Sunday, 29 May 2016

Perempuan di Jalan Angsana 3 No. 17



Seusai panggilan singkat tadi, pria paruh baya itu menepikan mobil silvernya di depan air mancur kampus. Aku masuk ke dalam dengan langkah meragu. Sapaan pertamanya padaku mengisyaratkan keasingan yang diakuinya. Ini baru pertama kali saya ke Serpong. Ia tawarkan dua pilihan; mengikuti petunjuk jalan dariku ataukah layar peta pada ponsel pintarnya? Andai ini pertanyaan tentang ke mana kepercayaan hendak diletakkan, mungkin akan kujawab pada pangkuanku, tapi ini lebih sederhana daripada itu; maka kubilang biarkan internet mengambil arah, dan lihat bagaimana empat puluh lima menit perjalanan memperlakukan kami berdua. 
Sebab barang kali pertemuan asing punya rencana lain.

Lewat bingkai-bingkai pemandangan yang tak jauh berbeda dari hari-hari biasa: iklan billboard TV dengan denyar lampu yang buat sakit mata, aduan klakson dari orang-orang di balik kemudi yang sibuk mencari kesabaran, dan gerak jarum jam yang tiba-tiba cepat ketika tak ada mata yang melihat – aku dalam rute menuju rumah. Tidak ada radio yang menyala, selain kekosongan yang mengisi lagi dan lagi. Lalu, kami putuskan untuk terlibat dalam percakapan yang berupaya membunuh laju kendaraan yang tersendat-sendat.
sumber gambar: https://black-and-white.photogrist.com
“Mbak, jalan lurus ke depan ini Daan Mogot ya?”

“Bukan, Pak. Coba lihat ke palang hijau deh, ini arah Kalideres.”
Ia manggut-manggut. Lama kudapati, matanya lebih banyak singgah pada jendela kanan-kiri mobil. Kembali lagi ia bertanya perihal yang sama; nama-nama jalan dan pusat perbelanjaan – seperti tengah memastikan sesuatu yang pernah ada; dulu. 
“Jalan ini, Mbak, di sebelah kanan, pernah ada Ramayana?” Alisku tertaut. “Setahu saya, adanya Sabar Subur, Pak. Tapi sudah mati. Terbakar di kerusuhan 98 lalu.”
Cinta pertama saya ada di sini. 1997 kemarin. Sudah berapa lama ya kalau dihitung dengan tahun sekarang?
Aku tertegun. Kami berdua terdiam – memberi jeda bagi pikiran masing-masing tentang kenangan yang tertinggal.
Sembilan belas tahun, Pak. Sudah lama sekali. Kataku, menggantung dengan keheningan.
Dulu, Ramayana di sini. Saya pernah mengajaknya ke luar untuk makan, dan uang saya tidak cukup. Saya tak ingin dia tahu, makanya saya biarkan dia memilih makanan dan diam-diam saya pergi ke kasir meninggalkan KTP saya ditahan.
Radio dinyalakan. Lagu tanpa judul yang dikenali, diputar dengan volume paling rendah – yang tidak didengar oleh telinga kami satu sama lain. Kupikir itu caranya agar ia tidak mendengar dengan jelas suaranya sendiri yang bercerita soal perasaan yang belum selesai.
Kayak sinteron saja, hubungan kami tidak disetujui orang tuanya. Perempuan saya dari keluarga berada, dan saya saat itu hanya buruh pabrik yang berusaha tampil gaya demi dia. Kami pacaran diam-diam, karenanya hanyak hal-hal lucu yang masih segar di ingatan.
Aku mengulum senyum, “Apakah dia yang jadi istri Bapak sekarang ini?”
Dia menghilang setahun setelah itu. Saat kerusuhan berlangsung. Tahun 98, ia hilang. Saya berusaha tengok berkali-kali ke jalan ini, Mbak. Ini Raya Mauk bukan? Saya masih ingat alamatnya persisnya di mana. Dan ia sudah tidak berumah di sana – tak ada yang tahu pula ia ke mana sampai sekarang. Kita berdua belum punya ponsel kala itu, tak ada yang namanya tukar nomer hape. Tapi, Mbak, yang pertama selalu punya ruang sendiri.
Saya tak pernah tahu lagi kabar dia hingga detik ini. Namun di tiap shalat, pada doa, kerap saya bisikkan pada Tuhan untuk satu kesempatan bertemu dengannya barang sekali lagi. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin tahu kabarnya saja. Kadang, saat sendiri, sunyi pas malam-malam, saya sangat teringat lagi padanya. Ia mungkin hilang, tapi tak pernah benar-benar beranjak bagi saya.
“Dan, melewati jalan ini lagi bagi Bapak, bagai menelusuri lorong masa lalu?” ujarku, parau. Tahu-tahu radio sudah dimatikan.
Hahaha, iya. Tadi saat lewat sini, saya farmiliar. Sudah banyak yang berubah memang.
Ia menyelipkan pandang matanya di antara lalu lalang dan sorot lampu kendaraan; menaruh harapan yang masih sama di tengah keadaan kota yang telah berganti wajah. Berkali-kali ia tanyakan juga apa yang terjadi di sini saat kerusuhan belasan tahun lalu. Kuceritakan bagaimana bank-bank ikut dirusak dan lapak-lapak di mall terjarah, serta himbauan RT bagi kepala keluarga untuk berdiri di depan rumah membawa tombak sebagai alat pertahanan jika ada apa-apa.
Lantas, cerita soal kehilangan dimainkan ulang.  Mencari tahu tentang cinta pertama yang hilang pada '98, seperti menengok kenangan lewat jendela kusam yang tak tertembus dilihat mata. Buram wujudnya. Kupikir hati yang lengkap dengan sepaket ketabahan yang membuatnya bertahan dan mampu meraba yang menunggu di balik jendela.

Apakah masih mencintainya, Pak?
Hening. Cukup lama. Aku teringat pada salah satu sajak yang berkata, ada jawaban yang menolak diberi pertanyaan. Dan aku menyadari tadi adalah salah satunya.
Istri selalu yang terbaik. Sekarang ini saya sudah punya tiga anak dengan istri sedang di kampung. Saya juga tak berpikir cinta pertama saya adalah yang sejati, hanya saja, pikiran ini sesekali masih cukup kuat pulang padanya. Saya tidak terlalu yakin suatu saat nanti akan bertemu, tapi seperti yang Mbak bilang, keinginan kuat sering kali buat semesta bahu-membahu mewujudkannya. Saya pikir, sepotong kabar akan menuntaskan semuanya.
Aku membayangkan perempuan yang dimaksudnya juga memikirkannya. Sesekali, sebagai kelebat yang mengundang rindu-rindu yang ganjil, atau cerita cinta belum usai yang dikisahkan berkali-kali pada orang asing yang ditemuinya. Seperti sekarang. 
Kami berdua tersenyum – dan ia masih menyeletuk tentang peristiwa yang lewatnya baru saja kemarin, sampai ia katakan rasanya bagai cerita FTV saja, lalu tawa hambar menyertainya. Kucondongkan tubuhku pada akhirnya dan kukatakan aku adalah seorang tukang tulis. Aku bisa membantunya menulis cerita tentang perempuannya – mengabarkan pada dunia yang semoga saja dengan kebetulan-kebetulan manis; bisa terbaca olehnya. Kuberi ia nama lengkapku dan alamat jurnal tempat ia bisa mengakses tulisan ini. Ia menyebut namaku berkali-kali, katanya ia ingin sekaligus mencari cerita-cerita yang kubukukan di toko-toko buku.
Dan, ketika mobilnya berhenti, sesaat aku hendak turun, ia bisikkan nama perempuannya padaku. Rasanya ia bagai dipaksa kembali jujur pada dirinya sendiri – kesetiaannya tak akan tergugat, namun, cerita yang tak pernah diketahui nasib tokohnya selalu jadi lubang yang mengusik bagian terdalam dirinya. Kukatakan, aku suka nama belakangnya; Ariyani. Kuucapkan sampai jumpa, dan selamat menjelajahi kenangan yang mengajak minum kopi. Ia tertawa. 
sumber gambar: blac-white street photography
Tulisan ini pun jadi. Sebagai pencarian tubuh atas peluk-peluk yang hilang. Sebagai kecup-kecup yang sudah terlambat, tapi bisa sampai sebagai bibir yang terbuka mendesiskan apa kabar. Sebagai saksi lain atas perasaan-perasaan yang menunggu keajaibannya masing-masing.

Catatan tambahan:
Hal menariknya, ia tidak menolak ketika kusampaikan akan menulis ceritanya dan mengunggahnya ke blog pribadi – dan kupertimbangkan untuk menjadikannya sebuah cerpen yang kurindui. Ia membalasnya dengan tawa. Mungkin itu bahasa lain untuk mengatakan bahwa ia juga ingin kisahnya dikekalkan, mengingat selamat ini caranya merawat kenang hanya dikunci dalam kepala – itu membuat hening terus-menerus meledak menyakitinya. Lagipula, cara tersebut sangat riskan. Ingatan dalam pikiran bisa lesap lewat cara-cara tak terduga, belum lagi dorongan untuk melupakan. Karenanya, tulisan ini diniatkan sebagai museum sederhana atau mungkin sepotong obituari atas ingatan yang ingin dikenang tanpa pernah menemui kata selesai atau mati, yang sesekali bisa dibolak-balik dan dikunjungi. Kukira itu juga sejatinya menulis: untuk keabadian, demi merapikan kenangan, dan memelihara yang sementara agar jadi selamanya.


Tangerang, 28 Mei pada suatu sore pukul 16.39
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment