Wednesday, 9 August 2017

Sudut Pandang Spesial ala Darwis Tere Liye (1)

“Saya tak percaya kalau ada yang bilang ide itu terbatas,” buka Tere Liye dalam lokakarya sekaligus sesi berbagi pada kelas ‘Ide & Karakter’ yang diisinya. Kalimat pembukanya mengingatkanku pada mentorku dulu yang bilang kalau ide selalu ada di sekitar kita, ia bagai menggantung sedia di udara, menunggu kita yang cukup peka untuk menangkapnya dan mengolahnya dengan cara istimewa.
Siang itu (22/7), aku berkesempatan untuk hadir dalam kelas menulis Expert Class yang diselenggarakan Gramedia Pustaka Utama di Jakarta Creative Hub, sebagai rangkaian acara puncak atas kompetisi lomba menulis novel YA & Teenlit Gramedia Writing Project angkatan 3. Salah satu permaterinya adalah novelis laris Tere Liye. Dengan pakaian kasual santai ber-hoodie kelabu, Tere Liye memaparkan materinya dengan penuh canda. Membuat kelasnya menjadi salah satu sesi yang menyenangkan berisi tawa, juga pengetahuan yang bernas.

(kanan ke kiri: Aan Mansyur, Rosi L. Simamora, Tere Liye)
Berpikir Di Luar atau Tanpa Kotak
Buat Tere Liye, tema tulisan bisa apa saja. Beragam dan bermacam-macam, terserah ingin berangkat dari topik yang seperti apa. Namun kuncinya satu bagi mereka yang penulis baik: selalu mampu menemukan sudut pandang spesial. Inilah letak perbedaan mereka yang awam dengan kita yang ingin jadi penulis. Penulis selalu cukup peka dan kreatif untuk berpikir beda: di luar kotak atau bahkan tanpa kotak itu sendiri. Sampai pada penjelasan singkat dengan penuh penekanan atas ‘sudut pandang spesial’ itu, Tere Liye berhenti dan mendadak mengajak seluruh peserta untuk berlatih membuat satu paragraf dari satu kata: hitam. Kami ditantang untuk menemukan sudut lain yang menarik dari sebuah ‘hitam’, hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Saat itu aku dengan terburu-burunya menulis, “...aku kehilangan kedua bola mataku kemarin. Setiap harinya adalah malam, dunia yang kukenal kemudian hanyalah hitam.” Begitu pula peserta lain, yang diminta membacakan hasilnya. Tanggapan Tere Liye kemudian menjadi bagian paling penting.
Menurutnya, mengapa rata-rata memaknai hitam sebagai warna. Tere Liye bercerita, dia pernah mengisi lokakarya di sebuah sekolah tinggi yang mana pesertanya hampir seratusan orang. Dia melakukan tantangan kecil yang sama, dan sekitar puluhan orang bahkan hampir sembilan puluh persennya menulis hal yang tak jauh berbeda; hitam diletakkan sebagai warna atau makna kegelapan. Sampai kemudian dia menemukan satu anak yang menceritakan bagaimana sepotong warna bernama hitam adalah si tukang telat, hingga warna-warna lain memusuhinya. Itulah alasan mengapa hitam tak ada dalam deret mejikuhibiniu-nya pelangi. Kami pun tertegun.
“Itu yang saya maksud menemukan sudut pandang spesial. Jadi, langkah pertama bagi penulis untuk mengolah ide jadi hasil yang menarik adalah sudut pandang spesial!” tegas Tere Liye sekali lagi. 

suasana Jakarta Creative Hub yang hari itu jadi tempat dilaksanakannya Expert Class GWP #3
Penulis x Koki
Selain hitam, Tere Liye banyak memaparkan contoh kasus bagaimana penulis yang mampu menemukan sudut pandang spesial dari sebuah ide, akan menemui keberhasilan menulis ceritanya. Salah satunya adalah novel Ayat-ayat Cinta karya H. El-Shirazy. Selama ini pola kisah romansa selalu berlatar kota metropolitan, negara-negara Eropa dan Asia yang jadi tujuan wisata penuh keindahan. Tapi pernahkah terpikir untuk memasukkan negara seperti Mesir, ditambahi bumbu keagamaan dan adat yang ketat? H. El-Shirazy melakukannya. Keluar dari zona nyaman pola cerita roman selama ini. Beliau menemukan sudut pandang spesial yang tak didapatkan orang-orang.
“Bagi saya, pekerjaan penulis mirip dengan koki. Bahan makanan yang biasa saja bisa diolah jadi makanan lezat di tangan koki handal. Ide yang umum bisa saja dikemas jadi cerita menarik di tangan penulis yang punya sudut pandang spesial,” tutur Tere Liye sebagai penutup, lengkap dengan penekanannya di kalimat terakhir.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a Comment