Friday, 11 November 2016

Stempel Rindu yang Masih Utuh Walaupun Telah Menempuh Jarak Jutaan Tahun Cahaya dari Bumi Menuju Tempat Tinggal Alien nun Jauh di Luar Angkasa Sana


Seperti biasa, kamu datang dengan menyertai diri bersama kejutan-kejutan kecil. Aku menemukan nama panggilanmu – yang kerap berganti dari nama lebah, penggalan suku nama tengah, hingga gabungan dari ketiga nama lengkapmu – di surelku yang sesak, pada suatu malam. Lebih dari sekali. Lalu, kemarin malam, ketika lebih dari hitungan bulan kita saling menghilangkan diri dalam tenggat-tenggat dan perkara perasaan yang tak pernah sekali pun benar-benar kita bincangkan, kamu pulang lagi. 

Aku mendapatimu dalam kiriman video, isinya perayaan enam tahun persahabatan kita yang pelan-pelan dipaksa lupa oleh macetnya Jakarta, kantong-kantong mata yang menebal, dan drama-drama yang dulunya kita tertawai bersama, lalu kemudian kita alami tak jauh berbeda. 
sumber gambar: pinterest.com

Alienku sayang – demikian kita sepakat tentang panggilanmu dariku - kadang kali aku memikirkan tentang kelinci yang ajaibnya ditarik dari topi pesulap atau kakek Santa yang mengintip pelan-pelan dari balik cerobong asap, saat berupaya menggambarkan kamu yang muncul dalam tiba-tiba. Itu bagian-bagian dari kemunculan manis yang menungguinya diiringi tebak-tebakan penuh canda, yang pada akhirnya diingat sebagai hal-hal kecil menakjubkan dari sederhana. Pada akhirnya kita berdua menyadari, kita lupa memberi makan kanak-kanak dalam diri kita seperti dulu mereka pernah hidup. Tapi kamu mengetuk pintu, dan mengabarkan rindu setelah lama ia dibekap kesibukan. Kenangan kita pun ranum sekali lagi.
Karenanya, aku banyak mengembara akhir-akhir ini pada lima sampai enam tahun silam, saat menemukanmu hanya dengan menengok ke belakang bangku kelas. Kamu ada di sana – sesekali tengah bermain kecupan kecil bersama kekasihmu yang sering kamu jahili, mencoret-coret doodle di halaman paling akhir buku tulis, mendengarkan lagu-lagu Barat yang beatnya cepat, mencoba gaya-gaya baru mengikat rambut, sampai berdebat dengan salah satu kawan kelas kita tentang akhir zaman. Rasanya mudah menggantikan aktivitas-aktivitas itu dengan penggal memori lain, tapi ada yang tidak dengan gampangnya digeser, sebab ia tidak memegangi diri pada kepala: perasaan-perasaan ketika kita pernah melaluinya. Orang-orang mungkin lupa dengan apa yang kamu ucapkan, lakukan, ataupun berikan kepada mereka, tapi mereka akan selalu ingat bagaimana cara kamu membuat mereka merasa. Dan, alienku sayang, seusai membaca surelmu dan memutar ulang video enam tahunan kita yang dibuat acak, dekapmu yang bilang akan selalu tinggal di belakang kelas ketika pengumuman nilai ujian akhir selesai diberi tahu, masih terasa hangatnya – bau tubuhmu yang manis stroberi atau peach sesekali, masih tercium. 
Masih begitu nyata, seperti kita tak pernah memfoto diri untuk buku akhir tahun, layaknya kita tak pernah berjanji untuk reuni kembali, sebab memang tak ada salah satu di antara kita berdua yang mengucap selamat tinggal, bukan jua sampai jumpa. 

Masih begitu dekat, dan aku belajar jika jarak tak memiliki arti untuk orang-orang yang benar-benar punya cinta, tak peduli itu kamu simpan di kantong saku celana jeans, di liontin yang berisi potret tua, atau di selipan struk belanja di dompet-dompet. 

Masih begitu jelas, dan aku menyadari bila waktu memang punya kesempatan untuk membuat potret-potret jadi sepia, tapi ia tak pernah mampu menjelmakan cerita di dalamnya jadi tua.
Jadi, alien, kapan kamu siap ke Bumi, menjemput monster kecilmu ini dan mewujudkan rindu jadi temu-temu? Jadikan janji lebih dari sekadar tautan kelingking, tapi bukti cinta yang kita rawat dalam persahabatan tak kunjung mati. 

untukmu, si alien Gabriella Moureen Naomi. dari sahabatmu yang sering kamu sebut si monster kecil, missing you so bad, yet so right. Apa kabar?

0 Comments:

Post a comment