Sunday, 19 June 2016

Tentang Pacar Pertamaku


Sekitar setahun lalu, ketika aku sedang membaca sebuah novel yang berkisah mengenai seorang single parents ayah dan anaknya, aku menemukan kutipan yang bunyinya kira-kira seperti ini: ‘any man can be a father. It takes someone special to be a dad’. Aku diam cukup lama. Kebetulan aku sedang berada di kamar bersama Papa yang tengah menonton film action favoritnya. Hari itu malam minggu. Dan, Papa menyeletuk dengan polos dan guraunya, “Malam mingguan sendiri lagi. Kok enggak dapat-dapat pacar?”
Aku tertawa dan beranjak dari kamar. Pada tiap langkah kaki yang membawaku ke selasar rumah, kepalaku riuh menyusun jawaban untuk pertanyaan tadi. Lalu, kelebat-kelebat memulai kisahnya sendiri.
sumber gambar: odysseyonline.com
Sepintas, sepasang kekasih yang berboncengan motor baru saja lewat di depan rumah, aku jadi seolah mundur lagi ke belasan tahun lalu, ketika aku masih ‘muat’ untuk duduk di jok depan motor Papa saat beliau mengajakku mengelilingi kompleks perumahan tiap sore. 
Ponselku bergetar, seorang teman baru saja mengirimkan potret karangan bunga yang boneka beruang putih kecil yang dikirimkan pacar barunya langsung ke rumahnya sebagai kejutan, aku diam. Aku jadi ingat Papa dulu sekali, seusia pulang kerja, membelikanku boneka bayi barbie yang disembunyikannya di belakang punggung dan diberikan padaku sebagai kejutan setelah aku bangun dari tidur siang.  
Sebuah panggilan masuk, seorang kawan jauh bercerita tentang kenangan bersama mantannya dulu yang begitu baik mengantarnya ke mana-mana dan ia takut tidak bisa mendapat yang lebih baik dari orang masa lalunya itu, aku hening. Aku dibawa pada kecilku dulu ketika Papa mengantarku ke sekolah pertama kalinya, ke tempat les, ke mall, ke rumah teman, dan ... aku hening.  
Seorang lelaki tetanggaku terlihat tengah membawakan tas belanjaan perempuannya, kutebak mereka baru pulang dari pusat perbelanjaannya. Aku teringat Papa yang menjinjing tas sekolahku yang berat dan berwarna merah muda terang tanpa malu.  
Tabung TV di poskamling menyiarkan drama yang mempertontonkan aktor prianya yang memberikan jaket bagi pasangannya saat udara malam mendingin. Aku tak pernah lupa bagaimana Papa selalu memberi jaket hujannya untukku ketika hujan tiba-tiba menderas saat perjalanan pulang. 

Aku menangis. Rasanya sudah lama sekali, tapi tak pernah bosan untuk dihidupkan lagi dan lagi. Bagai potret foto yang menguning-sepia, namun kenangan yang terabadikan didalamnya tak menua. 

Bukankah kenangan adalah sebentuk masa lalu yang berupaya menghidupkan dirinya lagi dan lagi? Dan, rajutan ingatan akan Papa adalah kenangan kasih yang paling bernyawa.
tiket-tiket nonton malam mingguan bareng Papa, yang kerap kukumpulkan :)
Aku pun beranjak masuk ke ruang tengah, menyadari setiap barang yang ada di rumah selalu menempel  ceritanya masing-masing. Bahkan untuk sebuah gantungan kunci usang, diari yang robek di punggung bukunya, boneka-boneka yang menghitam di gudang, sampai radio walkman tua yang sudah rusak – yang kesemuanya kudapatkan setelah menangis guling-guling di lantai mall, supermarket, toko mainan, dan rumah. Bahkan untuk jalanan yang dulunya belum ada pertokoan dan ruko-rukoan, kompleks-kompleks sekarang yang dipugar semakin mewah, hingga pohon-pohon rindang – yang kesemuanya membawaku pada ingatan tentang keliling sore dengan layang-layang tak bisa kuterbangkan sampai papan permainan yang kubeli di warung dengan harga murah. Bersama Papa.

“Veroooooo...” teriak Papa dari kamar, mengagetkanku. Beliau memintaku mengambilkan minum ke kamar.  Aku beranjak dari dudukku, mengambil sebotol air dingin dari kulkas dan sepotong jawaban. Siapa bilang selama ini aku tak pernah punya pasangan yang bisa diandalkan. Aku punya Papa.
“Aku sudah punya pacar, Pa. Papa selalu jadi pacarku, pacar pertamaku.”
Selamat Hari Ayah Sedunia, Papa.

Catatan:
Tulisan ini sebagai hadiah lanjutan untuk Papa, yang berulangtahun pada minggu terakhir Mei kemarin. Ketika kuberi kejutan kecil berupa kemunculanku tiba-tiba dari balik dapur bersama sepotong kue cokelat berukuran sedang, Papa begitu kaget dan bilang; bahkan beliau lupa kapan terakhir beliau merayakan ulang tahunnya dengan kue dan lilin  – yang buat hatiku begitu mencelos. 
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Papa. Dari putri kecilmu.
This entry was posted in

0 Comments:

Post a comment