Sunday, 18 May 2014

Recall You

Kupandangi hujan yang tumpah ruah di hadapan kita. Hujan ternyata sudah menemukan irama ketukannya, ia turun pelan satu persatu, tidak lagi saling memburu – siapa yang lebih cepat sampai di Bumi. Hujan kini menjelma tirai air yang indah dipandangi. Sama seperti biasa, kita menikmatinya dalam diam – ditemani aroma jeruk garmot dan daun teh yang menguar dari kedua cangkir porselen putih milik kita. Kita membiarkan suara percik hujan yang mengenai aspal jalan dan menuruni genteng bangunan menjadi alunan lagu yang menyejukkan. Kukira, semua akan baik-baik saja, mengamati bulir hujan yang turun malu-malu dengan sengatan dingin di permukaan kaca. Sampai kau tepuk pundakku lembut, baru kusadari cangkirmu belum kau sentuh sedikitpun.
“Kita tak bisa lagi memaknai hujan. Berhenti membaca hujan, tak mampu kita mengeja satu persatu rerintiknya,” ucap kau, yang diiringi dengan kilat petir tepat di atas kepala kita. Bersamaan dengan guruh guntur yang terdengar bergerak dari kejauhan, mendekati kita.
Kau tahu air mukaku berganti mendung. Dan, kau paling benci hujan yang turun di wajahku yang kelabu. Lalu, kau menawari berdansa. Di tepi jalan, di tengah hujan – yang entah mengapa, kini iramanya terdengar kacau. Seperti orchestra yang rusak. Hujan menderas, disertai halilintar yang menampar langit dan suara guntur yang seperti geraman dan bentakkan. Aku jadi berpikir, ini mungkin air mata langit yang menjelma sebagai hujan.
“Berdansa?” Aku pergi mencari payung. Payung biru tua yang tadi kubawa kemari.
“Untuk apa mencari payung? Sejak kapan kau ingin berlindung dari hujan?” lanjut kau sekali lagi, terlihat heran bercampur kesal. Dulu, aku tak pernah memerlukan payung ketika melangkah menerobos tirai hujan. Tak peduli bagaimana pasukan air itu memukul-mukul tubuhku dan menyiraminya hingga menyisa dingin yang menggigil. Asalkan aku melangkah bersamamu, sudah ada teduh matamu yang memayungiku. Tapi, kini berbeda. Kau tak lagi membisikkan senandung hujan, tak lagi menguntai cerita bersama dan menyimpannya di rintik hujan. Maka, harus ada yang memayungiku. Teduh yang lain; payung.
“Ini hujan yang berbeda, sayang,” balasku pada kau. Kau mendengus, entah kesal, marah atau sedih. Tiba-tiba, kau memanggil pelayan, memintanya mengganti cangkir earl grey-mu dengan segelas kopi panas. Aku tertawa. Kisah kita berakhir di situ. Di hari hujan – dimana aku mengira hari depanku selalu bersamamu, nyatanya kau hanya meninggalkanku di kafe ramai di tengah hujan yang menderas, dan kau tidak datang. Dan, kulihat kau tertawa di seberang sana, merangkul si gadis berkulit salju, si gadis yang menawarimu segelas kopi.
*teruntuk kamu (seseorang di episode Fall); si lelaki tatapan teduh, yang pernah menjadi sahabat kerjaku – bahkan sampai sekarang, tanpa kau tahu, aku pernah menungguimu dengan segumpal cinta di bawah hujan, hingga ia mereda. Dan, kau tak datang – sebab kau tak pernah tahu.

0 Comments:

Post a comment