Friday, 29 August 2014

Gadis Berkunciran Batik


Lalu kutawarkan padamu secangkir cerita untuk mengajak tubuh malam bercakap-cakap hari ini; tentang seseorang - si gadis berkunciran batik. Ini bukan bincang yang pelik, melainkan menarik; sebab sekali lagi, ini mengenai gadis berkunciran batik nan unik.
Aku melihatnya menapaki lantai vanilla memasuki ruang besar; perta
Kiri - Kanan : Kak Dea dan aku
Kita : ImKom UMN'14
ma kali – dengan irama langkah yang bisu. Setelahnya ada tiga potret yang tak lepas dari benakku; wajah bulatnya yang lucu, tatap matanya yang ramah dan senyum sederhananya.
Dan, aku ingat. Ketika keramaian menyetubuhi terik matahari, bersama-sama meringkusnya dalam panas yang berpeluh. Si gadis berkunciran batik masih berdiri, membawa sebuah papan nama kelompok yang dipimpinnya – bersama tas putih mungil dan sepatu biru kelabunya, ia berdiri menjulang tinggi, aku segera tahu; ia bukan hanya gadis berkunciran batik yang cantik. Ia adalah gadis yang mampu membuatmu duduk diam berjam-jam hanya untuk menantang malam dengan cakap bincang tentang jendela dunia.
Kamu tahu; aku adalah tukang kebun kenangan. Aku menulisi bayang-bayang orang yang menyinggahi kebunku dan menyiraminya dengan air-air masa lampau. Tapi berbeda dengan si gadis berkunciran batik; aku hanya menangkap memori dengannya dalam hitung hari yang berjari-jemari. Walau begitu, aku belajar banyak darinya – tentang keteguhan dalam pengerjaan tugas, motivasi dan kepenuhan hati. Aku memerhatikannya; tersenyum dalam diam – senyum bisu yang kutahu tak diketahuinya.
Ingin kubisikkan padanya jika aku bangga pernah memilikinya sebagai kakak. Pernah ditemaninya menjelajahi malam utnuk mengumpulkan potret kelompok, pernah berdiri di bawah arahannya, pernah merangkai kenang singkat bersamanya dalam waktu-waktu penuh tepi batas. Aku menganguminya sebagai kakak, kakak berkunciran batik yang membuatku berusaha untuk tidak mengecewakannya – walau itu pernah terjadi dan aku melihat bulan meredup di wajahnya yang bulat. Maka, lewat rangkai-rangkai kalimat yang menghimpun paragraf ini, aku menyelipkan maaf dan cinta padanya.
Ia; si gadis berkunciran batik. Adalah kakakku; kakak tingkatku. Terkadang aku menyulam khayal jikalau kita akan duduk di sebuah saung, bercengrama bersama lalu menebak-nebak bintang mana yang bisa membuat kita terus bersama. Akan ada banyak yang kuridnukan darimu, kak Dea Andriani.

0 Comments:

Post a comment