Friday, 25 November 2016

Menjawab MEA yang Tak Pernah Main-main


foto diambil di co-working space ruang Dorado, Skystar
Sore itu, ketika langit jingga singgah di Serpong, aku menemui seorang lelaki berpakaian kaus hitam lengkap dengan jaket kain berwarna hijau army di inkubator Skystar Ventures, Gedung New Media Tower Kampus UMN. Senja yang jatuh di tempat kerja lelaki itu, seakan mengabarkan jam pulang kerja sudah tiba. Namun, hal tersebut tak membuat lelaki pemilik nama Alvian Dimas, berhenti menekuri layar laptopnya sembari berkisah.
Sebagai CEO dan Founder dari perusahaan rintisan atau startup bernama INIgame.com, kesehariannya tak jauh-jauh dari mengejar waktu dan menyapa gunungan kerjaan. Namun, melewati senja dan menantang malam dengan setumpuk pekerjaan bukan lagi menjadi hal yang melelahkan baginya, karena itu adalah caranya menyiapkan senjata dan perbekalan untuk menjawab MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).
Alvian tak gentar menyapa MEA yang kerap dipandang sebagai tantangan berisi sejumlah persaingan tak berkesudahan, Ia sudah menyiapkan INIgame.com sejak Februari 2014 lalu sebagai ‘senjata’ untuk bertanding menghadapi MEA. INIgame.com sendiri adalah sebuah perusahaan rintisan atau startup, yang terwujud dari kombinasi impian, kegagalan, usaha, kerja sama, dan jatuh-bangun tim.
“Aku dan tim di INIgame.com, tidak takut pada MEA. Kita bergerak dan bekerja di bidang game, karenanya kita melihat MEA sebagai suatu permainan. MEA seperti quest game yang harus diselesaikan dengan strategi-strategi matang. MEA layaknya mainan baru yang begitu menarik untuk dicoba. Seakan bermain game, kita akan menemui saat menjadi game over dan kekuatan melemah, tapi bukankah dititik itu, kita punya kesempatan untuk mengulang lagi dan menanamkan skill baru? Begitu juga MEA, ini adalah game dengan sejumlah peluang untuk menang,” ujar remaja berusia 23 tahun itu.
Sembari menyinggahi tatapan matanya pada ruang kerjanya yang sore itu sepi di ruang ‘Volans’, Alvian melanjutkan ceritanya. Ia hanyalah bocah kelas enam SD saat pertama kali mengenal game online, dan mulai menjadi gamers pada umumnya. Perlahan, ia merasa menjadi gamers biasa tidak membuat kesehariannya berarti. Alvian membangun tekad dan berusaha mendapatkan posisi sebagai moderator game di sebuah situs game terkenal saat itu; igamebox.com. Usahanya berhasil, mengantarkannya menjadi global moderator yang menangani sebuah forum game. Ketika itu, Alvian sadar jika tengah terjadi krisis informasi antara konsumen dan produsen game. Seperti ada bola lampu kuning yang muncul dari dalam kepalanya yang bilang ‘harusnya ada portal yang menjembatani keduanya’.
Menyadari adanya persoalan yang mengusiknya untuk menemukan solusi, masa pendidikan menengah pertama Alvian pun dihabiskannya dengan belajar membuat dan mengembangkan sebuah situs secara otodidak. Sebelum akhirnya Alvian berseragam SMA dan mengenal jika kekuatan media adalah satu-satunya jembatan paling tepat untuk mengatasi komunikasi antara konsumen dan produsen game. Saat itu, MEA sudah mulai bergaung. Perdagangan bebas dan pasar terbuka yang ditawarkan MEA tak hanya mencakup sektor barang dan jasa, tapi juga tenaga kerja, mulai menyergap pikiran setiap remaja yang akan lulus sekolah, tak terkecuali Alvian.
“Kekhawatiran dan kecemasan untuk kalah bersaing mulai mewabah. Tapi, kalau aku terus fokus pada kelemahan, kapan aku melihat ini sebagai kesempatan membuktikan diri aku bisa? Bagiku, kemenangan di MEA bukan hanya diukur dari seberapa besar pendapatan atau tinggi jabatan kita dibanding lawan main, melainkan bagaimana aku bisa berperan bagi diri sendiri dan masyarakat di dalamnya,” lanjut Alvian, sambil sesekali mengelap kaca mata berbingkai hitam miliknya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Aku mengalihkan pandang pada meja kerjanya yang sering kali menenggelamkannya pada setumpuk kerjaan, tempatnya memonitor hasil kerja kesembilan karyawannya yang semuanya adalah mahasiswa remaja lokal yang ahli di bidangnya masing-masing, dan ‘rumah kedua’nya untuk menerima kunjungan kawan. 
 Pekerjaan Alvian setiap harinya menuntutnya bermain di segala peran, baik menjadi public relations, pelaku IT, hingga gamers itu sendiri. Seluruhnya bukan serta-merta mengejar pemasukkan iklan yang jutaan rupiah, tapi juga menyelesaikan persoalan komunikasi dan edukasi game yang sempat mengusiknya beberapa tahun lalu. Itu membuat pekerjaan dan tim yang dimilikinya berbeda dengan kompetitor lain yang bersaing bebas di MEA nantinya. Sebab, Alvian selalu bilang pada diri sendiri dan kawan-kawan satu tim setiap harinya jika mereka akan bekerja dengan hati.
Bagi Alvian, kunci utama untuk ‘menggembok’ MEA agar tidak mengancam remaja, tidak cukup hanya dengan mendalami kreativitas, berpikir beda, membenahi kesiapan dan meningkatkan kemampuan, tapi juga mengiringinya dengan cinta. Maka, pastikan ide bisnis dan rencana kerja ke depannya adalah hal yang disukai, itu akan membantu seseorang menghadapi kegagalan. Alvian bersama INIgame.com pernah jatuh berkali-kali, mulai dari konsep awal INIgame.com yang kalah saat kompetisi business plan di kampus UMN, sulitnya pendanaan di awal-awal, hingga kebingungan menentukan kanal-kanal berita game yang harus dipublikasikan. Tapi, Alvian menyukai game, menyelaminya bertahun-tahun, dan jatuh cinta padanya. Jatuh dan gagal adalah perkara bangkit lagi. Bersaing di MEA adalah tentang berani bermain dengan kepala tegak. Keyakinan dan kepercayaan pada impiannya, akhirnya berhasil membawa INIgame.com diinkubasi oleh Skystar Ventures, salah satu inkubator dan tempat co-working bisnis yang berlokasi di lantai dua belas Gedung C Kampus UMN.
“Kita punya amunisi-amunisi yang kuat untuk melawan MEA, mengapa harus mundur dan takut? Walaupun gagal, bukankah nantinya kita akan belajar dari pesaing kita agar lebih baik lagi? Kita hanya perlu sedikit optimisme untuk menggenggam MEA,” tambah Alvian, kali ini ia beranjak dari meja kerjanya, berjalan-jalan sejenak melepas penat yang menjerat. Lalu, lelaki kelahiran 9 April itu tersenyum padaku dan bercerita lagi dengan nada pelan berkaitan ‘amunisi-amunisi’ yang akan ditembakkannya pada MEA.
Tiap harinya, ia dan timnya tak pernah absen untuk melakukan networking dengan key person  dari produsen dan perusahaan game. Selain untuk membangun koneksi, juga sebagai kolaborasi. Hal ini berguna agar INIgame.com sebagai portal media game online Indonesia, bisa menguasai titik-titik penting di pasar. Alvian juga memastikan INIgame.com menyediakan versi dual language, jadi tak hanya menyentuh konsumen lokal tapi juga luar. Lalu, menyulap INIgame.com menjadi wadah bagi remaja-remaja kreatif dari lokal untuk menjejaki pengalaman, mengasah keterampilan, dan mencicipi dunia kerja. Terakhir, INIgame.com juga hadir sebagai tempat edukasi bagi remaja-remaja yang tertarik di bidang game, dengan harapan bisa mencetak anak muda siap kerja yang percaya diri dalam menembus MEA.
Terkait banyaknya peran dan pekerjaan yang harus dilakoni Alvian, hingga membuat waktu kerjanya meniti langit gelap malam, Alvian tertawa kecil sebelum sempat menjawab,
“Jika raja tidak benar-benar memimpin, bagaimana ia bisa berharap orang-orang di bawahnya akan mengikutinya? Kamu tidak menjadi pemimpin karena kamu cerdas dalam segala hal dan bisa memerintah begitu saja, kamu berada di posisi pemimpin untuk bekerja lebih keras dibanding orang lainnya. Ini bagai game. Pilihannya ada dua, menunggu MEA datang dan menghancurkanmu begitu saja, atau menunggu MEA sembari menyiapkan plan A dan plan B. Kamu harus menerjangnya balik. Jika pasar bisa begitu terbuka mengobarkan perperangan padamu, kamu harus tertantang untuk mengalahkannya.”
Malam sudah habis memakan sore saat aku pamit dari ruang kerja Alvian dan bersiap pulang. Aku melangkah bersama Alvian melewati beberapa ruang kerja di Skystar Ventures yang penerangannya menyala. Aku pun diberitahu jika tiap ruang kerja dengan nama label berbeda-beda, memiliki sejumlah remaja yang tengah bekerja untuk impian-impiannya. Jadi, di Skystar Ventures yang bertempat di gedung C Kampus UMN berarsitektur ‘telur’ itu, setiap harinya berusaha melahirkan anak-anak remaja yang siap mengupas habis MEA.
Ada senyum yang membingkai bibirku. Kuucapkan pada Alvian sebelum pisah pada pertemuan itu, jika ia, kisahnya dan kawan-kawan remaja lainnya yang tengah sibuk mengolah mimpi-mimpinya, telah berhasil meyakinkan dunia jika Indonesia akan menyambut MEA dengan tangan yang siap merebut peluang. (*)
*tulisan ini keluar sebagai juara kedua dalam lomba penulisan feature antar universitas tingkat pulau Jawa pada ajang Communication Festival 2015, yang diselenggarakan UMN

This entry was posted in

0 Comments:

Post a Comment