Sunday, 25 January 2015

Tentang Nyamuk dan Kisah yang Lapuk


Rein, malam itu kamu bilang padaku, ingin mendengar sajak tentang nyamuk. Kukira, itu karena kamu baru saja usai menuntaskan Dewi Lestari dengan Rectoverso-nya. Di sana ada perkara cecak dan nyamuk. Tentang cecak yang diam-diam merayap dan ‘hap!’, nyamuk terperangkap selamanya. Itu pengorbanan yang utuh. Tapi, kurasa kamu ingin mendengar sajak yang lain. Aku hanya takut jika larik dalam tiap bait ini nantinya mengisahkan cerita yang berbeda, dan apa pun yang tersisa tentang kita akan melapuk.

seekor nyamuk seusai hujan. kesendiriannya mengeja tanya
apa hujan tadi menyesatkannya. atau ia diam-diam mengintai kita
karena itu nyamuk yang sama, yang menggigitku dengan probosisnya
tepat ketika kamu menyarangkan mata
sejak itu, bukan hanya liurnya yang ada di tubuhku
tapi juga bayangmu yang meningkahi ruang kepalaku
seperti gelayut gelisah larva nyamuk yang ingin segera tumbuh

seekor nyamuk seusai hujan. rapuhnya meresahkanku
kita berdua tahu, nyamuk itu akan mati dalam beberapa hari lagi
ingin kubertanya, kemana lagi kita akan berlabuh
sedang puisi yang membuat kita berbincang adalah tentang nyamuk
tahukah kamu, dinding yang terbentuk justru mengundang peluk

seekor nyamuk yang usai dalam hujan. bangkainya rusak bergumpal bersama darah
kamu adalah hujan yang menyesatkan dan pelan-pelan membunuh nyamuk
hujan yang sama, yang menahan rasaku untuk tidak sembarang meliuk; padahal ini tentang kamu
namun, kamu biarkan kisah kita mati bersama nyamuk
dan melapuk

Kali ini, biar kubisikan sesuatu. Apa kamu tahu, ketika hujan, nyamuk selalu berusaha bertahan hidup. Karena rerintik hujan mampu memperlambat laju terbang nyamuk. Tapi, ia tetap berusaha hidup dan hujan tetap turun. Kamu adalah keduanya, Rein. Kamu hujan yang teduh dan nyamuk yang tangguh. Tapi, untukku, kamu ialah hujan yang menggelisahkan kenanganku dan nyamuk yang diamnya membunuhku. Lagi-lagi, ini untuk seseorang yang meminang hujan dalam namanya, Rhein Mahatma.

0 Comments:

Post a comment