Showing posts with label #BicaraCinta. Show all posts
Showing posts with label #BicaraCinta. Show all posts

Tuesday, 28 June 2016

Menemukan Jejak Buku 'Bicara Cinta' di Kompas



Ssst, kamu tahu enggak? Buku Bicara Cinta dapat ulasan penuh cinta dari sejumlah media kompas loh! Baik media online sampai versi cetaknya. Coba tengok review-nya yuk di bawah ini:
1. Kompas.com
http://edukasi.kompas.com/read/2016/04/22/23293331/Bicara.Cinta

"Pahit getir pun remuk redam adalah pelangi di antara cerahnya canda tawa dan tawa riang para pencinta. Sedu pun nyaris tak terlewat dari setiap kisah cinta." - Kompas.com, baca lebih lanjut klik di sini

2. Kompas, Senin 20 Juni 2016. Rubrik Litera Pustaka, Halaman 35 #KompasKlasika

"Dengan cara yang indah sekaligus menggelitik, buku ini menghadirkan kembali perasaan-perasaan yang menyertai jatuh cinta. Bukan hanya menggelitik, buku ini juga seperti mesin waktu yang akan membawa kita pada ingatan-ingatan yang sangat personal tentang momen-momen yang membekas. Kata dan sketsa yang berpadu dengan indah pada buku ini juga akan membantu kita merawat perasaan yang konon paling banyak menggerakkan semua orang pada segala zaman, cinta." - Tim Kompas Klasika

3. Direkomendasikan oleh News Presenter Kompas Tv, Kak Glory Oyong

Kak Glory R. Oyong, news presenter Kompas TV, nyatanya baca buku "Bicara Cinta". Pada akun instagramnya @glory_oyong, terunggah salah satu halaman kutipan yang ada di dalam buku :).

Kompas saja berkali-kali merekomendasikan buku Bicara Cinta sebagai teman hati dalam bercerita loh! Masak kamu belum punya bukunya?

Friday, 18 March 2016

'Menguping' Isi Bicara Cinta



Banyak yang salah mengira, “Bicara Cinta” adalah novel. Sesungguhnya, buku “Bicara Cinta” adalah buku self improvement/inspiratif, yang berarti masuk ke kategori nonfiksi. Isi di dalamnya berwarna-warni meminang pelangi, dan tidak hanya kutipan-kutipan yang bertebaran di tiap halamannya. Ada yang lain, misalnya tiga hal ini:
potret buku 'Bicara Cinta' diambil dari akun instagram @novina93
 1. #TemukanCintaLewat

Sejak awal membuat naskah ini, aku dan Alberta Angela sontak setuju, ketika kita membicarakan soal rasa, ia tak melulu tentang perkara kekasih saja. Ia lebih universal – saking luas dan besarnya sebentuk rasa itu, kadang kali kita keliru memperlakukannya. Akhirnya kita sepakat, membuat sebuah tagar sebagai kampanye kecil-kecilan dari ‘Bicara Cinta’ yakni #TemukanCintaLewat, yang mengajak para pembaca, termasuk aku dan Alberta sendiri untuk menangkap kejadian sederhana dan tindakan kecil yang sesungguhnya mengawali hadirnya kasih dan sayang dalam cinta. Sebab, wujud cinta bukan selalu berbentuk kiriman pesan singkat dari pacar tersayang yang menanyakan sudah makan apa belum, tapi bisa saja lewat senyum kecil orang asing yang kita temui di jalan di trotoar menuju kantor/kampus. Atau lewat momen-momen lainnya, yang saking sederhana dan kecilnya, sering kali luput dan terabaikan karena rutinitas yang menimbuninya. ‘Bicara Cinta’ berusaha memotret itu, mengajak kamu juga ikut serta bersamanya, menyadari cinta yang mengudara.

2. Episode #Tentang

Jujur saja – dan buat kamu yang setia dan sering kali mengikuti tulisan-tulisanku baik di blog, novel, maupun cerpen-cerpenku, kamu mungkin sudah tahu – aku suka sekali memnuliskan kenangan-kenangan. Kebiasaan itu juga kutuangkan ketika menulis nonfiksi di Bicara Cinta lewat tagar #Tentang, serta lembar-lembar nostalgia.
Ada tiga topik tentang tiga sosok yang kutulis untuk mengundang kenangan #Tentang mereka pada para pembaca – pada kita semua. Tiga sosok yang begitu akrab dan dekat dengan kita; Ayah, Ibu, dan Guru. Kira-kira kapan terakhir kita benar-benar menghadirkan sapa dan temu yang utuh pada mereka, lalu mengulang kenangan, memelihara cinta yang pernah ada. Dan, aku kerap berkaca-kaca ketika menulis ketiganya. Ada rindu, di sana. Masih basah.

3. Cerita Mini #Perihal

Pada tagar #Perihal dalam buku ‘Bicara Cinta’, aku berbincang tentang suatu tema tertentu dan bagaimana rasa berperan di sana. Ketika menulis #Perihal, aku lebih banyak ‘semedi’ dan hening sejenak lebih lama dibanding menulis kutipan. Alberta juga kerap membantuku – ia sering bercerita soal kenangan-kenangannya dengan orang-orang, lalu kuinterpretasikan, kuterjemahkan, kutulis dalam #Perihal. Aku sendiri paling suka #PerihalSepasangMata – itu membuatku teringat pada mata yang punya banyak cerita. Bagaimana denganmu?

Wednesday, 16 March 2016

‘Pada Suatu Hari’ dari #BicaraCinta





sejak itu, kita mengobrol panjang tentang kebiasaan kita bercakap-cakap dan bercurhat ria yang akhirnya menememukan pemahaman akan rasa dengan sendirinya – lalu pelarian kita sering kali sama, mengekalkannya dalam cerita dan gambar. Konsep #bicaracinta sepakat untuk lahir, mengajak dunia (baca: kita semua) membincangkan rasa. Lebih dalam, lewat kata dan sketsa. Kita berangkat dari sepotong percakapan.

“Ver, luka. Mencintai ibarat kata kerja yang mewakili kata ‘derita’, dan mengemas dirinya dengan bungkus permen lolipop. Hanya sebuah samaran. Lagipula, kita semua menyukainya, jadi baik-baik saja. Kamu tahu apa alasannya? Sederhana saja, coba tengok salah satu rak lemarimu, dekat dengan baju-baju koleksimu, sudah berapa topeng yang kamu punyai untuk digonta-ganti sebelum melangkah keluar rumah?”
Entah ‘pertemuan’ ke berapa di antara kita yang disertai cerita muram lainnya tentang rasa. Kubayangkan ia – di sana, sedang naik ke loteng kamar kostnya, berteriak dalam diamnya kepada kerlap-kerlip lampu kota yang menertawainya diam-diam tiap malam. Kututup layar ponsel setelah membaca pesan retorisnya berulang kali. Perbincangan perihal perasaan bersamanya selalu seperti ini – mampu membelah masing-masing hati kita jadi dua. Nyeri.
Kupindai pandangan keluar jendela yang kacanya sudah buram oleh debu yang melengket. Pandangan di luar rumah tak jauh berbeda dari kemarin; pohon dan semak-semak yang saling bergesekan karena tiupan angin.
Apakah kerap begitu, ketika kamu mengizinkan diri untuk mencintai, Ver?
Ponselku bergetar. Pesan lainnya dari kawan jauhku.
Aku mencintainya belasan tahun. Menunggunya adalah bentuk perjuanganku lainnya. Dan, bagaimana harus kubayangkan ketika juang nyatanya sinyal lain bagi kata serah?
Suara derik jangkrik semakin terdengar. Cuap-cuap dari radio tua yang kerap kunyalakan begitu saja tiba-tiba jelas menyeruak. Keduanya saling timbul tenggelam berebut jadi latar atas lamunanku yang terlempar pada seseorang setelah pesan beruntun itu menghantam ingatanku.
“Ver, cinta dan mencintai itu ... dan seseorang itu ... sialnya aku tak pernah menyesal. Ini seperti kamu meminum segelas cairan yang tak kamu tahu, nyatanya adalah setegak racun. Kamu mati dengan bahagia karena ... untungnya kamu yang menelannya, bukan seseorang yang kamu ajak minum bersamamu – yang kamu tunggu pertemuannya, yang kamu ... cintai. Ia bahagia, dan cerita ini usai. Tak apa..”
Aku terisak. Aku bangkit dari ruang tengah menuju ke kamarku kembali, menyambar bolpoin yang berserak di meja dan mulai menulis dongeng-dongeng, membuat kisah-kisah. Lalu, satu-persatu mengajakku membincangkan tentang sebentuk rasa yang orang-orang sebut cinta, lebih jauh dan berbeda. Kuraih ponsel, beberapa pesan nyatanya sudah masuk terlebih dahulu lewat getar-getar yang kuabaikan. Pesan darinya lagi, yang bilang ia sedang sibuk menggambar dan mencoret sketsa, ia ingin tahu bagaimana rupa hati yang remuk.
Ia pun mengirimkan potong-potong gambarnya yang merekam jejak-jejak kenangan yang sepia. Lalu keajaiban terjadi: beberapa kalimat pada tumpukan kisah-kisahku meloncat-loncat keluar, dan mencari pasangan gambarnya masing-masing – yang sekiranya mereka punya satu rasa untuk bersuara. Aku tertegun, kuusap air mataku. Kemudian dengan cepat kuketikkan balasanku padanya,
“Alberta, yang menyakitkan itu ketidaksetiaan, yang mengecewakan adalah kebohongan, yang melukai ialah permainan, yang menghancurkan adalah pengkhianatan, yang membunuh ialah kehilangan, dan sejenisnya. Lalu tentang cinta yang kita bicarakan, justru, Alberta, cinta adalah ... cinta ialah .."

 Jari-jariku bergetar. Hatiku gemetar untuk melanjutkan. Ia ikut menangis. Dan aku tetap mengetik.
“...satu-satunya yang tidak menyakiti, mengecewakan, melukai dan lain-lainnya yang kamu sebutkan tadi.”