Sunday, 7 August 2016

Novel ‘Time in a Bottle’: Dengarkan Bukunya, Baca Musiknya



Kau tahu? Tidak ada perasaan yang benar-benar diam – ia hanya diberi jarak yang cukup jauh untuk tak terdengar oleh seseorang yang membuatnya hidup. Dan, kadang kala, perasaan seperti itu memilih lagu atau cerita untuk mewakilinya berbicara. Ia bukan terlalu malu atau takut, hanya saja, kerap kali perasaan tadi terlampau indah sekaligus duka untuk diucapkan dan didengarkan begitu saja. Sesekali, ia membutuhkan paduan puisi dan musik; yang berarti iringan kata dan nada. Mari menikmati keduanya bersama Marvel, Alora, Rachel, dan Maria di ‘Time in a Bottle’, menemukan cinta dalam sebotol waktu....berikut sebagian daftar musik yang menemani cerita mengisahkan dirinya. 
sumber gambar: cuentacuentospr.com

 1. The Sound of Music
Lagu ini hidup di antara rajutan masa kecil mereka berdua; Christine dan Marvel. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah sepotong sound of music yang dimainkan dari jari-jari kecil Christine adalah kenangan yang berupaya dihidupkan atau justru ingatan untuk mengubur masa lalu Marvel kembali?

“...when i’m feeling sad... I simply remember my favorite things. And then I don’t feel so bad...” And, my favorite is you. – Christine ketika tengah bersenandung, halaman 208


2. Scriabie Etude
Pernahkah kamu berjalan di sebuah tempat yang tak kamu kenali dan tiba-tiba mendengar seseorang asing memainkan piano dengan begitu indahnya? Kamu terbius. Kekhawatiranmu pada hal-hal yang tak kamu ketahui berubah menjadi rasa penasaran. Lalu menjelma kekaguman. Perlahan kemudian, hati menerka-nerka kemungkinan tentang jatuh cinta.

“Scriabie etude,” kataku bersemangat. “Kamu memainkannya hampir semulus permainan Vladmir Horowitz. Bagaimana bisa?” – Marvel kepada Christine di sebuah kapel di gereja.


3. Fur Elise
Musik-musik lama bagai kotak kenangan yang sudah berdebu dan disimpan di bawah kolong tempat tidur. Mereka seakan terlupa dan hilang, tapi ketika kamu menemukannya kembali secara tidak sengaja – apa yang pernah disimpan didalamnya menghajarmu sampai kamu tak tak tahu bagaimana mengatur sesak yang menghimpit dadamu.

“Tidakkah kalian pikir Fur Elise sebenarnya sedang merayakan orang yang jatuh cinta, seperti Beethoven saat menggubahnya?” – Marvel semasa remaja


4. Moonlight Sonata
Hati-hati dengan kecantikan, begitu juga keindahan. Terlalu banyak takarannya akan membuatmu tak sanggup menampungnya, kemudian menangis sebelum memuntahkannya. Kupikir cinta juga demikian?

“Begitu cantik dan indah. Namun, dalam keindahan itu, aku menemukan betapa angsa itu sungguh merana dalam kesepian.” – Marvel ketika menafsirkan Moonlight Sonata yang ditanyakan Janitra, guru musiknya


Tadi itu sejumlah musik-musik yang mewarnai perjalanan cinta dalam novel ‘Time in a Bottle’. Pastinya masih ada lagi nada-nada yang menyelip di antara lembaran ceritanya. Bukan hanya piano, kamu hanya belum mendengar bagaimana Joao bergitar dan Alora menyusun daftar lagu pilihan untuk diputar di radio Makau-Indonesia. Sampai akhirnya kamu akan berhenti dan berpikir; sesunyi apapun kisah cinta yang kamu miliki, selalu akan ada lagu yang mampu memberinya suara untuk bicara.

0 Comments:

Post a comment