Saturday, 22 August 2015

Dongeng-dongeng yang Mati


Ada sepotong lagu cinta yang bermain di waktu menjelang tengah malam, aku berpikir itu tengah menertawakan kita yang seperti ia; lantunannya manis, tapi hanya sementara. Aku gemetar, mengaku kalah oleh langkah awal kenangan. Lalu, tatapanku membentur dinding yang di atasnya tergantung secarik robekan kertas kecil, isinya adalah tulisan tanganku yang sederhana berspidol hitam; ‘...kamu adalah yang menjelma bayang pada malam aku memejamkan mata, dan yang teringat ketika pagi aku terjaga’. Rasanya dadaku menyeri, membawaku pada tiap tarikan nafas yang penuh sesak. Kamu pernah bilang padaku, memori kita terlampau singkat – mungkin itu menjelaskan bahwa ia tidak terlalu kuat untuk mengantarmu mengingatku. Sedang aku di sini, masih saja dungu merasakan ini semua terlalu nyata. Sampai perlahan-lahan selama empat puluh empat hari, semesta menampakkan padaku, menyimpan luka akanmu secara sembunyi-sembunyi ternyata lebih menyakiti dibanding mencintaimu diam-diam.
 Jika kamu ingin tahu hasilnya memendam rindu yang akhirnya membangkaikan diri jadi kubang darah, aku akan memberitahumu. Kira-kira seperti ini muaranya; aku jadi orang yang berbeda. Dongeng-dongengku mati, cerita-ceritaku terlalu lama menunggumu di penghujung malam untuk dikisahkan bersama segelas susu cokelat dan taburan gemintang rekata, hingga ia lama-lama terbunuh karena tak kunjung tidur walau diserang kantuk. Dan kamu tak pernaah datang. Semenjak itu, aku tak lagi mendongeng, aktivitas itu berganti jadi agenda menenangkan risau hati yang menangis sendiri. Kubiarkan juga boneka-boneka berjenggot yang kerap kupeluk sepanjang hari untuk menemani khayalan-khayalanku, teronggok di sudut kasur dimakan dinginnya laluan waktu. Kamu berhasil membunuh anak kecil (yang selama ini kujaga dan kupelihara) dalam diriku, terima kasih. Kemudian, aku menyingkirkan note-note berbagai warna koleksiku yang tercecer di meja belajarku yang bak kapal pecah. Aku berhenti menulis ungkapan singkat atau puisi kecil, aku sengaja menerima sejumlah proyek kepenulisan lain yang menyita waktuku agar bisa menghindari bayanganmu yang jadi hantu. Lain-lain, aku tidak juga lagi tergantung pada es krim untuk bahagia, pada langit yang berganti-ganti cuaca untuk menitipkan rindu, pada buku-buku tua seriusku untuk membunuh waktu. Aku telah berubah, mereka bilang aku mati rasa – mungkin karena terlalu banyak lebam yang sudah membiru serta luka basah yang tak hendak mengering, aku remuk dan tak lagi benar-benar hidup. Aku menggeleng padanya seraya tersenyum letih, tak ada hal membahayakan yang terjadi padaku kecuali ... aku sudah lupa caranya mencintai.
Diikuti aku yang tak paham lagi caranya tersenyum lepas dan bahagia bebas. Aku hanya berjalan dihidupi tenggat-tenggat waktu proyekku, serta bergerak oleh tegakan warna-warni rasa obatku.
Lagi-lagi, mereka kerap menudingku putus asa. Sekali kukatakan, aku hanya sedang terluka begitu dalam, setidaknya itu menunjukkan betapa aku sudah berusaha melakukan hal terbaik yang bisa kuperbuat terhadap perasaan; mencintaimu seutuhnya. Dan, aku percaya, air mata yang jatuh tak pernah sia-sia.
“...kamu tak harus banyak bergerak, sewajarnya kamu dicintai bukan mencintai.”
“...jika kamu pernah bilang rasa ini adalah puisi, berarti ia kemungkinan terbakar di tiap halamannya. Kamu akan terbunuh jika tidak cepat-cepat menyelamatkan diri.”
Ah, apa lagi kira-kira yang mereka sarankan padaku – dan aku hampir menganggapnya bagai hiasan angin lalu. Sebab, sejak awal aku sudah memulai prolog kisah kita dengan kalimat; ‘...seperti inilah cara cinta bekerja; berteman akrab dengan luka’.Aku berharap suatu saat nanti akan sembuh.
Dari perempuan yang sesungguhnya masih bersembunyi pada salah satu bintang yang tertinggal di pucatnya langit malam ini.

0 Comments:

Post a comment