Wednesday, 22 October 2014

Lelaki yang Dikurung Bisu (4)


Di suatu pagi, aku menyibakkan gorden jendela ruang tengah yang didiami gelap. Kedua manik mataku mengintip setetes embun yang meragu; antara jatuh atau tetap menggantung. Aku tersenyum kecil, kubiarkan subuh berakhir dan pagi memotret dirinya sendiri. Segalanya berjalan dalam ritme yang sama dan biasa, sampai pagi itu menginjak pukul delapan.
Di koridor kampus yang diselami warna kelabu gelap, ada bayangmu yang melambat di ujung belokkan. Sudut matamu untuk pertama kalinya menyarangkan tatapnya padaku. Kamu seharusnya tahu, ini sebuah kesalahan. Karena di malam yang penuh oleh denting-denting musik hening, kamu akan menemukan pigura yang membingkai bayangmu di sini. Di tubuh kata yang mencari-cari.
rasanya begitu purba
ketika aku mencoba mengais sedikit kenang lampau akan kita
yang kukira sudah membentuk sia-sia
matamu justru menawar asa yang menghantui tanpa koma
Kamu mengenakan kaus merah. Segalanya terasa menyala. Kita tak pernah beradu tatap. Dan, sekalinya matamu bersarang, saat itu juga ingin kubungkus pulang. Apa mungkin, pagi ini, kamu ingat temu pertama kita dulu-dulu yang dipenuhi ragu darimu dan galuh dariku?
merah yang menyetubuhi tubuhmu pagi ini
seperti unggun api yang menyampaikan sisa hangat
pada malam sepi nan sendiri
hitam yang menyentuh tubuhmu pagi ini
seperti ilalang yang menancap di sepertiga malam
pada bulat rembulan
Tatap tadi yang serupa sua diam, telah menjelma menjadi mantel hangat yang memeluk rindu yang mengigil di pertengahan malam. Sudahlah, terkadang aku hanya ingin menyerah. Biar puisi-puisi itu yang berserah.

0 Comments:

Post a comment