Saturday, 12 April 2014

We Were Happy

“Hey, ayo foto-foto dulu. Kan ini terakhir, buat kenang-kenangan,” ajak salah satu kawan kelasku, sedangkan aku tengah sibuk mendengar lagu. Aku masih belum beranjak dari tempatku duduk, lalu semakin banyak kawanku yang menepuk pundakku, menarik lenganku. Mengajakku larut dari apa yang kita sebut, bagian dari potret perpisahan. Aku pun bangkit, ikut berfoto bersama. Tersenyum, memeragakan sejuta gaya. Semuanya masih berfoto, melakukan selfie disana-sini. Tertawa penuh riang. Namun, di mataku, seolah semuanya bergerak lambat.
Lalu, aku terhempas jauh.
Tiga tahun lalu, aku juga mengalaminya. Dan, itu menyakitkan. Mengulas senyum kecil di sudut bibir untuk lensa kamera. Memeluk kawan dan sahabat bergantian, membisikkan kalimat pada mereka jika kita akan menjadi sahabat selamanya. Mengatakan jika mereka adalah yang terbaik yang pernah aku miliki. Mengemas kado-kado kecil untuk penghargaan sederhana bagi para guru dan sahabat terdekat. Perayaan itu selesai. Kita; satu sama lain, mengucap apa yang menjadi pesta utama. Pada akhirnya kita bermuara pada satu kata itu. Senyum itu akhirnya berubah menjadi suatu hal yang dipaksakan. Peluk erat yang melebur menjadi tetes-tetes air mata. Tidak ada yang sanggup mengucapkannya.
“Goodbye,” ujar sebuah suara di kejauhan.
Lalu, aku terhempas jauh.
Ini tak pernah mudah.
Seseorang mengatakan padaku, ada kata ‘good’ pada kata ‘goodbye’. Berarti, Tuhan sesungguhnya memberikan ruang terbaik setelah kita mengucapkan perpisahan. Namun, aku hanya mengangguk dan air mata itu terus menderas. Salah seorang guruku pun menghampiriku, memberiku sebuah gelang karet kuning sederhana bertuliskan namaku. Beliau memakaikannya di pergelangan tangan kananku. Beliau melempar senyum hangat, mungkin gelang karet sederhana itu memiliki arti lain. Jika hidup ini seperti sebuah lingkaran, kita tidak tahu dimana sisi kita harus singgah dan akhirnya berpisah, lalu singgah lagi. Berpisah lagi. Sebab, hidup memiliki banyak sisi. Namun, walau memiliki sisi tak hingga, lingkaran tak pernah terputus. Tetap erat. Saling berhubungan.
Lalu, aku kembali pada diriku di tengah kelas yang sedang berpose senyum terbaik demi bidik kamera.
“Pernah denger lirik lagu dari Drive gak? Perpisahan bukanlah duka, walaupun menyisakan luka. Itu bener, perpisahan bukan duka untuk ditangisi dan dibuat sedih, maka itu kita menyebutnya pesta perpisahan. Pesta identik dengan kebahagiaan. Mungkin menyisakan luka, itu juga bener. Karena luka mengajarkan kita hal baru dan membuat apa yang pernah kita miliki adalah sangat berharga,” celetuk salah seorang anak. Setelahnya, hanya ada senyap.
It almost farewell party. Yes, we were happy.


0 Comments:

Post a comment