Sunday, 5 June 2016

Yang Lain-lain dari Dongeng



Seperti yang kemarin kuungah pada akun Facebookku, pada Senin (30/5) lalu, aku berkesempatan mendongeng – untuk pertama kalinya – cerita berjudul ‘Naga yang Menelan Matahari’ di SD Pagedangan 1*. Itu adalah sepenggal pengalaman berharga dengan remah-remah kejadian ‘lucu’ yang mengiringinya: aku yang salah mengucapkan salam, harusnya ‘Assalamualaikum’, menjadi ‘Waalaikumsalam’, yang membuat anak-anak SD kelas satu, hanya diam kebingungan – dan aku malu sekali, padahal sebelumnya sudah kuhafalkan salam tersebut hingga ratusan kali. Terlepas dari itu, menyenangkan sekali berada di depan ruang kelas, menyajikan cerita dengan sejumlah peragaan yang membuat anak-anak tertawa. Rasanya sulit untuk menggambarkan bagaimana perasaanmu ketika mereka segera memandangimu dengan tatapan polosnya berbinar menantikan cerita dengan penuh penasaran, serta duduk diam dengan melipat tangan begitu rapi di meja, untuk mendengarkanmu di depan. Aku menikmatinya – teringat sesekali di rumah, aku suka sekali mengajak boneka-bonekaku mengobrol, menjadikan mereka cerita-cerita anak di kepalaku, dan bermimpi suatu waktu nanti aku akan punya beberapa buku dongeng tulisanku sendiri yang dibaca oleh anak-anakku kelak, atau yang kuceritakan pada mereka sebelum beranjak tidur. Dan, suara berat seorang pria paruh baya melempar pertanyaan itu. 
sedang mendongeng
 “Siapa di antara adik-adik di sini yang masih sering didongengin sama Ibunya?” tanya kepala sekolah dengan nada ramah yang ceria. Awalnya kukira hanya satu atau dua orang yang akan mengacungkan tangan, tapi tidak. Lebih dari tiga orang. Aku terkejut, kukira kebiasaan itu sudah memunah pelan-pelan; nyatanya ia masih hidup di tengah riuhnya cerita-cerita yang bergulir atas-bawah di layar ponsel.
Dongeng, sejatinya lebih dari cerita – ia tidak dikisahkan untuk mengantar tidurmu begitu saja, atau habis ketika berakhir bahagia. Ia membantu siapa pun mengetahui apa yang ada di kamar gelap dengan cara sederhana, tanpa kamu harus menyalakan lampu. Ia juga salah satu kunci untuk menyentuh anak kecil yang tersimpan di kedalaman dirimu; itulah alasan mengapa dongeng berumur panjang, bukan karena ada anak-anak kecil yang terus tumbuh untuk memeliharanya, tapi setiap dari kita memiliki bagian yang tak pernah beranjak dewasa dan dongeng memeluknya. Dongeng mengajaknya mengobrol sesekali agar kamu tak lupa pernah menangis di pangkuan Ibu karena jatuh dari sepeda atau takut tidur sendirian karena ada hantu di kolong kasur. Karenanya, orang-orang kerap bilang, dongeng bukan sekadar cerita, ia adalah cara berkomunikasi lain; penyampaian pesan – tidak hanya pada mereka yang duduk di bangku kanak-kanak, tapi juga pada dirimu kecil di masa belasan-puluhan tahun lalu yang menunggu dihidupkan hari ini. 
aku bersama anak-anak SD Pagedangan 1 dan dua kakak pendongeng lainnya: Kak Alia (mahasiswi teknik industri SGU) dan Kak Didi (pustakawan SGU)
 Aku pun mulai berdongeng. Sepotong dongeng yang kupilih setelah lama membongkar gudang di rumah, mencari koleksi buku dongeng Pustaka Ola milikku dulu hingga buku-buku dongeng gratisan dari kotak susu yang diminum marhum nenek. Membaca judul-judulnya selalu berhasil membawaku pada aku dan ibu yang tengah tidur-tiduran pada sebuah malam, dengan buku dongeng berbahasa Inggris berkaver tebal yang diceritakan ibu hampir tiap hari. Aku tumbuh bersama dongeng-dongeng itu, cerita-cerita menempeli tubuh dan telingaku, kubawa pergi ke mana-mana berharap suatu saat nanti bisa kubagi; lagi dan lagi. Pada seseorang asing, anak-anak yang kutemui dalam kebetulan-kebetulan, dan kamu; yang pernah kucintai lewat dongeng.
*Kegiatan sosial Story Telling tersebut adalah rangkaian acara dari Library Festival yang diselenggarakan oleh perpustakaan Swiss Germany University bekerja sama dengan perpustakaan Universitas Multimedia Nusantara.

0 Comments:

Post a comment