Saturday, 4 July 2015

Dongeng yang Mengantarmu Tidur


“Ma, masih ingat buku dongeng pertamaku? Berkaver merah yang isinya cerita tentang beruang dan teman-temannya? Masih ada? Kalau iya, aku mau lihat,” rengekku malam itu. Mama tidak menjawab. Beliau menggeser sebuah kursi plastik, naik ke atasnya untuk menjangkau sesuatu dari atas lemari tempat debu menebal bersama sarang laba-laba. Dan, dari balik tumpukan dokumen-dokumen tua, ada sebuah buku berkaver merah yang ditarik keluar oleh Mama. Sisi-sisi buku itu sudah sedikit menguning, tapi tidak terlalu kusam. Walau ada beberapa tambalan dengan selotip di lembar-lembar halamannya, buku tersebut bisa dikategorikan cukup awet. Aku terkesiap, hampir memekik; itu buku dongeng pertamaku – yang Mama bacakan padaku sebelum tidur, ketika aku belum mengenal apa itu membaca. 
 “Kamu paling suka minta Mama bacain cerita, sampai-sampai tiap harinya Mama harus mengarang cerita baru dengan tokoh beruang yang sama dari buku dongeng itu. Ingat?” Aku mengangguk sembari membolak-balik halaman si buku dongeng – kamu seperti masuk ke masa lain. Membuka buku dongeng masa kanak-kanakmu seperti menaiki mesin waktu untuk kembali ke masa lalu. Tepat ke penggal masa saat malam sudah memasuki pukul delapan, dan kamu menganggap itu sudah terlalu larut, lalu kamu harus segera tidur. Ada banyak ritual kecil sebelum nina-bobo dinyanyikan; minum susu cokelat hangat atau dengan tambahan beberapa es batu, mencuci kaki sebelum naik kasur, memeluk boneka kesayangan dan mengucapkan selamat malam pada mereka, dan yang terakhir, meminta Ibu membacakan dongeng sampai kamu lelap, dan kecupan di dahimu sebagai penutupnya. Atau terkadang, kamu akan dipaksa menggosok gigi, dan jika tidak kamu lakukan – akan ada cerita-cerita tentang monster gigi, peri gigi dan keajaiban di bawah bantal, serta pasukan kuman yang membuat lubang di sana. Hal-hal tak masuk akal, tapi berhasil menyihir kamu untuk gosok gigi bersama Ayah dan menukar canda seperti orang paling pintar sedunia – walau akhirnya, kamu tetap saja bangun di pertengahan malam, tiba-tiba lapar dan mengendap-endap membuka pintu kulkas untuk memakan camilan yang saat ada Ibu, kamu tidak diizinkan melahapnya. Itu bagai misi rahasia yang seru; ketika ketahuan, kamu memakai jurus paling ampuh untuk menghindar; sembunyi di kolong meja. Aku tertawa, karena aku pernah melakukannya. Kamu juga iya, kita pernah melaluinya – masa kanak-kanak ketika kita berdua melihat hidup sebagai dongeng yang berakhir bahagia.  
“Dongeng beruang itu, kamu masih ingat? Tentang boneka beruang yang hidup saat nenek yang membuat mereka sedang lelah dan tertidur lelap. Si boneka beruang pun usil membuat gambar agar ia punya teman bermain,” ujar Mama tiba-tiba. Aku yang tiba-tiba mengusap sudut mata kananku, akhirnya menyadari ada kepingan yang kurindukan. Aku mengangguk; nyatanya ada satu hal yang masih kubawa dari masa keciku hingga sekarang; aku kerap percaya jika boneka bisa hidup dan bercakap-cakap saat pemiliknya tak ada. Kamu tahu mengapa? Ingin kuceritakan? Jadi seperti ini, pada suatu hari …
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment