Thursday, 21 February 2013

Dialog Cinta


Apa itu cinta? Ini pertanyaan sederhana dengan sejuta jawaban mengenai rasa.
Yang pasti, cinta itu bukan sebuah syarat, tuntutan atau pun status. Cinta bukan sihir, sebab ia bukan sebuah permainan sulap. Ia bukan matematika yang mempersoalkan mana benar dan mana salah. Ia juga bukan perkara ilmu pasti, karena ia bukanlah fenomena yang harus diteliti.
Lalu, apa itu cinta? Apakah hanya sebuah kata yang terbentuk dari untaian lima alphabet? Bukan.
Cinta itu sebuah rasa, bukan teori. Kamu tak harus mengingat seseorang yang dicinta, sebab ingatan mungkin saja hilang. Namun, rasa tidak. Maka, cinta itu berarti merasakan.
Cinta itu adalah keadaan dimana kamu merasa bahwa kata-kata pun tak mampu bersua untuk menggoreskannya dan warna-warna tak cukup bisa untuk melukiskannya. Cinta itu tak terkata-kata dan tak terlukis, sebab ia bukan bahasa di atas kertas, bukan gambar di atas kanvas, melainkan sebuah rasa di dalam hati.
Cinta itu penuh dengan kekuatan. Ia tidak mudah digerus oleh waktu dan ditebas jarak. Biar jarak tak bisa dilipat menjadi dekat. Biar waktu tak bisa diputar untuk diulang. Cinta tetap mampu berdiri tegak dan bercerita tentang kita ataupun mereka akan ironi sebuah rasa atau indahnya jejak kita berdua.
Kata banyak orang, cinta itu tak harus memiliki. Mungkin benar, sebab cinta bukan sebuah barang. Cinta terkadang mampu membuat kita berkata; cukup dengan ada dia di sini, di sampingku, tak lagi aku memperkarakan segala masalah yang membuatnya tak bisa kugenggam. Seperti halnya pepatah lama yang berkata, cinta itu layaknya pasir. Tak perlu kamu menggenggamnya terlalu erat, sebab perlahan ia akan keluar dari celah-celah. Jangan menggenggamnya terlalu longgar, ia akan hilang bersamaan dengan desiran angin. Jadi, cinta hanya perlu untuk dijaga.
Lantas, bagaimana bentuk cinta? Apakah ia berbentuk daun hati? Tidak. Cinta itu buta. Aku tak bisa melihat bentuk cinta sesungguhnya. Tapi, bagiku, cinta itu memiliki bentuk berupa bayangan seseorang yang kita cinta. Cinta itu juga bisa berbentuk keadaan yang mampu membuat kita bisu. Tanpa sadar, kita pernah merasa; kita memiliki cinta yang bisu. Kita saling berbicara lewat tatapan mata, kita saling mencium lewat senyuman dan kita saling menyentuh lewat hati. Akhirnya kita hanya perlu mengetahui bahwa cinta itu tak berbentuk, cinta itu abstrak.
Lalu, bagaimana menemukan cinta?
Cinta itu universal, tak sebatas kepada pacar, ia tersebar dan terbagi di dalam hati setiap manusia. Ia ada dimana-mana. Kamu tak perlu menemukan cinta dan berusaha mencari peta dimana letak rasa bernama cinta. Percayalah, cinta itu selalu memiliki cara dan jalan sendiri untuk menemukan kita. Bukan lewat cupid, bukan dari hari Valentine dan bukan dari rayuan gombal. Cinta ditemukan dari dua hati yang mengerti bahwa cinta adalah sebongkah rasa yang harus dihargai, bukan sebuah permainan menang-kalah.
Ketahuilah, cinta itu bukan kamu. Tapi, cinta itu adalah kamu dan aku.
Sekali lagi, aku lelah berdialog dengan cinta. Coba pejamkan matamu, adakah bayangan seseorang yang membuatmu merasakan gejolak rasa? Itu emosi dari cinta. Biarkan cinta itu sendiri yang bercerita akan rasa kamu dengannya. Setelahnya, kamu akan tahu apa itu cinta.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment