Thursday, 23 February 2012

Still…(2)


And, this is the night for you to move on , gals .
Ini kenangan yang kembali kubongkar. Semuanya tentang kamu. Namun, ini lebih khusus, karena aku menulis ini ketika bibirku kembali membisikkan pertanyaan yang smepat terlontar dna kini begitu menyakitkan tuk diucap yaitu sebuah pertanyaan sederhana; Will you waiting for me? Mungkin kini, pertanyaan itu akan berubah menjadi; Do you still waiting for me? Ah, mungkin seperti ini; Do you want to waiting for me?
Dulu, ketika aku tahu, kamu sudah memulai sebuah kata ‘sayonara’ untuk ketidakpastian yang kuhadirkan karena aku terikat oleh janji yang kuikrarkan sejak alam bersama Tuhan, aku menulis kalimat tanya itu, dengan sebuah kata kunci menunggu. Aku bahkan menyediakan sebuah buku sederhana yang kudapatkan dari hasil keringat menulisku untuk melukis begitu besar makna kata menunggu dalam kamus hidupku semenjak kehadiranmu. Aku tahu, dua tahun beserta bulan-bulannya ialah waktu yang lama yang kutawarkan untukmu utnuk menunggu. Tapi, tahukah kamu, aku tidak memikirkan sepotong hati dalam tubuh ini saja, aku juga memikirkanmu! Maka itu, dalam penungguan tahunan itu, aku memberimu kebebasan untuk mencintai yang lain, terikat dengan yang lain, walau aku tahu, itu akan begitu menyakitkan, tapi aku juga sadar, akan lebih menyakitkan jika kamu menungguku dan memandang penungguan itu sebagai sebuah belenggu yang merantai hidupmu. Bukankah cinta itu bersifat bebas? Maka, kubebaskan dirimu, hingga seperti sekarang, kamu memandangku sebagai bagian dari masa lalu, bukan masa depan yang ditunggu.
Entah mengapa, malam ini, aku benar-benar begitu teringat akan kamu. Aku jadi ingat salah satu cuplikan cerita dimana tokoh perempuan bertanya pada laki-laki alasan laki-laki itu mencintainya, dan si laki-laki menjawab berupa pujian. Jika aku dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, aku akan menjawab pasti pada satu kalimat dan alasan aku mencintaimu ini tidak seperti para mereka-mereka di luar sana yang jatuh pada lembah fiisk, bukan, tapi karena kamu melihatku. Itu saja. Sederhana, ya, karena aku mencintaimu juag dengan sederhana, hanya waktu dan keadaan yang membuatnya terlihat dengan bungkus rumit.
Menunggu bukan perkara mudah. Aku tentu tahu, tapi, menunggu membuatmu mengetahui banyak hal, salah satunya adalah aku tahu bahwa kamu bukan satu-satunya.

0 Comments:

Post a comment