Friday, 5 October 2012

Goresan Senja



Aku meraih pena yang tergeletak di meja kecil di dekat jendela yang basah karena rintik hujan yang baru saja reda. Aku menyibakkan gorden jendela, menatap keluar, menemukan sisa-sisa senja yang masih ada. Hujan tidak sedang meninggalkan langit kelabu untuk sore hari ini. Aku tersenyum, lewat pena ini, kugoreskan kenangan kecil kita berdua. Yang mungkin saja sempat hapus ditelan waktu, sempat padam oleh jarak dan sempat hilang dihembus oleh kita sendiri. Bukankah menulis itu merapikan kenangan? Dengan menulis, maka kita ada. Dan, kali ini, senja pun ikut menulis.
            Tulisan ini hanya rangkaian kenangan, walau kecil, ia seperti senja. Walau ia hanya singgah sejenak untuk menyapa Bumi lalu mengantarkannya pada gelapnya malam, ia tetap meninggalkan seberkas rasa untuk diputar kembali, untuk dibuka lagi dan untuk dikenang berkali-kali.
            Mari kumulai kenangan kecil kita berdua. Yang paling kuingat adalah saat kamu menyuruh seisi kelas termasuk aku untuk menyiapkan buku folio sebagai buku tugas. Kita tidak menggunakan buku tulis kecil biasa.
            “Akan ada banyak yang ditulis.” Ucapmu bersemangat dengan mata teduh itu. Saat itu, aku tersenyum, aku tahu, kamu akan segera memperkenalkan aku dan kita semua pada dunia imaji lewat rangkaian dan untaian kata yang dituangkan dengan tinta di atas lembaran kertas. Dan, bukankah aku benar? Pada akhirnya, kamu menugaskanku untuk membaca cerita dalam cetakan koran minggu, membedahnya, menelanjangi setiap unsurnya dan meresapinya. Saat itu, aku tahu, aku sedang belajar banyak.
            Itu hanya kepingan kecil. Ada lagi, saat kita bersama dalam satu kelas, dimana kamu mengajariku mengekspresikan diri dalam bentuk gerakan. Melatihku apa itu menguasai panggung, bermain dengan penekanan kata di setiap bait sajak dan puisi yang akan dibacakan, sampai akhirnya semua usai dengan sebuah kebanggaan. Semua berkat kamu. Aku kembali belajar dan tersenyum.
            Jangan berpikir, ini hanya berakhir sampai di situ. Masih ada satu lagi, kali ini bagai perahu. Kamu mengantarku sampai pelabuhan, melambaikan tangan dan melepasku untuk mendayungnya sendiri, berusaha sendiri. Yaitu sebuah bulletin kecil yang kini tengah beredar, dari usaha kecil-kecilan kita bersama. Yang membangunnya dari keringat nol. Kamu yakin aku bisa. Aku pun demikian, aku yakin aku bisa karena keyakinan dari dalam diriku pun sesungguhnya terbentuk dari dukungan dan motivasimu. Lalu, sampai semuanya terajut menjadi kenangan.
            Senja. Aku tidak pernah mengucapkan selamat tinggal padanya setiap kali ia pergi dan digantikan oleh langit malam. Seperti halnya kamu dan senja, aku tidak ingin mengucap selamat tinggal, karena untuk apa selamat tinggal terucap sementara aku percaya suatu saat lagi kita akan bertemu? Bertemu dan kamu kembali mengajariku banyak hal. Aku pun tidak pernah menganggap langit malam yang indah berhiaskan kerlap-kerlip bintang itu sebagai langit yang lebih mempesona dibanding langit keemasan senja. Karena, senja itu tak tergantikan, seperti halnya kamu. Kamu takkan terganti sebagai salah seorang yang berada di sampingku, menggenggam tanganku erat dan yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja.
            Dan, lewat goresan pena sederhana ini, kurapikan semua kenangan kita, merangkainya menjadi satu. Biarkan kenangan kita tersimpan rapi dalam setiap goresan senja saat langit jingga itu datang…aku mengingat dan mengenangmu dalam hangatnya senja.
Di kala senja sehabis hujan,
Veronica untuk Miss Ade Fitri.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment