Sunday, 30 April 2017

Membayangkan Kamu Pergi


Aku duduk di beranda rumah seorang perempuan paruh baya untuk sebuah penelitian. Ia cerita ini malam ke sembilan puluh empat ia mengecek diam-diam ponsel lelakinya dan menemukan kalimat-kalimat ranum pujangga-pujangga yang terkirim bukan kepada nomornya. 
sumber foto; iStock
Dan, ini adalah malam ke enam ratus lima puluh tiga ia masih tidur bersama lelaki dengan panggilan sayang yang masih, sembari mencintainya dengan penuh kekhawatiran. “Ver, aku memilih tidak bertengkar dengannya sebab aku hanya tak dapat membayangkannya pergi.”
Di seberang meja, sahabat dekatku tengah bertemu dengan kawan seperjalanannya dulu dalam sebuah tur yang melahirkan kenangan-kenangan yang ia simpan rapi di ruang kepalanya untuk diputar tanpa jeda tanda baca. Walau kadang-kadang agak lambat dan acak di tengah-tengah karena sudah terlampau lama dan tua, ia tak pernah bosan. 
Sahabat dekatku akan merawat dan memeliharanya berulang-ulang agar tidak sampai rusak, sembari menyimpan kata-kata serupa aku jatuh cinta padamu, sendirian. “Gab, aku tak mungkin menyatakannya sebab aku hanya tak kuasa membayangkannya pergi.”
sumber foto: pinterest

Dia mengembalikan kunci mobil pinjamannya pada si bos. Gantinya, ia melembur. Temanku itu tinggal hingga separuh malam menjelang subuh di kantor, hampir setiap akhir pekan menuju Senin. Tatapannya sayu, kelopak bawah matanya menghitam, tapi tetap tidak berhasil menyamarkan binar yang menolak redup di sana. Tubuhnya membungkuk kelelahan, namun selalu bisa terjaga seolah cadagang tenaganya tak pernah menunjukkan nol persen. Radio kantornya menyala lagu yang selalu saja sama yang salah satu liriknya punya kalimat; semua karena cinta. 
Ia masih bekerja, demi pinjaman-pinjaman agar tampak tampil layaknya si bos, tanpa benar-benar orang tahu, termasuk wanitanya. “Ro, aku tak ingin dia tahu sebab aku hanya tak mampu membayangkannya pergi."
Aku pulang, melangkah ke dalam kamar yang tak pernah kupasang lampu, jadi sengaja kubuka lebar jendela yang kusennya sudah usang dan berderit tiap dimainkan udara malam, membiarkan berkas cahaya sabit masuk atau sesekali daun cokelat kering berkunjung. Melepas jaket yang basah oleh hujan di kota lain tadi. Lalu membuangnya ke sembarang arah, sama seperti ketika kamu melempar kemeja hitammu ke kolong kasur. Lalu aku memungutnya, mengenakannya sekarang. 
Mendekap tubuh sendiri seakan itu adalah kamu yang tak pernah bisa kubayangkan pergi. Bukan karena apa-apa, aku hanya tak pahami bagaimana mencintai sambil berpikir tentang suatu waktu engkau akan meninggalkanku*.
                                                                                                                                                                   
(*) garis miring berbintang, kalimat ini diambil dari puisi Weslly Johannes berjudul Membayangkan Kau Pergi 
(*) tulisan ini terinspirasi dari puisi Weslly Johannes berjudul Membayangkan Kau Pergi

0 Comments:

Post a comment