Saturday, 8 October 2016

Mengingat Lupa



Kita kehilangan apa kabar – sekali lagi, dan aku tidak tahu cara menghadapinya. Aku pun kembali bergantung pada prasangka-prasangka dan tebak-tebakan yang jawabannya tidak tahu harus diburu kepada siapa, semuanya abu-abu, dan yang pasti hanyalah dua hal; banyak cerita yang tertinggal dan aku yang menangis yang kamu lewatkan. Tak apa, setidaknya aku menemukan cara menyampaikannya padamu lewat surat-surat ini. Satu lagi, belakangan aku sibuk – lebih tepatnya menyibukkan diri, dan menemukan fakta bahwa itu hanyalah salah satu usahaku melupakan kamu, sedangkan kesibukan bukan serta merta menyelamatkan kita dari seseorang, melainkan hanya menahannya sejenak sebelum meledak lebih dahsyat di waktu-waktu sendiri. Aku mengalaminya, dan jangan kamu tanya bagaimana rasanya. Mengerikan. Dan aku tak ingin kamu mengalaminya – andai kamu bilang tak ingin lagi menerima surat-suratku dan siap menghentikan segala hal tentangku, aku akan membantumu.
sumber foto: secretlyloved.tumblr.com
Perihal melupakan ini benar-benar serius. Aku menarik siapapun yang berlalu-lalang di hadapanku dan melintasi layar akun media sosialku untuk bertanya bagaimana cara mengatur  lalu lintas ingatan di kepala agar benar-benar lupa akan seseorang.
Salah seorang lelaki kebingungan, ia hanya bilang, teruslah berusaha, kuncinya adalah terus-menerus melupa hingga kepala itu sendiri lelah dan menyerah untuk mengingat. Ia(seorang fotografer jalanan) seraya mengirimiku koleksi jepretannya dengan harapan aku kembali bersemangat. Dan, gagal.
Salah seorang lelaki terheran-heran, pada akhirnya menemuiku dan menguraikan betapa aku mampu membuatnya terperangah dan ingin memaki dalam waktu bersamaan. Katanya, cara terbaik melupakan adalah berhenti memikirkannya. Jangan pernah sekalipun membalik makna lupa dan ingat, itu permainan perasaan. Aku lebam, dan ia terus berusaha membuatku tertawa. Cukup berhasil.
Salah seorang lelaki terkejut, ia cepat-cepat mengirimiku pesan singkat, dan aku terlonjak karenanya. Ia katakan, telinganya selalu siap mendengar seluruh kisahku. Satu-satunya yang harus kulakukan hanya bercerita tanpa henti, dan peraturannya, ia tidak akan menyela, sesekali ia tanggapi jika perlu, dan ia akan selalu di seberang sana untuk mendengarkan. Aku tertegun.
Hey, aku teringat padamu yang bilang, andai kata aku tak lagi mampu menggerakkan tanganku untuk menulis, kamu akan jadi tangannya. Saat aku kehilangan kemampuan berpikir dan jadi idiot sekalipun, kamu akan senantiasa di sini menjelma mesin otakku. Ucapanmu mengingatkanku pada kisah seorang pianis yang buntung tangan kanannya dan menemukan seseorang lain yang menjadi tangan kanannya untuk bermain piano – dan terciptalah permainan piano paling merdu dan teduh yang pernah didengar semesta, karena satu sama lain telah saling menemukan puzzle-nya yang hilang.
Tapi, nyatanya aku bahkan kehilanganmu - seutuhnya. Kalimat-kalimatmu berkelebat bagai kaset rusak yang sulit dimatikan. Aku menangis. Malamnya aku pergi ke rumah Tuhan seperti biasa, berdoa hingga ratusan halaman sebuah kitab, dan aku sama sekali belum sembuh. Tuhan pun bertanya; ke mana nama lelaki yang biasanya kusebut dalam doa-doaku?

Aku pun bertanya,

... ke mana kamu?

0 Comments:

Post a comment