berdiri terlalu dekat dengan tahun yang sebentar lagi sekarat. Obituari yang terlalu cepat, kesedihan yang terasa begitu melekat, ciuman-ciuman yang berubah sepat, dan mendadak sepi begitu gaduh meminta dekat. Kamu tahu, langit malam seakan runtuh dan gelapnya begitu pekat  memangsaku dari dalam. Aku lupa caranya menjadi hangat.

Aku kembali ke kamar. Menarik selimut tidur hingga sedagu. Kuhidupkan radio peninggalan marhum kakekku. Sepotong lagu hits dari penyayi solo laki yang kupikir seksi, melantun memecah sepi yang tak mau menamatkan diri. Aku teringat benam senja di lantai tiga gedung kampusku, siluet seorang pria yang duduk di bahu jendela kamar apartemen seraya menelisik pandang pada pantulan cahaya matahari jelang petang, dan surat-surat sore dari orang asing yang tak pernah memberikan alamat balasannya. Aku pun terlelap, bermimpi menemukan peta harta karun yang tidak membawaku kemana-mana.

Aku terbangun menjelang subuh – keringat memandikan tubuhku dan aku menyadari sesuatu di pinggir pagi yang masih perawan. Kau pun tahu: ini tulisan yang jumpalitan melompati pikiranku ke pikiranmu, lalu seterusnya begitu. Dan ia menikmati dirinya yang sesekali tak memiliki tujuan, sebab orang-orang sekali saja butuh tersesat untuk kemudian menemukan.

catatan
: akhir-akhir ini aku merasa begitu berantakan, ada kegaduhan di kepalaku yang menolak diam bersamaan dengan angka-angka tenggat yang menghantuiku tiap malam, ditambah suara-suara orang di luar sana yang melebihi volume keras lagu dangdut tetanggaku yang diputar hampir tiap sore, dan pada ujung hari, aku menyadari aku berputar-putar pada kehilangan dan kesedihan yang tak kuketahui asalnya dari mana, tapi tumbuh subur seperti kenangan buruk yang kusiram dan kupupuki terus-terusan di belakang rumah
This entry was posted in

Friday, 4 August 2017

Tentang Berita Obituari yang Kau Gunting Dari Koran Kemarin Dan Kau Kliping

Belakangan ini sejak sebulanan lalu, aku menua di sepanjang Slipi-Tanah Tinggi. Aku menggantung kepulanganku pada halte berlantai seng kotor, tempat kucing-kucing liar memilih tidur seraya menciumi tas orang-orang yang sekiranya cukup iba untuk memberi mereka makan. Aku meletakkan keberangkatanku pada halte setengah jadi, tempat bus-bus kosong menunggu orang-orang menemani kesepian di dalamnya. Lalu hampir setiap hari aku melakukan perjalanan yang memanjang karena kemacetan, yang memendek oleh pikiran-pikiran yang mampir mengajak bicara. Sesekali bentuknya pertanyaan yang mendesak dicari jawabannya di antara desak orang yang bersikeras masuk walau tubuh bus sudah begitu penuh, decak orang yang tak dapat bangku, depak orang yang meminta ruang lebih luas; tidak pernah mudah. Sedangkan kau dan aku tahu, semesta punya kegemaran membubuhi tanda tanya pada banyak hal tanpa menyediakan jawabannya. 
sumber gambar: http://www.visit-petersburg.ru/

hampir belasan tahun, aku mengingatnya tak pernah absen dari sesal-sesal yang masih menolak hangus. bagaimana caranya bebas mengikuti hati tanpa terbawa menuju tempat aku kehilangannya?

Aku membenarkan posisi tasku yang terasa begitu berat ketika kauberdiri di dalam kendaraan besar yang kelelahan tapi lupa caranya istirahat di tengah kota yang tak pernah tidur. Sesekali mencari hiburan kecil mengintipi isi pesan singkat yang dipertukarkan orang-orang yang masih melongok layar kaca ponsel di mana dan kapan pun sekeliling menjepitnya. Atau mencuri dengar radio yang hidup tak mampu mati pun segan yang terputar dengan sedikit sekali daya. Atau menerka mana orang yang berpura terlelap agar tak dipilih petugas untuk bangun memberi tempat. Tiba-tiba saja aku teringat dia yang menggunting obituari dari kertas koran kemarin malam, lalu mengklipingnya bagai koleksi jurnal ilmiah yang disusunnya sedemikian rapi. Kutengok pemandangan di luar jendela yang berlari menjauhi laju bus, kautahu sampai di titik ini aku menemukan jika manusia memiliki hobi menyimpan apa-apa yang menyakiti mereka.

aku selalu merasa sempit, kau tahu – disesaki tanggung jawab yang sekarang meminta jadi nomor satu, kenangan-kenangan yang sudah teronggok jadi sampah sekaligus saksi atas kebodohan dulu-dulu. tapi, memikirkannya membuatku selalu cukup luas untuk memberinya tempat. bagaimana kau sanggup hidup hanya memilikinya sebagai masa lalu?

Kenek bus membelah jalan yang dipenuhi gelantungan kepala orang dengan mata jatuh di atas layar. Berjalan tak peduli dengan permisi yang bagai cicit tikus yang tak kedengaran sebelum akhirnya terlindas ban mobil pada pertengahan malam. Berbicara kemudian dengan sang supir sebelum kemudian kembali dan mengumumkan pemberhentian bus yang berubah rute. Aku diturunkan pada halte asing yang lenggangnya terasa ganjil. Mendadak aku lupa alamat rumahku, bagaimana cara pulang. Dan teriakan kehilangan mendadak terdengar begitu nyaring.

dia adalah bukti aku pernah mencintai seseorang begitu dalam hingga tenggelam dan tak tahu cara berenang dengan benar agar semuanya selamat di permukaan. bagaimana kau menjalani setiap hari dengan ingatan yang terus memberi tahu kau sebenarnya adalah sudah mati?

Seseorang asing menghampiriku dengan sepeda motornya. Dia berhenti sejenak, kupikir hendak menjemputku. Namun tidak, dia hanya mendekat menelusuri wajah pucatku lalu bertanya, “Apa kau baik-baik saja?”
--
*ditulis setelah membaca 'perjalanan lain menuju bulan' karya Aan Mansyur
*mengenang seorang pria yang pernah menghubungiku untuk meminta tolong agar aku bisa mengontak seseorang yang dia bilang ' pernah kucintai dengan sangat salah'. 
*beberapa potong kalimat di tulisan ini pernah kuposting dalam stories media sosial aku ketika sedang menaiki bus trans dalam perjuangan pulang yang melelahkan 
This entry was posted in

Thursday, 29 June 2017

Merayakan Kematian

Dulu sekali, aku pernah menonton sebuah acara ajang pencarian bakat. Seorang pemuda menampilkan bagian dari dirinya yang ia rasa paling baik: suaranya. Ia nyanyikan sepotong lagu mengenai Tuhan, kedengarannya pilu. Salah satu juri tampak berkaca-kaca, ia berkomentar bahwa kepergian selalu punya nada-nada rendah yang bicara tentang kesedihan. Namun berbeda dengan rekannya yang lain, wajahnya disinggahi seri dan senyum lebar, dikatakannya mengapa orang-orang memberi makna yang menakutkan dan cenderung gelap pada kematian. Padahal, ketika siapa pun tiada, mereka punya salah satu kesempatan berharga bertemu Dia secara langsung; yang kamu dan aku yakini dan percayai sebegitu damainya selama ini. Lantas, mengapa menyambutNya dengan tangisan, ketika kamu dan aku tahu sesungguhnya salah satu di antara kita hanya pulang ke rumah lebih awal. 
foto: tumblr happy faces
Juri-juri lainnya tampak mengangguk dengan sedikit tertegun menyimak paparan kecil rekan mereka, mungkin menerima sepenggal kebenaran di sana. Aku terdiam lama sebelum akhirnya memutuskan beranjak dari layar televisi, berjalan keluar menuju selasar rumah. 
“Dibanding menyebutnya upacara, aku lebih suka menamainya pesta kematian. Tematiknya kedukaan, dengan kode busana yang menolak warna pelangi. Kau harus datang dengan lebam senja, abu mendung, dan arang malam. Ia punya kesantunan untuk dilarang tertawa. Sapaan apa kabar berganti turut berduka semoga kau kuat yang seribu kali singgah. Digelar setiap tujuh, empat puluh, hingga seratus hari. Siapapun diundang asal ia menyetok air matanya. Ini kesedihan yang begitu istimewa, lihat, ia butuh perlakuan sedemikian khusus.”


Teringat seorang teman yang begitu jauh, pernah mengirimiku pesan via Twitter menanyakan cara menghibur atau memberi kalimat-kalimat penenang bagi sahabatnya yang baru ditinggal orang terdekatnya, bukan yang biasanya, atau celetuk sembarang sahabat dekat. Kupindai pandangan ke arah ujung kompleks, lenggang – rasanya begitu tenang, tapi kamu tentu tahu, hal-hal yang damainya begitu sempurna selalu terasa ganjil. Aku memejamkan mata, terakhir menghadiri pesta yang kamu jauhi itu, mungkin sudah hampir lima tahunan yang lalu. 

Orang-orang menggelar pesta untuk menandai momen-momen yang akan disimpan jadi kenangan, untuk memori yang akan jadi berharga. Begitu juga kesedihan. Kamu dan aku punya duka yang dihormati, karenanya, ia butuh pesta.  Ia perlu hal-hal yang kamu bilang: spesial.

“Aku selalu benci pesta. Dalam riuh pesta, ada kalanya kau merasa begitu sepi di antara ramainya sorak orang-orang yang berlomba mengadu kegembiraan. Dalam senyap pesta, ada saatnya kau merasa begitu ramai di antara lenggangnya isak orang-orang yang berkompetisi mengadu tangisannya.”
Aku mendongakkan kepala. Terkesiap, rasanya aku mendapat kupu-kupu bercorak polka putih dengan sayap hitam yang lewat sekelebat saja. Apa mungkin nenek, yang menahun pergi tapi rasanya masih begitu pasti di sini. 
foto diambil dari after midnight tumblr
 Kau tidak membenci pestanya, kau hanya tidak suka pesta jenis ini datang tanpa rencana.
“Mungkinkah terlintas di benakmu, nisan dibuat bukan untuk mereka yang mati, tapi kita yang hidup? Nisan – lengkap dengan epitaf dan iringan euloginya – dibutuhkan bagi kamu dan aku di sini, sebagai monumen kenangan akan seseorang. Menegaskan jika satu-satunya hal paling buruk dari akbar pemakaman sesungguhnya bukanlah tentang kematian seseorang, tapi mereka yang memelihara kehilangan di sana. Aku tak percaya orang-orang takut kehilangan. Buktinya, mereka masih merawatnya setelah mendapatkannya, bahkan menyuburkannya; mengurung diri, berpikir membunuh kehidupannya, dan dan dan. Tak ada kehilangan yang memanjang kecuali kau merawatnya.”

Aku selalu suka bunga di pemakaman. Aku selalu jatuh cinta pada bunga di pernikahan. Kamu tahu, bunga salah satu bagian dari semesta yang menemani prolog dan epilog menjadi manusia. Ia ada ketika kamu lahir sebagai bentuk mekarnya dirimu, sekaligus hadir saat kamu pergi sebagai wujud layunya dirimu: di dunia. Bunga punya dua mata – kamu tak pernah benar-benar hanya menerimanya satu. Selayaknya: kamu kehilangan, kamu mengisi ulang. Kamu melepas, kamu ikhlas.

“Ver,”
Orang-orang memiliki caranya sendiri menghadapi kesedihan. Seorang bapak di Tiongkok mengajak putrinya bermain di liang kubur yang sudah disiapkannya untuk putrinya yang sakit-sakitan. Kawan dekat menyumbangkan sekardus mie instan tiap bulannya ke masing-masing panti yang berbeda atas nama Ibunya yang sudah pulang menahun silam. Sebuah keluarga menyewa kelompok tangis untuk meraung di pemakaman. 

Kamu memilih merawatnya utuh lalu menyimpannya di bilik dalam dirimu dan memutuskan tidak akan sembuh seumur hidup.

“Bangunlah, bangkit, sayang. Tidur dan diam, hanya untuk mereka yang mati. Dan, dengan berat hati kukatakan: kamu masih hidup.”
Sayup kudengar suara televisi dimatikan, lampu dipadamkan, dan nyaring dari balik bilik kamar seorang perempuan paruh baya memanggilku masuk. Aku memutar langkah, melenyapkan diri ke dalam rumah. Mungkin seperti itu kamu dan dia. 

