Monday, 22 October 2012

Fall...(6)



“I make sure to keep my distance, say I love you when you’re not listening.”
Aku menemukan matamu. Dua kali. Lirikan matamu yang teduh itu. Dan, berkali-kali aku menyadari, aku mencintaimu karena manik mata hitam itu. You’ve got me with those black eyes. Tapi, akhirnya, bukankah siang tadi, saat kamu berdiri di pojok lorong kelas dan aku di pojok yang berbeda, saling sibuk dengan diskusi bersama teman masing-masing, antara kamu dan aku tak lebih dari sekedar pertemuan mata lalu membuangnya cepat-cepat seolah-olah ini seharusnya tidak terjadi.
Kamu tahu tidak, aku harus kembali menyelami topik yang sudah kukubur dalam-dalam beberapa tahun lalu. Topik dimana aku sudah lelah untuk membahas dan mendiskusikannya, tapi setelah aku tahu kamu bergelut serius di bidang itu, tanpa banyak pikiran yang melintas untuk kutimba-timbang, aku langsung membongkar kembali ketertarikkanku. Semua hanya agar aku bisa mencipta obrolan denganmu.
Lalu, akhirnya aku menemukan satu hal yang setidaknya membuat kita berdua sama, yaitu secangkir teh hangat di kala senja. Akan sempurna saat kita berdua bisa berdiri di balik jendela sambil menikmati teh hangat kita, aku melukis senja yang hadir di antara kita ‘tuk menghangatkan kesempurnaan kebersamaan itu dan kamu sibuk bercerita mengenai topik favoritmu. Tapi, semuanya buyar dan hanya menjadi angan-angan kelabu, karena aku tahu, semua itu hanya akan terjadi dalam cerita-ceritaku yang terus menerus melukismu. Karena, bukankah seperti yang tadi kukatakan, kita hanyalah sebatas tatapan mata?

0 Comments:

Post a comment