Tuesday, 19 April 2016

Kita Baru Saja Pulang Sekolah



Kita baru saja pulang sekolah. Kelas hari ini benar-benar lenggang – tak ada guru yang masuk untuk mengajar, sepanjang hari kita hanya duduk berhaha-berhihi di pojok ruang, menyelipkan taplak meja di kerah baju belakang dan berpura sebagai makhluk dari planet Krypton, dan loncat-loncat di atas panggung kecil di depan kelas. Sebagai akhirnya: kita membubuhi tanda tangan masing-masing di atas papan tulis putih. Kemudian, kita sekelas, berfoto bersama setelah menarik salah satu guru dari kantor untuk ikut bergabung. Kita tak ingat, yang pasti ujian nasional sudah selesai. Kita tidak juga serta-merta meninggalkan sekolah, lantas berkonvoi ria, mencoret seragam putih abu-abu, atau mengajak polisi bermain jenderal-jenderalan. Kita hanya tertawa bersama di ruang kelas tempat kita janji berkumpul sampai salah satu di antara kita semua lelah dan menanggalkan diri untuk ke rumah. Lalu, sisa kita – mungkin dua atau tiga orang, aku tak ingat. Kita saling bertatap-tatapan; sesungguhnya alasan kita masih bertahan karena kita cukup kuat menertawai apa yang kita sebut kebebasan, atau kita justru yang paling lemah karena takut beranjak – meninggalkan tempat yang selama ini menemani kita merajut kenangan dan membangun tangga asa. Kita hanya sepakat: terlalu lelah tertawa. Jadi kita memilih untuk menangis saja sesudahnya.
sumber gambar: flickriver.com
Kita baru saja pulang sekolah. Kita pindah dari ruang kelas menuju pinggir lapangan basket yang sepi sekali sore itu. Tidak ada yang bermain bola karet berwarna oranye, juga tiada teriakan-teriakan penyemangat dari tepi lapangan. Sisanya hanya gugur daun yang meningkahi lapangan, dibawa embus angin entah dari mana. Kita duduk di pinggir, salah satu di antara kita mengambil bola dari gudang. Lalu memainkannya sendiri. Kita tertawa – lagi-lagi. Saling bertanya apakah berisik-berisik yang pernah ada di lapangan ini – yang ditiup angin dan diajak ke sudut tempat lain, didengar ulang oleh orang-orang di sudut asing tempat angin tersebut berhenti? Kita berpandangan satu sama lain, kita memahami itu adalah pertanyaan yang berusaha mengelak dari kegelisahan kita sesungguhnya: apakah kenangan yang sempat ada, bisa senantiasa menyentuh kita semua untuk merindukan dan mengulang kebersamaan yang sebelumnya kita punya?
Kita baru saja pulang sekolah. Janji ya, kita bakal bareng-bareng lagi. Bikin grup alumni saja. Keep contact! Jadi, kapan rencana reuninya? Pas liburan. Aku shift kerja jam segitu. Magang nih. Tugas kuliah numpuk. Dua minggu lagi. Yasudah, batalin saja kalau memang yang bisa sedikit. Yang beneran yuk, di mana ya. Kapan ya. Eh, sebentar, kayaknya pertengahn bulan aku engga bisa deh. Sama, jangan tanggal itu. Itu pesan-pesan kita, setelah kita bilang rasanya seperti baru pulang sekolah. Dan kita-kita yang lainnya juga meminang rasa yang demikian. Kita menulis surat cinta kepada orang yang kita sayang dan dia juga tahu kita tengah menyiapkan kata-kata terindah untuknya, tapi kenyataannya kita tak pernah sampai mengirimkannya. Kita ingin secangkir kopi panas dan dapur kita memiliki lebih dari tiga varian rasa kopi yang siap kita buat, namun kita tak juga beranjak dari layar laptop untuk menyeduhnya. Kita kerap membicarakan rindu tanpa menuntaskannya, kita sering mengutak-atik sapaan hingga kehilangan maknanya.
Kita baru saja pulang sekolah. Ada jalan panjang yang bisa kita beri tanda tanya; apakah kita sudah sampai rumah?
*tulisan ini kutulis setelah suatu sore aku membaca sebaris caption di akun instagram milik adik kelasku yang masih SMA. Ujian nasional baru saja usai, dan ia mengunggah potretnya seorang diri di lapangan basket. Ia tulis bahwa tiap jengkal sekolah pastinya akan dirindukannya. Aku terdiam barang beberapa menit – itu lapangan basket yang sekitar dua atau tiga tahun lalu kududuki pinggirannya pada hari terakhir mengenakan seragam putih abu dan saling membincangkan kebersamaan dengan kawan-kawan. Sebelum akhirnya kita semua membiarkan kenangan tetap berdebu di belakang, dan tidak benar-benar berupayanya memperbaruinya.

0 Comments:

Post a comment