Kamu pulang ke rumah untuk istirahat dan berangkat kerja esok pagi, dia pulang ke rumah yang berbeda untuk istirahat dan jadi malaikat yang bertugas esok fajar. Kamu dan dia: pulang pada rumah yang berbeda. Dia hanya pindah, itu alasan kemarin kamu dan aku mengantarnya, lalu mengatakan selamat jalan alih-alih selamat tinggal.
Sebab, tak ada yang pergi.


*tulisan ini untuk mengenang sahabatku di sekolah dasar dulu yang  meninggal sekitar satu atau dua tahun lalu, dan baru kuketahui sebulanan yang lalu ketika hendak mengontaknya lagi via Facebook.

*juga kupersembahkan kepada seseorang yang mengalami kehilangan terbesarnya, dan seminggu awal keras kepala berdebat mengenai kematian denganku, lewat ini ingin kusampaikan padanya aku mencintainya bersama kehilangan-kehilangan yang ia pilih untuk tidak disembuhkan


*dari mereka yang kehilangan, aku belajar bahwa kematian tidak membuat kehidupan jadi sia-sia bagai penungguan pada ajal, sebaliknya, kehadirannya -  yang mengintai dari balik dinding kafe tempat kamu dan aku pertama berkencan, mengintip dari meja kerja apartemenmu, membidik dari bilik toilet umum yang baru kamu pakai, dan dalam ketiba-tibaan yang tak kamu dan aku beri rencana - , adalah cara Tuhan membantu kamu dan aku memaknai kehidupan, ia bukti nyata anugerah memang ada.
This entry was posted in

Monday, 10 April 2017

Impian-impian Kecil yang Tak Sempat Kuceritakan

Sabtu malam kemarin, aku sempat jalan dengan seseorang, menemaninya merayakan tanggal yang hidup oleh kelahirannya. Kita terlibat percakapan kecil yang menyenangkan selama berjam-jam; hal-hal lucu mengenai kepindahan, rindu yang panjang dengan pertemuan yang singkat, kesedihan yang sudah berdamai, dan lain-lain. Pada obrolan itu, di sisi tengah tempat makan pusat belanja elektronik, di antara meja-meja orang yang menunggu pesanan dengan gelisah, tanpa kusadari aku menyatakan impian-impian kecil: mimpi yang lupa pernah aku punyai.
sumber foto: pinterest / tumblr photography

Suatu waktu aku mungil, aku pernah membaca novel remaja dengan latar lokasi di Australia, yang mana tokoh utama lelakinya bekerja sebagai penyiar radio yang diletakkan sebagai pembuka cerita. Dengan seorang pendengar, si perempuan yang menikmati suara akrab yang keluar dari pelantang telinga ponselnya, padahal nama si lelaki begitu asing dengan wajah yang hanya bisa dibayangkan, karena mereka tak pernah bertemu. Namun, ia berbisik tiap lagu siap diputar mengganti cuap penyiar, si perempuan tak pernah menyangka jika mungkin saja seseorang bisa jatuh cinta hanya dengan mengenali dan mendengarkan sepotong suara tiap malam. Aku terdiam lama seraya menyalakan radio tua peninggalan marhum kakek. Aku selalu suka filosofi radio – membayangkan diri bekerja di studio sederhana hingga lewat jam tujuh, menulis skripnya, menyapa orang-orang yang asing dimana saja yang masih ingat mereka punya radio, dan menunggu mereka berdecak karena si penyiar terlalu lama bicara sedangkan rikues lagu belum diputar, atau justru sebaliknya: diam-diam jatuh cinta pada suara itu. Pulang mendekati pukul sepuluh malam, mampir sebentar ke toko roti yang diskon sebelum tutup, beserta kopi hangat di gelas kertas.
Di akhir pekan, bangun sesiang mungkin. Mengizinkan diri berantakan, lalu menulisi peristiwa-peristiwa yang beruntungnya bisa jadi kenangan untuk dirapikan. Kemudian, duduk di lantai kamar atau ruang tengah, membongkar kardus berisi kain perca, kertas warna, koran bekas, majalah loak, dan lain-lain, memerlakukannya sebagai kerajinan untuk kamu buat dengan bahagia, menghadiahkannya tiba-tiba kepada mereka yang kamu cintai secara acak. Mungkin kartu ucapan, memo ‘jangan lupa bahagia hari ini’, buku berisi tempelan potret polaroid untuk dia yang menyatu jadi ‘kita’. 
Aku mencintai bau lem, tangan yang kotor karena coretan spidol dan cat air, serpihan kertas hasil potongan gunting. Itu deretan hal-hal yang mengingatkanku kalau beberapa bagian dari semesta membutuhkan waktu untuk jadi seperti sekarang, kalau cinta butuh perasaan panjang yang dirawat.  Jauh dari serta-merta.
Pada janji-janji yang ganjil di hari yang pinggir, bertemu dengan lelaki yang bisa kupanggil kekasih. Mungkin seorang barista sederhana yang belum memiliki mobil dan tak pernah jadi masalah, yang mengejutkanmu dengan latte art, yang punya hobi makan bubur pinggir jalan, yang punya mimpi ingin membangun kafe sendiri bergaya vintage dengan fasilitas perpustakaan mini, yang menabung untuk bisa membangun keluarga kecil di rumah sederhana yang ia tahu aku benci bertingkat dua, memelihara ikan mas di akuarium bulat dan memilih kebun daripada kolam renang. Lalu memilih untuk tidak menghabiskan waktu dengan menonton filem selama dua jam, tapi mengundangmu datang ke kafe tempatnya bekerja saat shift malamnya selesai, pergi ke lantai paling atas, melakukan ritual minum teh (dan dia kopi). 
Terlibat obrolan semacam, “Bisakah dari sekarang kita menganggap bibirku adalah kuas favoritmu, dan bibirmu adalah kanvas yang siap?”, lalu bercinta di atas meja hingga lupa kita punya tubuh masing-masing yang minta tanda baca.
Ia mengantarku pada seminar yang ternyata berjalan membosankan pada sebuah siang terik. Tak ada percakapan di mobil, juga lantun lagu yang diputar. Diam, ia sibuk menyetir, mencela serobot kendaraan-kendaraan lain dan berlomba membunyikan klakson yang tak perlu, dan aku memandangi pohon-pohon yang bergerak cepat ke belakang, dan langit biru yang awannya bagai bulu-bulu halus domba. Aku menyeletuk padanya agar mengajakku naik balon terbang yang sejak dulu kutanyakan bagaimana cara mendaratnya, alih-alih burung besi bertiket mahal kelas bisnis.
Aku terkesiap. Pesananku dan dia sudah datang. Aku terlalu banyak bicara – cerita-cerita yang kusimpan dan kali ini punya suara. Aku bilang, tapi orang-orang bilang radio belakangan ini kehilangan napasnya dan kamu diminta mencari pekerjaan yang bisa kamu bawa kemana-mana dan menjawab iklan perumahan elit Jakarta. Kamu dipaksa menjauhinya sebelum kematiannya menyeretmu lebih jauh dan lupa menimbang mungkinkah kamu bahagia. Aku katakan, tapi orang-orang berlomba memesan mahal custom barang-barang lucu yang dibuat orang lain, yang lebih bagus daripada daur ulang tanganmu sendiri. 
Aku sampaikan, tapi orang-orang bertanya apa mobil yang dipakai lelakimu, sekarang ada di perusahaan apa, apa agamanya, dinner di mana, siapa yang membayar, ketimbang apakah dia benar mencintaimu dan apakah kamu memang mencintainya.
Dia menatapku lama. Tak ada yang menyentuh makanan di depan. Aku yang pertama memecah jeda, 
“Sayang, kamu dan aku, hidup di dunia yang diam-diam meminta kita memainkan banyak peranan tapi tidak diri sendiri.”
This entry was posted in

Thursday, 30 March 2017

Puisi Sedang Tidur di Kepalaku

Pejamkan matamu, pelan saja. Lalu buka halaman buku itu secara asal. Baca halaman acak yang kamu buka tadi. Mungkin kamu akan menemukan kejutan kecil: pertanyaan-pertanyaan yang tak berani kamu tanyakan, tiba-tiba disodori jawabannya. Sejak itu, kamu pun percaya, jika semesta ini punya tanda tanya yang hanya bisa dijawab oleh puisi, bahwa lomba laju kendaraan dengan tenggat waktu hanya bisa diberi jeda lewat secangkir kopi. 

sumber foto: kimerajam

“Buku-buku seperti ini, Veronica, bukan jenis yang harus dan bisa selesai dengan sekali duduk. Kadang kamu butuh banyak waktu, kalau tidak, jadilah cukup – untuk menjadikan kalimat-kalimatnya teman yang bisa dipahami dan akhirnya diajak jalan-jalan mengarungi kesendirian yang minta didampingi,” ujar pria yang baru usai menandatangi buku puisi yang kubeli langsung pada acara perilisan bukunya.

Kita menukar pandang diam, sebelum kemudian masing-masing membungkus diri: ia melayani pengantre selanjutnya, aku mendekap pergi buku puisinya. Kupikir, ada setujuku yang menyelinap tapi tak sempat ambil suara. Kepada buku-buku puisi, aku percaya orang-orang punya perlakuan yang berbeda. Kadang-kadang kamu menyadari, mereka bukan gunung tinggi yang ada pada daftar impianmu untuk ditakhlukkan, melainkan deret gunung yang ingin kamu rasakan getar amarahnya saat menelusuri tebing, dengar gema suaranya yang punya bisik dunia, sampai panggilan-panggilan yang hanya bisa dimengerti saat kamu dengannya telah jadi kawan.
Aku menimbun banyak buku puisi tanpa benar-benar membacanya seperti buku-buku lain yang kuperlombakan dalam tantangan baca. Kadang kali, saking timbunannya meninggi dan sengaja tak kusentuh, mereka pun memelihara debu. Aku baru mengambilnya sering kali saat perasaan-perasaan butuh rumah untuk sembunyi atau lawan bicara. Ketika kehilangan meminta tempat tinggal, jatuh cinta pulang dengan keraguan, kesedihan yang butuh ditertawai, kebahagiaan yang tak disanggupi, sampai kenangan yang baru kemarin tapi matangnya bagai selampau kisah setua waktu. Kalau sudah begitu dan kamu iseng meminjam koleksi buku puisiku, kamu akan menemukan bagian-bagian ujung halaman yang terlipat karena beberapa barisan sajaknya tadi bicara atas namaku, sisi tengah kertas yang menggelembung karena baru saja kering dari air mata, aroma ganjil bau buku yang bercampur tumpahan earl grey yang masih lembab di lembaran-lembarannya.

Kamu pernah melakukannya, dan kamu mengembalikan buku-buku itu sembari bilang, kamu seperti bukan membaca sajak si penyair, tapi mencerna aku. Sayang, jika cinta itu menemukan, maka puisi membantumu demikian.

Aku membaca banyak sajak tanpa benar-benar menyesapnya dalam-dalam, karena takut mereka benar-benar menelanjangiku atau menjadikanku orang asing (yang hasilnya kurang lebih sama seperti keputusanku mencintaimu). Aku lebih sering menghidupkan alat rekam yang kemudian mengemas suaraku yang teriak-teriak -sebegitu jelasnya karena kulakukan selalu menjelang tengah malam- dalam dokumen, yang biasanya kusunting lagi dengan memasukkan latar musik tanpa lirik. Mereka membantuku menyusun kedalaman diri yang sudah berkali-kali dianggit rapi tetap saja berantakan, tapi mereka tak pernah lelah, karena itulah alasan mereka diciptakan.
Namun, kerap puisi terlampau dekat menyatu dengan aliran darah hingga tak terbaca karena ia adalah kamu, sementara, ia juga tak jarang jadi terlalu jauh hingga menyipit-tajamkan mata pun tak berhasil menjangkaunya. 

Puisi adalah jurang sekaligus bibir pantai antara ketakutan dan kedamaian. 

Begitu kupikir mengapa tiap orang – kamu dan aku, juga kita – punya cara berbeda saat mencintainya sebagai musuh dekat atau teman jauh.

Yang pasti hari ini, sayang. Puisi sedang tidur di kepalaku, gantinya kamu yang terjaga hingga ratusan tahun selalu bangun. Semoga selalu begitu.
This entry was posted in