Tuesday, 19 April 2016

Menyusun Ulang yang Berantakan di Tepi Fajar



Malam kemarin, aku tak sengaja membaca sepotong kalimat dari sebuah kitab milik anak-anak. Kitab yang sedang dihafalkan oleh sejumlah anak dengan begitu khusyuknya. Salah satu kalimat yang adalah sepenggal ayat, yang sekiranya mengungkapkan, belajar agama terlebih dulu sebelum ilmu pengetahuan dan seni rupa. Beberapa ayat turunannya yang saling memperjelas satu sama lain semakin menarik perhatianku untuk menafsirkannya. Namun, pikiranku sebaliknya terlontar pada  salah satu film yang kutonton beberapa minggu lalu – yang diangkat dari trilogi novel yang sudah kutamatkan setahun lalu; serial Divergent. Kuingat, Tris pernah bilang, kira-kira seperti ini maksudnya: tiap faksi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan manusia sebaiknya tidak hanya memiliki satu kelebihan dan kekurangan tersebut, tapi memang lebih baik memiliki paduan semuanya. Contohnya, jika kamu terlalu ‘Erudite’, kamu akan kehilangan kasih sayang. Baru sampai kelebat ingatan itu, bayangan lain muncul di kepalaku yang bagai kantor paling sibuk di dunia* ini, yaitu sebaris pepatah lama: ‘dunia sedang butuh orang yang baik, bukan pintar atau bahkan jenius’. Gambar samar-samar dan suara sayup-sayup yang saling berusaha mencuri tempat di benakku masih belum selesai menampilkan tayangan. Sampai akhirnya aku dibawa pada satu episode yang sudah lama terekam, bersepihan di mana-mana, dan baru hari itu aku menontonnya secara utuh. Lalu kemudian, kutuliskan sekarang. Soal tiga orang asing yang kerap muncul ‘mengusik’ satu bagian di hatiku.
sumber gambar: favim.com
Seorang buta, yang juga penjual kerupuk. Aku baru melihatnya sekali, pada sepenggal pagi yang sudah tak lagi perawan. Bapak tua bertubuh kurus yang agak bungkuk – karena memanggul dua ikat kerupuk yang lumayan banyak di kanan-kirinya. Pakaiannya seadanya – kaus putih yang sudah memudar warnanya, dan bagian kerah yang sudah begitu koyak. Si Bapak tua melangkah pelan-pelan, teramat hati-hati, menggunakan sebilah kayu sebagai penuntun jalannya. Penjual kerupuk itu – si Bapak – adalah seorang buta. Lama mataku singgah padanya, mendadak saja ada yang berantakan pada salah satu ruang hatiku. Si Bapak masih berjalan, dengan langkah pendek, di pinggiran. Menguji kejujuran orang-orang, lewat bungkus-bungkus kerupuknya.
Seorang tua, yang juga pedagang mainan anak-anak. Beliau menggelar lapak jualannya dengan rentangan plastik besar berwarna biru-oranye. Menumpahkan koleksi mainan anak-anak; boneka barbie, masak-masakkan, baju-baju mini untuk boneka-boneka plastik, dan sejenisnya. Itu mainan-mainan yang sekali kamu menemukannya, kamu akan terdiam, teringat dulu mereka mengisi dan melengkapi kebahagiaan masa kecilmu yang sederhana. Mainan yang sama – yang jadi tempat harapan-harapan seorang kakek bertumpu di sana. Lebih dari tiga kali aku melihat beliau berjualan di pinggiran pasar, dengan wajah renta yang kusut oleh keriputan atau juga kerutan zaman. Melatih kepedulian orang-orang, agar membeli barang dagangannya lebih dari sekadar niatan untuk anak di rumah.
Seorang bungkuk, yang juga juru parkir. Mungkin usianya menjelang empat puluhan. Tubuhnya pendek, sedikit gemuk. Kepalanya kecil, sering kali ditutupi dengan topi berlidah merah dengan penutup berwarna hijau terang yang gelap oleh selimut debu kendaraan. Ia punya senyum tulus yang kusukai – yang baru sekali kulihat dan terus-menerus tergambar di kepalaku. Senyum ketika ia menerima beberapa keping rupiah logam, yang ia terima dengan menegadahkan tangan kananya, seraya menundukkan kepala dan membungkukkan tubuh lalu berucap ‘terima kasih’. Ia berikan sepotong senyum dan terima kasih yang sudah mahal sekali harganya hari ini – saking mahalnya kukira sampai orang-orang tak memilikinya. Karenanya, kupikir ia orang yang kaya. Memaknai kemewahan dan kesederhanaan orang-orang, melalui tindakan kecil sarat nilai yang mengalami demensia sekarang-sekarang.
Keseluruhannya tampak ketika fajar hampir selesai menepi; habis. Sepanjang pagi yang kujajaki menuju kampus. Pemandangan-pemandangan yang mengusikku, sebab tiap hari aku diajak menerjemahkan dan mendefinisikan sekali lagi arti pengejaran, relasinya dengan jengkal-jengkal kehidupan. Aku – dan masing-masing dari kita, akhirnya sampai pada persimpangan: “Kita bukan bekerja keras, belajar cerdas, meraih bintang impian supaya tidak bernasib seperti mereka. Melainkan, kita bekerja keras, belajar cerdas, meraih impian demi bisa menemukan cara untuk membawa mereka pada penghidupan yang lebih baik.”
Suara anak-anak yang melantunkan ayat-ayat kitab masih segar terdengar, mengiringi tiap air mata yang berdesakkan minta keluar. 

*dari judul salah satu buku puisi karya Aan Mansyur
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment