Friday, 25 November 2016

Tidak Ada Cerita Cinta Hari Ini


Aku menghitung hari awal pertemuan kita sampai sekarang, kira-kira sudah dua tahun lamanya kamu dan aku mengetahui nama masing-masing, menghabiskan waktu dua sampai tiga hari dalam satu bulan, dijebak gengsi dan rahasia-rahasia hati, dihantui ego dan bagian nyawa yang lain. Selama rentang waktu yang cukup lama itu, dongeng banyak mengambil alih percakapan kita; menjanjikan kebahagiaan yang bahkan belum benar-benar kita berdua temui. Puisi terlampau banyak juga melakoni bahasa kita, hingga menelan suara hati yang harusnya bicara yang sebenarnya. 
sumber gambar: faded tumblr
Kamu tahu, sampai tahap ini, kita memang mengizinkan diri meragu, demi bisa meraba-raba apakah kita mencintai satu sama lain atau mencintai masing-masing. Mendustai diri atau memang mengikuti kata hati?
Radio peninggalan marhum kakek – yang pernah kuceritakan padamu begitu ingin punya cucu tukang baca buku – kubiarkan menyala, selalu tiap menjelang pukul sepuluh. Kemudian aku duduk bersila, membuang pandangan menembus kaca jendela rumah yang kabur oleh kering embun dan debu. Lalu menemukan jalan petak perumahan yang menghitam karena lampu kompleks yang tak menyala sedangkan pungutan terus jalan, keliling-keliling. 
Seperti biasa, lampu ruang tamu masih redup dan aku selalu menolak untuk memperbaikinya: tidak ada yang salah dengan keburaman jendela dan keremangan ruang, semuanya punya satu bau menyerupai tubuhmu yang sampai sekarang belum berhasil kuikat ke atas ranjang: kesedihan. 
Kamu terkejut, sejak aku memutuskan memanggilmu sayang, kamu hanya tak pernah bertanya selama dua tahunan ini, lelaki seperti apa yang buatku benar-benar mengeja diri jadi bagian dari perasaan remaja kasmaran? 
Jangan tanyakan pada tulisan-tulisanku – karena kamu hanya akan menemukan keraguan. Tidak pula menengok ke dalam matamu – sebab aku hanya akan mengecup keyakinan yang diusahakan dengan terbata-bata. Tapi, sampai detik ini, kita masih bertukar sapa baik-baik saja, tetap bilang selamat tidur mimpi indah.
Sebut saja lirik lagu, artikel tips percintaan di majalah, atau rayuan sambil lewat, kamu hampir pasti pernah mendengar kalimat ini: jatuh cinta membuatmu teringat seseorang – mendadak mengiringi tiap gerakanmu, tiba-tiba menempel di kepalamu. Buatku, dibanding diburu ingatan dan kenangan, ia lebih layak dibilang pengintaian diam-diam. Aku duduk di ruang tengah rumah dan melihat ada sedan hitam plat sama yang berputar di kompleks lebih dari tiga kali, kupikir itu kamu yang kurang kerjaan ingin memperbarui berita tentangku. Aku makan nasi goreng di sebuah resto kecil tak jauh dari kampus dan mendapati lalu lalang orang dari balik pintu kaca, tiap kali berusaha menengok, kupikir itu kamu yang muncul tiba-tiba entah dari mana. Aku membaca komik yang tokoh-tokohnya membuat orang-orang berkhayal hal-hal tak masuk akal soal memilih pasangan, lalu kupikir aku melihat wajah mereka serempak berganti jadi kamu. Aku ketakutan. Lantas kamu katakan ini romantis, aku meringis. Sedangkan rindu dan teror sering kali beda tipis, apalagi kalau sudah bawa-bawa cinta yang katanya, tak bisa berhenti.
Lagipula, kamu tahu apa yang salah dari kisah roman picisan zaman sekarang, sayang? Kita masih menganggap kebodohan sebagai pengorbanan.
Lagipula, kamu tahu apa yang benar dari kenyataan, sayang? Kita masih membaca kesedihan dengan bahagia dan menyadari ini semua adalah istimewa lengkap dengan segala kepincangannya.
Tidak ada cerita cinta hari ini. Tapi, aku tidak jamin apakah akan terus begitu besok, lusa, atau hari-hari nanti. Sedangkan hati ini kurang ajarnya bilang, kapan kamu akan ada kembali duduk bersama di sini, lagi? Dan berani janji dan tepati: tidak akan pergi.
*tulisan ini dibuat setelah membaca cerpen-cerpen Rieke Sarasvati dan novel Puthut EA, 
dan juga terinspirasi dari: kamu

0 Comments:

Post a comment