Friday, 24 August 2018

Catatan Panjang Tentang Christopher Robin


Sekitar tiga hari yang lalu, aku menonton Christopher Robin, setelah menunggu sepanjang Agustus untuk tayang di Indonesia. Aku kecil selalu suka dengan Pooh; aku ingat ketika aku menggambari Pooh yang gendut dengan toples madunya, lalu menggandakannya banyak-banyak di tukang foto kopi untuk kujadikan buku mewarnai karyaku versi Winnie The Pooh - disamping Peter Rabbit tentunya. Lalu, memilih sprei bercetakkan kepala Pooh yang besar-besar, serta kotak bekal yang memuat potret Pooh dan kawan-kawan yang piknik di hutan. Salah satu boneka yang kukoleksi pun berasal dari serial Pooh, aku tidur bersama Tigger (ssst, T I double guh err. That speels Tigger! Hahaha).
"It always a sunny day when Christopher Robin comes to play."
sumber foto: crofficial
Maka, menyaksikan kembali Robin dan Pooh seperti membawa diriku jalan-jalan kembali ketika aku masih kecil – ketika tidak melakukan apa-apa bukanlah hal yang berdosa. Itu terasa saat Robin akan pergi dan Robin kecil berharap ia bisa berharap untuk tetap tidak melakukan apa-apa, namun ia tidak bisa. Lalu, Pooh dengan polosnya mendukungnya dan mengatakan kalimat yang menarik:  “Doing nothing often leads to the very best kind of something”. Hampir setiap hari kau dan aku mungkin merasa harus melakukan sesuatu apapun itu – agar produktif, agar bermakna, agar tidak sia-sia, dan lain-lain. Lantas aku terdiam dan teringat, tulisan-tulisan terbaikku justru  bermula ketika aku tak bersusah payah mencari idenya – aku hanya butuh diam, merilekskan diri, membuat diri nyaman tanpa memberi tenggat. Aku pun sampai pada pemahaman: kau hanya butuh sesekali diam mengenali diri sendiri tanpa pretensi apa-apa.
What should happen if you forget about me, Christopher Robin?
sumber foto: cr trailer
Kembali soal film, petualangan dimulai ketika Robin dewasa memutuskan membantu Pooh untuk mencari teman-temannya (Piglet, Tiger, Eeyore, dkk) yang hilang. Buatku ada satu adegan yang membuatku hampir menitikkan air mata di sini – ketika Pooh tidak bisa membaca kompas dengan baik, dan mengacaukan semuanya. Lalu, tanpa sengaja membuat koper berisi dokumen penting milik Robin dewasa tercecer kemana-mana. Robin dewasa membentak dan mencaci maki Pooh sebagai beruang pandir, tidak tahu apa-apa, dan tidak tahu sepenting apa isi kopernya. Robin dewasa tidak paham mengapa Pooh bisa begitu bodohnya menganggap dunia ini sebatas dan seindah balon dan toples madu. Sedangkan Pooh pun tidak paham mengapa Robin menganggap dunia ini digantung pada koper berisi dokumen yang dibawa kemana-mana.
“Christopher Robin: There’s more to life than balloons and honey!
Pooh: (doubtfully) Are you sure?” 
Adegan favoritku jatuh pada bagian terakhir film. Diisi percakapan antara Robin dewasa dan Pooh. Ini percakapan yang akan tertanam lama di kepalaku. Pooh bertanya pada Robin dewasa ‘hari apa sekarang?’ Alih-alih menjawab nama hari lengkap dengan jamnya, Robin dewasa menyahut ‘It’s today – hari ini’. Pooh semringah dan berkata, ‘Aku suka hari ini. Sulit bagiku ketika hari ini adalah hari esok’. Aku hampir menangis setelahnya. Dialog ini benar-benar menampar. Pernahkah kita menjalani hari ini sebenar-benarnya hari ini, tanpa mengkhawatirkan hari esok?
“If you live to be a 100, I want to live to be a 100 minus one day so I never have to live without you.”
sumber foto: tyrantgeek
Kita kerap melalui hari ini dengan bekerja keras dan belajar giat bukan demi menjalani hari ini, tapi untuk hari esok, demi masa depan. Lalu mengeluh tiap harinya semakin berat. Lantas lupa, sesungguhnya segalanya akan lebih ringan ketika semua hal dijalani hari ini dinikmati secara sadar dan hadir penuh untuk hari ini. Kita sudah lama sekali menjadikan hari ini adalah hari esok. Masa kini adalah masa depan. Padahal, kebahagiaan itu adalah hari ini dan sekarang. Izinkan aku mengutip dialog antara Robin dan Evelyn, istrinya ketika mereka berdebat mengenai Robin yang tidak bisa ikut liburan akhir pekan. Saat itu, Robin berkilah jika ia bekerja untuk kehidupan yang nanti lebih baik untuk keluarga mereka, sedangkan Evelyn berkata kehidupan mereka adalah sekarang tepat di depan mata Robin. Bukan nanti-nanti. 
Evelyn: You won’t be coming to the cottage?Christopher Robin: It can’t be helped. Evelyn: Your life is happening now, right in front of you!
Sampai di sini mungkin akan ada banyak yang mendebat, hidup memang tak sesederhana yang dipandang anak kecil. Saat itu, aku hanya ingin menyahut kecil, sayang, kita hanya lupa jika hidup dan kebahagiaan itu memang sederhana. Kita lupa semenjak kita beranjak dewasa.
“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”
Goodbye, Christopher Robin...
sumber foto: crofficial
Catatan:
Aku menulis ini seraya mendengar Home, Should I Think yang dibawakan Carter Burwell. Itu musik yang pas untuk menemani kita menikmati tulisan ini. Semoga suka! Ah ya, sesungguhnya dari sisi ide cerita, aku lebih suka COCO, lebih segar dan baru. Sementara Christopher Robin masih mengangkat konflik umum antara orang tua yang sibuk dan anaknya. Tapi, buat kita yang butuh mengambil napas sejenak dan mengizinkan anak kecil dalam diri kita keluar untuk bermain, Christopher Robin termasuk film yang menurutku: must watch! Dan, aku suka sekali bagaimana Pooh menyebut dan memanggil 'Christopher Robin', ikonik - jempol buat pengisi suaranya. 

2 comments: