Friday, 12 August 2016

Jika Aku Sakit (2)



Aku menyentuh surat pengantar pengecekan darah. Di bagian bawah selembar kertas itu, dibubuhi cap dokter spesialis dengan dua gelar di depan nama, dan tiga titel di belakang nama. Kupikir hasil tes dan kunjungannya nanti di ruang perawatanku akan menyampaikan kabar yang sudah bisa kutebak. Esoknya, pria paruh baya yang terlihat masih segar itu datang, ia berhenti sejenak memandangiku seraya menyentuh bagian perut kiriku, “Hati; livermu terganggu. Itu sebabnya lambungmu nyeri dan...” ungkapnya lengkap dengan serangkaian penjelasan medis. Lalu, kukatakan ini pada dokter:
sumber gambar: weheartit.com
  “Sudah sejak lama hati itu sakit, Dok. Ia tidak hanya terganggu, ia terusik berkali-kali. Karenanya, aku tidak asing dengan kabarnya. Begini penjelasannya, aku punya kebiasaan menelan kesedihan-kesedihan, sering kali terlalu banyak hingga perutku nyeri. Kesedihan itu – berubah jadi racun yang berupaya dibunuh hati, Dok. Awalnya selalu berhasil, hati kerap mencari penawar yang bisa menghibur kesedihan-kesedihan yang menikam itu, tapi mungkin berminggu-minggu lalu, aku telah meneguknya terlalu banyak hingga akhirnya hati kalah. Terlebih aku sengaja memeliharanya, membiarkannya tumbuh subur, kuberi kesedihan makan setiap hari dengan terus jatuh cinta.”
Kukatakan dalam diam. Tak ada bisikan lemah atau suara yang berbicara.
“Kita rawat dulu ya, hati; livernya. Akan dilakukan juga pengecekkan bilirubin. Besok akan saya berikan obat pelindungnya,” lanjut si dokter sebelum meloyor pergi dengan langkah cepat – masih banyak yang menunggu kunjungannya mengabarkan izin pulang dan kesembuhan; sepintas ingin sekali kubertanya padanya, bagaimana rasanya menjadi orang yang mengakrabi diri dengan penungguan?
Aku memanggilnya. Kukatakan padanya seperti ini:
“Pelindungnya, Dok, aku sudah mencarinya menahun dan tak pernah benar-benar menemukannya. Terakhir kali aku berupaya memilikinya, aku justru menjadi perempuan yang berdiri sendiri di halte bus tua dengan penerangan redup pada pertengahan malam tanpa satu bus rongsok pun yang menjemput. Aku pulang dan mendapati buku-buku puisiku sudah berdebu. Lalu aku roboh – aku tahu aku gagal, hatiku benar-benar telah sakit dan jiwaku mengizinkan kesedihan menggerogotinya lebih dalam dengan suka cita. Bagian terdalam dari diriku tahu, rasa sakit dan luka adalah perayaan atas kehidupan yang kumiliki.”
Kukatakan dalam hening. Tiada bibir yang terbuka atau desis kata.
Tapi, aku sempat memanggilnya. Ia menghentikan langkahnya berpikir mungkin ada yang ketinggalan.
“Pasti akan sembuh, Dok?”
Ia menatapku dengan pandangan terheran-heran, menyerupai bengong datar.
“Tentu. Sembuh kok, akan sembuh.”
“Dok, mungkinkah tak ada orang yang benar-benar sembuh, ataupun betul-betul sehat? Kadang kali, penyakit adalah bahasa tubuh yang kelelahan dan mengaku kalah, sementara jiwa masih berkata siap berperang, tubuh pun mengambil jalan pintas,” ujarku, bisu.
Aku tersenyum.

This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment