Sunday, 25 January 2015

Catatan Luka dan Lelaki Bermata Sayu


Aku pernah berjanji, tidak akan lagi menulis tentang lelaki-lelaki yang sempat mampir ke kepalaku tiap aku terbangun di suatu pagi, atau sebelum lelap di sepenggal malam. Tapi, kali ini coba izinkan aku menuliskan kisah mengenai seorang lelaki, lagi. Hanya sebuah cerita; yang sesungguhnya sudah lama kusimpan, namun dalam tiap kesempatan sunyi, ia selalu mengusik. Karena ia berhasil mendefinisikan cinta dengan arti lain. Mungkin saja, cinta adalah metafora untuk luka masa lalu. Adalah ia, lelaki bermata sayu yang mengatakannya padaku.

Pertama kali – pada waktu-waktu yang sangat awal, aku bertemu dengannya ketika tubuhnya dilumuri malam. Ia duduk di sebuah ruangan penguji, mendengarkan penyampaian materiku. Lalu mengangguk-angguk sebelum akhirnya tersenyum, ia bilang, aku berhasil. Lambat akhirnya ingin kukatakan padanya, sejak itu, mataku tak pernah lepas darinya. Tiap kudapati sosok lelaki bertubuh mungil yang melumuri tubuhnya dengan malam, kaca mata cokelat tua yang membingkai mata sayunya dan langkah mantapnya, angin yang mendesau pun seakan membisikan namanya. Dan, malam melukis sosok bayangnya yang tersamar. Lantas, tanpa kutahu, kita bertemu lagi – awalnya aku tak mengenalinya, karena ia sudah menanggalkan seluruh perkamen malam di tubuhnya, berganti menjadi jaket berumput tua.
Cerita ini dengan mudah berakhir tepat seperti tatap sayu matamu. Cerita ini tepat berada di ujung, sayu dan tidak tumbuh. Karena kita bertemu, untuk tahu jika ia adalah kenangan yang tak akan pernah dibuat dan angan yang tak mungkin disentuh. Mungkin saja, cinta adalah sebutan lain untuk kesendirian yang menuai luka. Sejak awal, aku tahu, kisah ini berakhir tepat ketika ia dimulai. Karena aku melihat luka pada rasa yang bersikeras menyebut dirinya cinta.
Maka inilah aku yang teronggok di waktu menjelang larut malam, mengintip purnama yang sembunyi di balik awan hitam. Teringat sekali lagi tentangnya – ia mungkin tak akan pernah tahu, ada seorang perempuan yang pernah ia uji di sebuah ruang yang asing, dan perempuan itu diam-diam menyimpan segenggam matahari di antara hujan; untuknya. Mungkin saja, cinta adalah frasa untuk rasa yang tumbuh di antara luka.
Untuknya, seorang lelaki yang bahkan tak menyadari jika ia punya tatap sayu, yang membuatku ingin membungkus pulang matanya.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment