Sunday, 3 April 2016

Tuts Putih


Aku tidak berpikir akan menemukannya, sekali lagi. Ia berjalan keluar dari ruangan yang jauhnya di belakangku – sama seperti dulu, ia melangkah melewatiku tanpa menyadari aku ada di sini. Dan aku tidak berusaha melakukan hal-hal yang membuatnya menengok. Ia juga tetap tidak tahu aku masih memilih tempat yang sama untuk mencuri dengar dan melirik pandang pada piano yang pernah menghentikan niat pulangnya.
“Sama, aku juga merasakan hal yang serupa. Ada yang hilang.” Aku membenamkan diri di antara halaman buku yang terbuka. Buku yang membicarakan tentang perjalanan; bagaimana kita bepergian jauh dan bangun di suatu kamar sewaan, lalu mendapati diri nyamannya bagai rumah – lantas teringat ketika kita tidur di rumah sendiri, bangun di pagi hari, berdiri menatapi cermin dan merasa asing. “Mungkin ada yang ketinggalan,” ujarku akhirnya.
Gedung itu tidak segelap waktu pertama kali aku melihatnya duduk di balik piano. Lampu-lampu kini dinyalakan – cukup kontras dengan malam di luar sana yang hitam. Keadaannya juga lebih ramai, tidak selenggang dulu; ada pengeras suara yang teronggok tak jauh dari stop kontak, yang akhirnya memainkan musik-musik populer dengan volume memekakakan telinga. Dua kelompok mahasiswa berkumpul di tempat duduk tunggu, membicarakan tugas-tugas. Lalu orang-orang yang berlalu-lalang, masuk-keluar melalui dua pasang pintu kaca yang lebar. Dan, pianonya – ia tak ada di sana; berganti jadi seorang lelaki dan perempuan yang duduk berdampingan, saling mendengar irama perasaan masing-masing; terbata-bata.
5 Januari lalu, pada episode 'Tuts Hitam'
“Aku ingin sekali berkata padanya bahwa ia selalu punya kesempatan.” Aku membalik halaman buku dengan tergesa, rasanya aku hanya ‘membaca’nya, tidak mencernanya. Akhirnya kukatupkan buku itu. Setiap orang punya bahasanya sendiri saat dijerat kenangan – ada yang berhenti lama sekali di depan etalase sebuah toko karena benda yang dipajang di sana mungkin mengantarkannya pada janji seseorang di masa lalu, ada yang adukan kopinya melambat ketika mendengar sepotong lagu di kafe tempatnya melarikan diri, ada yang menyiapkan agendanya Senin-Minggu dengan berbagai aktivitas yang padat dan memaksanya baru bisa pulang minimal jam sepuluh malam ketika ia sudah begitu lelah, atau juga, ada yang tiba-tiba mengatupkan buku yang sedang dibacanya, begitu saja, seraya mencari objek yang bisa disinggahi pandangnya yang risau.
Aku juga tak lagi menyembunyikan diri di gelapnya bayangan gedung, di samping piano. Aku duduk di bangku tunggu ketika mataku menangkapnya berlalu. Ia tak berubah – aku yakin ia adalah pria di balik piano, yang sekitar  dua bulanan lalu kuselipkan pesan kecilku di antara tuts-tutsnya. Hanya saja, kali ini aku bisa lebih jelas melihatnya, dan aku tak pernah lupa; jaket kremnya yang panjang melewati pinggang, seakan itu adalah overcoat untuk musim dingin, serta tas jinjing hitamnya. Dan, potongan rambutnya yang bisa kutebak, mungkin bergaya fade yang cukup lebat. Aku cukup gelisah – berpikir bagaimana jika aku bangkit dari tempat dudukku, menyapanya dan bertanya, saya berani bertaruh, pada jam yang sama, lima Januari lalu, Anda duduk di balik piano itu saat orang-orang lain memilih pulang dan gedung ini menyepi, Anda justru memainkan musik-musik seakan hari esok tak akan tiba. Jadi, mengapa Anda memilih pulang hari ini?
 
18 Maret lalu, beberapa hari setelah episode 'Tuts Putih' ini ditulis

Ia tetap berjalan menjauh, memunggungiku, dan aku masih tak pernah mengetahui wajahnya. Isi gedung semakin ramai – permainan piano yang terputus-putus dari sepasang kekasih yang saling mengeja nada masing-masing, beradu dengan musik populer dari pengeras suara yang diputar mahasiswa yang sedang berlatih tarian modern. Aku tertegun – mungkin tanpa bertanya pun, aku sudah dapat jawabannya. Langkah ia semakin mantap ketika kulihat ia menatap lurus ke depan, ke arah pintu kaca yang terbuka.
“Sejatinya jatuh cinta, tak pernah sakit. Karena, ketika kamu hendak jatuh padanya, ia akan sesegera mungkin menangkapmu – sebelum kamu terbentur keras. Dan, yang cepat dan sigapnya menangkapmu ketika kamu jatuh padanya, hanyalah orang yang tepat, yang tahu kamu akan terhuyung dan jatuh – ia adalah orang yang menemukanmu ketika yang lain tidak. Kalian saling menemukan dan ditemukan.” Aku memasukkan buku bacaanku tadi ke dalam tas punggung. Aku menerima pesan kalau jemputanku sudah sampai. Aku harus bergegas. Kuangkat tasku dan hendak beranjak; aku menundukkan kepalaku, berusaha menyembunyikan bekas luka benturan. Aku baru saja jatuh.
Biar kutebak, musik yang dimainkan tergagap-gagap oleh sepasang kekasih itu, adalah gubahan dari salah seorang pianis Korea favoritku. Musik yang sama yang pernah ia mainkan Januari lalu. Musik yang sama yang pernah kamu mainkan setahun lalu. Aku mempercepat langkah kakiku keluar dari lobi utama gedung tengah, dan kuulang sekali lagi jawaban yang akhirnya kuketahui mengapa ia tak lagi berhenti untuk bermain. Langkahnya pun sudah lebih mantap dan tegas.
Ia tidak lagi melarikan diri. Ia sudah tahu tempat yang menunggunya pulang. Keramaian yang ada hari ini dan lepas dari kota yang kesepian, adalah perayaannya akan rumah.
“Dan, happily ever after, Ver. Berakhir bahagia, jika tidak, berarti ini bukan endingnya. Bukankah sesederhana itu?”

Tentang pria di balik piano kampus yang dimaksud tulisan ini, ada di sini

This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment