Thursday, 20 March 2014

Someday


“Tak ada persahabatan yang sempurna, yang ada hanyalah orang-orang yang berusaha mempertahankannya.” – Winna Effendi, Refrain

Sebuah waktu, aku ingat aku begitu yakin semua berjalan baik-baik saja. Kita masih menukar senyum, melempar pandang mata dan berbagi cerita. Namun, di sebuah waktu, aku juga ingat aku begitu yakin jika semua berubah. Kita hanya mendebat perasaan, memenangkan ego masing-masing dan mengadu bisu.
“Kau bisa menguji seberapa besar persahabatanmu. Mudah saja, kau pejamkan mata dan ingat-ingat, manakah yang lebih membuatmu mengalah; pada sebaris kenangan yang terbentang ataukah setitik seteru yang merusak. Dari sanalah, kau akan mampu mengambil langkah.”
Aku menemukan jawabannya, cerita tentang kita berdua terlalu berharga untuk ditoreh luka. Maka, waktu berjalan cepat, secepat itulah pikiranku melemparku pada seribu cara untuk mengungkapkan maaf. Aku hanya takut pada waktu yang menertawaiku tentang keterlambatan, lalu aku terseok-seok dalam kubang penyesalan. Namun, aku kalah memerangi diam yang berakhir bungkam. Kita tak lagi dibingkai oleh kanvas pelangi masa silam, kita sudah mulai melukis dengan tinta hitam.
 Kamu bilang, apapun yang terjadi kita akan tetap seperti ini; bersama menanam bibit-bibit kisah manis, esoknya akan berbuah ranum sebagai kenangan terindah untuk dijelajah. Apakah kamu melupakan semuanya? Segalanya ketika kamu mengatakan janji itu, semuanya akan terus selalu dan selamanya seperti ini. Tapi, waktu terus berlalu. Dan, kau membiarkan hujan tetap turun. Semuanya tampak salah, kita hanya mampu menimbang, siapa yang menghentikan perkara dan mulai mengalah. Sedangkan, kita hanya bermuara pada sejuta rangkai kata yang saling menghujam.

0 Comments:

Post a comment