Saturday, 23 May 2015

Kepada Lelaki yang Menghajarku Tiap Malam Lewat Kenangan Tentangnya


Aku menggeleng sembari menurunkan tangan seorang lelaki yang hendak mengajakku berdansa malam itu. Aku memilih prasmanan lain ketika lelaki itu datang dengan dua minuman berwarna. Aku beranjak ke balkon saat lelaki yang sama bilang ia akan membawaku mengembara. Lelaki itu mematung di tengah riuhnya pesta saat kubilang, maaf, aku menunggu seseorang. Tapi tiba-tiba saja, aku mengamit lengannya, menuntunnya keluar dari gedung itu ke sebuah bangku taman yang tak jauh, tapi berhasil menyelamatkanku dengannya dari rayapan ramai. Lalu, kutunjukkan secarik kertas padanya – itu lembar yang sudah penuh oleh coretan. 
“…bagaimana harus kubincangkan cinta padamu? Lewat dua orang yang tengah duduk di pojok warung sederhana itu dan berbagi makanan? Melalui seorang perempuan yang menyentuh kekasihnya lewat layar tablet hingga ia terlelap karena obrolan-obrolan yang terjadi karena rindu? Bersama sepasang kekasih yang saling menukar bisu dan menikmati senyap malam walau tak ada kembang api memayungi mereka?”
“…kau tahu, ada sebuah kalimat di sebuah film yang sudah kulupa judulnya yang bilang; kamu tidak mengucapkan selamat tinggal pada orang yang menyayangimu, kamu hanya perlu pergi darinya. You don’t say good bye, you just walk away. Itu caramu melepas. Sedang aku di sini, tak pernah menemukan cara meninggalkanmu, kecuali cara menicntaimu terus-menerus dengan cara yang baru. Tapi, sejak awal jalan kita serupa persimpangan yang berbeda, yang berlawan. Dan kamu menjadikan kalimat itu nyata.”
“…apa cara terbaik untuk kukatakan padamu jika di sini, segalanya tetap sama. Kamu masih lelaki yang sama; yang kulihat pertama kali dan jatuh cinta. Kamu masih orang yang sama; yang namanya tereja saat aku mati dan terjaga. Kamu masih orang dan lelaki yang sama; yang membuatku percaya pada selamanya, sekaligus yang membuatku menangis di depan piala kaca.”
Lelaki itu terkejut sembari bertanya padaku, apa yang kutunggu, apa yang kunanti. Kubisikkan padanya sebelum benar-benar pergi. Bukan apa, tapi pada siapa. Bukan siapa, tapi pada apa. Padamu; siapa. Pada kenangan; apa. Aku tertawa. Luka.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment