Wednesday, 18 March 2015

Mengeja Senja di Mata AL


“…seorang penyair menulis, senja ialah memar luka, di punggung pacar gelap. Tapi lelaki yang kini ditunggunya itu pernah berkata; senja hanyalah cara waktu menguji, seberapa tabah engkau mencintai.” – Cerita di Hari Valentine, Agus Noor.

Hari ini aku ingin membincangkan senja. Namun, bukan senja yang dipotong seseorang untuk dipersembahkan kepada kekasihnya. Bukan pula tentang senja yang membuat langit berdarah. Tidak juga mengenai senja yang perlahan dieja malam, dan dilepas siang. Melainkan sepotong senja di hari petang, yang jatuh di matamu; dan aku mencintainya.
Kapan terakhir kita mengobrolkan perihal senja? Waktu itu, kamu mengajakku menyapa senja; yang benar-benar kuingat saat itu bukanlah gores jingga yang menggurat di langit, tapi pantulan cahaya emas yang menggantung di manik matamu. Kamu seakan memberikanku kesempatan untuk mati ditelan senja, dan lahir kembali keesokan harinya sebagai fajar; keduanya sama – menguraikan betapa eloknya jingga mencumbui tubuh langit yang sorenya mendesaukan  kenangan dan paginya mendesahkan embun angan.
“Senja mengingatkanku pada musim gugur. Tentang daun-daun kering dan menguning,” katamu saat kita duduk membelakangi senja, seolah sengaja membiarkan ia mencuri dengar percakapan kita tentangnya. Kubilang, mungkin aku sepakat denganmu. Daun-daun kuning itu jatuh dan gugur, dimainkan angin, berusaha mencari arah untuk rumah barunya. Sama seperti senja, yang terbenam dan tenggelam di kedalaman kedua matamu, lalu dimainkan oleh gerak manik matamu, berusaha menjaring apa yang berusaha kusimpan di bilik kalbu.
“Untukku, petang adalah tempat pulang bagi mereka yang dipasung kenang,” celetukku akhirnya, sembari merapikan anak-anak rambutku yang dicium kesiur angin sore. Kamu tersenyum, katanya kamu sudah sering mendengar tentang hari senja yang mengirim pesan pada siapapun untuk pulang; memeluk seseorang atau siapapun yang mungkin menunggu di suatu tempat dengan hati penuh gelisah timbang. Aku pun melirik ke arahmu, kamu banyak tahu tentang senja, Al. Tentang waktu-waktu siang yang merenta lalu membentuk senja. Tentang remang-remang malam dan temaram yang dipunyai sebelum gelap; semuanya adalah deskripsi lain atas panorama senja.
Kamu mengalihkan pandangmu padaku – tubuhmu menjelma siluet ketika memunggungi senja, wajahmu berubah menjadi bayang gelap dan keseluruhanmu hanyalah hitam. Namun, tidak kedua matamu. Senja menembus melalui manik matamu, menerbitkan cahaya jingga keemasannya yang teduh. Aku melihat senja di kedua matamu, dan sejak itu, percakapan kita tentang senja tak pernah benar-benar kuingat. Kecuali tentang matamu yang berhasil meminang senja. Senja yang istimewa – yang padanya, diam-diam kusematkan cinta yang memilih jadi rahasia di dalamnya.

0 Comments:

Post a comment