Sunday, 12 April 2015

Perempuan Mungil yang Hadir Kemarin Malam


Ada yang salah kemarin malam; aku pulang dengan sebuncah kegelisahan yang tak bisa kuhitung; terlalu banyak dan aku terkapar sebelum aku tahu nyatanya ada yang tengah berusaha membunuhku – mimpi buruk. Tapi aku lupa jika hidup ini adalah dongeng itu sendiri; selalu ada peri-peri baik yang datang, mencoba mengirimkan sihirnya untuk membantumu – seperti kurcaci yang melindungi putri. Aku memilikinya, dan aku memanggilnya si peri kecil, perempuan mungil. 
 Kubilang padanya, harusnya ia membiarkanku sendiri, tak ada yang bisa kuberikan padanya kecuali cerita-cerita yang tak kunjung usai; semuanya tentang kisah yang tak berkesudahan yang terus berulang di kepalaku tiap malamnya. Karenanya aku membenci kepala ini, tiap malam aku berusaha menikamnya – dan gagal hingga hari ini; ia menyelamatkanku berkali-kali, bahkan ketika aku tak sadar sebentar lagi akan mati. Lalu, percakapan sederhana itu terjadi;
“…kamu harus baca ini minimal sehari sekali, dan bilang kalau kamu menyetujuinya,” ujarnya tegas. Aku menggeleng. Itu kalimat tentang seberapa berharganya menjadi dirimu, dan sederetan hal yang bisa membuat orang merindukanmu jika kamu tak ada.
“…tidak bisa. Kalimat itu terlalu istimewa untukku.” Kulihat peri kecil itu, mulai mengerang tidak sabar.
“…baiklah kalau begitu, tiap harinya aku akan mengirimkan deretan kalimat ini. Setidaknya kamu pasti akan membacanya dalam hati setiap kamu membuka pesan baru dariku. Itu sama saja, kamu akan membacanya dan belajar menyetujuinya.”
Aku tertegun. Dan, ia benar-benar melakukannya. Malam itu ketika aku masih terbangun oleh mimpi-mimpi buruk itu, pesan singkatnya datang – berusaha menyembuhkan bagian mana yang ternganga mengeluarkan darah. Pagi ini, ketika aku terjaga dengan jutaan kunang-kunang di mata, aku menerima kalimat yang sama – yang akhirnya menjadi kalimat rutinku setiap hari, karenanya. Itu kalimat yang istimewa, yang mampu mengingatkanmu untuk tersenyum, bahwa cinta bisa ditemukan dalam perlakuan sederhana dan kecil sekalipun. Dan, aku masih menangis karenanya – karena masih ada yang bilang, jika kita tak pernah benar-benar sendiri, selalu ada cara Tuhan menghadirkan tanganNya menyentuh kita lewat seseorang. Dalam hal ini, aku menemukannya pada seseorang, ia adalah si peri kecil dan perempuan mungil, Fransiska Desfourina.
Terima kasih untuk pesan-pesannya.

0 Comments:

Post a comment