Friday, 12 December 2014

Stempel Kenangan


“…pada malam yang larut itu, aku tahu ia akan datang. Menawarkan sekilas tamparan atau sekepal tinju. Lalu, kujawabnya dengan sederhana; apa saja. Asalkan jangan hajar aku dengan kenangan…” – dan, ia datang dengan pucat yang mengemas wajahnya, menyodorkanku secangkir teh yang sudah dihinggapi udara dingin malam. Hatiku lebam.

Aku dengannya tidak pernah dekat – pertemuan kami hanya sebatas tatap mata sejenak dan senyum bisu yang dengan mudah berlalu. Namun, ketika ia mengumumkan jika ia akan beranjak pergi dan mengumpulkan kami semua dalam satu ruang rapat sederhana; untuk pesta perpisahan, aku seperti didekap oleh masa silam yang masih tertinggal. Aku tertangkap dalam sarang duka yang menebal. Kabut yang menyamarkan pandang bergelayut di udara. Ruangan seperti tengah dirundung awan-awan abu.
Kudengar ia terus berbicara tentang kepindahannya. Perlahan, aku melihat hujan di matanya. Dan, satu kalimat yang membuatnya berhasil membunuhku; tak ada yang lebih ia rindukan kecuali kekonyolan, hal tidak penting nan sederhana, kejadian-kejadian kecil dan rutinitas bersama orang-orang di sekitarnya dibanding apapun.
Aku pernah berada di tempatnya. Duduk di antara orang-orang, melagukan sajak-sajak perpisahan. Menghibur orang-orang yang akan ditinggalkan. Kukatakan pada mereka, ini hanya sesaat – pada bintang, kau bisa titipkan rindu; pada hujan, kau bisa selipkan cerita; pada fajar, kau bisa sematkan harapan; pada senja, kau bisa sisipkan kisah; dan, pada purnama, kau bisa patrikan potret kita. Tapi, kita semua menyerah juga pada akhirnya; diremas isak dan gelapnya pejam mata, yang berusaha menahan waktu agar tak terus bergerak dan menjadikan segalanya hanya memori.
Sejak itu, ada dinding hati yang selalu basah oleh kenangan tiap hujan mendera; karena rintiknya terus mencipta ingatan silam yang tak kunjung usai. Menunggu hadir utuh seseorang untuk mewarnai potret hitam putih jadi pelangi, lalu merangkulnya dalam peluk. Gaduhnya masa lalu selalu mengukung, dan aku terus menunggu.
“Katakan padaku, selain ponsel dan surat, apa yang membuat kita terus bersama?”
“Banyak. Bukan ponsel, ruang obrolan atau surat yang menghubungkan kita. Itu semua hanya akan teronggok diam, tanpa kita yang merawat rindu dan menjaga kenang agar cinta tetap ada. Kita keluarga, dan itu lebih dari segalanya.”
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment