Thursday, 5 December 2013

Find a way or Fadeaway

"Hey, just find a way or ... everything will fadeaway."
Senja sehabis hujan. Aku terbangun dari mimpi-mimpi, ketika hujan masih menyisakan beberapa gumpal awan yang menggelayut manja di cakrawala, dan senja tak mau kalah. Ada gores jingga yang tertinggal dan menggurat di langit. Aku tidak terlalu menyukai ini; langit yang menguning. Sebelum aku menutup gorden jendela, aku melempar pandang ke arah jalan berbatu keras nan dingin yang basah oleh hujan. Rasanya aku melihatnya – sebuah bayang yang nyata. Aku menemukannya meninggalkan tatap mata yang lebih dalam dibanding jarak yang ada. 
Aku memejamkan mata, menutup gorden dengan cepat. Menggeleng kepalaku dengan cepat; berusaha mengaburkan siluet-siluet yang mulai memenuhi ruang kalbu. Kuraih secangkir teh yang mendingin oleh atmosfer hujan, kuteguk perlahan. Sepertinya aku merasakannya – selukis senyum di bibirnya yang nyata. Aku mendapatkannya melempar lengkung senyum bisu yang lebih diam dibanding sunyi.  
Kuletakkan cangkir teh itu di tepi meja, membiarkannya teronggok diam dan meninggalkannya. Kubiarkan langkah membawaku ke ruang kamar, mengurung diri – berharap bisa memenjarakan ingatan dan kalbu dari jerat bayang silam. Lantunan lagu dari radio hitam tua favoritku masih menyala, melantunkan lagu-lagu lawas. Mengajak pikiran mengembara pada waktu-waktu lalu, menggelisahkan kenangan dan berkubang pada harapan-harapan. Rasanya dan sepertinya, aku mengingatnya – sesosoknya yang sempurna mengoyak dan mengacak ruang hati yang telah terluka. Aku menangkapnya berjalan, duduk, berbicara, berinteraksi, bercanda, belajar dengannya. Dengannya. Dengan dia. 
Aku mematikan radio. Menjatuhkan tubuh ke atas kasur, membenamkan wajah. Menahan diri agar tidak tenggelam terlalu jauh. Akhirnya, aku terlelap. Memimpikannya dalam sebuah mimpi sore sehabis hujan, bersama secangkir teh hangat yang belum dingin oleh hujan. Aku merindukan tatap mata teduhnya – yang kini terganti oleh tatap sedalam jarak yang mencipta jurang pisah. Aku merindukan senyum hangat dan ramahnya – yang kini terganti oleh senyum dingin. Aku merindukannya – yang kini terganti oleh dia yang menebas segala harap yang ada.  
Senja sehabis hujan. Aku terbangun dari mimpi-mimpi, ketika hujan sudah mereda. Senja juga telah mengalah. Membiarkan gelap menduduki singgasananya- langit malam. Hujan pun reda. Senja lenyap. Malam datang, mengakhiri segala awal. Seharusnya, aku pun mengucap selamat tinggal.  
"I choose fade away." 

1 comment: