Saturday, 12 April 2014

Cold As You



Lagi-lagi, aku menyapa pertengahan malam dalam kubang kesendirian. Kali ini tanpa cangkir apapun; kopi ataukah cokelat panas yang sering kau tawarkan padaku sebagai pengganti mug besar teh earl grey yang kuhabiskan di tiap senja. Aku menarik bangku ke depan layar komputer, hanya menatap layar kertas kosong yang belum juga kutuliskan serangkaian kisah; yang akhir-akhir ini sering kali kau memaksaku untuk menyelesaikannya. Hingga aku bertanya sendiri pada kesunyian yang menyeruak dari sudut kamarku; bagaimana aku mampu mengurai benang cerita ini, ketika aku masih terpaku pada ponsel yang membisu sepanjang malam di sebelahku. Aku beringsut dari tempatku duduk, menyibak gorden jendela, berusaha membuka kusen jendela yang kayunya sudah lapuk di sisinya. Membiarkan udara malam bermain-main di ruang kamarku. Rasanya dingin menusuk ke dalam tulang.   
Lagi-lagi, aku menyapa pertengahan subuh dalam kubang kesendirian. Kali ini tanpa stasiun radio apapun; lagu-lagu yang dikicaukan burung hantu yang sering kau jejalkan padaku tiap siang untuk membunuh kebosanan. Aku bergulung dengan harap yang sudah sampai di tepian, bertanya padanya bagaimana. Ia hanya menjawab tak pasti. Aku tersenyum letih, semua harap yang berkaitan dengan kau memang tak pernah pasti. Terlebih kilau jenaka matamu selalu menawarkan beribu ragu untukku. Aku jadi teringat perbincangan kita mengenai hari hujan yang dingin. Aku pun merebahkan tubuh, menarik selimut hingga ke ujung kepala, membenamkan harap dalam mimpi-mimpi.
Lagi-lagi, aku menyapa pertengahan senja dalam kubang kesendirian. Kali ini benar-benar tanpa siapapun; anak-anak kecil yang berlarian di seberang kompleks rumah yang sering kali kuamati sebagai iringan khas senja. Siluet bayang berkali-kali menjadi lukis utama sore hari, menampakkan sosokmu yang bungkam. Bahkan sebelumnya, aku tak pernah mendengar bisu yang begitu diam seperti kau. Jadi, masa-masa emas kita layaknya gurat emas di cakrawala senja hanya mampu bertahan tiga hari sebelum semuanya memudar. Sepertihalnya gurat emas sore yang memudar, bergerak dan lenyap sebagai gelap malam.
Aku teringat pertemuan kita di persimpangan akhir menuju rumahmu, tanpa apapun kecuali dingin yang membeku di dalam matamu. Aku memanggil namamu berulang kali, tapi kau masih saja melangkah. Sampai akhirnya kutepuk pundakmu, matamu singgah sejenak. Memberi jawab yang membuatku terlihat bodoh. Selama ini aku bertingkah gila hanya untuk mendapat sebongkah hati yang sudah membeku, rasanya dingin. 
Aku tidak tahu kapan kau menjelma menjadi udara dingin di pertengahan malam, menjadi hujan dingin di pertengahan subuh, dan menjadi kenangan dingin di pertengahan senja. Dan menjadi bayang dingin di pertengahan hati yang menuju luka.
“Something’s made your eyes go cold. Stood there and watched you walk away. Something’s gone terribly wrong. Won’t finish what you started. Don’t leave me like this. I thought i had you figured out.” – Haunted, Taylor Swift

0 Comments:

Post a comment