Saturday, 28 March 2015

Perihal Menanti, Tentang Menunggu


“…perihal menanti adalah siap dilumat sepi dalam resah tak pasti yang menguliti, bersedia ditemani sunyi yang bermukim di ruang hati, lalu seluruhnya kamu lalui dan lewati dalam sendiri.”
Malam itu, aku meremas kedua tanganku yang saling tergenggam. Sesekali aku memeluk diriku sendiri, mengeratkan mantel hitam yang membalut tubuhku. Ruang tempat aku dikepung sunyi, nyatanya juga tengah sendiri. Hanya ia satu-satunya yang berdiri kukuh dan menyala, di antara ruangan lainnya yang menggelap tak terpakai ketika malam naik tahta. Gelisah, aku terus mengekori gerak jarum jam yang setia memutar dan kembali mengulang. Baru akhirnya kusadari, ada yang berbeda antara aku dengan ruangan itu. Kita mungkin sama-sama sendiri, tapi ia hanya diam, sedangkan aku; menanti.
Menurutmu, apa yang paling menggelisahkan dari menunggu? Seorang kawanku menjawabnya sembari angin lalu, menurutnya penungguan adalah pohon pahit yang berbuah manis. Jawaban itu mengantarku pada sejumlah kisah yang ingin kuceritakan padamu pada temu kita yang harus didahului waktu tunggu terlebih dulu. Sebab, tak selamanya menanti membawamu pada janji-janji yang tergenapi. Tak selalu menunggu membawamu pada peluk temu. Terkadang, ia membiarkan rindu tergugu, angan terbelenggu, hingga menjadikan bayangmu membiru.
Apa kamu pernah dengar tentang seorang perempuan yang menunggu datangnya seorang lelaki di Loftus Road hingga ia menjelma menjadi pohon?* Waktu tunggunya tak terhitung, karena melibatkan seumur hidupnya. Atau kisah lainnya, mengenai seseorang yang menanti Pria Murakami*, sampai ia berbuat hal-hal yang orang anggap tak masuk akal? Banyak peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu penantian. Kamu tak terlalu akrab dengan kisah-kisah itu? Tapi aku yakin kamu pernah mendengar kisah seekor anjing yang kerap menunggu majikannya, sebelum akhirnya mati karena menunggu. Dan, penungguan anjing itu masih berlanjut, dalam bentuk patung. Ini mengingatkanku pada bakat seseorang yang menunggu, digambarkan seperti gunung. Coba bayangkan gunung sebagai pecinta yang sedang menunggu orang dicintanya*. Dan, ia sudah menunggu semenjak ia ada di dunia. Akhirnya kamu menghentikan ceritaku, katamu cerita-ceritaku terkait penungguan dan penantian memiliki wajah yang muram dan durja. Saat itu, ingin sekali kubisikkan padamu; maka itu, jangan buat aku menunggu.
Aku kembali meniti angka-angka di jam dinding yang tergantung di ruangan sendiri ini. Nyatanya, aku tetap diringkus waktu tunggu, dan ditingkahi detik-detik menanti. Tak apa, karena waktu tunggu tak akan menuai jemu ketika itu adalah menunggu kamu.
*cerpen ‘Seorang Perempuan di Loftus Road’ karya Bernard Batubara
*cerpen ‘Pria Murakami’ karya Norman Erikson Pasaribu
*diambil dari nukilan ‘Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu’ karya Norman Erikson Pasaribu

This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment