Thursday, 9 April 2015

Ada Sembilan April yang Istimewa Untukmu


“Mundurlah wahai Waktu, ada selamat ulang tahun yang tertahan untuk kuucapkan, yang harusnya tiba tepat waktunya.” – Selamat Ulang Tahun, Rectoverso (Dee).
Alvian, selamat mengenang tanggal sembilan yang dipinang April dengan istimewa.
Ini perihal mengenang. Kamu membawa ruang pikirmu pada bertahun-tahun lalu ketika ada seorang anak lelaki mungil, menangis nyaring. Itu caranya menyapa dunia dan mengatakan ia ada. Lalu, banyak pasang mata yang menyinggahinya, melemparinya dengan tatap yang disesaki doa dan harapan; seakan mengirimkan mantram-mantram sihir seperti yang dikisahkan dongeng-dongeng kerajaan. Dan, apakah kamu ingat, jika seseorang yang dikirimkan mantram-mantram sihir terbaik dalam dongeng adalah orang yang kelahirannya paling ditunggu dan menggembirakan? Mereka adalah yang menjadi pangeran atau putri, dan ditemani oleh peri-peri. Aku selalu percaya, setiap kelahiran selalu seperti itu; terberkati doa dan ditumbuhi cinta. Lalu, salah satunya adalah kamu.
Alvian, selamat mengulang tanggal lahir.
Kamu mengingatkanku pada Shakespeare. Salah satu sastrawan terbesar Inggris itu pernah bilang; “… all the world’s a stage, and all the men and women merely players.” 
Kamu punya kesepakatan yang sama dengannya. Karena, suatu waktu aku pernah membaca salah satu kalimatmu, bagaimana cara kita memainkan hidup? Jika ini semuanya hanyalah permainan, berarti kamu adalah pion dan pemain terbaik yang pernah tercipta, Alvian.
Alvian, selamat mendekap hari ini dengan cinta.
Ini hari yang istimewa; kita berdua tahu. Mungkin sebentar lagi, ketika kamu melangkah keluar pintu rumah, kamu akan disambut oleh nyanyian-nyanyian, riuh tepuk tangan, kado spesial dan kejutan-kejutan. Sedangkan aku masih di sini, menjajakan cerita-cerita. Untukmu, aku teringat cerita pendek ‘Selamat Ulang Tahun’ yang dikisahkan Dewi Lestari dalam Rectoverso. Itu kisah yang teramat sederhana, tentang seseorang yang terjaga hingga pukul nol-nol pucat; menanti ucapan selamat ulang tahun untuknya dari seseorang. Harusnya sampai tepat waktunya; sebelum akhirnya ia meniup lilin di atas kue cangkir – sendirian. Ada yang terlambat, dan aku berharap, bisikan untukmu ini tak ditingkahi waktu telat; selamat ulang tahun, Alvian Dimas.

1 comment: