Wednesday, 15 July 2015

Jika Aku Sakit


"Jangan bertanya: sudah sembuh? Tidak ada orang yang betul-betul sehat. Aku cuma lebih sakit darimu. Aku sedang memberi diriku kesempatan berharap dan percaya*.”
Aku membawa cerita dari atas tempat tidurku yang menyulap menjadi meja makan sekaligus ruang bacaku di kala senggang – menyedihkan ketika aku sesungguhnya lebih memilih sudut kedai teh untuk melahap bacaan dan resto kecil untuk menghabiskan makan siang, tapi sepotong sakit yang menempel di tubuhmu, membuatmu jadi orang yang bergantung pada satu ruang. Dan, dari ruang yang sama, aku menulis cerita-ceritaku yang kerap menggantung. Apalagi jika tentang kamu – yang kemarin lalu bertanya; apa semuanya baik-baik saja? Aku punya sebotol obat-obatan dan segelas air putih untuk kamu beri pertanyaan itu.
“Biarkan kunikmati penyakit yang mengisap jiwaku. Rasa sakit adalah alasan orang menggunakan kata kerja dalam hidupnya. Mencintai dan menunggu, umpama*.”
Untuk Kamu, sakit yang mana yang tengah kamu tanyai kabar? Sedangkan aku melihat matamu masih tebal ditimbuni waktu, hingga samar melihat ada bilik terdalam di diriku yang merindu saat ketika kita berada di ruang yang belum dinyalai lampu – hanya berkas cahaya remang lampu kota dan sinar bulan yang berebut meningkahi – dan bayangan kita saling beradu dan bertukar peran. Ketika itu, senyum dan tatap mata yang mengambil lakon di panggung obrolan kita, yang kini hanya bisa diraih lewat pesan singkat yang tidak pernah nyata; seperti kamu melihatku yang perlahan hanya sebagai bayang semu.
“Jika aku sakit, tersenyumlah. Tidak ada yang cukup di dunia ini – tapi senyuman tidak pernah kurang.*”
Biar kudongengkan padamu hari-hari yang kujalani dengan kesedihan tumbuh bahagia dalam diriku; aku merindukan bangun tidur dan bekerja seperti biasa – mengejar sejumlah proyek, lalu menantang diri sendiri lewat berbagai perlombaan, meniti waktu hingga larut malam tanpa peduli apakah hantu akan datang merangkak, keluar rumah dan mencari orang-orang baru untuk kusapa ‘hai, sepertinya kamu bisa jadi salah satu tokoh rekaan dalam ceritaku? Bagaimana dengan obrolan dengan secangkir earl grey?’. Tapi aku hanya duduk depan televisi dan buku sepanjang hari menunggu kapan orang-orang berjas putih mengatakan segalanya akan berjalan lancar. Kamu, ini sakit yang tidak membunuhku, aku yakin – ada yang lebih dari itu, seperti bagaimana kabarmu? Apakah sehat?
Aku baru saja memotong apel siang ini, sembari membayangkan apel itu seperti kepalamu.

*kutipan bait-bait puisi ‘Jika Aku Sakit’ karya Aan Mansyur
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment